Tafsir NDP

Bab I
Landasan Dan Kerangka Berfikir


Semua ”sepakat” bahwa manusia memiliki perasaan, pengetahuan dan keyakinan. Dari perasaan, pengetahuan dan keyakinan tersebut manusia akan mendapatkan kebenaran. Tetapi kebenaran yang dihasilkan oleh masing-masing orang berbeda. Karena banyak faktor yang mempengaruhinya mulai dari keluarga, lingkungan, pendidikan, dan pengalaman.
Kebenaran dimaknai kesesuaian arti dengan fakta yang ada dengan putusan-putusan lain yang telah kita akui kebenarannya dan tergantung kepada berfaedah tidaknya teori tersebut bagi kehidupan manusia. Ada 3 teori yang menjelaskan tentang kebenaran, antara lain sebagai berikut:
1. The correspondence theory of truth. Menurut teori ini, kebenaran atau keadaan benar itu berupa kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh suatu pendapat dengan apa yang sungguh merupakan halnya atau faktanya.
2. The consistence theory of truth. Menurut teori ini, kebenaran tidak dibentuk atas hubungan antara putusan dengan sesuatu yang lain, yaitu fakta atau realitas, tetapi atas hubungan antara putusan-putusan itu sendiri. Dengan kata lain bahwa kebenaran ditegaskan atas hubungan antara yang baru itu dengan putusan-putusan lainnya yang telah kita ketahui dan kita akui benarnya terlebih dahulu.
3. The pragmatic theory of truth. Yang dimaksud dengan teori ini ialah bahwa benar tidaknya sesuatu ucapan, dalil, atau teori semata-mata bergantung kepada berfaedah tidaknya ucapan, dalil, atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak dalam kehidupannya
Kebenaran juga dimaknai suatu sifat dari kepercayaan dan diturunkan dari kalimat yang menyatakan kepercayaan tersebut. Kebenaran merupakan suatu hubungan tertentu antara suatu kepercayaan dengan suatu fakta atau lebih di luar kepercayaan. Bila hubungan ini tidak ada, maka kepercayaan itu adalah perlu dipertanyakan eksistensinya.
Secara “umum” manusia mencari “kebenaran” melalui empat macam sumber kebenaran yaitu:
1. Empirisme (Burhani)
Secara etimologi empirisme berasal dari bahasa Yunani yaitu Empiria yang berarti pengalaman indrawi atau filsafat yang mengatakan bahwa pengetahuan bersumber dari pengalaman
Sumber dari pengetahuan ini adalah Alam. Sarana yang digunakan adalah Eksperimen. Mazhab pengetahuan ini hanya mendasarkan kebenaran pada apa yang dapat ditangkap oleh indera manusia. Apa yang dilihat, didengar, dirasa, dll. Misalnya, Apakah memang benar Tuhan itu ada? Kalau Tuhan itu ada, lalu mana Tuhan? Mengapa Tuhan tidak dapat kita lihat, tidak dapat kita dengar suaranya? Sewaktu Adam di Surga, Adam berkomunikasi dengan Tuhan menggunakan bahasa Apa, Bahasa Apa yang paling didengar oleh Tuhan, nanti ketika di Padang Mahsyar Tuhan mengadili manusia dnegan menggunakan bahasa Apa? Dari mazhab pengetahuan inilah muncul berbagai macam ajaran-ajaran materialistik.
2. Rasionalitas (Burhani)
Sumber dari pengetahuan ini adalah akal. Alat atau sarana yang digunakan adalah berpikir. Akal (berasal dari bahasa Arab ‘aqala-ya’qilu-‘aqla), dan di dalam bahasa Latin disebut ratio yang berarti mengikat, menahan, mengerti dan membedakan. Memiliki sinonim al-fikr (proses berfikir/pemikiran), al-Idrok (kesadaran). Secara etimologis, akal merupakan daya yang terdapat dalam diri manusia untuk menahan atau mengikat pemiliknya dari perbuatan-perbuatan yang buruk atau jahat. Akal merupakan substansi. Cara kerja akal disebut pikir. Dengan demikian akal merupakan alat atau daya untuk berpikir dan daya untuk menimbang-nimbang antara yang baik dan buruk. Akal, menduduki peran dan fungsi amat penting dalam kehidupan manusia, antara lain: sebagai sumber ilmu, sebagai prasyarat mutlak taklif atau agama, pembeda antara manusia dengan makhluk lain, dan berfungsi sebagai alat untuk pengembangan ilmu.
Akal adalah kunci untuk memahami agama, ajaran dan Hukum Tuhan. Manusia tidak dapat memahami agama tanpa akal. Oleh karena itu, di dalam Islam Nabi Muhammad telah menyatakan dengan tegas dan jelas bahwa agama adalah akal, tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal.
Akal adalah ciptaan Tuhan untuk mengembangkan dan menyempurnakan sesuatu. Kemajuan umat manusia dapat terwujud karena manusia mempergunakan akalnya. Untuk kesejahteraan hidup manusialah akal itu diciptakan Tuhan. Di dalam Islam sendiri, terdapat ungkapan yang menyatakan; al-‘aqlu huwa-l haya, wa faqdu huwa-l-maut (ada akal bearti hidup, tidak berakal bearti mati).
Meskipun akal mempunyai kedudukan dan fungsi penting dalam kehidupan manusia, namun akal bukanlah faktor penentu untuk menetapkan nilai-nilai moral. Akal itu bersifat nisbi atau relatif. Produk yang dihasilkan oleh akal melalui berpikir pun bersifat nisbi atau relatif. Daya jangkauan akal terbatas. Akal tidak memadahi untuk memahami alam semesta, lantaran akal secara maksimal hanya bisa menangkap potongan-potongan alam yang terisolasi, dan kemudian menghubungkan potongan-potongan itu satu dengan lainnya.
Arkoun memandang bahwa akal itu bersifat plural, sebab ia bekerja dengan mekanisme khusus, berlandaskan sejumlah aksioma dan referen kultural tertentu. Betapapun demikian, ada unsur-unsur yang selalu memungkinkan akal tersebut menjadi tunggal. Unsur-unsur tersebut adalah: (1) ketundukan akal pada wahyu yang “terberi” atau diturunkan dari langit. Wahyu itu kedudukannya lebih tinggi dari akal, dan memiliki watak transendental, mengatasi manusia, sejarah dan masyarakat; (2) penghormatan terhadap otoritas dan keagungan serta ketaatan akal; (3) akal memainkan perannya melalui cara pandang tertentu terhadap alam semesta. Dengan demikian, akal itu bukan abstrak, melainkan konkret dan mempunyai kerangka tertentu.
Rasionalitas dalam perspektif ini mempunyai dua kaidah utama, yaitu causalitas (sebab-akibat) dimaknai bahwa apa yang terjadi di dunia ini pasti memiliki sebab-sebab yang mempengaruhinya. Kedua, Non-Kontradiksi artinya sebuah kebenaran, tidak mungkin di dalamnya mengandung kontradiksi. Maka ketika ada kebenaran yang tidak sesuai dengan kaidah akal otomatis tertolak. Artinya ketika keberadaan Tuhan tidak bisa ditemukan oleh Akal maka, maka serta merta kebenaran akan Tuhan tertolak. Pengetahuan akal ini akan erat kaitanya dengan bab selanjutnya di dalam NDP yaitu Hakekat Kejadian Manusia dan Askatologi. Bahwa fungsi akal harus digunakan secara maksimal sebagai konsekuensi manusia satu sisi sebagai Abdullah dan di sisi lain sebagai khalifah di muka bumi.
3. Pengetahuan Hati (Irfani)
Keyakinan pada keterbatasan akal, semestinya mendorong bagi siapapun untuk tidak berhenti pada tataran realitas rasional dan kemudian mengklaimnya sebagai realitas yang paling benar, paling adil, sempurna dan final melainkan agar manusia menggunakan perangkat (unsur) kemanusiaan yang lain, yakni hati (irfani) sehingga pencarian kebenaran senantiasa berada di jalan yang lurus dan semakin dekat pada kebenaran absolut. Dengan kreativitas demikian, keterbatasan akal tersebut tidak menjadi kendala bagi manusia dalam menghadapi alam semesta dan varian-varian lainnya. Penggunaan akal harus dibantu dan dikendalikan oleh hati. Menggunakan akal secara emosional untuk berpikir tanpa dipandu dan dipadukan dengan hati – lebih-lebih kalau dikendalikan oleh nafsu – akan menjurus pada kesesatan, sebab nafsu pada dasarnya merupakan daya atau kekuatan yang bersifat tercela dan menjurus pada kerusakan.
Pengetahuan hati ini akan erat kaitanya dengan bab selanjutnya di dalam NDP yaitu Manusia dan Nilai-Nilai Kemanusiaan. Bahwa fitrah manusia adalah memiliki sisi baik dan sisi buruk. Tetapi manusia juga memiliki kecenderungan untuk menyempurnakan dirinya. Dalam menyempurnakan dirinya inilah Epistemologi Islam memiliki peran yang sangat penting, terkhusus pengetahuan hati dan nanti pengetahuan yang keempat yaitu pengetahuan skriptualisme.
4. Skriptualisme (Bayani)
Pengetahuan ini bersumber dari kitab suci (wahyu Tuhan). Alat atau sarana yang digunakan adalah retafsirisasi terhadap kitab suci. Bahwa di dalam setiap kitab suci (al-Qur’an dalam Islam) terkandung berbagai macam pengetahuan yang dapat menuntun manusia pada kebenaran dan ”kesempurnaan” dalam hidup.
Di samping itu, ada lima konsep yang digunakan membuktikan kemestian adanya Kebenaran (Tuhan):
Pertama, konsep Ontologis. Konsep Ontologis dimaknai sebagai teori tentang hakikat wujud; tentang hakikat yang ada. Konsep ontologis pertama kali diperkenalkan Plato dengan teori ideanya. Menurut Plato, tiap-tiap ada di alam nyata ini mesti ada ideanya. Idea ang dimaksud Plato adalah defenisi atau konsep universal dari setiap sesuatu.
Setiap sesuatu di alam ini mempunyai idea. Idea inilah yang merupakan hakikat sesuatu. Alam idea berada dalam alam tersendiri yang bersifat kekal. Dengan demikian, benda-benda yang selalu manusia lihat di alam nyata selalu berubah-ubah, bukanlah hakikat, melainkan bayangan dari idea-ideanya yang ada di alam idea.
Idea-idea tidak bercerai berai tanpa ada hubungan antara satu sama lain, melainkan semuanya bersatud alam idea tertinggi yang diberi nama Idea Kebaikan, yaitu Yang Mutlak Baik (Tuhan), adalah sumber, tujuan dan sebab dari segala sebab yang ada.
Menurut Agustine tokoh Skolastik, manusia mengetahui pengalamannya dalam hidup bahwa alam ini ada kebenaran. Akal manusia kadang-kadang merasa bahwa ia mengetahui apa yang benar itu. Akan tetapi, akal pun kadang-kadang merasa ragu atau meragukan apa yang diketahuinya itu benar sebagai kebenaran apa bukan.
Kedua, konsep Kosmologis. Konsep kosmologis sering dimaknai sebagai konsep sebab akibat atau hukum kausalitas. Konsep ini timbul dari suatu faham yang menyatakan bahwa wujud alam ini bersifat mungkin. Alam adalah alam yang dijadikan oleh kerena itu mesti ada zat yang menjadikannya.
Konsep ini diajukan Aristoteles. Kalau bagi Plato tiap yang ada dalam alam itu mempunyai idea, bagi Artoteles tiap benda yang dapat ditangkap panca indera mempunyai materi dan bentuk.
Menurut al-Kindi alam ini diciptakan dan penciptanya adalah Allah. Segala yang terjadi dalam alam mempunyai hubungan sebab musabab. Sebab mempunyai efek kepada musabab. Rentetan sebab musabab ini berakhir pada sebab Pertama yaitu Allah Pencipta Alam semesta.
Ketiga, konsep teologis maksudnya konsep yang menyatakan bahwa alam itu teologis, yakni alam yang diatur menurut tujuan-tujuan tertentu. Alam ini keseluruhannya berevolusi dan beredar kepada suatu tujuan tertentu. Bagian-bagian dari alam mempunyai hubungan yang erat satu sama lainnya dan bekerja sama dalam menuju tercapainya suatu tujuan tertentu.
Manusia sebagai makhluk yang berfikir dapat memikirkan kepentingan dan kebaikan dunia secara keseluruhan. Maka kalau alam ini beredar dan berevolusi kepada tujuan tertentu, yaitu kebaikan universal di bawah kepemimpianan manusia yang bermoral tinggi, maka mestilah ada suatu zat yang menentukan tujuan itu dan membuat alam ini beredar dan berevolusi ke arah itu. Zat inilah yang disebut Tuhan. Alam tidak dapat menentukan tujuannya sendiri, yang menentukan tujuan itu haruslah zat yang lebih tinggi dari alam itu sendiri, zat itu tiada lain adalah Tuhan.
Keempat, konsep moral yang dicetuskan Immanuel Kant. Menurut Kant manusia mempunyai moral yang tertanam di dalam jiwa dan hati sanubarinya. Orang merasa bahwa ia mempunyai kewajiban untuk menjahui perbuatan-perbuatan buruk dan menjalankan perbuatan-perbuatan baik.
Kant menyatakan bahwa perbuatan baik menjadi baik tidak dikarenakan akibat-akibat baik yang ditimbulkannya; tidak pula karena agama mengajarkan bahwa perbuatan itu baik. Tetapi karena manusia tahu dari perasaan yang tertanam di dalam jiwanya bahwa ia diperintahkan mengerjakan yang baik. Perintah ini tidak di dapatkan dari pengalaman hidup, tetapi sudah ada sejak ia dilahirkan. Perintah itu dari satu zat yang maha adil yang disebut Tuhan.
Kelima, konsep Epistemologis diciptakan oleh Ibn Taimiyyah yang bertujuan untuk membuktikan adanya Tuhan melalui teori pengetahuan atau ilmu. Menurut Ibn Taimiyyah ilmu itu mempunyai dua sifat.
1. Sifat Ta’bi (obyektif) artinya tidak tergantung kepada ada dan tidak adanya pengetahuan si subyek (manusia) tentang obyek tersebut. Dengan kata lain, suatu obyek ilmu tetap ada, baik telah diketahui keberadaannya oleh si subyek maupun belum diketahuinya. Contoh adanya Allah dan Rasul-Nya tidak tergantung pada ada dan tidak adanya pengetahun manusia mengenai obyek Allah dan Rasulnya. Allah dan Rasul-Nya tetap ada walaupun manusia tidak mengetahui keberadaannya. Adanya pengetahun si subyek tentang Allah dan rasul-Nya tidak menyebabkan adanya Allah dan Rasul-Nya. Ia telah ada dengan sendiri-Nya. Sebaliknya, ketiadaan pengetahuan si subyek tentang Allah dan Rasulnya tidak menyebabkan Allah dan rasul-Nya tidak ada. Allah dan rasul-Nya tetap ada secara obyektif, baik orang yang mengetahuinya maupun tidak mengetahuinya.
2. Sifat Matbu’ (subyektif) artinya ilmu yang keberadaan obyeknya tergantung kepada adanya pengetahun manusia sebagai subyek tentang obyek ilmu. Dengan kata lain sesuatu itu dinyatakan ada kalau si subyek mengetahui keberadaannya. Teori ilmu ini jika diterapkan kepada Allah sebagai obyek yanga ada dengan sendiri-Nya, maka selain diri-Nya merupakan makhluk-makhluk-Nya yang berwujud karena adanya iradah-Nya. Sebagai halnya perbuatan manusia, seperti duduk, berdiri, merokok, pacaran, tidur, dapat berwujud apabila ada iradah manusia untuk mewujudkannya, karena manusia memang punya kehendak.

Dikutip dari berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: