17 Agustus 2008

Ulang Tahun negara Indonesia tercinta kembali menyambangi, sebuah kado khusus sempat aku buat untuk kuberikan padanya. Kuharap orang-orang Jakarta tidak melihatnya sebagai sebuah “makar” atau apalah. Karena aku juga berhak seperti mereka, bergembira merayakan “kemederkaan semu”, termasuk memberikan kado.
Sebuah pertanyaan singkat menurutku adalah kado terindah semoga Jakarta bisa menjawabnya, apakah pancasila kita masih suci? Dan apakah pancasila masih layak dianggap sebagai falsafah bangsa? Menurutku pancasila tidak lebih :
Pertama, Keuangan yang maha esa pekik semangat kiyai-kiyai dari mimbar pengajian dan koruptor dari kantor-kantor, sehingga kemiskinan merajalela.
Kedua, Kemanusiaan yang Jahiliyah dan biadab, lagu wajib militer-militer Indonesia, sehingga muncul rintihan pilu dari Aceh sampai Papua.
Ketiga, Perpecahan Indonesia, semangat orang-orang Cina dan Amerika, sehingga menguntungkan perekonomian mereka.
Keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh Keparat berhati bejat dalam pemufakatan yang dinegosiasikan. Teriak rakyat sakit hati dibalik bilik-bilik tanpa nasi dan terasi.
Kelima, Pembodohan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Lagu wajib artis-artis dan undang-undang pendidikan, sehingga tontonan berkualitas dan pendidikan murah jauh panggang dari api.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: