Hikmah dari Ali bin Abi Thalib

PAHLAWAN ISLAM

Pada saat perang Khandaq seorang pendekar Qureiys yang terkenal ulung, yaitu ‘Amr bin Abdu Wudd Al’Amiri. ‘Amr seorang prajurit berkuda yang gesit dan lincah bermain pedang atau tombak. Dengan congkak dan sombong ‘Amr bin Abdu Wudd berani maju ke depan menyeberangi parit pertahanan kaum muslimin, lewat bagian yang agak dangkal dan sempit. Sambil membanggakan kebolehannya mengendalikan kuda, ia berteriak menantang: “Hai . . . Apakah tak seorang pun yang berani keluar untuk bertanding?”
Tantangan dari seorang jagoan yang garang itu tidak ditanggapi oleh pasukan muslimin. Kaum muslimin banyak yang mengenal siapa ‘Amr bin Abdu Wudd itu dan betapa tenar namanya sebagai pendekar yang mahir berperang tanding.
Setelah melihat kenyataan tak ada seorang pun yang menanggapi tantangan ‘Amr, Imam Ali r.a. tidak tahan lagi menahan perasaan geramnya. Ia segera berdiri dan berkata kepada Rasul Allah s.a.w.: “Ya Rasul Allah, biarlah saya yang menandingi dia!”
Rasul Allah s.a.w. yang mengetahui benar ‘ Amr itu seorang pendekar yang kenyang makan “garam” perang tanding, beranggapan, bahwa ‘Amr bukanlah tandingan bagi saudara misannya yang baru berusia kurang dari 30 tahun. Karena itu maka beliau menyahut: “Duduk sajalah engkau, dia adalah ‘Amr!”
Karena tidak ada juga jawaban dari fihak muslimin, mak ‘Amr yang beringas itu berkoar lagi: “Mana itu sorga yang akan kalian masuki bila kalian mati terbunuh, hah?!” Ejekan itu terasa seperti sembilu yang sangat mengiris-iris hati kaum muslimin, tetapi mereka tetap diam.
Dengan darah muda yang mendidih laksana lahar yang menyembur dari kepundan, Imam Ali r.a. tidak dapat lagi menahan gejolak hatinya mendengar penghinaan yang sangat menyakitkan itu. Ia mendesak lagi kepada Rasul Allah s.a.w.: “Biarlah saya yang menghadapinya; ya Rasul Allah!”
Tetapi Rasul Allah s.a.w. kembali memerintahkan supaya Imam Ali r.a. duduk dan tenang, sebab yang akan dihadapinya bukan sembarang orang. Dengan perasaan yang sudah terbakar dan dengan nada gemas, Imam Ali r.a. berusaha meyakinkan Rasul Allah s.a.w. bahwa ia sanggup melawan dedengkot kaum musyrikin itu: “Biar ‘Amr sekalipun ya Rasul Allah!”
Mengingat tekad Imam Ali r.a. yang begitu bulat, dan mengingat pula perlu membangkitkan keberanian kaum muslimin, akhirnya Rasul Allah s.a.w. memberi izin dan restu kepada Imam Ali r.a. untuk tampil ke depan. Imam Ali r.a. dengan hangat menyambut persetujuan dan izin Rasul Allah s.a.w. Ia segera meloncat ke depan menyongsong tantangan seorang lawan yang bukan sembarangan. Dengan mengenakan baju besi dan menghunus pedangnya yang tersohor dengan nama “Dzul Fiqar”, Imam Ali r.a. maju dengan ayunan langkah yang tegap dan diiringi doa Rasul Allah s.a.w.: “Ya Allah, dia adalah saudaraku dan putera pamanku. Janganlah Kaubiarkan aku seorang diri tanpa dia. Sesungguhnya Engkau tempat aku berserah diri yang sebaik-baiknya.”
Setelah berhadap-hadapan dengan ‘Amr, tanpa perasaan gentar sedikit pun Imam Ali r.a. bertanya kepada ‘Amr: “Hai ‘Amr, bukankah engkau pernah berjanji, bahwa engkau akan menerima ajakan seorang dari Qureiys untuk menempuh salah satu di antara dua jalan hidup?”
“Ya!” jawab ‘Amr dengan singkat dan angkuh.
“Engkau kuajak. ke jalan Allah dan Rasul-Nya, ke jalan Islam”, kata Imam Ali r.a. melanjutkan. Kata-kata Imam Ali r.a. ini diucapkan dengan suara lantang yang memecahkan kesunyian garis pertempuran. Hampir semua mata dua pasukan yang siap tempur tertuju kepada dua sosok tubuh yang sedang berhadap-hadapan.
‘Amr bin Abdu Wudd yang sudah cukup usia, garang dan banyak pengalaman menghadapi perang tanding kini bertatap muka dengan seorang anak muda yang berdiri tegak di hadapannya. Pemuda pemberani, jantan dan perkasa, berbaju besi dengan pedang terhunus di tangan. Sungguh anggun kelihatannya. Konfrontasi antara dua orang itu melambangkan konfrontasi dari dua kekuatan yang berlawanan. Kekuatan lama yang sudah lapuk dan kekuatan baru yang sedang tumbuh, yaitu kekuatan jahiliyah dan kekuatan lslam.
Mendengar pertanyaan yang bernada desakan itu, dengan cepat ‘Amr menyahut: “Aku tidak membutuhkan itu!”
“Kalau begitu, mari kita mulai bertanding!” tantang Imam Ali r.a. sambil siaga menghadapi gerakan ‘Amr. Akan tetapi tantangan Imam Ali r.a. yang serius itu diremehkan saja oleh ‘Amr: “Aku tak suka menumpahkan darahmu. Ayahmu kan teman karibku!”
Tanpa memperdulikan ucapan ‘Amr, Imam Ali r.a. dengan perasaan tak sabar lagi berucap: “Tetapi, demi Allah, aku justru ingin membunuhmu!” Ucapan seorang muda yang dianggap ketus oleh ‘Amr itu, ternyata membangkitkan amarah dan meluapkan emosinya. Cepat saja darah perang yang mengalir dalam tubuh ‘Amr mendidih.
Naluri keprajuritannya secara cepat menyentakkan gerak refleksi dan langsung seketika itu juga Imam Ali r.a. diserang. Demikian gesit dan tangkasnya ‘Amr mengayunkan pedang dengan dorongan tenaga yang luar biasa. Tetapi Imam Ali r.a. tidak kalah tinggi nalurinya dan gerak refleksinya.
‘Amr yang sejak semula meremehkan lawan, ternyata sia-sia belaka dalam mengerahkan segala kekuatan ototnya untuk menebas leher Imam Ali r.a. Kesempatan yang meleset itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh Imam Ali r.a. Ia mengelak, menangkis dan menyerang dalam gerak beruntun secara kilat. Pada saat ‘Amr kehilangan keseimbangan badan, Pedang Dzul Fiqar yang diayun kuat-kuat oleh Imam Ali r.a. menyambar bahu kanan ‘Amr sampai terbelah dua. Pendekar kebanggaan Qureiys itu jatuh dari atas kuda menggelepar di tanah mandi darah dan debu.
Perang tanding berlangsung demikian cepat dan selesai jauh lebih cepat dari yang diperkirakan orang. Pada mulanya banyak yang menduga bahwa Imam Ali r.a. yang “masih hijau” itu akan “dibelah dua” oleh pedang ‘Amr. Oleh karena itu ketika jagoan Qureiys itu tersungkur tidak bangkit kembali, banyak orang dari kedua pasukan terkesima. Hampir saja mereka, tidak mempercayai apa yang sudah terjadi. Baru setelah Imam Ali r.a. menyerukan takbir, kaum muslimin menyambutnya dengan mengumandangkan kebesaran Allah: Allaahu Akbar …Allaahu Akbar…. !
Tanpa perasaan sombong dan tinggi hati Imam Ali r.a. kemudian menuju ke tempat Rasul Allah s.a.w. Dengan perasaan haru dan syukur ke hadirat Allah s.w.t., Rasul Allah s.a.w. mengeluarkan pernyataan singkat: “Perang tanding yang dilaksanakan oleh Ali bin Abi Thalib melawan ‘Amr bin Abdu Wudd itu merupakan perbuatan paling mulia yang dilakukan umatku sampai hari kiamat.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: