Ali Syariati (1933-1977); Sosialisme Islam

Pemikirannya, Dunia Ketiga seperti Iran, dalam pandangan Syariati telah dihinggapi penyakit, semacam imperialisme internasional yang mengejawantah dalam bentuk korporasi multinasional, rasisme, penindasan kelas, ketidakadilan, dan mabuk kepayang terhadap barat (gharbzadegi). Maka Imperialisme dan ketimpangan sosial sebagai musuh terbesar masyarakat yang harus diberantas dalam jangka waktu yang panjang. Sedangkan dalam jangka pendeka adalah pertama, Marxisme vulgar – menjelma dalam bentuk Stalinisme – yang digandrungi banyak intelektual, Kedua, Islam konservatif sebagaimana dipahami kaum ulama.
Kemudian agama Islam – dapat dan harus difungsionalisasikan sebagai kekuatan revolusioner untuk membebaskan rakyat yang tertindas, baik secara kultural maupun politik. Lebih tegas lagi, Islam yang belum dikuasai kekuatan konservatif merupakan ideologi revolusioner ke arah pembebasan Dunia Ketiga dari penjajahan politik, ekonomi, kultural Barat. Karena itu, negara-negara Dunia Ketiga, seperti Iran memerlukan dua bentuk revolusi yang saling berkaitan. Pertama, revolusi nasional yang bertujuan bukan hanya untuk mengakhiri seluruh bentuk dominasi Barat, tetapi juga untuk merevitalisasi kebudayaan dan identitas nasional negara Dunia Ketiga bersangkutan. Kedua, revolusi sosial untuk menghapus semua bentuk eksploitasi dan kemiskinan guna menciptakan masyarakat yang adil, dinamis, dan tanpa kelas (classless)..
Melalui sepucuk surat kepada Fanon, Syariati menyatakan, rakyat di Dunia Ketiga pertama-tama harus memulihkan kembali warisan kebudayaan mereka – termasuk warisan keagamaan – sebelum mereka mampu memerangi imperialisme dan mengatasi alienasi nasional. Hanya dengan pemulihan warisan kebudayaan, rakyat Dunia Ketiga mencapai “kedewasaan”, sehingga dapat meminjam teknologi dari Barat tanpa kehilangan kehormatan diri (self esteem).
Di samping itu, dunia sebenarnya merupakan pertarungan antara Habil dan Qabil. Habil mewakili para kelompok taklukan dan tertindak, yakni rakyat yang sepanjang sejarah dibantai dan diperbudak oleh sistem Qabil, sistem hak milik individu yang memperoleh kemenangan dalam masyarakat. Peperangan antara Habil dan Qabil adalah pertempuran sejarah abadi yang telah berlangsung para setiap generasi. Panji-panji Qabil senantiasa dikibarkan oleh penguasa, dan hasrat untuk menebus darah Habil telah diwarisi oleh generasi keturunannya – rakyat tertindas yang telah berjuang untuk keadilan, kemerdekaan dan kepercayaan teguh pada suatu perjuangan yang terus berlanjut pada setiap zaman.
Manusia. Di dalam al-Qur’an disebutkan 4 manusia yaitu Fir’aun, Haman, Qarun, dan Bal’am sebagai pelanjut Qabil. Fir’aun adalah penguasa yang korup, penindas yang selalu merasa benar sendiri, tonggak sistem kezaliman dan kemusyrikan. Haman mewakili kelompok teknokrat, ilmuwan yang menunjang tirani dengan melacurkan ilmu. Qarun adalah cermin kaum kapitalistik, pemilik sumber kekayaan yang dengan rakus menghisap seluruh kekayaan massa. Bal’am melambangkan kaum ruhaniyun tokoh-tokoh agama yang menggunakan agama untuk melegitimasi kekuasaan yang korup dan meninabobokan rakyat. Pada setiap zaman, keempat jenis manusia ini selalu tampil termasuk di Indonesia sebagai pendukung status quo dan penentang perubahan sosial.
Islam, menurut Syariati yang benar adalah Islam yang diwariskan Imam Husain; kesyahidannya di Karbala menjadi sumber inspirasi bagi mereka yang tertindas untuk memelihara Islam yang sebenarnya itu. Lebih jauh Syarati menjelaskan bahwa;
“Adalah perlu menjelaskan tentang apa yang kita maksud dengan Islam. dengannya kita maksud Islam Abu Dzar; bukan Islamnya khalifah. Islam keadilan dan kepemimpinan yang pantas; bukan Islam-nya penguasa, aristokrasi dan kelas atas. Islam kebebasan, kemajuan (progress) dan kesadaran; bukan Islam perbudakan, penawanan, dan passivitas. Islam kaum mujahid; bukan Islam-nya kaum “ulama”. Islam kebajikan dan tanggung jawab pribadi dalam protes; bukan Islam yang menekankan dissimulasi (taqiyeh) keagamaan, wasilah “ulama” dan campur tangan Tuhan. Islam perjuangan untuk keimanan dan pengetahuan ilmiah, bukan Islam yang menyerah, dogmatis, dan imitasi tidak kritis (taqlid) kepada “ulama”.
Selanjutnya Syariati menegaskan bahwa:
“Adalah tidak cukup dengan menyatakan kita harus kembali kepada Islam. kita harus menspesifikasi Islam mana yang kita maksudkan: Islam Abu Dzar atau Islam Marwan bin Affan, sang penguasa. Keduanya disebut Islam, walaupun sebenarnya terdapat perbedaan besar di antara keduanya. Satunya adalah Islam kekhalifahan, istana dan penguasa. Sedangkan lainnya adalah Islam rakyat, mereka yang dieksploitasi, dan miskin. Lebih jauh, tidak cukup sah dengan sekedar berkata, bahwa orang harus mempunyai kepedulian (concern) kepada kaum miskin dan tertindas. Khalifah yang korup juga berkata demikian. Islam yang benar lebih dari sekedar kepedulian. Islam yang benar memerintahkan kaum beriman berjuang untuk keadilan, persamaan, dan penghapusan kemiskinan”.
Singkatnya Islam yang benar adalah Islam Syi’ah awal, yakni Islam Syi’ah revolusioner yang dipersonifikasikan Abu Dzar (al-Ghifari) dengan kepapaannya, dan Imam Husain dengan kesyahidannya. Keduanya merupakan simbol perjuangan abadi ketertindasan melawan penguasa yang zalaim. Islam Syi’ah revolusioner ini kemudian mengalami “penjinakan” di tangan kelas atas – penguasa politik dan “ulama” yang memberikan legitimasi atas “Islam” versi penguasa. Ulama bagi Syarati dengan menggunakan jargon Marxisme telah menyunat Islam dan melembagakannya sebagai “penenang” (pacifier) bagi massa tertindas, sebagai dogma kaku dan teks skriptual yang mati. “Ulama” bergerak seolah-olah di dalam kevakuman, terpisah dari realitas sosial.
Kenyataan ini, menurut Syariati terlihat pada masa Safavi, di mana dinasti penguasa memasyarakatkan Syi’isme versi mereka sendiri yang sangat berbeda dengan Syi’ah Imam Ali dan Imam Husain. Maka Syariati menyebut Syi’ah penguasa sebagai “Syi’ah Hitam”, dan Syi’ah Imam Ali sebagai “Syiah Merah”, yakni kesyahidan (Syi’ism of martyrdom) – Islam yang terselimut dalam jubah merah kesyahidan.
Menurut pandangan Syariati, selama lebih 8 abad sampai masa Dinasti Safavi, Syi’ism (Alavi) merupakan gerakan revolusioner dalam sejarah, yang menentang seluruh rejim otokratik yang mempunyai kesadaran kelas seperti Dinasti Umayyah, Abbasiyah, Ghaznawiyah, Saljuk, Mongol, dan lain-lain. Dengan legitimasi “ulama” rejim-rejim ini menciptakan Islam sunni versi resmi mereka sendiri. Pada pihak lain, Islam Syi’ah Merah, seperti sebuah kelompok revolusioner, berjuang untuk membebaskan kaum yang tertindas dan pencari keadilan.
Padahal kebanyakan penguasa Sunni menjadikan massa Syi’ah sebagai sasaran penaklukan, penghambaan, dan penghinaan. Pada saat yang sama “ulama’ Sunni kebanyakannya berkolaborasi dengan penguasa menghimbau massa yang tertindas untuk tunduk kepada Islam yang sebanrnya, yakni Islam Sunni. “Ulama” dengan begitu, menyunat diri mereka sendiri, hanya untuk sekedar memuaskan penguasa dengan mengorbankan pengembangan dan penyebaran kebudayaan, keimanan, moralitas, masyarakat, dan bahkan eksistensi kaum Muslim itu sendiri. Selain “Ulama”, yang karena kesalehan mereka, menolak bekerjasama dengan penguasa; mereka menjauhkan diri dari masyarakat dengan memasuki lembaga-lembaga sufisme. Secara tidak langsung mereka membuka jalan bagi terjadinya penindasan; mereka membiarkan masyarakat tanpa pertahanan vis a vis rejim-rejim otokratik. Dengan demikian, “ulama” telah mengkhianati tugas mereka sebagai pelindung massa Muslim.
Akan halnya “ulama” Syi’ah sendiri, bagi Syariati mereka telah menjadikan Syi’ah semata-mata sebagai agama berkabung dengan mengubah arti hakiki peristiwa Karbala. “Ulama” menghianati Islam dengan “menjual diri” kepada kelas penguasa. Menurut Syariati “ulama” Syi’ah menyembunyikan cerita yang sebenarnya tentang Abu Dzar, sementara melekatkan kepada diri mereka sendiri gelar-gelar “aneh” semacam ayatollah, ayatollah ‘uzhma’, dan hujjat al-Islam. Mereka juga menyembunyikan fakta bahwa banyak pemimpin Islam awal, termasuk Nabi Muhammad sendiri, bekerja sebagai pekerja tangan, seperti pengembala, tukang kebun, dan perajin.
Maka “ulama” telah mengubah Syi’ah dari kepercayaan revolusioner menjadi ideology konservatif, menjadi agama negara (din-i dewlati), yang paling banter menekankan sikap kedermawanan (philanthropism), paternalisme, pengekangan diri secara sukarela dari kemewah-mewahan. Sedangkan pada pihak lain, “ulama” mempunyai hubungan organik dengan kemewahan itu sendiri melalui kelas berharta. Karena “ulama” Syi’ah memperoleh pemasukan dari khoms (sedekah) dari sahm-i Imam (bagian dari zakat), mereka tak terhindarkan lagi terkait kepada orang kaya, Negara, dan tuan tanah, dan pedagang bazaar. Sebagai respon terhadap orang yang mengklaim bahwa “ulama” Syi’ah – berbeda dengan Sunni – lebih bersifat independent. Menurut Syariati itu mungin benar sebelum massa Safawi, tetapi jelas keliru dalam masa setelah itu.
Syariati lebih jauh menilai, hubungan khusus “ulama” semacam itu telah menjadikan mereka sebagai instrument kelas-kelas berharta, lembaga-lembaga pendidikan Islam dibiayai kaum berharta untuk mencegah “ulama” berbicara tentang perlunya menyelamatkan kaum miskin. Sebaliknya, dengan menggunakan doktrin fiqh tentang ekonomi, “ulama” berusaha mengabsahkan eksploitasi – yang lebih eksploitatif dibandingkan dengan kapitalisme Amerika. Pada akhirnya, Islam telah menjadi khordeh-i burzhuazi (patite bourgepisie – borjuasi kecil). Dan kaum mullah telah melakukan perkawinan tidak suci (unholy marriage) dengan pedagang bazaar. Dalam perkawinan ini, mullah menciptakan agama bagi pedagang, sementara pedagang membuat dunia lebih menyenangkan bagi mullah.
Menurutnya, banyak “ulama” berpandangan sangat picik (ulama-yi qisyri), yang hanya bisa mengulang-ulang doktrin fiqh secara bodoh. Mereka memperlakukan kitab suci sebagai lembaran kering, tanpa makna, semenatra asyik dengan isu-isu yang tidak penting seperti soal pakaian, ritual, panjang-pendeknya jenggot dan semacamnya. Akibatnya, “ulama” gagal memahami makna istilah-istilah kunci seperti “ummah”, “imamah”, dan “nezami tawhid”. Adalah ironis, kata Syariati, bahkan untuk menemukan makna hakiki istilah-istilah seperti ini ia terpaksa pergi kepada orientalisme semacam Montgomery Watt.
“Ulama” cuma bisa menggelembungkan ajaran keakhiratan, dan menggunakannya sebagai pelarian dari masalah-masalah dunia kontemporer, khususnya industrialisme, kapitalisme, imperialisme, dan zionisme. Mereka lebih senang kembali ke masa lampau yang di pandang “gemilang” ketimbang menengok ke masa depan. Akibatnya, mereka menolak seluruh konsep Barat, termasuk yang justru dapat memajukan umat Islam. Ini terlihat dari ketidaksediaan mereka melanjutkan gagasan pembaharuan Islam yang dikemukakan tokoh-tokoh semacam Jamaluudin al-Afghani, Muhammad Abduh, atau Muhammad Iqbal.
“Ulama” juga menurut Syariati mencoba memperoleh kontrol monopolistik terhadap penafsiran Islam. Dengan interpretasi monopolistik itu, mereka selain membuat kita suci tidak bisa dipahami kaum awam dan, sebaliknya menekankan kepada umat untuk berlaku taqlid kepada “ulama”. Ini semua mereka lakukan untuk menegakkan “despotisme spiritual” (istibdad-i ruhani). Inilah bentuk despotisme yang terburuk. Atas dasar logika ini, Syariati menghimbau dilakukannya pembaharuan dan penumpangan “despotisme spiritual” tadi.
Pembaharuan dalam Islam, menurut Syariati, hendaklah lebih diorientasikan kepada penumbuhan “kesadaran revolusioner” ketimbang penciptaan “keilmuan skolastik”. Setiap individu Muslim mempunyai hak untuk langsung – tanpa harus melalui “ulama” – meninjau sumber-sumber tekstual. Karena hanya dengan cara itu pembaharuan dapat fungsional untuk mengubah agama dari negative religion menjadi positive religion.
Para Nabi, menurut Syariati adalah orang yang lahir dari tengah-tengah masa (ummi) lalu memperoleh tingkat kesadaran (hikmah) yang sanggup mengubah satu masyarakat yang korup dan beku menjadi kekuatan yang bergejolak dan kreatif, yang pada gilirannya melahirkan peradaban, kebudayaan dan pahlawan. Para Nabi datang bukan sekedar mengajarkan zikir dan doa. Mereka datang dengan suatu ideologi pembebasan.
Konsep Ummah dan Imamah, Syari’ati mengatakan bahwa ummah dan imamah merupakan prinsip akidah islamiah yang paling penting dan terkenal, khususnya dikalangan mazhab Syi’ah.
Ummah kata Syariati berasal dari kata ‘amma artinya bermaksud (qashada) dan berniat keras (‘azima). Pengertian ini mencakup tiga makna yaitu ‘gerakan’, tujuan dan ‘ketetapan hati yang sadar’. Kata amma pula pada awalanya, menurut Syari’ati berarti kemajuan. Dengan demikian secara luas mencakup empat erti: usaha, gerakan, kemajuan dan tujuan. Secara prinsipil, kata ummah berarti jalan yang terang. Artinya, suatu kelompok manusia yang menuju ke jalan tertentu. Dengan demikian, kepemimpinan dan keteladanan, jalan dan tempat yang dilalui terangkum dalam istilah ummah.
Jadi apakah yang paling dasar dalam Islam yang menjadi pengikat paling penting untuk mempersatukan individu-individu? “Jalan yang dilalui” jawab Syari’ati. Kelebihan lain yang ada pada konsep ummah ialah menempatkan kebersamaan dalam arah tertentu dan pembentukan kekerabatan lahir-batin sebagai ciri dasar yang mengikat manusia. Ini berbeda, dalam pemikiran Syari’ati dengan istilah qabilah ­– konsep terbaik menurut Syari’ati – yang hanya menempatkan ‘tujuan yang sama’ sebagai pengikat individu tersebut. Qabilah dalam perspektif Syari’ati istilah qabilah, memang terdapat kebersamaan tujuan, tapi tidak ditemukan adanya gerakan yang menuju tujuan tersebut. Sebab, sangat mungkin ada sekumpulan orang yang mempunyai tujuan yang sama, tapi tidak memiliki ikatan atau keharusan apapun berkaitan dengan jalan yang dilalui untuk menuju tujuan tersebut. Mereka memang memiliki kesamaan dalam keyakinan dan tujuan (konsepsional dan emosional) sebagaimana halnya dengan kaum muslim sekarang ini. Tetapi mereka tidak melangkah dengan langkah yang sama dan serempak menuju ke arah yang sama. Tujuan yang ingin dicapai terletak pada titik tertentu, dan gerakan mereka menuju ke arah yang lain. Dalam istilah ummah, gerak yang mengarah ke tujuan bersama itu justeru merupakan landasan ideologis.
Istilah qaum (berdiri), mungkin memiliki makna yang dinamis pula. Tapi, gerak di sana dalam pemikiran Syari’ati tetap tidak dinamis. Istilah qaum mengandung bergerak di tempat. Sebab, orang yang tergabung di sana memang bergerak, tapi tidak pernah beranjak dari tempatnya berdiri. Jadi, berdiri bukanlah bergerak.
Gerakan adalah perpindahan dari satu titik ke titik lain atau perubahan dari kualiti menuju kualiti dan bentuk lain. Sedangkan qiyam hanya berupa perubahan wujud, bukan perubahan kualiti. Jadi, ia tidak disebut hijrah, baik secara fisikal atau psikologi.
Sedang ummah adalah kumpulan orang yang berpindah dan bergerak dan mengandung konsep:
1. Kebersamaan dalam arah dan tujuan.
2. Gerakan menuju arah dan tujuan tersebut.
3. Keharusan adanya pimpinan dan petunjuk kolektif.
Secara ringkas, ummah ialah sekumpulan manusia, di mana para anggotanya memiliki tujuan yang sama, dan satu sama lain tolong-menolong agar bisa bergerak menuju tujuan yang mereka cita-citakan berdasar kepemimpinan kolektif.
Mereka memiliki kesatuan pemikiran, keyakinan, mazhab, dan metodologi yang tidak saja tergambarkan dalam idea, tetapi terbukti perwujudannya secara konkrit. Maka, dilihat dari konteks tersebut, istilah ummah dengan sendirinya membutuhkan imamah – keharusan yang sama sekali tidak dimiliki konsep lain, seperti qabilah, jama’ah, qaum, nation dan yang lain. Dengan itu, berarti tidak ada ummah tanpa imamah.
Menurut Syari’ati, dalam sejarahnya manusia selamanya ingin mempunyai pemimpin. Kerana itu, dalam sejarah umat manusia, tidak ada seorangpun yang tidak membutuhkan imam baik yang real ataupun khayal. Hal ini dibuktikan dalam sejarah, kebudayaan dan agama-agama yang terus berlangsung dalam bentuk mencintai pahlawan, menghamba kepada kepala suku, kultus individu dan dalam bentuk lainnya, baik yang positif atau negatif.
Bahkan, dikalangan intelektual pun. Orang-orang seperti Nietzsche, Hegel, Crlyle adalah orang-orang yang percaya kepada adanya pahlawan (hero), dan berpendapat bahwa manusia agar bisa hidup dalam kehidupan yang lebih baik dan paling tinggi serta dapat beranjak kepada kehidupan dunia yang lebih tinggi dan agung, ia mesti berlindung kepada “manusia super”.
Syari’ati mencatat pula kalau kekacauan di zaman moden ini, kerana tidak adanya idola. Mengutip seorang pemikir Perancis, Caneon mengatakan “Kemelut manusia moden telah mencapai tingkat hingga lenyapnya hero”. Namun, tentu kepahlawanan di sini, menurutnya tidak sama seperti yang ada pada fasisme dan militerisme. Konsekuensi logik pula bahwa setiap anggota ummah itu harus mematuhi pemimpin komuniti tersebut dengan ketaatan tanpa paksaan.
Kemudian apa fungsi imamah sendiri? “Ia dipilih sebagai kekuatan penstabilan dan pendinamisan massa”, tulis Syari’ati. Dalam konsep pertama, ialah bagaimana menguasai massa sehingga berada dalam stabiliti dan ketenangan, kemudian melindungi mereka dari ancaman, penyakit dan bahaya.
Dalam konsep kedua, ialah berkaitan dengan asas kemajuan dan perubahan sosiologis, sosial dan keyakinan serta menggiring massa dan pemikiran mereka menuju bentuk ideal.
Di antara dua fungsi imamah di atas, yang kedua lebih ditekankan.
Dengan demikian, tulis Syari’ati: “Imamah bukanlah lembaga yang anggota-anggotanya menikmati kenyamanan dan kebahagiaan yang mapan, dan bukan pula melepaskan diri dari kepemimpinan dan tanggung jawab dari persoalan kesejahteraan umat serta bukan kehidupan tanpa tujuan”.
Secara singkat tugas imam ialah mewujudkan asas kerajaan kepada kemajuan, perubahan, transformasi dalam wujudnya yang paling cepat, melakukan akselerasi dan menggiring umat menuju kesempurnaan.
Syari’ati secara tegas menolak kalau imam adalah “supra manusia”. Sebab, bila imam terdiri dari supramanusia, ia tidak mungkin memiliki hal-hal yang dapat dijadikan teladan yang baik bagi manusia.
Syari’ati mengatakan, kalau imam itu malaikat, pasti kita tidak mungkin meneladaninya. Dengan mengabaikan hal itu, maka manusia dapat mencapai derajat yang dinyatakan dalan al-Qur’an sebagai lebih tinggi dibanding derajat yang dimiliki oleh semua malaikat yang muqarribin.
Lebih tepat ia disebut “manusia super” yang selaras dengan tuntunan manusia akan moral bagi kehidupan individu maupun masyarakat, serta selaras dengan kebutuhan intelektual dan psikologi. Ia akan selalu membimbing individu dalam kelompok umat dan melembutkan spritualiti dan menajamkan pikiran manusia. Maka, jelas dalam pemikiran Syari’ati, imam bukanlah non-manusia. Sebab, jika kita menganggap dzat imam lebih tinggi dibanding manusia lainnya dan tidak ada yang lebih tinggi darinya kecuali Tuhan, maka kita akan jatuh kepada syirik.
Imam hanya manusia biasa yang telah mencapai tingkat semestinya dicapai oleh manusia, dan orang-orang lain belum mencapai tingkat tersebut. Imam itu akan terus-menerus berusaha mencapai kemanusiaan dengan makrifat. Artinya, secara umum dalam pemikiran Syari’ati, imam lebih umum dibanding pengertian pemimpin politik, ketua partai, pahlawan atau superman. Imam adalah “perwujudan manusiawi yang membentuk roh, moral dan cara hidupnya sebagai petunjuk bagi umat manusia tentang bagaimana seharusnya menjadi manusia dan bagaimana seharusnya hidup itu”. Tugas seorang imam bagi Syari’ati tidak hanya terbatas pada memimpin dalam salah satu aspek politik, sosial, ekonomi, dan tidak terbatas sebagai panglima, amir atau khalifah, tapi tugasnya adalah menyampaikan kepada umat manusia dalam semua aspek pelbagai kemanusiaan. Imam seperti ini, tidak terbatas kepada hidupnya sahaja, tetapi selalu hadir di setiap saat dan hidup selamanya.
Sementara individu sendiri dalam umat juga mempunyai kewajiban dan tanggung jawab sebagai pertubuhan organisme umat. Mereka harus mengetahui imam mereka, mengakui dan mempercayainya. Dan apabila dijumpai individu yang lebih mementingkan kehidupan yang mapan, tidak mau bergerak dan menuju kesempurnaan, maka yang demikian tidak patut berada ditengah-tengah atau kelompok umat. Umat mesti begerak cepat dan tidak berdiam diri.
Namun tujuan umat sendiri pada akhirnya, seperti ditulis Syari’ati terbagi menjadi dua:
1. Suatu transformasi terus-menerus menuju tercapainya kesempurnaan yang mutlak, dan
2. Perjalanan tanpa henti untuk menciptakan nilai-nilai yang tertinggi.
Dua konsep di atas, ternyata berkesesuaian dengan ayat-ayat al-Qur’an, seperti ditulis Syari’ati sendiri, yakni “Ingatlah bahawasanya kepada Allah jualah kembalinya semua urusan”. (Al-Syura: 53); “Kepada Allah-lah tempat kembali”. (Ali Imran: 28); “Sesungguhnya kita milik Allah, dan kepada-Nyalah kita kembali”. (Fathir: 18).
Allah dalam ayat al-Qur’an di atas ialah bermakna Kesempurnaan Mutlak, Keabadian, Kekekalan, ilmu, penemuan, kesadaran, keindahan, kemampuan, kewujudan, kebaikan, kemamfaatan, kelembutan, keadilan dan keagungan dalam pengertian yang mutlak dan tanpa batas.
Dan kita pun kembali ‘Kepada Allah’. Di sini Syari’ati menolak idea kaum wihdat al-wujud, bahawa kita perlu ‘ke dalam Allah’. Menurutnya, yang benar ialah kembali “kepada-Nya”.
Bagi Syari’ati, imam tidaklah dipilih sebagaimana pengangkatan atau pemilihan. Ia adalah suatu hak yang bersifat esensi yang muncul pada diri seseorang. Sumbernya ialah imam itu sendiri. Ia menjadi imam, kerana memiliki kelebihan-kelebihan seperti yang dijelaskan.
Posisi masyarakat tidak menunjuk untuk menjadi imam. Tetapi mereka mengakui atas kelayakannya sebagai orang imam. Kerana itu, dalam Syi’ah dikatakan “Jabatan imamah sama dengan kenabian”. Artinya, posisi imam atau nabi adalah masalah pengakuan yang timbul dalam masyarakat. Bisa saja ada yang tidak mengakui atas tersebut. Dan ini bisa diterima secara logik.
Pada sisi lain, imamah berbeda dengan khilafah. Imamah adalah kepemimpinan spiritual dan warisan suci Nabi. Sedang khilafah, ialah pengganti Nabi dalam urusan politik, dan ia merupakan kepemimpinan sosial dan pemerintahan duniawi.
Maka dengan adanya pemisahan ini, Syari’ati berupaya meredakan ketegangan antara Sunnah dan Syi’ah selama ini. Baginya, tidak ada kontradiksi antara kekhalifahan Abu Bakar, Umar dan Utsman dengan imamah Ali. Para khalifah itu tidak akan mengingkari imamah yang dimiliki Ali dan mereka pula tidak akan merampasnya. Khilafah yang ada pada mereka bukan sebagai hasil rampasan atas hak ahlu al-bait. Demikian sebaliknya, perlunya kesediaan pada kelompok Sunnah untuk menerima imamah para imam Syi’ah.
Pada saat yang sama, ketika ada imam dan khalifah di sisi lain, lalu masyarakat memilih khalifah sebagai pemimpin mereka untuk menangani masalah sosial, politik, militer, dan menempatkan imam sebagai hanya pemimpin spiritual, maka yang demikian, bagi Syari’ati tidak menjadi problem. Hal ini menurutnya pernah terjadi kepada Ghandi dan Nehru di India. Bahkan yang demikian, dapat membebaskan posisi imam sendiri dari kekotoran politik dan keburukan pemerintahan. Dan dalam posisi itu, keagungan dan kehormatan, bahkan ke-ismahan imam tetap terpelihara. Fungsi imam yang seperti lebih bersifat pemikiran, keilmuan dan spiritual.
Sebab, imam – dalam konsepnya yang benar – tidak berdiri dibelakang kekuatan eksekutif, dibelakang Negara, dan tidak pula bergandengan dengan politik penguasa. Para imam dalam pandangan Syi’ah ialah pemimpin para penguasa, junjungan orang-orang yang taat beribadah, pilar negara dan pemimpin umat.
Perubahan Sejarah, Menurut Syariati, terjadi karena dialektika dua kutub, yang disimbolkan dengan Habil dan Qabil sebagai konflik awal peradaban manusia, yang berakhir dengan peniadaan pada salah satu pihak. Dialektika dua kutub inilah yang menjadikan sejarah terus-menerus berkembang secara dinamik. Dalam pemikiran ini, Syari’ati dipengaruhi wacana pemikiran dialektika historis dan materialisme historis yang dikembangkan G.W.F. Hegel dan Karl Marx.
Bahkan menurut Syari’ati, bahwa perubahan sejarah tidak hanya terjadi karena dialektika dua kutub yang bersifat alamiah, akan tetapi dengan kehendak untuk berubah dengan cara berhijrah (migrasi) dari satu tempat ke tempat lainnya adalah hal yang mendasar dari perubahan dan perkembangan dalam peradaban umat manusia.
Maka dilektika dua kutub dan hijrah adalah proses dari adanya perubahan-perubahan yang berkelanjutan menuju akhir sejarah. Akhir sejarah yang dimaksud adalah lebih berupa upaya-upaya untuk menyongsong masa depan. Dalam hal ini, segitiga kerucut adalah metode yang coba ditawarkan Syari’ati dalam rangka melihat atau menengok sejarah masa depan. Namun kepastian akan adanya sejarah masa depan tersebut sangat berhubungan dengan doktrin Imamah Syi’ah, yaitu penantian terhadap Imam Mahdi sebagai “pembebas dan penyelamat” umat manusia dari berbagai bentuk kezaliman dan yang menjadi pemenang sekaligus pemegang tonggak “kebenaran” di akhir zaman.
Menurut Syari’ati terdapat dua macam perubahan histories, yakni perubahan fundamental (harakat-i jawhari) dan perubahan kecil yang transisional (harakat-i intiqali). Perubahan-perubahan kecil terhadi dalam berbagai fase kehidupan seluruh masyarakat, misalnya menyangkut perubahan kecil dalam sistem kekeluargaan. Sedangkan perubahan fundamental adalah perubahan berdampak panjdang dan besar yang mengubah sendi-sendi kehidupan masyarakat secara keseluruhan.
Bagi syari’ati sejarah bukan hanya menyangkut masa silam. Baginya sejarah tidak bearti apa-apa jika tidak berbicara masa depan. Suatu ilmu, sejarah, tidak akan bermanfaat jika tidak membantu manusia memahami masyarakatnya di masa datang. Memahami sejarah manusia di masa silam adalah untuk mengerti perjalanan sejarahnya di masa datang. Dan manusia harus menulis sejarah masa depannya itu.
Perjalanan Sejarah Manusia. Diibaratkan Syariati seperti ikan yang hidup dalam sungai yang mengalir melalui palung sungai yang dalam, dangkal, sempit dan curam sebagai hasil pembentukan geologis sepanjang waktu. Meski palung sungai telah terbentuk seperti itu ikan dapat berenang ke berbagai arah, bahkan menyonsong arus air – dengan kata lain, againt the streams/againt history. Dengkan kata lain, manusia memang dipengaruhi hokum-hukum histories, misalnya hukum sebab akibat; tatapi ia “bebas” memilih jalannya sendiri, bahkan untuk membunuh dirinya sendiri.
Dialog Kesendirian. Menurut Syariati keindahan menyendiri adalah kegembiraan yang menyakitkan, kesendirian menurutnya hanya merupakan setengah dari keberadaan; dengan demikian, kepedihan manusia yang riil bukanlah terletak pada kesendirian tetapi keterpisahanlah yang membuat manusia terluka; karena itu illumunasi lebih superior dibandingkan pikiran, hati seharusnya lebih dihargai daripada otak, dan ‘bagian dalam manusia’ lebih mulia daripada ‘bagian luar’, sementara waqi’iyyat (realitas/penampakan) memiliki derajat yang rendah dibandingkan haqiqat (kebenaran) yang merupakan tatanan yang jauh lebih tinggi; lalu setelah puas melakukan kontemplasi diri.
Ali Syari’ati menulis saya gagal dan tidak dapat menemukan esensi saya sendiri karena saya ternyata hanya bayangan-Nya, lalu diapun merusak Tuhan yang dia warisi dari nenek moyangnya dan sempat menjadi seorang yang tidak beriman untuk beberapa waktu tertentu, namun dipenghujung kegersangan batinnya itu.
Ali Syari’ati mengatakan saya berhasil menemukan Tuhan Yang Benar di dunia ini, yakni Tuhan yang membenci para pengecut, Tuhan yang membenci orang yang tidak jujur, Tuhan yang membenci orang yang tamak, dan orang yang suka memuji-muji. Yang Maha Agung adalah yang mengagumi kesetiaan dan mereka yang berteman dengan-Nya serta dekat dengan-Nya. Tuhan membutuhkan seorang yang arif yang penuh cinta kasih dan bukan seorang pelanggan surga.
Konsep Humanisme menurut Syariatu adalah aliran filsafat yang menyatakan bahwa tujuan pokok yang dimilikinya adalah untuk keselamatan dan kesempurnaan manusia. Ia memandang manusia sebagai mahluk mulia, dan prinsip-prinsip yang disarankannya di dasarakan atas pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok yang bisa membentuk species manusia.
Dalam perkembangannya humanisme, terjadi pertentangan-pertentangan yang menjadikan seakan-akan humaisme menjadi milik suatu mazhab atau golongan tertentu dari suatu masyarakat, sehingga timbul humanisme versi liberalisme barat, marxisme, eksistensialisme dan agama. Humanisme barat dibangun di atas asas-asas yang sama yang dimiliki oleh mitologi Yunani Kuno yang memandang bahwa antara langit dan bumi, alam dewa-dewa dan alam manusia terdapat pertentangan-pertentangan dan pertarungan samapi-sampai muncul kebencian dan kedengkian antara keduanya. Menurut Ali Syariati, kesalahan barat yang paling serius di atas tegaknya bangunan humaisme modern – dimulai dari pandangan Politzer, yang berlanjut pada Marx dan Feurbach – ialah bahwa mereka mengangap dunia mitologi Yunanai Kuno yang bergerak seputar jiwa yang terbatas, alami dan fisikal itu dan menganggap dunia spiritual yang sakral sama dengan fenomena yang ada pada manusia saja.
Humanisme modern yang dipandang oleh liberalisme barat borjuis sebagai sistem yang menjadi landasan bangunannya memandang manusia sebagai mahluk yang memiliki keutamaan-leutamaan moral yang abadi dan nilai-nilai mulia yang lebih luhur ketimbang materi, suatu keutamaan yang menjadi inti penting satu-satunya bagi manusia. Bertolak dari sini, liberalisme barat borjuis bersandar pada humanisme yang menjadi lawan naturalisme dan metafisika.
Pembicaraan mengenai humanisme liberal tidak dapat dipisahkan dengan kapitalisme, sebab kritik-kritik terhadap kapitalisme sering dikaitkan dengan humanisme di samping demokrasi. Tentu ini ada kaitannya dengan paham humanisme yang berkembang dengan perkembangan dunia industri atau revolusi industri yang terjadi di Inggris dan menjalar ke Eropa sampai Amerika. Kebanyakan pengkritik-pengkritik itu datang dari kaum idealis.
Metode dealiktik menyatakan bahwa manusia adalah sintesa antara ruh Tuhan (tesa) dan setan (anti-tesa).
Marxisme, Syariati membagi kehidupan Marx dan konsekuensi perkembangan Marxisme, ke dalam tiga fase yang terpisah satu sama lain. Pertama, Marx muda seorang filosof atheistik, yang mengembangkan materialisme dialektis; menolak eksistensi Tuhan, jiwa dan kehidupan akhirat. Sifat atheistik Marx ini dikembangkan ke luar proporsinya oleh kaum sosialis dkomunis Eropa; dalam memerangi gereja reaksioner mereka mengecam seluruh bentuk agama tanpa kualifikasi dan kecuali.
Kedua, Marx dewasa, yang terutama merupakan seorang ilmuwan sosial yang mengungkapkan bagaimana penguasa mengeksploitasi yang dikuasai (the ruled). Marx dalam kapasitas ini, lebih jauh menjelaskan tentang bagaimana hukum-hukum “determinisme historis” – bukan determinisme ekonomi – berfungsi dan tentang bagaimana suprastruktur di negara manapun, khususnya ideologi dominant dan institusi politiknya berinteraksi dengan infrastuktur ekonomi.
Ketiga, Marx tua, yang terutama merupakan politisi. Dalam kapasitas ini, Marx dan Marxisme menjelma menjadi partai revolusioner. Marx ini sering membuat prediksi yang pantas dari segi politisi tetapi tidak sesuai dengan metodologi ilmu sosialnya. Inilah yang kemudian disebut Syariati sebagai “Marxime vulgar”, yang akhirnya mengaburkan “Marxisme ilmiah” (scientific marxisme). Partai buruh kelas sendiri, ketika berkembang ternyata mengalami intitusionalisasi dan “birokratisasi”. Engles termasuk paling bertanggungjawab mendistorsi Marx dan Marxisme. Sedangkan Stalin menyalahgunakan aspek-aspek tertentu Marx muda dan Marx tua dengan mengorbankan Marx dewasa. Stalin melakukan hal ini tak lain untuk menjadikan Marxisme sebagai dogma kaku yang tidak menerima apa-apa kecuali materialisme ekonomi yang sempit.
Dari tiga tahap kehidupan Marx dan Marxisme, Syariati menolak Marx pertama dan ketiga, tetapi menerima kebanyakan gagasan Marx kedua. Syariati pada intinya setuju dengan paradigma yang membagi masyarakat berdasarkan penguasaan bagian-bagian masyarakat atas alat-alat produksi. Dan juga menerima paradigma pembentukan masyarakat atas dasar suprastruktur yang bersifat politis-ideologis. Karena itu, Syariati menempatkan agama ke dalam kategori suprastruktur politis-ideologis, sebab dalam prakteknya, para penguasa-apakah politik maupun keagamaan-sering menjadikan agama tidak lebih daripada sekedar “penenang” massa tertindas dengan menjanjikan kebahagiaan di akhirat kelak. Lebih jauh, Syarti mengadobsi pandangan Marx bahwa sejarah manusia merupakan sejarah pertarungan antar kelas.
Tetapi, meski Syarti menerima Marx tentang gagasan pertarungan antar-kelas, ia tidak menerima institusionalisasi dan birokratisasi perjuangan itu melalui partai komunis atau sosialis. Alasannya, hal itu hanya akan mengakibatkan lenyatpnya paradigma ideologi revolusioner, karena dengan institusionalisasi ia akan terus tunduk pada “hukum besi” birokrasi. Dalam hubungan inilah Syariati mengkritik partai dan gerakan komunis di Eropa yang menurutnya tidak menerima kenyataan bahwa dalam masa modern pertarungan terutama tidak terjadi dilingkungan kapitalis dan buruh, tetapi di antara imperialisme Barat dengan Dunia Ketiga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: