Muhammad Iqbal (1877 – 1938M)

Berpandangan bahwa pendidikan merupakan bagian tidak dapat dipisahkan dari peradaban manusia, bahkan pendidikan merupakan subtansi dari peradaban manusia. Pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang mampu memadukan dualisme (antara aspek keduniaan dan aspek keakhiratan secara sama dan seimbang).
Selain itu, Iqbal berbeda dengan mutakilimin klasik dalam upaya memberikan rasionalisasi agama agar dapat diterima oleh akal. Ia tidak lagi terbawa kepada pembicaraan mengenai Tuhan dalam kerangka klasik seperti masalah pembuktiaan keberadaan Tuhan dengan menggunakan hukum kausalitas, sifat Tuhan dalam konteks qadim dan azalinya Tuhan dibandingkan dengan sesuatu yang bukan Tuhan. Iqbal juga tidak mengulangi apa yang pernah ditempuh oleh para filosof muslim karena titik singgung pemikiran agamanya bukan lagi rasionalisasi hellenisme akan tetapi perkembangan pemikiran Barat setelah mengalami proses pencerahan yang mengantarkan bangsa itu kepada kemajuan.
Pengalaman keagamaan. Manusia yang telah dianugerahi kecerdasan pikiran untuk memberi pengertian terhadap benda-benda empiris. Dengan kata lain manusia memiliki pengetahuan konseptual yang dengannya akan dapat memperoleh kebenaran. Sementara itu, di balik adanya konsep yang ada pada manusia telah terbentang di hadapannya fenomena-fenomena empiris yang oleh al-Qur’an dapat dijadikan sebagai tanda-tanda kekuasaan Tuhan.
Pengalaman keagamaan yang diidentifikasi sebagai tanggapan manusia terhadap Realitas Mutlak akan melibatkan dua hal penting yang sama-sama mengambil peran yaitu subyek yang mengalami dan obyek yang dialami. Iqbal mencoba menggabungkan dua unsure penting tersebut sebagai pembuktiannya; yakni unsur subyek atau manusianya dan obyek atau Realitas Mutlak yang dialami dan dihayati. Baginya pembuktian kebenaran pengalaman keagamaan hanya dengan subyek yang mengalami tidaklah cukup. Oleh karena itu, ia mengemukakan dua macam pembuktian yaitu pembuktian intelektual dan pembuktian pragmatis. Menurutnya pembuktian intelektual dipahami sebagai interpretasi kritis tanpa didahului oleh pra anggapan yang berasal dari manusia. Sedangkan pembuktian pragmatis adalah pembuktian yang didasarkan pada hasil yang dapat dilihat dari adanya pengalaman keagamaan manusia. Yang pertama biasanya dikaitkan dengan filosof sedang yang kedua dikaitkan dengan para Nabi.
Pembuktian pertama lebih menitikberatkan pada obyek yang dialami dan dihayati sebagai Realitas Mutlak sedang yang kedua pada subyeknya yang dapat dilihat pada perwujudan Pengalaman Keagamaan para tokoh-tokoh agama semisal nabi termasuk juga umatnya.
Pengalaman keagamaan memiliki criteria, pertama, pengalaman keagamaan tersebut adalah pengalaman yang langsung yang tidak berbeda dengan tingkatan-tingkatan pengalaman manusia yang alain dalam arti fungsinya sebagai sumber pengetahuan. Bila dalam memperoleh kebenaran pengetahuan unsur interpretasi atas hasil pengamatan inderawi merupakan unsur penting, maka dengan demikian pula halnya denga pengalaman keagamaan atau pengalaman mistik yang juga melibatkan interpretasi atas apa yang dialami, meskipun bukan inderawi, yaitu Tuhan. Sifat langsungnya pengalaman keagamaan itu persis seperti pengenalan manusia terhadap obyek-obyek lain.
Kedua, Pengalaman keagamaan atau mistik itu memiliki watak yang tidak dapat diuraikan; artinya dalam suasana mistik atau perasaan berhadapan dengan Tuha, menyebabkan manusia menjalin hubungan dengan keseluruhan jaringan realitas, tempat berbagai macam stimulus bercampur satu sama lain dan membentuk suatu kesatuan yang tidak dapat diuraikan karena tidak adanya perbedaan menurut kelaziman antara subyek dan obyek.
Ketiga, pengalaman keagamaan atau mistik tersebut merupakan kesatuan atara manusia dengan suatu ego lain yang memiliki sifat maha utama maha menyeluruh dan untuk suatu saat menekan kepribadian subyek yang mengalaminya.
Keempat, pengalaman keagamaan atau mistik lebih banyak melibatkan perasaan dari pada pikiran. Kesadaran agama yang dialami oleh para mistikus maupun nabi dapat pula dialami oleh orang lain. Meskipun ia banyak melibatkan perasaan dan tidak berghubungan dengan dalil-dalil akal, ia tetap memiliki unsur kongnitif.
Keberadaan Tuhan, yang dikemukakan oleh argument Kormologis, teologis, dan antologis menurut Iqbal memiliki kelemahan. Argumen kosmologis memiliki kelemahan dalam soal mekanisme hokum sebab akibat; terutama pada anggapan bahwa rangkaian sebab akibat tersebut akan sampai pada sebab pertama yang tidak disebabkan oleh sebab lain. Menurutnya di sini terdapat kerancuan karena dalam pemikiran hanya dapat diangankan sesuatu yang terbatas pula.
Begitu juga argumen teologis. Dalam argumen ini dijelaskan tentang alam semesta yang merupakan hasil suatu perencanaan yang penuh dengan tujuan. Akan tetapi paling jauh ia hanya sampai pada kesimpulan adanya satu perencanaan bukan Sang Pencipta. Seandainya Sang Pencipta tersebut dianggap juga sebagai Pencipta maka hal tersbeut menunjukkan betapa tidak bijaksananya Tuhan dengan menciptakan sesuatu yang teratur terlebih dahulu kemudian mengatur ciptaannya itu dengan menggunakan cara-cara yang asing bagi kodrat benda-benda itu sendiri. Sang pencipta yang dipandang berada di luar benda-benda itu tentu dibatasi oleh benda-benda itu sendiri dan dengan demikian menjadilah ia Sang Perencana yang terbatas yang terpaksa mengatasi kesulitan-kesulitannya dengan menggunakan cara-cara seorang mesinis, berhubungan sumber-sumbernya yang terbatas.
Maka pangkal dari kerancuan argument teologis ini terletak pada penggunaan analogi yang tidak tepat. Sesungguhnya yang tidak terdapat analogi antara kerja tukang dengan fenomena alam semesta. Di sini tukang tidak dapat belakar di luar rencananya kecuali dengan memilih dan memisahkan bahan-bahannya dari hubungan dan keadaan alamiahnya. Sedangkan alam membentuk suatu system dari bagian-bagian yang seluruhnya memiliki ketergantungan. Di sinilah proses alam tidak dapat dianalogikan dengan kerja arsitek yang dengan ketergantungannya kepada pemilihan dan integrasi dari bahan-bahannya yang tidak dapat menyamai keseluruhan dari evolusi organic yang terjadi dalam alam.
Argumen ontologism memiliki kelemahan terletak pada adanya jurang yang tak dapat diseberangi antara gagasan tentang keberadaan suatu wujud yang sempurna dalam pikiran dengan kenyataan obyektif. Karena Tuhan dipandang ada atas dasar anggapan bahwa pikiran dapat membayangkan ada suatu wujud sempurna yang kebesarannya tidak dapat dilampaui oleh segala yang ada.
Manusia, Iqbal berpendapat bahwa manusia merupakan makhluk dua dimensi yang tak dapat dipisahkan ssatu sama lain; jasmani dan rohani merupakan unsur yang menyatu. Perwujudan dari ide ini adalah bahwa manusia haruslah memiliki dua tanggungjawab secara sekaligus yaitu senagai orang yang harus “membangun kerajaan di bumi” dan rohaninya mampu menyatu dengan Tuhan dalam setiap tindakannya.
Ibadah, merupakan perwujudan pengalaman keagamaan dan panggilan yang datang dari manusia itu sendiri. Sembayang misalnya, merupakan naluri manusia untuk memperoleh pencerahan rohani sebagai realisasi dari kesadaran manusia akan keberadaannya sebagai bagian dari dunia yang lebih besar di luar dirinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: