al-Ghazali (1058-1111 M)

Pemikirannya, Jiwa mengikuti pendapat Ibn Sina, al-Farabi dan Aristoteles jiwa terbagi menjadi tiga: Pertama, Jiwa tumbuh-tumbuhan adalah kesempurnaan pertama bagi fisik alamiah yang bersifat mekanistik; ia membutuhkan makan, tumbuh dan berkembang biak. Kedua, Jiwa hewan adalah kesempurnaan pertama bagi fisik alamiah yang bersifat mekanistik; ia mempersepsikan hal-hal parsial dan bergerak dengan hasrat. Ketiga, Jiwa manusia adalah kesempurnaan pertama bagi fisik alamiah yang bersifat mekanistik; ia melakukan berbagai aksi berdasarkan ikhtiar akal dan menyimpulkan dengan ide, serta mempersepsikan berbagai hal yang bersifat kulliyat.
Jiwa memiliki fungsi. Pertama, fungsi yang berkaitan dengan bagian di bawahnya, yaitu badan. Kedua, fungsi yang berkaitan dengan bagian di atasnya, yaitu prinsip-prinsip luhur dan akal aktif.
Tingkatan akal teoritis, terbagi ke dalam berbagai macam tahapan-tahapan; yaitu pertama, Akal potensial (Hayulani) artinya kesiapan mutlak yang ada pada anak kecil untuk mempersepsikan stimulus rasional yang total sebelum mempersepsikan stimulus tersebut. Contoh kesiapan anak kecil belajar menulis. Kedua, Akal properti/kepemilikan (bilmalakah) artinya jika akal memperoleh stimulus rasional pertama. Maksudnya premis-premis yang memperoleh pembenaran tanpa melalui usaha. Ketiga, Akal aktual (bilfi’li) artinya jika akal memperoleh stimulus rasional kedua atau hal-hal perolehan setelah hal-hal rasional pertama, tetapi tidak diikuti oleh aksi dan seakan-akan tersimpan serta dapat dimunculkan kembali kapan saja; memikirkannya, dan menyadari bahwa ia memikirkannya. Keempat, Akal Mustafad artinya jika gambar-gambar rasional hadir secara nyata di dalam akal, dan akal memikirkannya secara nyata serta menyadari bahwa ia memikirkannya secara nyata pula.
Manusia menurut al-Ghazali memiliki empat sifat dalam dirinya, Pertama, Sifat as-Sab’iyyah (hewan buas). Jika emosi menguasai dirinya, maka ia akan melakukan perilaku hewan buas seperti permusuhan, kebencian dan menyerang manusia dengan pukulan dan cacian. Kedua, Sifat al-Bahimiyah (hewan liar). Jika syahwat mengauasai dirinya, maka ia akan melakukan perilaku hewan liar seperti kejahatan, ketamakan dan seksual. Ketiga, Sifat asy-Syaithaniyah (setan). Berbeda dengan hewan, melalui kemampuan membedakan yang disertai nafsu emosi dan syahwat. Maka pada diri manusia muncul sifat setan. Ia akhirnya menjadi orang jahat yang menggunakan kemampuan membedakan untuk menyimpulkan berbagai bentuk kejahatan dan berusaha mencapai tujuan dengan cara makar, licik dan penipuan serta memperlihatkan kejahatan dalam bentuk kebaikan. Keempat, Sifat ar-Rabbaniyah (ketuhanan). Jika amar rabbani (sifat ketuhanan) ada pada dirinya, maka ia akan menganggap dirinya memiliki sifat ketuhanan, sangat cinta kekuasaan, kebesaran, kekhususan, kediktatoran, lepas dari ubudiyah dan kerendahan hati, ingin menelaah semua ilmu, bahkan mengakui dirinya berilmu, berpengetahuan, dan berwawasan tentang segala hal; senang jika dikatakan berilmu, dan sedih jika dikatakan bodoh.
Sebab-sebab kesombongan di dalam diri seseorang adalah; pertama, Ilmu, sebab sebagian orang yang berilmu merasa dirinya memiliki kesempurnaan ilmu, sehingga ia menganggap bahwa orang lain bodoh dan tidak berguna. Kedua, Amal dan Ibadah. Orang yang sombong merasa dirinya lebih baik dan lebih mulia daripada yang lain dihadapan Allah. Ia memandang orang lain dalam keadaan hancur dan memandang dirinya selamat. Jika seseorang menyakiti atau berperasangka buruk, maka ia berkeyakinan bahwa Allah akan murka kepadanya dan menyiksanya sebagai penghormatan atas dirinya. Ketiga, Kekayaan dan keturunan. Orang yang memiliki keturunan yang terhormat akan menghina orang yang tidak memiliki keturunan yang terhormat. Kadang-kadang ia bersikap sombong terhadap orang lain dan enggan untuk bergaul dan berkomunikasi dengan mereka. Keempat, Kecantikan. Kesombongan terhadap kecantikan umumnya terjadi di kalangan wanita. Kelima, Harta. Kesembongan dengan harta terjadi pada diri orang kaya yang menghina dan bersikap sombong terhadap orang miskin. Keenam, Kekuatan. Orang yang kuat bersikap sombong terhadap orang-orang lemah. Ketujuh, Kesembongan karena memiliki banyak pengikut, pendukung, keluarga dan kerabat.
Untuk menghilangkan itu semua Terapinya, Menumbangkan pohon kesombongan dari akarnya di dalam hati atau dengan bahasa lain, mencabut akarnya dan Mencegah gejala kesombongan dengan teoritis dan praktis. Teoritis dengan cara mengenal dirinya dan Tuhannya. Jika ia telah mengenal dirinya, maka ia akan tahu bahwa dirinya tidak bileh sombong tetapi harus bersikap rendah hati. Bahkan jika ia mengenal tuhan, maka dia akan tahu bahwa dirinya tidak berhak sombong dan angkuh karena itu semua adalah pakaian Tuhan. Praktis. Pertama, orang yang menderita penyakit sombong karena keturunan, maka hendaklah ia mengobati hatinya dengan cara mengenal keturunannya yang sejati, yaitu debu dan air mani menjijikkan. Kedua, orang yang sombong karena kecantikan, maka hendaklah ia melihat ke dalam batinnya dan tidak melihat ke bagian lahirnya. Barang siapa yang melihat aspek batinnya, maka ia akan melihat berbagai kotoran dan noda yang dapat menjauhkannya dari kesombongan karena kecantikan lahir. Ketiga, kesombongan karena kekuatan, maka hendaklah ia mengtahui bahwa penyakit dapat membuatnya lemah dibandingkan semua yang lemah. Seandainya duri masuk ke dalam kakinya, maka ia akan menjadi lemah. Keempat, kesembongan karena kekayaan dan harta, serta banyak pengikut dan pendukungnya adalah kesombongan yang buruk. Sebab ia berlaku sombong dengan makna yang bersifat eksternal dari jati diri manusia. Jika harta habis atau terbakar, maka ia kembali menjadi orang yang hina. Kelima, Sombong karena ilmu adalah penyakit yang paling berbahaya dan pengobatannya dengan dua cara. 1). Hendaklah ia mengetahui bahwa Allah memaklumi orang yang bodoh tetapi tidak memaklumi orang yang tahu. Jika orang yang tahu melanggar perintah Allah, maka dosa dan bahayanya lebih besar, 2). Hendaklah ia mengetahui bahwa kesombongan hanya layak dilakukan oleh Allah. Jika ada orang yang bersikap sombong, maka ia dimurkai Allah.
Pengetahuan. menurut al-Ghazali manusia memperoleh pengtahuan melalui dua cara, pertama, melalui belajar di bawah bimbingan seorang guru, serta dengan menggunakan indera dan akal. Melalui cara ini, manusia mengenal dunia inderawi, menghasilkan ilmu pengetahuan serta mempelajari huruf dan keahlian. Kedua, melalui belajar yang bersifat rabbani atau belajar laduni, dimana terungkap pengetahuan hati secara langsung melalui ilham dan wahyu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: