Ibn Qayyim al-Jauziyah (1292 – 1350 M)

Pemikirannya adalah; Jiwa adalah subtansi yang bersifat nurani ‘alawi khalif hay mutaharrik atau jism yang mengandung nur, berada di tempat yang tinggi, lembut, hidup, dan dinamis.
Jiwa manusia hanya satu, tetapi memiliki tiga sifat. Ada jiwa yang disebut muthmainnah (jiwa yang tenang) karena ketenangannya beribadah, ber-mahabbah, ber-inabah, bertawakkal, serta keridhaannya dan kedamaiannya kepada Allah. Ada jiwa yang bernama nafsu lawwamah karena tidak selalu berada pada satu keadaan dan ia selalu mencela, atau dengan kata lain, selalu ragu-ragu, menerima dan mencela secara bergantian. Ada juga nafsu amarah adalah nafsu yang menyeluruh kepada keburukan.
Akal terbagi menjadi dua, pertama, akal instink dan merupakan bapak, pemelihara dan penghasil ilmu. Kedua, akal muktasab dan mustafad yang merupakan hasil ilmu. Jika kedua akal itu menyatu di dalam diri seseorang, maka bearti itulah keutamaan Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki.
Kesan dan emosi yang penting dalam kehidupan manusia, menurut Ibn Qayyim seperti kesedihan, ketakutan, cinta, kerinduan dan asmara.
Pendidikan anak, menurut Ibn Qayyim anak harus dilindungi dari segala hal yang membuatnya takut, dan gerakan yang mengejutkan. Karena hal itu dapat menimbulkan kerusakan pada daya akalnya yang masih lemah, sehingga berakibat fatal ketika ia besar. Jika hal itu terjadi, maka orang tua harus memberikan terapi berlawanan, menenangkannya, mendekapnya di dada, segera menyusuinya agar ketakutannya hilang, dan tidak tertanam hal-hal buruk di dalam memorinya, sebab hal itu akan sulit dihilangkan.
Anak harus diajarkan makan sebelum kenyang, karena hal itu meningkatkan kualitas pencernaan, normalitas cairan tubuh, berkurangnya keringat, dan ksehatan tubuh.
Ahlak anak harus diperhatikan, karena ia akan berlaku sesuai akhlak dan sifat yang dibiasakan para pendidik sejak masih kecil. Jika anak sudah berfikir, maka ia ahrus dijauhkan dari tempat hura-hura, kebatilan, nyanyian, kata-kata keji, bid’ah, dan ucapan kotor. Sebab jika ia terbiasa mendengarnya, ia akan sulit untuk melepaskannya setelah besar nanti dan orang tuanya akan kesulitan untuk menyelamatkannya dari berbagai pengaruh negatif.
Orang tua harus menghindarkan anak dari kebiasaan menerima sesuatu dari orang lain. Karena jika hal itu menjadi kebiasaan, maka ia akan tumbuh menjadi seorang yang selalu menerima tapi tidak pernah memberi. Sebaliknya, anak harus dibiasakan memberi dan membantu. Sebagaimana juga anak harus dijauhkan dari sifat bohong, khianat, dan malas, bahkan harus diajarkan kebalikan dari semua itu.
Anak juga harus dihindarkan dari makanan basi, pembicaraan yang tak berguna, tidur yang berlebihan, minum khamar, memakai sutera, mencuri dan berbohong. Lebih dari itu, anak harus mendapatkan perhatian agar siap bekerja sehingga tidak membebani orang lain. Jika ia membebani orang lain dengan pekerjaan yang sebenarnya siap ia lakukan, maka ia tidak akan beruntung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: