PEMIKIRAN POLITIK SYI’AH DAN KHAWARIJ

Syi’ah
Pengertian

Menurut etimologi Syi’ah artinya golongan, kelompok, pengikut atau penyokong. Sedangkan menurut terminologis Syi’ah merupakan kelompok muslim pengikut Ali bin Abi Thalib dan penyokongnya. Mereka berpendapat bahwa penggantian Nabi Muhammad Saw dalam bidang pemerintahan adalah hak istimewa kalangan keluarga Nabi Muhammad Saw. Dalam bidang pengetahuan dan kebudayaan Islam, mereka adalah pengikut madzhab-madzhab ahlu al-bait (madzhab-madzhab keluarga Nabi Muhammad Saw). Jadi dapat dipahami bahwa Syi’ah adalah pengikut atau orang yang sangat loyal terhadap Ali bin Abi Thalib atau ahlul al-Bait (Dahlan, dkk, 2001: 1702).

Latar Belakang Kemunculan
Terdapat banyak pendapat terhadap kemunculan kelompok Syi’ah. Pendapat-pendapat tersebut adalah sebagai berikut:
Pertama, pendapat yang memandang bahwa Syi’ah muncul ketika Nabi Muhammad Saw masih hidup. Pendapat ini dikemukakan oleh Muhammad Husain Kasyif al-Gita (seorang mujtahid Syi’ah kontemporer asal Irak) dan Ahmad Amin (sarjana sejarah dan kebudayaan Islam asal Mesir). Menurut kedua tokoh tersebut, sejak nabi Muhammad Saw masih hidup terdapat beberapa sahabat yang bersimpati kepada Ali bin Abi Thalib, di antaranya adalah Salman al-Farisi, Abu Dzar al-Ghifari, Ammar bin Yasir, dan Miqdad bin Aswad. Mereka bersimpati kepada Ali bin Abi Thalib karena Ali banyak disebut oleh Nabi Muhammad Saw sebagai orang yang utama, baik dari segi ilmu, keimanan, maupun amal salehnya. Antara lain Nabi Muhammad Saw menyebutkan; ”Saya adalah kota ilmu dan Ali pintunya.” (HR. At-Tarmidzi). Tidak hanya itu, dalam hadits lain disebutkan ”Bahwa Rasulullah Saw pergi (membebaskan ) tabuk dan beliau meminta Ali menggantikannya (memimpin umat yang tinggal). Ali berkata: Apakah anda mewakilkan kepadaku (memimpin) anak-anak dan para wanita? Nabi Muhammad Saw menjawab: Apakah engkau tidak rela bahwa kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun terhadap Musa? Hanya saja tidak ada nabi sesudahku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Nabi Muhammad Saw juga bersabda: ”Demi Tuhan yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya (dia) ini (Ali) dan para penyokongnya (Syi’ah-nya) bagi mereka kemenangan pada hari kiamat.” (HR. Ibnu Asakir). Atas dasar isyarat-isyarat demikian, Kasyif al-Gita dan Ahmad Amin melihat bahwa sejak masa Nabi Muhammad Saw, Syiah sudah muncul.
Kedua, pendapat yang memandang bahwa Syiah muncul ketika Nabi Muhammad Saw meninggal dunia. Pendapat ini dikemukakan oleh Abu Qasim al-Husain bin Ruh an-Naubakhti (tokoh Syiah abad ke-3 H yang pertama menulis tentang Syiah) dan Ibnu Khaldun (w. 808 H), sejarawan dan sosiolog muslim. Menurut kedua pakar tersebut, ketika terjadi pembaitan Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai khalifah di Saqifah Bani Sa’idah, jenazah Nabi Muhammad Saw masih terhampar di rumah beliau, di samping masjid Nabawi, dan kalangan keluarga Nabi Muhammad Saw sendiri –di antaranya Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, dan lain-lain sedang sibuk mengurus pemakaman jenazah tersebut. Dalam situasi demikian, beberapa sahabat yang simpati kepada Ali dan kalangan keluarga Nabi Muhammad Saw mendengar berita telah terjadi pemilihan khalifah. Ali dan kalangan keluarga Nabi Muhammad Saw sendiri mengetahui setelah pemakaman jenazah Nabi Muhammad Saw. Oleh sebab itu, mereka tidak ikut memberikan baiat kepada Abu Bakar. Dari latar belakang demikian, muncullah orang-orang yang memandang bahwa hanya Ali yang paling berhak untuk menduduki jabatan itu. Kelompok inilah yang menjadi akar munculnya kaum Syiah.
Ketiga, pendapat yang memandang bahwa Syiah muncul pada masa pemerintahan Usman bin Affan (23 H/644 M-45 H/656 M), khalifah ketiga. Pendapat ini, antara lain dikemukakan oleh Ibnu Nadim (385 H), sejarawan klasik penulis buku al-Fihris (daftar nama buku-buku klasik Islam). Menurut pendapat ini, pemerintah Usman bin Affan dengan beberapa kelemahannya, telah memicu sekelompok orang memisahkan diri dari mayoritas kaum muslimin. Lalu kelompok ini mendapat simpati dari kalangan keluarga Nabi Muhammad Saw. Setelah Usman bin Affan tewas terbunuh di tangan kaum pemberontak dan Ali bin Abi Thalib dibaiat sebagai khalifah keempat, kemudian terjadilah keretakan di kalangan umat Islam, yang menimbulkan adanya tiga kelompok kaum muslimin. Kelompok pertama dipimpin oleh Muawiyah bin Abu Sufyan (602-680), dari kalangan keluarga Bani Umayyah. Kelompok kedua tidak menyetujui pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Kelompok ini dipimpin oleh Aisyah bin Abu Bakar, Thalhah bin Ubaidillah, dan Zubair bin Awwam. Kelompok ketiga adalah para pendukung Ali bin Abi Thalib, yaitu para pengikut Ali, yang terdiri dari ahlu bait dan beberapa sahabat dekat Ali. Mereka dengan setia membantu Ali menghadapi kelompok-kelompok lain. Ketika Ali bersama pendukungnya itu keluar untuk memerangi kelompok Aisyah, Ali bin Abi Thalib menyebut pengikutnya itu dengan sebutan Syiah-nya.
Keempat, pendapat yang memandang bahwa Syiah muncul setelah Ali bin Abi Thalib mati terbunuh di tangan Abdur Rahman bin Muljam, tokoh golongan Khawarij. Pendapat ini dikemukakan oleh Thaha Husein, ahli sastra dan kebudayaan dari Mesir. Menurutnya, wacana Syiah hanya dipakai untuk orang-orang Irak dan Syam (Suriah) yang bersimpati kepada Ali bin Abi Thalib. Wacana tersebut tertuang dalam naskah tahkim (perjanjian antara kelompok Ali dan Mu’awiyah).
Kelima, pendapat yang memandang kemunculan Syiah dapat dilihat dari dua aspek: aspek keagamaan dan aspek politik. Dilihat dari aspek keagamaan, Syiah muncul pada masa Nabi Muhammad Saw. Dilihat dari aspek politik, Syiah muncul setelah terbunuhnya Ali bin Abi Thalib. Pendapat ini dikemukakan oleh Abdul Aziz ad-Dauli (ahli sejarah asal Mesir) dan Kamil Mustafa asy-Syaibi, dosen filsafat Universitas Baghdad yang banyak mencurahkan perhatiannya pada kajian hubungan Syiah dan Tasawuf. Menurut keduanya, kemuncuan Syiah tidak dapat dilihat dari satu aspek saja, karena sejak Nabi Muhammad Saw terdapat beberapa sahabat yang merasa simpati kepada Ali bin Abi Thalib atas keutamaan-keutamaannya, seperti yang diungkapkan oleh Nabi Muhammad Saw sendiri, seperti terlihat pada pendapat pertama di atas. Mereka ini sebenarnya sudah merupakan kelompok Syiah. Sekalipun demikian, kemunculan Syiah dalam aspek politik ialah setelah meninggalnya Ali bin Abi Thalib, seperti dikemukakan oleh Thaha Husein. Menurut Dauli, Syiah – dari aspek politik – muncul pada tahun 61 – 65 H, ketika terjadi peristiwa gerakan tawwabun, yaitu gerakan orang-orang simpatisan Syiah (kaum Tawabin) yang merasa bersalah atas terbunuhnya Husein bin Ali bin Abi Thalib (w. 61 H/680 M) di Padang Karbala, karena merasa tidak membantu dan membelanya ketika terjzdi peristiwa pembunuhan itu. Oleh sebab itu, mereka ingin bertobat dari kesalahan itu. Gerakan ini dipimpin oleh Sulaiman bin Sard al-Khuza’i (sahabat Nabi Muhammad Saw yang ikut bersama Ali dalam Perang Siffin), Musayyab bin Nujbah al-Fazari, Abdullah bin Sa’id bin Nafil al-Azdi, Abdullah bin Wal at-Tamimi, dan Ibnu Syaddad al-Jabali (empat orang sahabat dekat Ali). Gerakan tawwabun ini menyebut masing-masing pemimpinnya itu dengan sebutan Syaikh Syiah. Jadi, nama Syiah mulai muncul ketika itu.
Asy-Syaibi mengatakan, memang diakui bahwa ketika Ali bin Abi Thalib masih hidup, ia tidak memberikan kesempatan kepada para sahabat yang simpati kepadanya untuk membuat kelompok tersendiri dalam kalangan umat Islam, seperti dari ucapan Ali bin Abi Thalib sendiri setelah peristiwa Perang Siffin (37 H/657 M). ”Urusan kita yang pertama ialah bertemu penduduk Syam (kita katakan kepada mereka) secara jelas bahwa Tuhan kita satu, agama kita satu, dakwah kita dalam Islam satu, kita tidak meminta tambah kepada mereka tentang iman kepada Allah dan pembenaran terhadap Rasul-Nya, mereka (juga) tidak meminta tambahan kepada kita, urusan kita hanya satu, hanya kita hanya berbeda tentang masalah /(sanksi hukum) kematian Usman, dan kami berlepas diri tentang masalah itu.” Sekalipun demikian, menurut as-Syaibi hal-hal itu tidak menafikan munculnya Syiah (dalam arti simpatisan dalam hal keagamaan), karena sejak Nabi Muhammad Saw masih hidup saja sudah ada kelompok yang simpati kepada Ali bin Abi Thalib dan ahlu bait.
Keenam, pendapat yang memandang bahwa munculnya Syiah sebagai kelompok tersendiri di kalangan umat Islam terjadi setelah pemilihan Abu Bakar sebagai khalifah, tetapi sebelum itu telah terdapat di kalangan sahabat orang-orang yang simpati kepada Ali bin Abi Thalib dan mereka percaya bahwa hanya Ali bin Abi Thalib yang berhak menggantikan Nabi Muhammad Saw sebagai imam atau khalifah, dengan alasan bahwa Nabi Muhammad Saw sendiri telah mewasiatkannya kepada Ali bin Abi Thalib di Gadir Khum (antara Mekkah dan Madinah). Pendapat ini dikemukakan oleh ulama Syiah terkemuka, Muhammad Husain Tabataba’i (1892-1981). Pendapat ini merupakan pendapat yang banyak dipegang oleh kaum Syiah dewasa ini. Menurut Tabataba’i, sahabat-sahabat dan pengikut-pengikut Ali bin Abi Thalib percaya bahwa setelah Nabi Muhammad Saw wafat, kekhalifahan dan kekuasaan keagamaan berada di tangan Ali bin Abi Thalib. Keyakinan itu bertolak dari pandangan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah orang yang paling dekat dengan Nabi Muhammad Saw dari segi kekeluargaan. Selama masa kenabian, ia menunjukkan pengabdiannya yang tulus dan pengorbanan yang tiada tara. Selain itu, Nabi Muhammad Saw sendiri telah berwasiat di Gadir Khum, yang disaksikan oleh ribuan kaum muslimin, bahwa Ali bin Abi Thalib adalah calon penggantinya kelak. Wasiat ini disampaikan Rasulullah Saw sehabis melaksanakan haji wada’ (haji terakhir). Kemudian, setelah Nabi Muhammad Saw meninggal, hak Ali bin Abi Thalib diambil oleh Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan mayoritas kaum muslimin dengan dalih untuk memelihara kesejahteraan umat dan untuk memecahkan masalah-masalah kaum muslimin ketika itu yang bersifat sangat mendesak. Ali bin Abi Thalib serta kalangan ahlu bait, dan para pengikut mereka mengajukan protes atas kekeliruan itu, namun mereka berada di pihak yang lemah dan minoritas, sehingga usaha mereka tidak berhasil. Oleh sebab itu, Ali bin Abi Thalib tidak melakukan apa-apa laigi, terutama untuk menjaga keselamatan Islam dan kaum muslimin. Sekalipun demikian, kaum minoritas ini tidak menyerah kepada kaum mayoritas dalam masalah-masalah kepercayaan tertentu dan tetap berkeyakinan bahwa pengganti Nabi Muhammad Saw dan penguasa keagamaan yang sah adalah Ali bin Abi Thalib. Mereka berkeyakinan bahwa semua persoalan kerohanian dan agama harus merujuk kepadanya dan mengajak masyarakat untuk menjadi pengikutnya (Dahlan, dkk, 2001: 1702-1704).

Syiah dalam Lintasan Sejarah
Menurut Tabataba’i, kendati pada masa pemerintahan Abu Bakar ash-Shiddiq (11 H/632 M – 13 H/634 M), kaum Syiah tidak memperlihatkan perlawanan secara politik dan militer, mereka tidak menyetujui beberapa hal yang dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar. Abu Bakar, atas inisiatif Umar mengumpulkan suhuf (lembaran-lembaran bertulis) al-Qur’an, tetapi tidak melakukan pengumpulan hadits, bahkan jika ada hadits-hadits yang tercatat malahan ia memerintahkan membakarnya, dengan alasan akan terjadi pembauran antara hadits dan al-Qur’an. Menurut kaum Syiah, perbuatan tersebut tidak tepat, karena telah memberikan kesempatan kepada orang-orang tertentu untuk memalsukan hadits. Di samping itu, Abu Bakar melakukan pemotongan khumus (pajak keagamaan yang telah dihilangkan dalam fikih sunni) yang telah ditentukan untuk ahlu bait. Selain itu, ada beberapa hal lagi yang ditentang oleh para pengikut Ali bin Abi Thalib.
Pada masa Khalifah Umar bin Khattab (13 H/634 M – 25 H/644 M) berlaku beberapa kebijakan untuk menitikberatkan segi-segi tertentu dari syariat dan mengenyampingkan beberapa praktek yang menurut kepercayaan Syiah diajarkan dan dijalankan Rasulullah Saw. Sebagai contoh, kaum Syiah memandang bahwa di masa Nabi Muhammad Saw dikumandangkan seruan di dalam azan yang berbunyi: Hayya ala khairil amal (marilah menuju amal yang terbaik). Umar merintahkan untuk meniadakannya, sebab menurutnya hal ini akan mencegah rakyat untuk ikut dalam perang sabil. Demikian pula, pada masa ini telah muncul kekuatan sosial-ekonomi baru yang menyebabkan pembagian baitul mal (perbendaharaan negara) tidak merata di kalangan rakyat. Hal demikian mengakibatkan timbulnya kelas-kelas yang membingungkan dan pertempuran antara sesama muslim.
Pada masa Khalifah Usman bin Affan (25 H/644 M – 35 H/656 M), ia membiarkan keluarga Bani Umayyah menguasai rakyat. Keluarga ini mulai mengabaikan asas-asas moral dalam pemerintahan. Beberapa orang di antara mereka melakukan kelaliman,kesewenangan secara terang-terangan, dan bahkan mengabaikan asas-asas syariat yang telah ditetapkan secara kokoh. Hal ini terlihat, antara lain, bahwa Usman membagi-bagikan rampasan perang (ghanimah), bukan menjadikannya sebagai harta milik negara, Marwan bin Hakam (w. 65 H/685 M; sekretaris negara) secara paksa mengambil tanah di Fadak, daerah sekitar Madinah milik ahlu bait yang mereka warisi dari Nabi Muhammad Saw. Akibat tindakan-tindakan demikian, maka berdatanganlah protes yang ditujukan kepada khalifah. Tetapi, khalifah yang berada di bawah pengaruh sanak keluarganya – terutama Marwan bin Hakam – tidak segera bertindak. Akhirnya, diri khalifah sendiri yang menjadi sasaran kemarahan rakyat. Sekelompok pemberontak dari Mesir mengepung khalifah Usman, dan beliau meminta perlindungan kepada Ali bin Abi Thalib sembari menyatakan penyesalannya. Ali memberitahukan kepada orang-orang Mesir, ”Kalian telah berontak untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Usman telah menyesal dan mengatakan akan mengubah caranya, dan dalam tiga hari akan memenuhi keinginan kalian. Di akan menyingkirkan penguasa-penguasa yang menindas dari jabatan mereka.” Kemudian Ali, atas nama Usman membuat perjanjian dengan mereka dan mereka pun pulang. Akan tetapi, di tengah jalan mereka mendapatkan budak Usman sedang mengendarai onta menuju Mesir, setelah diperiksa, ternyata budak tersebut membawa surat perintah Usman kepada gubernurnya di Mesir, agar menghukum kaum pemberontak. Karena surat itu, kaum pemberontak naik pitam dan kembali ke Madinah, mengakhiri hayat Khalifah.
Semua kejadian itu membuat para pengikut Ali semakin teguh dalam kepercayaan mereka, dan lebih menyadari ajaran yang mereka anut. Kemudian, hari demi hari kegiatan-kegiatan ajaran Ali semakin intensif, terutama di kalangan ahlu bait. Sementara itu, murid-murid para sahabat yang terdekat dengan Ali banyak pula yang bergabung dengan ahlu bait. Ketika Usman mati terbunuh, mereka segera membaiat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Tampilnya Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah (35 H/656 M – 40 H/661 M) di pandang oleh para simpatisannya sebagai kembalinya hak yang hilang. Dalam masa pemerintahannya, Ali menghadapi berbagai reaksi. Sebagian penduduk Madinah di bawah pimpinan Aisyah, Thalhah, dan Zubair beroposisi meninggalkan Madinah; mereka tidak setuju dengan Ali sebagai khalifah dan juga menuduh ikut dalam pembunuhan Usman bin Affan. Akan tetapi, seperti yang ditulis oleh Ahmad Syalabi (ahli sejarah dan kebudayaan Islam dari Cairo) terdapat indikasi adanya unsur sintimen pribadi antara Aisyah dan Ali. Adapun penduduk Suriah, di bawah pimpinan Mu’awiyah bin Abu Sufyan menuduh Ali ikut terlibat dalam peristiwa pembunuhan Usman. Mereka menuntut pertanggungjawaban Ali atas peristiwa itu, atau setidaknya Ali dapat membawa orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan Usman ke muka pengadilan.
Menhadapi situasi yang kacau itu, Ali segera bertindak menumpas gerakan oposisi yang dipimpin tiga serangkai; Aisyah, Thalhah, dan Zubair, yang mengakibatkan terjadinya perang Jamal (perang Unta), perang pertama yang terjadi antara sesama muslim. Peperangan itu terjadi tahun 36 H/656 M. Dalam pertempuran ini pasukan Aisyah kalah, dan Ali mengembalikan Aisyah ke Madinah. Kemudian Ali bersama pasukannya ke Suriah untuk berperang menghadapi Mu’awiyah. Dalam perang tersebut, Ali hampir saja memenangkan pertempuran di Siffin, di tebing Sungai Tigris, tetapi ia terpojok dalam menghadapi diplomasi yang dijalankan oleh Amr bin Ash (w. 42 H/663 M), tangan kanan Mu’awiyah dalam majelis tahkim. Akibatnya, pengikut Ali terbelah menjadi dua, yang satu tetap setia kepada Ali dan mereka inilah yang populer disebut Syiah, dan satu kelompok lagi keluar dari pasukan Ali, dan mereka populer dengan sebutan Khawarij.
Sejak peristiwa Tahkim, Ali tidak berupaya lagi untuk menundukkan Mu’awiyah, tetapi mengalihkan perhatiannya untuk menghancurkan kaum Khawarij. Dalam peristiwa di Nahrawan (9 safar 38 H/17 Juli 658 M) sebanyak seribu delapan ratus orang Khawarij terbunuh dan hanya tinggal delapan orang yang masih hidup. Peristiwa itu memicu para pemuka Khawarij berusaha membunuh Ali bin Abi Thalib, Muawiyah dan Amr bin Ash. Ali terbunuh di tangan Abdur Rahman bin Muljam sementara Mu’awiyah dan Amr bin Ash selamat, karena sejak sebelumnya keduanya telah waspada.
Setelah Ali meninggal, kelompok Syiah mendukung anak turunannya. Untuk itu,mereka membaiat Hasan bin Ali bin Abi Thalib (w. 49 H/669 M) sebagai pengganti Ali. Hasan dipandang sebagai imam kedua dalam kalangan Syiah, setelah Ali. Atas kelicikan Mu’awiyah dan untuk menghindari pertumpahan darah, Hasan terpaksa menyerahkan jabatan kekhalifahan kepada Mu’awiyah, dengan syarat jabatan itu akan dikembalikan kepadanya setelah Mu’awiyah meninggal. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 41 H/662 M dan tahun itu disebut dengan sebutan am al-Jama’ah (tahun persatuan, karena kaum muslimin kembali berada di bawah satu tumpuk pemimpin. Sejak itu dunia Islam diperintah oleh Dinasti Umayyah. Di bawah rezim Umayyah, kaum Syiah menjalani hari-hari yang suram, dan kesuraman itu berpuncak ketika Husein bin Ali bin Abi Thalib, imam ketiga,bersama keturunannya dibunuh oleh pasukan Yazid bin Mu’awiyah (w. 65 H/683 M) di Karbala, pada 10 Muharram (hari Asyura) 61 H/680 H. Husein diganti oleh putranya yang bernama Ali bin Husein (w. 94 H/712 M) yang bergelar Zainal Abidin atau Imam As-Sajjad sebagai imam yang keempat kaum Syiah (Dahlan, dkk, 2001: 1704-1705).

Pandangan Politik Syiah versi Lain
Di samping orang-orang yang berpandangan bahwa keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah saja yang berhak untuk menjadi imam kaum muslimin, terdapat pula pandangan yang menyebutkan bahwa yang berhak menjadi imam bukan hanya keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra (w. 12 H/633 M), tetapi asalkan dia keturunan Ali bin Abi Thalib ia berhak menjadi Imam. Oleh sebab itu, kelompok ini memandang bahwa anak keturunanAli bin Abi Thalib yang lahir dari perkawinan dengan siapapun berhak menjadi imam. Kelompok pertama disebut dengan Syiah Imamiah dan kelompok yang kedua disebut Syiah Kaisaniah. Kelompok Kaisaniah disebut demikian, karena dinisbahkan kepada Kaisan, salah seorang dari budak sahaya Ali bin Abi Thalib. Kelompok Syiah Kaisan berpendapat bahwa imam mereka setelah kematian Ali bin Abi Thalib ialah Muhammad bin Hanafiyah, putra Ali bin Abi Thalib dari perkawinannya dengan perempuan suku Bani Hanifah. Muhammad bin Hanafiyah mereka pandang sebagai imam Mahdi yang ditunggu (imam yang ditunggu kedatangannya di akhir zaman yang membawa keadilan dan kebenaran), sebelum lahir Imam Mahdi-imam Mahdi yang lain.
Kendati dibawah tekanan-tekanan Dinasti Umayyah, kelompok Syiah tetap eksis, para Imam tetap berupaya menyebarkan doktrin Syiah secara rahasia. Salah satu doktrin itu ialah tentang hadits-hadits yang menyangkut keutamaan Ali bin Abi Thalib dan wasiat bahwa Ali bin Abi Thalib telah mendapatkan wasiat dari Nabi Muhammad Saw untuk menggantikan beliau. Akan tetapi, Zaid bin Ali bin Husein Zainal Abidin (w. 122 H), cicit Ali bin Abi Thalib yang mendirikan Syiah Zaidiah, menolak adanya doktrin wasiat tersebut. Menurut Zaid, orang yang merasa punya hak untuk menjadi imam karena memenuhi persyaratan, harus berjuang memperebutkan jabatan itu. Bertolak dari pandangan demikian, ia memandang sah khalifah-khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib, karena mereka telah memenuhi syarat untuk itu dan berjuang untuk mendapatkannya. Bahkan, kendati ia mengakui keimanan Ali bin Abi Thalib, ia mengkritiknya, karena Ali bin Abi Thalib berjuang merebut jabatan itu dan menyingkirkan para lawannya. Pandangan Zaid yang demikian diteruskan oleh pengikut-pengikutnya. Kelompok ini memandang bahwa Zaid adalah imam kelima setelah Ali bin Abi Thalib, Hasan bin Ali, Husein bin Ali, dan Ali bin Husein Zainal Abidin. Selanjutnya, imam-imam setelah Zaid adalah Yahya bin Zaid, yang hidup pada abad ke 2 H (abad 7 M); Muhammad bin Abdullah, Ibrahim bin Abdullah, keduanya hidup pada masa kedua Dinasti Abbasiyyah, dan Nasir al-Utrusy (hidup pada abad ke 4 H/ 10 M). Pada bad ke 3 H pernah berdiri beberapa kerajaan atas dasar pandangan Syiah Zaidiah, di antaranya terdapat di Dailam, sebelah selatan laut Kaspia, dan di Yaman. Sampai dewasa ini masih didapati pengikut Syiah Zaidiah di Yaman.
Pandangan Zaid ditentang oleh saudaranya, Muhammad al-Baqir (w. 113 H/732 M), yang memandang adanya wasiat dalam masalah pergantian Nabi Muhammad Saw dan para Imam. Muhammad bin Baqir sendiri mendapat wasiat untuk menggantikan ayahnya Ali bin Husein Zainal Abidin, sebagai iman yang kelima. Kemudian ia digantikan pula oleh anaknya, Imam Ja’far as-Sadiq sebagai imam keenam, yang hidup dibawah tekanan daulat Abbasiyah. Setelah Ja’far as-Sadiq meninggal kelompok imamiah ini pecah dua. Yang satu mengatakanb bahwa Ja’far telah mewasiatkan keimamannya kepada putranya Isma’il; kendati Isma’il lebih dahulu meninggal daripada Ja’far, wasiat tersebut tetap berlaku. Kelompok ini masyur dengan sebutan Syiah Ismailiah atau Qaramitah, atau disebut juga Syiah Sab’iyah (Syiah Tujuh) karena mereka menyakini Isma’il sebagai iman yang ketujuh; mereka disebut juga dengan Isma’il Ta’limiyah, karena mereka berkeyakinan bahwa imam dibutuhkan untuk mengajarkan agama, dan kelompok ini disebut juga dengan Syiah Batiniah, karena mereka mengakui penafsiran ayat-ayat al-Qur’an secara batin. Menurut Syiah Isma’iliah, yang berhak menjadi imam setelah Isma’il ialah anaknya, Muhammad, kemudian anak dari Muhammad dan seterusnya sampai pada keturunan yang ketujuh imam Isma’il. Nama-nama ketujuh orang imam ini dirahasiakan oleh Syiah Ismailiah. Syiah Ismailiah ini pernah berkuasa di Mesir selama dua abad (909-1171) dalam wujud Dinasti Fatimiah. Dinasti ini yang menderikan perguruan al-Azhar di Cairo pada awal abad ke 10. Dewasa ini sebagian mereka terdapat di Indi di bawah pimpinan Agha Khan yang lain terdapat di Afrika Timur (Dahlan, dkk, 2001: 1706).
Syiah Ismailiah mempunyai cabang, diantaranya sakte Druze (yakni orang-orang Syiah yang bertempat tinggal di pegunungan Druzi, Suriah), sakte Musta’liyah (Bohra) yang tersebar di India. Cabang Syiah yang lain adalah Itsna ’asyariyah (Syiah dua belas). Yang mempunyai dua belas Imam berkembang dan dianut oleh kaum Muslimin di Iran. Pokok-pokok pendirian Itsna ’asyariyah antara lain sebagai berikut:
Pertama, Abu Bakar dan Umar bin Khattab telah merampas jabatan khalifah dari pemiliknya Ali bin Abi Thalib.
Kedua, Kedudukan Ali bin Abi Thalib satu tingkat lebih tinggi daripada manusia biasa, dan dia merupakan perantara antara manusia dan Tuhan.
Ketiga, Imam itu ma’sum, terjaga dari segala kesalahan, baik besar maupun kecil.
Keempat, Ijma’ atau kesepakatan ulama Islam baru dapat dianggap sebagai salah satu dasar hukum Islam kalau direstui oleh Imam.
Kelima, Imam mereka yang kedua belas, yang menghilang pada usia empat atau lima tahun, nanti akan muncul kembali di dunia pada akhir zaman untuk menegakkan dan meratakan keadilan serta memberantas kezaliman (Sjadzali, 1993: 214).

Khawarij
Pengertian

Kata “Khawarij” berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata kerja kharaja, yang berarti telah keluar (Karya, dkk, 1996: 73). Namun, istilah Khawarij mengacu kepada pasukan Ali bin Abi Thalib yang melakukan disersi atau keluar dari induk pasukannya pada perang Shiffin, yaitu perang antara Ali melawan gubernur Mu’awiyah bin Abi Sufyan yang beroposisi kepada pemerintah pusat.
Pasukan ini tidak setuju dengan sikap khalifah Ali yang menerima perundingan damai dengan musuh, padahal mereka hampir memenangkan peperangan. Khalifah Ali pada awalnya tidak menyetujui tawaran damai yang diusulkan lawan dengan mengacungkan al-Quran ke atas, sebab khalifah mengetahui bahwa hal itu hanyalah strategi mereka untuk menghindari kekalahan. Namun khalifah Ali didesak oleh penghafal al-Quran untuk maju ke meja perundingan.
Firqah ini muncul pada saat terjadinya perselisihan antara Muawiyah bin Abi Sufyan dengan Ali bin Abi Thalib, yang mencapai puncaknya dengan pecahnya perang Shiffin pada tahum 37 H. kedua kelompok yang bertikai itu akhirnya sepakat untuk mengadakan perundingan damai, dan keduanya sepakat pula untuk kembali kepada kitabullah. Pada perundingan tersebut pihak Ali diwakili oleh Abu Musa Al Asy’ari dan pihak Muawiyah diwakili oleh Amr ibn Ash. Dalam perundingan itu terjadilah pengelabuhan yang dilakukan Amr ibn Ash terhadap Abu Musa al-Asy’ari. Kejadian ini menimbulkan krisis baru dan pembangkangan yang dilakukan sekelompok muslim yang kebanyakan berasal dari Bani Tamim. Mereka kemudian menyatakan ketidakpuasan terhadap proses dan hasil perudingan itu dengan menyatakan “Laa hukma illailah” (Asy Syak’ah, 1994: 103).
Kaum Khawarij menyikapi hasil tahkim melakukan gerakan perlawanan terhadap kekuasaan dengan cara keluar dari kelompok Ali dan membangun prinsip-prinsip perjuangan yang radikal dan ekstrim. Bagi mereka, semboyan tiada hukum selain hukum Allah yang dikutip dari surat al-Maidah ayat 44 merupakan landasan idiologis yang berharga mati dan mesti diperjuangkan di manapun dan kapanpun. Sebagai bentuk gerakan memperjuangkan idiologis, mereka mengkafirkan Ali dan Muawiyah karena sudah menyelesaikan konflik dengan cara bertahkim yang tidak sesuai dengan hukum Tuhan. Tidak puas dengan hanya mengkafir Ali dan Muawiyah, mereka memandang kafir pula setiap orang yang tidak sepaham dengan mereka dan menurut sikap radikal mereka orang tersebut halal darahnya untuk ditumpahkan.
Pasca persitiwa tahkim, mereka mulai menyusun strategi untuk melakukan pemberontakan dan konfrontasi terbuka terhadap pendukung Ali yang berujuang pada perperangan di Nahrawan, sebuah daerah yang terletak dekat Baghdat. Sekalipun perperangan dimenangkan oleh pihak Ali, namun tidaklah mengurangi semangat gerakan mereka untuk melakukan pemberontakan dan kekerasan. Sebaliknya, kekalahan melahirkan dendam yang semakin besar kepada Ali karena mengingat apa yang sudah dialami oleh saudara-saudara mereka di Nahrawan. Puncak dari kemarahan tersebut, mereka menyusun strategi untuk membunuh Ali, Muawiyah dan Amru bin ‘Ash yang mereka anggap paling bertanggungjawab terhadap hasil tahkim yang tidak adil.
Pembunuhan Ali, Muawiyah dan Amru bin ‘Ash yang dianggap oleh kaum Khawarij sebagai tugas suci dan diserahkan kepada tiga orang. Masing-masing mereka adalah Abdurrahman bin Muljam yang berangkat ke Kaufah untuk membunuh Ali, Barak bin Abdillah al-Tamimi pergi ke Syam untuk membunuh Muawiyah dan Amru bin Bakar al-Tamimi pergi ke Mesir untuk membunuh Amru bin ‘Ash. Di antara mereka hanya Abdurrahman bin Muljam yang behasil membunuh Ali dengan cara menusuknya dengan pedang ketika beliau hendak melaksanakan shalat Shubuh. Barak bin Abdillah al-Tamimi juga berhasil menikamkan pedangnya ke tubuh Muawiyah meskipun tidak berujung kepada kematian. Sedangkan Amru bin Bakar al-Tamimi gagal menjumpai Amru bin ‘Ash di Mesir.
Setelah Ali terbunuh, beberapa tindakan radikal tetap dilakukan oleh kaum Khawarij pada masa pemerintahan Daulah Bani Umawiyah. Karena menurut mereka Muawiyah telah menghambur-hamburkan uang rakyat, dan meniru pola hidup raja dan kaum feodal Romawi. Lagi pula Muawiyah menduduki jabatan khalifah tidak melalui persetujuan umat Islam. Maka sepanjang sejarah kekuasaan itu berdiri mereka melakukan perlawanan, dan perlawanan mereka ditanggapi dengan penindasan oleh penguasa-penguasa dinasti Umawiyah (Sjadzali, 1993: 217).
Salah satu bentuk perlawanan kaum Khawarij yang dianggap gemilang terhadap kekuasaan Daulah Bani Umawiyah adalah sepeninggal Muawiyah bin Abi Sufyan sekitar tahun enam puluh Hijriyah. Mereka mengangap dengan meninggalnya Muawiyah berarti belenggu yang membatasi gerak mereka sudah lepas. Di samping itu, muncul pula kegoncangan situasi sosial dan politik dalam kehidupan umat Islam sepeninggal Muawiyah. Situasi demikian dimanfaat oleh pemimpin kaum Khawarij, Nafi’ bin Azraq, untuk memperoleh pengaruh dan kesuksesan yang besar. Ia berhasil menaklukan daerah Ahwaz dan berhasil menegakkan kekuasaan di Aswad, Basrah. Nafi’ bin Azraq juga berhasil memasuki kota Basrah dan menghancurkan penjara untuk membebaskan orang-orang Khawarij yang ditahan sebagai tawanan perang oleh Bani Umawiyah. Selama belasan tahun terjadi banyak pertempuran sengit antara kaum Khawarij dan pasukan Bani Umawiyah.
Sikap perlawanan yang diambil oleh kaum Khawarij pada masa Daulah Bani Umawiyah juga masih dilatarbelakangi kekecewaan mereka terhadap Muawiyah bin Abi Sufyan pada peristiwa Tahkim. Lawet semboyan tiada hukum selain hukum Tuhan, mereka sudah mengkafirkan Muawiyah dan menghalalkan darahnya untuk dibunuh (J. Suyuthi Pulungan : 199).

Pemikiran Politik Khawarij
Pemikiran politik mereka yang pokok adalah sebagai berikut: Pertama, pengangkatan khalifah akan sah hanya jika berdasarkan pemilihan yang benar – benar bebas dan dilakukan oleh semua umat Islam tanpa diskriminasi. Seorang khalifah tetap pada jabatannya selama ia berlaku adil, melaksanakan syari’at , serta jauh dari kesalahan dan penyelewengan.Jika ia menyimpang, ia wajib dijatuhi hukuman yang berupa dijatuhkan dari jabatannya atau dibunuh (Sjadzali, 1993: 217-218).
Kedua, jabatan khalifah bukan hak khusus keluarga Arab tertentu, bukan monopoli suku Quraisy sebagai dianut golongan lain, bukan pula khusus untuk orang Arab dengan menafikan bangsa lain, melainkan semua bangsa mempunyai hak yang sama. Khawarij bahkan mengutamakan Non Quraisy untuk memegang jabatan khalifah. Alasannya, apabila seorang khalifah melakukan penyelewengan dan melanggar syari’at akan mudah untuk dijatuhkan tanpa ada fanatisme yang akan mempertahankannya atau keturunan keluarga yang akan mewariskannya (Sjadzali, 1993: 217-218).
Ketiga, yang berasal dari aliran Najdah, pengangkantan khalifah tidak diperlukan jika masyarakat dapat menyelesaikan masalah – masalah mereka. Jadi pengangkatan seorang imam menurut mereka bukanlah suatu kewajiban berdasarkan syara’, tetapi hanya bersifat kebolehan. Kalau pun pengangkatan itu menjadi wajib, maka kewajiban berdasarkan kemaslahatan dan kebutuhan.
Keempat, orang yang berdosa adalah kafir. Mereka tidak membedakan antara satu dosa dengan dosa yang lain, bahkan kesalahan dalam berpendapan merupakan dosa, jika pendapat itu bertentangan dengan kebenaran.Hal ini mereka lakukan dalam mengkafirkan Ali dan Thalhah, al – Zubair, dan para tokoh sahabt lainnya, yang jelas tentu semua itu berpendapat yang tidak sesuai dengan pendapat khawarij.
Kelima, Mereka menganggap bahwa hanya daerahnya yang disebut dar al-Islam, dan daerah orang yang melawan mereka adalah dar al-harb. Karenanya, orang yang tinggal dalam wilayah dar al-harb, baik anak-anak maupun wanita, boleh dibunuh.
Keenam, Melakukan taqiyyah (menyembungikan keyakinan demi keselamatan diri), baik secara lisan maupun perbuatan adalah dibolehkan bila keselamatan diri mereka terancam.
Ketujuh, Imam dan khilafah bukanlah suatu keniscayaan. Tanpa imam dan khilafah, kaum muslimin bisa hidup dalam kebenaran dengan cara saling menasihati dalam hal kebenaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: