Ibn Taimiyah (1263-1328 M)

Dikenal dengan sebutan Syaikhul Islam. Pemikirannya adalah Jiwa tidak tersusun dari subtansi-subtansi yang terpisah, bukan pula dari materi dan forma. Selain itu, jiwa bukan fisik dan bukan pula esensi yang merupakan sifat yang bergantung pada yang lain.
Kata ar-ruh juga digunakan untuk pengertian jiwa. Ruh dan jiwa mengandung berbagai makna, yaitu; pertama, ruh adalah udara yang keluar masuk badan. Kedua, ruh adalah asap yang keluar dari dalam hati dan mengalir dari darah (ruh hewan versi para dokter). Ketiga, jiwa adalah sesuatu itu sendiri, sebagaimana firman Allah Swt. …..”Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih saying..(QS. al-An’am: 54). Keempat, jiwa adalah darah yang berada di dalam tubuh hewan, sebagaimana ucapan para ahli fiqh: “Hewan memiliki darah yang mengalir dan hewan yang tidak memiliki darah yang mengalir”. Kelima, jiwa adalah sifat-sifat yang tercela atau jiwa yang mengikuti keinginannya.
Menurut Ibn Taimiyah akal bukan sesuatu yang berdiri sendiri sebagaimana pemikiran para filosof, tetapi sesuatu yanga da pada orang yang berakal.
Kebutuhan Manusia ada dua macam. Pertama, kebutuhan primer yang dibutuhankan manusia untuk mempertahankan hidup seperti kebutuhan makan, minum, tempat tinggal, nikah dan lain-lain. Kedua, kebutuah yang tidak dibutuhkan manusia untuk mempertahankan hidup. Manusia tidak boleh mengaitkan hatinya kebutuhan-kebutuhan semacam itu. Sebab jika ia melakukan hal itu, maka ia menjadi penyembahnya.
Ibadah menurut Ibn Taimiyah adalah istilah kolektif untuk semua ucapan dan perbuatan yang diinginkan dan disukai Allah, baik yang bersifat nyata maupun tidak nyata. Prilaku nyata adakah, pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan seseorang dan perbuatan-perbuatan yang bersumber darinya. Sedangkan prilaku tidak nyata adalah kepercayaan-kepercayaan, ide-ide, perasaan-perasaan, dan pikiran-pikiran yang disembunyikan seseorang.
Kebahagiaan dan kesejahteraan jiwa manusia menurut Ibn Taimiyah hanya dapat terwujud melalui ubudiyah dan cinta yang sempurna kepada Allah Swt. Oleh karena itu, ibadah dan cinta manusia kepada Allah Swt, tidak hanya memberinya kebahagiaan dan kesejahteraan jiwa, tetapi juga memberikan tercapainya tingkat kesempurnaan manusia.
Penyakit hati, menurut Ibn Taimiyah sama dengan penyakit badan. Ia semacam kerusakan yang terjadi di dalam hati seseorang. Penyakit tersebut terbagi menjadi dua macam, yaitu penyakit akibat gangguan pada indera, dan akibat ganggungan pada gerakan alamiah dan keinginan yang berkaitan dengannya.
Contoh penyakit hati adalah Hasud atau dengki suatu perasaan benci dan tidak suka kepada orang yang memiliki kondisi lebih baik. Cara menghilangkannya menurut Ibn Taimiyah adalah harus memanfaatkan ketakwaan dan kesabaran, sehingga ia membenci hal itu di dalam dirinya, dan melarang dirinya untuk melakukan hal itu lagi. Kemudian asmara merupakan penyakit psikis. Asmara adalah cinta yang berlebihan dari batas normal. Untuk menghilangkan hal tersebut Ibn Taimiyah menyatakan bahwa cinta dan ketundukan yang tulus kepada Allah akan melindungi hati dari cinta kepada orang lain selain ujian pada asmra. Hati yang cinta kepada Allah, yang kembali kepada-Nya, dan takut kepada-Nya akan dijauhkan dari penyakit asmara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: