Mehmed Diya atau Ziya Gokalp (1876-1924); Pan-Turkiisme

Adalah seorang pendukung dan perumus utama negara sekuler Turki yang kemudian dilaksanakan oleh Mustafa Kemal Attaturk dalam bentuk reformasi kekhalifahan Islam. Pemikirannya,
Kehancuran Islam, dalam pandangan Gokalp karena hilangnya kebudayaan nasional yang disebabkan kecenderungan Islam memaksakan kehendak diri sebagai sebuah peradaban dengan mengorbankan kebudayaan nasional. Pada saat yang sama Gokalp juga menolak anggapan umum bahwa dampak kekuatan eksternal, terutama dominasi Eropa modern, sebagai sebab utama kehancuran Islam
Islam, menurut Gokalp telah kehilangan kekuasaanya karena ia gagal mewujudkan fungsinya secara independent. Kedekatan agama dengan Negara tidak memberikan keuntungan apa-apa kepada Islam, bahkan hanya menyebabkan kerugian yang sangat besar. Karena agama adalah mesin hokum, ia cenderung untuk melegislasi dan memformalkan setiap kekuatan social yang ada di dalamnya. Karena itulah Islam mulai kehilangan validitasnya, persis sejak Islam mulai dicampur dengan organisasi politik serta mulai diformalisasikan sebagai sebuah sistem hokum yang tertutup, yang bertentangan dengan prinsip ijtihad.
Karena itu bagi Gokalp kemandekan dalam bidang fiqh sebagai penyebab keruntuhan Islam. Baginya, masa kejayaan Islam adalah sebelum terbentuknya fiqh. Dinamika Islam terletak pada apa yang disebutnya sebagai “syariah social”, yakni fiqh yang diruuskan sejalan dengan tahapan perkembangan masyakat. Ia melihat bahwa Muslim yang hidup pada masa tersebut tidak terikat pada satu madzhab fiqh yang mandek. Penyebab keruntuhan, karenanya, terletak pada sikap acuh kaum Muslim dalam menanggapi perubahan kondisi dalam kehidupan mereka, serta penolakan mereka menerima kenyataan bahwa agama harus selalu ditafsirkan untuk menghadapi kondisi yang terus berubah. Penafsiran ulang itu sangat penting agar signifikansi agama dalam kehudoan dapat terus terjaga.
Islam dalam pandangan Gokalp merupakan fenomena kesejarahan yang bisa berubah dan tergantung pada situasi social di mana ia berkembang.Dengan mengambil kerangka Durkheim, ia melihat agama sebagai sebuah ekspresi simbolik dalam kehidupan, dan berupaya mencari penjelasan rasional bagi fenomena Islam.
Westernisasi, Gokalp menerima total konsep tersebut sebagai suatu jalan untuk mengatasi keruntuhan yang diderita kaum Muslim. Bagi Gokalp, westernisasi tidak hanya cocok dengan kebudayaan nasional Turki, tapi bahkan merupakan pilihan tak terhindarkan untuk mencapai kejayaan bangsa ini. Sebaliknya, tak ada ketidakcocokan antara peradaban Barat dan Islam. Gokalp secara tegas membedakan peradaban barat dalam pengertian modernitas dan Kristen. Ia menolak penyamaan semberono peradaban Barat dengan Kristen. Menurutnya Peradaban Barat adalah peradaban modern yang tumbuh dari keunggulan nalar rasional dan ilmu pengetahuan positif dengan mengorbankan Kristen.
Islam menurut Gokalp adalah agama yang didasarkan pada keilmuan dan pencerahan, dengan bukti bahwa Islam adalah agama yang paling modern dan sama sekali tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan modern.
Gokalp berpendapat bahwa solusi untuk keluar dari keterpurukan Islam adalah harus ada pemisahan antara agama dan Negara, adopsi peradaban Barat dan perbaikan sistem pendidikan nasional Turki harus sejalan dengan sistem pendidikan modern.
Kekhalifah Turki Ustmani menurutnya harus menanamkan kesadaran bangsa Turki untuk menghadapi tantangan dari bangsa-bangsa non Turki yang berasal dari pecahan kekhalifah.
Gagasan Turkisme Gokalp dipicu oleh pertimbangan praktis dalam mengombinasikan tiga kekuatan yang ada; Islamisme, westernisasi, dan nasionalisme. Ia mengamati bahwa kalangan westernis berusaha keras meniru masyarakat Barat, kalangan islamis ingin menghidupkan kembali Islam kuno, sementara Pan-Turkis berupaya keras menghidupkan kembali adat etnis yang dikenal Turki pada masa pra-Islam. Baginya, yang disebut bangsa bukan sekelompok individu yang dipersatukan oleh ikatan perekonomian modern maupun teknologi. Bangsa juga tidak bisa disamakan dengan ummet, yakni suatu komunitas relegius yang dipersatukan oleh iman Islam, bukan oleh ras atau kekeluargaan etnis yang dipersatukan oleh kebiasaan kesukuan lama. Gokalp menolak ketiga pemahaman tentang kebangsaan tersebut, Pan-Islam, Pan-Ustmani, dan Pan-Turki. Yang pertama, menurutnya mencampuradukkan antara kebangsaan dengan ummet, atau komunitas relegius internasional. Yang kedua, mencampuradukkan kebangsaan dengan asosiasi beberapa bangsa, relegius atau non relegius, dalam sebuah kesatuan politik. Yang ketiga secara keliru mendasarkan paham kebangsaan di atas ras atau kesatuan etnis.
Gokalp kemudian melanjutkan dengan memberikan definisi sosiologis tentang bangsa yang didasarkan pada kriteria keunggulan – pendidikan, budaya, dan emosi bersama, dengan bahasa sebagai medium terpenting. Dengan demikian, sebuah bangsa adalah sebuah kelompok atau kolektivitas social yang terdiri dari para individu yang menerima pendidikan yang sama, memiliki bahasa, emosi, ideal-ideal, agama, moralitas, dan rasa estitika yang sama.
Jelas bahwa meskipun menolak ketiga konsep tersebut di atas, Gokalp mengambil elemen-elemen penting dari ketiga konsep tersebut dalam membentuk pemahaman baru mengenai kebangsaan. Bagi Gokalp, kebangsaan Turki adalah sebuah produk modern yang disebabkan oleh disintegrasi ummet Islam dan kekhalifahan Utsmani, sebagaimana semua bangsa Barat dilahirkan dari perpecahan antara gereja universal dan kerajaan.
Dalam pandangan Gokalp, Turkisme mewakili suatu ideal kultural dan filsafat kehidupan yang menjadi basis bagi solidaritas nasional. Sampai 1912 ia mempertahankan gagasan Negara multi-nasional (yakni kekhalifahan Utsmani), tapi sesudah itu – dengan menerima bahwa perpecahan di dalam kekhalifahan Utsmani adalah kenyataan yang tak bisa dihindari – ia mulai mengadvokasikan gagasan Negara-negara tunggal. Gokalp kemudian menawarkan beberapa bentuk reformasi kultural termasuk pengembangan bahasa Turki, perpaduan musik rakyat Turki dengan musik Barat; peningkatan moral individu dan social dalam hal patriotisme, demokras, dan kesertaraan, serta penetapan hokum dan lembaga-lembaga modern bagi keluarga modern. Ia juga mengajukan usul pengembangan populisme dalam politik Turki dan pengembangan industri berskala besar dalam ekonomi modern.
Sejauh berkaiatan dengan Turkisme Gokalp, jelas bahwa yang dimaksud adalah nasionalisme yang non rasis, non-ekspansionism, dan pluralistic. Karena itu, ia menentang ekstemisme dalam gerakan “pemurnian” bahasa Turki dan mengusulkan perubahan dari aksara Arab ke Latin dengan alasan itu akan memutuskan kontinuitas kebudayaan nasional. Bagi Gokalp, tidak terdapat kontradiksi inheren antara satu bansga dengan bangsa lain, antara Turkisme, komunitas relegius (Islam), dan komunitas internasional (modernisasi atau westernisasi). Ketegangan yang muncul antara kebudayaan nasional dengan peradaban bangsa lain atau dunia internasional pada dasarnya tidak perlu terjadi, karena masing-masing kebudayaan memberikan jawaban berbeda terhadap kebutuhan yang berbeda pada level yang berbeda pula. Sehingga, menurut Gokalp mungkin bagi Turki untuk secara simultan merujuk pada kebudayaan Turki-Islam, smabil melengkapi diri dengan piranti nalar, ilmu pengetahuan, dan teknologi peradaban modern.
Karena komunitas relegius tidak bisa lagi menjadi kriteria nasionalisme, menurut Gokalp, agama menjadi sebuah tipe moralitas dan solidaritas social. Ia merasa bahwa kecuali berhubungan dengan personal antara manusia dengan Tuhan, sebenarnya semua kewajiban agama menggantungkan sanksinya pada sanksi social. Karena itu, Gokalp kemudian menandaskan pada semua serpihan “theokrasi” dan “klerikalisme” harus dibersihkan dari lingkup politik. Sejalan dengan pluralisme korporatisme solidaristik, otoritas politik dan relegius sebagai unit social yang berbeda akan menjadi lembaga-lembaga otonom. Konsepsi demikian mendorong Gokalp merekomendasikan penghapusan jabatan Seyhulislam (mufti tertinggi) dari struktur Negara Turki modern.
Dengan demikian, tujuan Gokalp ada dua. Pertama, memisahkan agama dari Negara yang dimaksudkan untuk mengakhiri dominasi Islam atas kehidupan social politik bangsa Turki. Kedua, untuk memisahkan agama dari peradaban Timur dan dengan demikian, membuka peluang bagi nilai-nilai dasar Islam bersanding dengan peradaban Barat serta kebudayaan rasional Turki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: