Ibn Hazm (994-1064 M)

Pemikirannya adalah Jiwa, jiwa bersifat non fisik, maka jiwa mempersepsi semua hal, mengatur tubuh, bersifat efektif, rasional, memiliki kemampuan membedakan, dinamis, memiliki kemampuan dialog, dan terbebani. Jiwa adalah fisik luhur, bersifat falaki, dan sangat lembut. Bahkan ia lebih lembut dari udara. Jiwa bergerak dengan ikhtiarnya sendiri, mengalami sakit, kenikmatan, kebahagiaan, kesedihan, kemarahan, kerelaan, memiliki pengetahuan, kebodohan, mencintai, membenci, mengingat, melupakan, mengenal dirinya sendiri dan orang lain, mengetahui fisik dan materi, menciptakan fisik dan materi, dan menciptakan dirinya sendiri.
Menurut Ibn Hazm jiwa memiliki wujud sebelum menyatu dengan fisik. Ketika jiwa menyatu dengan fisik, maka jiwa menjadi tersiksa seakan-akan ia terjerumus dalam lumpur kotor, sehingga ia menjadi lupa dengan masa lalunya karena kesibukannya dengan tubuh.
Jika jiwa terbebas dari kekeringan dan kekotoran tubuh, maka ia menjadi pandangan yang paling bening dan ilmu paling benar, sebagaimana halnya sebelum menyatu dengan tubuh. Jiwa bersifat abadi setelah kematian. Indera dan pengetahuan hilang setelah kematian. Bahkan, kata Ibn Hazm, inderanya setelah kematian menjadi lebih benar dan pengetahuannya menjadi lebih sempurna dari sebelumnya. Kehidupan jiwa yang terdiri dari penginderaan, gerak dan keinginan abadi menjadi bentuk yang lebih sempurna. Allah Swt. berfirman: “Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah kehidupan abadi seandainya mereka mengetahui”.
Cinta. Cinta adalah pertautan atau kesepakatan antara jiwa-jiwa di alamnya terdahulu sebelum memasuki jasad. Karenanya, jiwa-jiwa yang bertaut dan bersepakat saling cenderung satu sama lain.
Sesungguhnya cinta pandangan yang baik secara ruhani dan pencampuran jiwa adalah yang bersumber dari kontak dan perkenalan berbagai jiwa di alamnya yang terdahulu sebelum menyatu dengan jasad. Ketika jiwa memasuki jasad di dunia, maka ia cenderung pada jiwa yang pernah melakukan kontak dengannya di alamnya yang dahulu. Ibn Hazm berkata; “Jiwa sang pencinta bersifat ikhlas, dan mengetahui tempat di mana sesuatu yang sama dengannya berada, mencarinya, menemuinya, ingin bertemu dengannya, dan tertarik kepadanya jika memungkinkan seperti magnet dan besi.
Cinta berbeda dengan syahwat. Kalau cinta bersumber dari kontak jiwa, proses perkenalan, dan kesamaannya, sedangkan syahwat adalah cinta dalam bentuk yang indah saja serta tidak melampaui kontak, perkenalan, dan kesamaan jiwa.
Cinta ada beberapa macam. Cinta yang paling utama adalah cinta dua orang yang saling mencintai semata-mata karena Allah Swt., baik dalam suatu usaha untuk beramal, kesamaan pendapat di dalam satu madzhab atau aliran, maupun karena keutamaan ilmu yang diberikan orang lain; cinta kerabat, cinta karena sema-sama mencapai tujuan tertentu, cinta pergaulan dan perkenalan; cinta ambisi untuk mendapatkan kehormatan yang diinginkan; cinta dua orang karena rahasia tertentu dan mereka harus menutupinya; cinta untuk mencapai kenikmatan dan memenuhi kebutuhan; dan cinta asmara yang tidak beralasan, kecuali karena kontak jiwa. Semua cinta itu akan berakhir ketika sebabnya hilang; meningkat ketika sebabnya meningkat; berkurang ketika sebabnya berkurang; semakin kuat ketika jarak makin dekat, semakin melemah ketika jarak makin menjauh; serta sebisa mungkin dihilangkan dari cinta asmara dari jiwa, karena ia tidak berakhir kecuali dengan kematian. Pada cinta tadi tidak terlihat kesibukan hati, kebingungan, was-was, perubahan instink yang tersusun, perubahan sifat yang terbentuk, kekurusan, angin, dan semua bukti-bukti emosi yang muncul di dalam asmara. Dengan demikian, benar bahwa hal itu merupakan pandangan baik secara ruhani dan pencampuran jiwa.
Tingkatan cinta ada lima. Pertamanya, al-istihsan, yaitu ketika seseorang melihat orang lain terlihat cantik dan berakhlak baik, serta merta timbul sikap percaya, kekaguman (rasa suka terhadap orang lain yang ia lihat), kedekatan, rasa kangen (perasaan gelisah jika kekasih tidak ada di depan mata); kemudian, kalaf (perasaan sangat mencintai) tahap ini disebut tahap al-‘isyq (asmara), lalu berubah menajdi as-syaqhaf yaitu perasaan tidak enak makan, minum, dan tidur kecuali sedikit saja. Bahkan mungkin dapat menimbulkan sakit, ganggungan, atau kematian. Menurut Ibn Hazm Inilah cinta yang paling utama.
Menurut Ibn Hazm tanda-tanda cinta adalah selalu menatap. Maksudnya orang yang jatuh hati akan selalu melihat orang yang ia cintai. Ia akan selalu menatapnya ke mana saja sang kekasih pergi. Selalu ingin berbicara dengan sang kekasih, selalu ingin mendengar kata sang kekasih dan mempercayau semua kata-katanya, selalu ingin segera datang ke tempat di mana sang kekasih berada, selalu ingin dekat dan tidak peduli terhadap kata-kata orang yang ingin memisahkan mereka, kemudian tanda lainnya terjadinya keresahan, kebingungan, keterkejutan, dan kecematan ketika tiba-tiba bertemu dengan orang yang dicintai; termasuk keresahan ketia bertemu dengan orang yang mirip sang kekasih atau ketika tiba-tiba mendengar namanya. Selain itu, terjadinya perbedaan pendapat dan pertengkaran di antara sepasang kekasih; menafsirkan kata-kata sang kekasih bukan dengan makna yang sebenarnya; tetapi dua orang yang saling mencintai biasanya segera saling memaafkan dan kembali ke keadaan semula (saling mencintai dan mengasihi). Terakhir tanda cinta adalah suka menyendiri dan mengasingkan diri, badan kurus, dan tidak bisa tidur.
Cinta pada pandangan pertama menurut Ibn Hazm dapat terjadi, tetapi cinta yang tumbuh cepat seperti itu cepat hilang juga termasuk sebagai bagian dari syahwat. Sebaliknya, cinta yang terbentuk karena saling dialog, bertatap muka, dan saling mengenal, maka itulah cinta yang bertahan lama.
Sementara cara mengungkapkan cinta menurut Ibn Hazm adalah mengungkapkan perasaan cinta dengan kata-kata baik dengan mendendangkan syair, mengirim perumpamaan, menulis satu bait puisi, melontarkan teka-teki, atau menyampaikan kalimat-kalimat indah, korespondensi, mengirim utusan, ketaatan pencinta kepada sang kekasih, atau menyebarkan (memberitahukan ke orang lain) cintanya; tetapi cara ini tercela dan kurang etis.
Pengetahuan, sesungguhnya ilmu dan pengetahuan adalah istilah yang sama dan maknanya juga sama. Menurut Ibn Hazm Ilmu adalah kepercayaan terhadap sesuatu secara apa adanya, menyakininya, dan menghilangkan keraguan terhadapnya.
Terapi Ujub, Untuk menghilangkan sifat ujub dapat melakukan terapi sebagai berikut, pertama, Sesungguhnya orang yang mengalami ujub harus mencari tahu tentang aibnya sendiri. Sebab, mengenai aib adalah obat untuk mengatasi ujub terhadap diri sendiri. Kedua, Jika engkau bangga dengan akal dan pikiranmu, maka pikirkanlah tentang ide buruk yang muncul di dalam benakmu, tentang kesalahan-kesalahanmu, tentang pendapatmu yang engkau anggap benar. Sehingga, hasilnya tidak sama dengan pikiranmu. Ketiga, Jika engkau membanggakan ilmumu, maka ketahuilah bahwa ilmu adalah anugerah dari Allah. Bila saja Allah membuatmu lupa terhadap ilmumu karena alasan untuk mengujimu. Selain itu, ilmu yang engkau ketahui secara khusus lebih sedikit dibanding ilmu yang tidak engkau ketahui. Keempat, Jika engkau membanggakan keberanianmu, maka pikirkan orang yang lebih berani dari dirimu. Kemudian ingatlah bahwa keberanian akan sirna jika usia tua telah menjelang. Sebaliknya, jika engkau hidup dalam usia tua, maka engkau akan menjadi salah satu tanggungan keluarga dan seperti anak kecil dari segi ketidakberdayaan. Kelima, Jika engkau membanggakan kekayaan, maka lihatlah pada orang yang jatuh menderita yang lebih kaya dari dirimu. Janganlah iri terhadap orang yang melampaui dirimu. Kemudian ingatlah bahwa harta bisa hilang dari dirimu. Itu sebabnya, berbangga terhadap sesuatu yang bisa hilang dari dirimu adalah sebuah kedunguan. Keenam, Jika engkau membanggakan kecantikan/kegantengan, maka ingatlah bahwa kecantikan/kegantengan akan hilang ketika engkau mulai tua. Ketujuh, Jika engkau berbangga diri karena pujian-pujian kawanmu, maka ingatlah dengan celaan musuh-musuhmu. Kedelapan, Jika engkau berbangga diri dengan keturunanmu, maka ingatlah bahwa keturunan pada dasarnya merupakan sesuatu yang tidak berguna bagimu di dunia dan akherat. Kesembilan, Jika engkau berbangga dengan kekuatan fisikmu, maka ingatlah bahwa Keledai, Baghal (hasil persilangan antara Keledai dan Kuda), Sapi lebih kuat dan lebih mampu sebagai alat transfortasi dibandingkan dirimu. Jika engkau berbangga dengan kelincahan, maka ketahuilah bahwa Anjing dan Kelinci mengalahkanmu dalam hal itu. Sehingga, sangat aneh jika seorang yang rasional membanggakan sifat yang dimenangkan oleh hewan yang tidak rasional.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: