Ibn Sina (980-1037 M)

Pemikirannya adalah Metafisika, sifat wujudiah sebagai yang terpenting dan mempunyai kedudukan di atas segala sifat lain, walaupun esensi sendiri.
Jiwa, menurut Ibn Sina adalah kesempurnaan awal, karena dengannya spesies (jins) menjadi sempurna sehingga menjadi manusia nyata. Jiwa juga merupakan kesempurnaan awal bagi tubuh alamiah yang bersifat mekanistik atau bagi tubuh alamiah dan bukan bagi tubuh buatan. Mekanistik artinya bahwa fisik melaksanakan kesempurnaannya yang kedua atau sifatnya yang berkaitan dengan manusia – yang tidak lain dari berbagai perilaku atau fungsinya – dengan mediasi alat-alat tertentu yang ada di dalamnya, yaitu berbagai anggota tubuh yang melaksanakan berbagai fungsi psikologi.
Akal teoritis merupakan daya yang mempersepsikan gambar-gambar universal dan abstrak, baik yang bersifat abstrak secara substantif maupun abstrak yang bersifat pembebasan akal dari materi dan segala hal yang berkaitan dengannya.
Akal teoritis memiliki tahapan-tahapan dari proses persesi akal, yaitu pertama, akal potensial, maksudnya sebelum mempersepsi hal-hal yang rasional, akal merupakan akal potensi atau akal hayulani. Akal hayulani adalah kesiapan mutlak yang pada manusia untuk menangkap hal-hal yang rasional sebelum kesiapan berubah menjadi aksi, seperti kesipan yang ada pada anak kecil untuk belajar menulis. Kedua, akal bakat atau kepemilikan (al-‘aql bilmalakah), maksudnya ketika anak kecil mempersepsi hal-hal rasional yang utama, yaitu premis-premis yang memperoleh pembenaran tanpa usaha, seperti pernyataan “total lebih besar dari bagian” dan “ukuran yang sama adalah untuk sesuatu yang sama”, sesungguhnya pernyataan-pernyataan itu menjadi akal bakal. Ibn Sina mengumpamakan akal bakat dengan daya anak kecil yang mengenal pena, tinta dan huruf-huruf sederhana berdasarkan tulisan. Ketiga, akal aktual (al-‘aql bilfi’li), maksudnya ketika akal mempersepsikan hal-hal rasional yang sekunder, dan diperoleh dengan bantual hal-hal rasional yang pertama, maka pada saat itu akal menjadi akal aktual. Hanya saja akal tidak ditelaah dan disebabkan oleh aktualitas, tetapi ia dapat menelaahnya kapan saja, sebab ia merupakan akal yang berfikir kapan saja tanpa beban usaha. Keempat, akal yang mengambil manfaat (al-‘aql al-mastafad) maksudnya ketika stimulus rasional hadir di dalam akal secara aktual dan akal menelaahnya dengan nyata dan memikirkan bahwa ia memikirkannya dengan aktual, maka akan berubah menjadi akal mustafad. Itulah kesempurnaan akal, dengannya kesempurnaan manusia terwujud. Akal dinamakan akal mustafad karena ia memanfaatkan situmulus rasionalnya dan mengambilnya dari akal yang berbeda di luar dirinya.
Itulah akal aktual yang bila dinisbatkan kepadanya bagaikan matahari bagi mata. Senar matahari membuat mata dapat melihat, maka demikian pula dengan akal aktual yang mengubah daya menjadi aksi dan memberinya berbagai objek rasional yang ia pikirkan secara nyata. Pada akal mustafad hewan dan manusia menjadi sempurna, dan id sana daya manusia sama dengan berbagai prinsip utama untuk seluruh ekistensi.
Kesiapan untuk menerima hal-hal yang rasional sangat kuat pada sebagian orang, sehingga mereka menjadi cepat tanggap dan cepat melakukan kontak dengan akal actual. Hal-hal rasional yang ada pada akal aktual segera tergambar di dalam akal tanpa tanpa susah payah dan inilah salah satu jenis kenabiah (nubuwah). Ibn Sina menyebut daya ini sebagai daya kudus dan itulah daya manusia yang tertinggi.
Kenabian, bertitik tolak dari tingkatan akal. Akal material sebagai yang terendah adakalanya dianugrahkan Tuhan keapda manusia akal material yang besar lagi kuat (intuisi). Sehingga tanpa melalui latihan, dengan muda dapat berhubungan dengan Akal Aktif dan dengan muda dapat menerima cahaya atau wahyu dari Tuhan.
Tasawuf, tidak dimulai dengan Zuhud, beribadah dan meninggalkan keduniaan. Dimulai dengan akal yang dibantu oleh Hati. Dengan kebersihan hati dan pancaran akal , lalu akal akan menerima ma’rifah dari Akal Fa’al.
Manusia tidak bisa bersatu dengan Tuhan, tetapi melalui perantara untuk menjaga kesucian perhubungan antara manusia dengan Tuhan saja. Karena manusia mendapat sebahagiaan pancaran dari perhubungan itu. Pancaran dan sinar ini tidak langsung keluar dari Tuhan, tetapi melalui Akal Fa’al.
Pendidikan. Jika pendidikan anak diabaikan pada usia dini, maka akhlak dan kebiasaan buruk bisa jadi akan tertanam, akibatnya kelak akan sulit untuk melepaskan diri darinya.
Menurut Ibn Sina pentingnya adanya reward and punishment dalam mendidik dan mengajarkan akhlak serta prilaku baik kepada anak. Jenis reward yang dapat digunakan dalam mendidik anak, yaitu bersikap positif terhadap anak, memperlihatkan prilaku baik, dan meridhai semua perilakunya yang baik, serta memujinya. Sementara punishment, yaitu ancaman, pengabaian, dan celaan. Jika punishment masih tidak bermanfaat dalam mencegah kenakalan si anak, maka dibolehkan menggunakan pukulan tangan yang tidak terlalu keras juga tidak terlalu ringan, sampai si anak menjadi sadar.
Di samping itu, Ibn Sina juga menekankan agar pendidik memiliki agama, akhlak, kepribadian yang seimbang, kehalusan budi, kelembutan bahasa, dan mengetahui metode pendidikan anak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: