Ibnu Arabi (1165 -1240 M)

Pemikirannnya adalah, Tuhan yang dipercayai manusia menurut Ibn Arabi adalah “Tuhan kepercayaan” (al-ilah al-mu’taqad), “Tuhan yang dipercayai” (al-ilah al-mu’taqad), “Tuhan dalam kepercayaan” (al-ilah fi al-i’tiqad), “Tuhan kepercayaan” (al-haqq al-i’tiqadi),”Tuhan yang dalam kepercayaan” (al-haqq al-ladzi fi al-mu’taqad), dan “Tuhan yang diciptakan dalam kepercayaan” (al-haqq al-makhluq fi al-i’tiqad).
Tuhan memberikan kesiapan (al-isti’dad) sesusai dengan firman-Nya, “Dia memberi segala sesuatu ciptaannya ” (Q.S. Thaha: 50). Maka Dia mengangkat hijab antara Dia dan hamba-Nya. Sang hamba melihat-Nya dalam bentuk kepercayaannya, jadi Tuhan identik dengan kepercayaannya sendiri. Baik kalbu maupun mata tidak pernah melihat sesuatu kecuali bentuk kepercayaannya tentang Tuhan. Tuhan yang ada dalam kepercayaan itu adalah Tuhan yang dibentuk-Nya diliputi oleh kalbu, itulah Tuhan yang menampakkan diri-Nya kepada kalbu sehingga Dia dikenal. Maka mata tidak melihat selain Tuhan kepercayaan.
Tuhan kepercayaan adalah ciptaan bagi yang mempersepsikannya. Dia adalah ciptaannya. Karena itu, pujiannya kepada apa yang dipercayainya adalah pujiannya keapda dirinya sendiri. Itulah sebabnya mengapa ia mencela kepercayaan orang lain. Jika ia menyadari (persoalan yang sebenarnya), tentu ia tidak akan berbuat demikian itu. Tidak diragukan bahwa pemilik obyek penyembahan khusus itu adalah bodoh tentang itu karena penolakannya terhadap apa yang dipercayai oleh orang lain tentang Allah. Jika ia mengetahui apa yang dikatakan oleh al-Junaid, “Warna air adalah warna bejana yang ditempatinya, ia akan memperkenalkan apa yang dipercayai setiap yang mempunyai kepercayaan dan mengakui Tuhan dalam setiap bentuk dan dalam setiap kepercayaan.
Pengetahuan benar tentang Tuhan, menurut Ibn Arabi adalah pengetahuan yang tidak terikat oleh bentuk kepercayaan atau agama tertentu. Inilah pengetahuan yang dimiliki oleh para gnostik (al-arifun). Karena itu, para sufi tidak pernah menolak Tuhan dalam kepercayaan, sakte, aliran, atau agama apa pun. Ini bearti bahwa Tuhan, bagi mereka, dalam semua kepercayaan, sakte, aliran, atau agama, adalah satu atau sama. Maka kata Ibn Arabi, Barangsiapa yang membebaskan-Nya (yaitu Tuhan) dari pembatasan tidak akan mengingkari-Nya dan mengakui-Nya dalam setiap untuk tempat. Dia mengubah diri-Nya.
Berfikir tidak mempunyai hukum dan daerah kekuasaan (mengetahui atau memahami) zat al-Haqq, baik secara rasiobal maupun menurut syara’. Syara’ telah melarang berfikir tentang zat Allah. Inilah yang disinggung oleh firma-Nya, “Allah memperingkatkan kamu tentang diri-Nya”, (Q.S Al-Imran: 28), yaitu “Jangan kamu berfikir tentang-Nya (Zat-Nya). Larangan ini ditetapkan karena tidak ada hubungan antara zat al-Haqq dan zat al-Khalq.
Dari segi diri-Nya, Zat Tuhan tidak mempunyai nama, karena Dzat itu bukanlah lokus efek dan bukan pula diketahui oleh siapa pun. Tidak ada nama yang menunjukkannya yang terlepas dari hubungan dan bukan pula dengan pengukuhan. Nama-nama berfungsi untuk pemberitahuan dan pembedaan, tetapi pintu (untuk mengetahui Zat Tuhan) dilarang bagi siapa pun selain Allah, karena tidak ada yang mengetahui Allah kecuali Allah).
Ibn Arabi menyebut nama Allah sebagai Satu-Banyak (al-wahid al-katsir). Allah adalah satu dalam esensinya dan banyak dalam berbagai hubungan-Nya dengan kosmos, yaitu hubungan yang ditunjukkan oleh nama-nama. Para pengikut al-Arabi menyebut perbedaan ini dengan istilah ahadiyah (kesatuan eksklusif) dan wahidiyah (kesatuan inklusif). Kesatuan ekslusif mengacu kepada realitas Allah dalam dirinya sendiri dan kesatuan inklusif merujuk pada Allah yang digambarkan sebagai sumber kosmos. Untuk itu, Tuhan akan hadir dan menyapa manusia sesuai dengan persepsi manusia tentang Dia. Bagi mistikus, jalan masuk surga yang dipilihnya adalah Pintu kasih, sehingga Tuhannya mustikus adalah Tuhan Sang Kekasih. Adapun bagi para filusuf Tuhan hadir sebagai Dia Yang Maha Cerdas dan Kreatif.
Kritik para para filosof, di antara berbagai kelompok, tidak ada seorang pun yang lebih tinggi dari orang yang memperoleh pengetahuan melalui taqwa. Taqwa terletak pada tingkat pencapaian pengetahuan yang paling tinggi. Ia saja yang memiliki keputusan yang pasti. Otoritasnya berada di atas setiap keputusan yang ada dan di atas setiap orang yang membuat keputusan. Ia adalah qadli yang terbaik. Pengetahuan ini tidak dapat diperoleh pada tingkat permulaan. Karena itu, hanya orang yang berilmu di antara orang yang beriman yang dipilih untuk memperolehnya, yakni, mereka yang tahu bahwa ada seseorang untuk kembali dan menyaksikan-Nya dapat diraih. Jika mereka jahil dari pengetahuan ini, aspirasinya (himmah) akan sangat lemah sehingga sekiranya al-Haqq menampakkan diri-Nya (tajalli) kepada mereka, mereka akan menafikan-Nya dan menolak-Nya, karena pandangan mereka dibatasi (muqayyad) oleh sesuatu. Selama faktor pembatas itu tidak ada pada waktu pemampakan-Nya (tajalli), mereka pasti akan menolak bahwa itu Tuhan, sekalipun Tuhan berbicara kepada mereka secara langsung atau mereka mendengar ucapan bahwa Dia itu Tuhan. Karena tidak memperoleh ilham dan karena pemikiran rasional mereka menyakinkan mereka bahwa tidak mungkin siapa pun dapat melihat al-Haqq – seperti para filsuf dan kaum Mu’tazilah – bahkan sekiranya kita mengetahui-Nya, mereka niscaya menolak-Nya dalam penampakan-Nya kepada mereka. Diperlukan bagi orang beriman agar cahaya imannya membawanya kepada apa yang telah membawa Musa a.s ketika ia bertanya: Ya Tuhanku, tampakkan diri-Mua kepadaku agar aku dapat melihat-Mu (Q.S. al-A’raf: 43).
Arabi mengurai empat jenis cinta. Yaitu pertama, cinta kepada Tuhan (hubb ilahi). Kedua, cinta spiritual (hubb ruhani). Ketiga, cinta kodrati (hubb thabi`i). Dan keempat, cinta material (hubb ‘unshuri). Setelah menjelaskannya satu persatu, Ibn Arabi lantas menegaskan bahwa cinta kepada Tuhan harus dibuktikan dengan mengikuti syariat dan sunnah Rasul-Nya saw (al-ittiba‘ li-rasulihi shallallahu alayhi wa sallam fima syara‘a

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: