Ibn Tufail (-1185 M)

Pemikirannya adalah, Kisah Hayy bin Yaqzhan, merupakan kisah simbolik. Mengisahkan seorang bayi diletakkan ibunya dalam sebuah kotak dan dihanyutkan di laut karena takut dengan kekejaman raja penguasa pulau tempat ia hidup. Ombak laut membawa sang bayi ke pantai sebuah pulau terpencil dari komunitas manusia dan tidak semorang pun yang hidup di sana. Maka, seekor rusa menemukannya, lalui menyusuinya dan mengambil alih tanggungjawab pendidikan dan pemeliharaannya.
Hayy bin Yaqzhan hidup seorang diri di pulau ini. Ia mencari-cari dan melihat-lihat sekelilingnya. Ia mempelajari segala sesuatu yang dapat membantu dalam kehidupan. Ia mempelajari keahlian pembuaan pakaian, teknik bangunan, keahlian memanah, keahlian menggunakan api, hingga ia sampai pada pengetahuan tentang hakikat berbagai benda-benda yang ada di sekitarnya; tentang kematian dan kehidupan; tentang jiwa; tentang Allah Swt.
Jiwa, menurut Ibn Tufail sesungguhnya jiwa yang ada pada manusia dan hewan adalah ruh hewani yang berpusat di jantung. Itulah faktor penyebab kehidupan hewan dan manusia beserta seluruh prilakunya. Ruh hewan muncul melalui syaraf dari jantung ke otak, dan dari otak ke seluruh anggota badan. Dialah yang merupakan dasar terwujudnya semua aksi anggota tubuh.
Pengetahuan, menurut Ibn Tufail memiliki dua jalan. Pertama, jalan yang naik dari indera, pengamatan, dan pengalaman secara bertahap menuju penelitian dan penalaran rasional berdasarkan metode deduktif dan penyimpulkan sampai berakhir pada pengetahuan tentang wujud wajib al-wujud, yakni Allah Swt, Sang Pencipta alam semesta beserta segala isinya. Inilah batas akhir pengetahuan melalui jalan tersebut. Kedua, jalan tasawuf. Ia adalah jalan tempat turunnya pengetahuan yang memancar dari Allah atas para nabi, rasul, wali dan orang-orang yang salih.
Kebahagiaan, terbesar menurut Ibn Tufail adalah melihat wajib al-wujud, Pencipta segala yang ada, yakni Allah Swt, yang kesempurnaan-Nya tidak berakhir, dan keindahan-Nya tidak berujung. Dialah di atas segala kesempurnaan dan keindahan. Semua kesempurnaan dan keindahan di dalam wujud bersumber dari-Nya dan terpancar dari sisi-Nya. Oleh karena itu, barangsiapa yang kehilangan pemahaman akan hal itu setelah mengenal-Nya, maka pasti ia akan selalu kehilangan dan mengalami penderitaan tanpa akhir. Begitu juga, barangsiapa yang mempersepsi-Nya secara terus menerus, maka ia akan selalu merasakan kenikmatan dan ghibthah yang tak berujung, serta kebahagiaan dan kesenangan yang tak berakhir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: