Tafsiran NDP

Bab II
Dasar-Dasar Kepercayaan


Percaya ialah sifat dan sikap membenarkan sesuatu, atau menganggap sesuatu sebagai benar. Atau sikap yang tulus dan ikhlas membenarkan sesuatu setelah sesuatu itu dapat diterimah oleh bayani, burhani dan irfani dari orang yang membenarkan. Sedangkan kepercayaan merupakan anggapan atau sikap mental bahwa sesuatu itu pasti benar atau sesuatu yang diakui sebagai benar atau sesuatu itu benar setelah adanya penyelidikan yang mendalam dan tidak bertentangan dengan norma-norma yang dianut oleh yang membenarkan.
Kajian yang mendalam tentang kepercayaan sebagai konsep teoritis akan melahirkan sebuah kesadaran bahwa manusia adalah maujud yang mempunyai hasrat dan cita-cita untuk menggapai kebenaran dan kesempurnaan mutlak, bukan nisbi artinya manusia mencari zat yang Maha Tinggi dan Maha Sempurna.
Maka mulailah manusia mencarinya lewat fenomena-fenomena alam (dalam Islam prosesi Ibrahim mencari Tuhan) untuk menjawab pertanyaan tersebut. Sehingga muncul keyakinan bahwa tuhan ada dimana-mana termasuk dalam tempat-tempat yang dianggap keramat atau pada jimat-jimat. Setiap Tuhan mempunyai nama dan memainkan suatu peranan tertentu. Tuhan-Tuhan tersebut diyakini keberadaannya serta dilakukan ritual pemujaan terhadap mereka. Konsep seperti ini disebut Politeisme, yaitu paham yang menyatakan adanya banyak Tuhan (Dewa). Tetapi konsep ini tidak memuaskan dan tidak bisa menjawab permasalahan, kembali manusia mencari sehingga menemukan jawaban dalam paham Dualisme, yaitu paham yang mengakui adanya dua dewa yaitu baik dan buruk. Paham ini kembali tidak menyelesaikan persoalan, maka manusia kembali berproses dari dualisme ke Oligateisme artinya manusia mengakui bahwa hanya beberapa tuhan yang mempunyai fungsi dan kedudukan lebih tinggi daripada yang lain. Beberapa tuhan mendapat tempat istimewa di hati masyarakat. Kemudian kepercayaan manusia berproses Henoteisme yang mengakui banyak dewa, tetapi dalam doa dan kultus ada satu dewa yang dianggap tertinggi biasanya dari suku yang besar. Kemudian Deisme, yaitu paham yang menyakini bahwa Tuhan jauh berada di luar alam. Tuhan menciptakan alam dan sesudah alam diciptakan, Tuhan tidak lagi memperhatikan alam tersebut. Lalu, Panteisme, suatu kepercayaan bahwa Tuhan berada dalam segala sesuatu dan segala sesuatu adalah Tuhan. Setelah tahapan-tahapan tersebut selesai dilakukan. Mereka tetap tidak menemukan kepuasaan, bahkan tahapan-tahapan tersebut memiliki banyak kelemahan, manusia sadar (masuk ketahap monoteisme) bahwa Kebebaran yang hakiki yang mereka cari adalah Tuhan Yang Maha Esa, artinya Tidak ada Tuhan selain Allah.
Pengakuan ini datang dari manusia sendiri, karena manusia mempunyai pendapat dan mengenal realitasnya sendiri. Pendapat ini menempatkan manusia sebagai makhluk yang tidak sempurna, tergantung adanya, tidak ada dengan sendirinya, jadi ada yang mengadakan. Manusia kemudian menentukan sikap dan mengakui Tuhan sebagai Realitas Yang Maha Tinggi, sumber dari segala realitas. Tuhan bukan sesuatu melainkan suatu pribadi, dan para pribadi ini manusia menyerahkan dirinya. Tuhan adalah sumber dari segala daya upaya manusia, sumber dan dasar serta tujuan yang mutlak dari segala sesuatu.
Kesadaran akan adanya Tuhan yang satu berlandaskan kepada akal pikir manusia sebagai sumber dari jiwa untuk mendapatkan kenyataan atas usaha manusia sendiri, sehingga kesadaran adanya Tuhan mempunyai nilai yang sama dengan ilmu pengetahuan, karena kesadaran ini adalah kesadaran yang berasal dari akal pikiran. Hal yang mudah dimengerti dalam pembuktian ini adalah yang bertolak dari pengalaman manusia tentang segala sesuatu yang ada di dunia ini, yang tidak ada karena dirinya sendiri dan tentu disebabkan oleh Sebab yang tidak disebabkan oleh sesuatu yang lain. Sebab yang mampu dengan sendirinya menimbulkan akibat dan mempunyai sebab yang pertama atau causa prima, Jadi dunia ada perubahan dan bersifat terbatas. Kesimpulan yang dapat diambil dari pengertian melalui akal pikir bahwa Tuhan itu adalah causa prima ialah: Tuhan itu tidak berubah, tidak terbatas, adanya adalah mutlak dan sebagai pengatur dari segala yang ada di dunia ini.
Tidak Ada Tuhan selain Allah adalah pembebasan manusia dari belenggu paham Tuhan yang banyak, ungkapan kalimat al-nafy uwa’l-itsbat (negasi konfirmasi) yaitu ”Tiada Tuhan selain Allah”. Inilah pembebasan pertama dari tauhid, yaitu membebaskan manusia dari sesuatu yang palsu.
Tidak Ada Tuhan selain Allah (Syahadah) di atas bermakna al-Iqraar (proklamasi) yaitu suatu proklamasi seorang abdullah mengenai apa yang diyakininya. Bermakna al-Qasam (sumpah) yaitu pernyataan kesediaan menerima akibat dan resiko apapun dalam mengamalkan syahadah. Bermakna al-Miitsaaq (perjanjian) maksudnya janji setia untuk selalu taat dan patuh dalam segala keadaan terhadap semua perintah Allah yang terkandung di dalam wahyu-Nya, maupun Sunnah Rasul-Nya.
al-Maududi menyebut Tidak Ada Tuhan selain Allah adalah pernyataan moral yang mendorong manusia untuk melaksanakannya dalam kehidupannya secara menyeluruh. Sehingga mengutip pernyataan Sayyid Qutb tauhid artinya kareaktiristik yang paling mendasar dari pandangan hidup Islam adalah pernyataan bahwa Tuhan itu adalah Esa dan segala sesuatu diciptakan oleh-Nya, karena itu tidak ada penguasa selain Dia, tidak ada legislator selain Dia, tidak ada siapapun yang mengatur kehidupan manusia dan hubungannya dengan dunia dan dengan manusia serta makhluk hidup lainnya kecuali Allah. Petunjuk, undang-undang dan semua sistem kehidupan, norma atau nilai yang mengatur hubungan antara manusia berasal dari pada-Nya.
Kebebasan yang sudah diperoleh harus diisi dengan kepercayaan yang benar, karena hidup tanpa kepercayaan sama sekali mustahil. Tidak ada peradaban di muka bumi ini tanpa kepercayaan. Kebebasan yang tak terbatas akan mengundang tirani. Karena itu, kebebasan hanya benar-benar punya arti jika bersamaan dengan kebebasan itu ada ketundukan (berserah diri) kepada yang secara intrinsik benar pada dirinya sendiri, yaitu Tuhan itu sendiri.
Dengan demikian, proses pembebasan itu tidak lain adalah pemurniaan kepercayaan kepada Tuhan itu sendiri. Pertama, Tauhid Uluhiyah artinya dengan melepaskan diri dari kepercayaan yang palsu, dan Kedua, Tauhid Rububiyah artinya dengan pemusatan kepercayaan hanya kepada yang benar. Implikasi dari pemebesan ini adalah, seseorang menjadi ”manusia yang terbuka – yang secara kritis selalu tanggap kepada masalah-masalah kebenaran dan kepalsuaan yang ada dalam masyarakat. Sikap tanggap itu dilakukan dengan keinsyafan sepenuhnya akan tanggungjawab atas segala pandangan dan tingkah laku serta kegiatan dalam hidup ini. Yang semuanya muncul dari rasa keadilan dan perbuatan positif sesama manusia (al-Ihsan).
Tuhan itu ada, dan ada secara mutlak hanyalah Tuhan. Pendekatan ke arah pengetahuan akan adanya Tuhan dapat ditempuh manusia dengan berbagai jalan, baik yang bersifat intuitif, ilmiah, historis, pengalaman dan lain-lain. Tetapi karena kemutlakan Tuhan dan kenisbian manusia, maka manusia tidak dapat menjangkau sendiri kepada pengertian akan hakekat Tuhan yang sebenarnya. Manusia hanya dapat berhubungan dengan Tuhan yang Maha Mutlak melalui sifat-sifat Ilahi yang menampakkan jejak dan tanda-tanda-Nya dalam eksistensi kosmos. Fenomena kosmologi inilah yang dapat membantu manusia di dalam melakukan refleksi secara mendalam untuk memahami Tuhan. Dalam hal ini Manusia adalah theopani (pancaran) dari nama-nama dan kualitas Tuhan dan juga sebagai khalifah-Nya di muka bumi serta berpartisipasi dalam kebesaran-Nya.
Apabila manusia tahu pada atau siapa Tuhan itu sebetulnya telah membuktikan salah paham manusia itu sendiri. Tidak ada yang mengenal Tuhan kecuali Tuhan itu sendiri. Ada dualitas pengertian tentang Tuhan, yaitu Tuhan dalam konsepsi manusia dan Tuhan yang hakiki. Tuhan adalah Zat yang Maha Mutlak yang tidak dapat dicakup pemahamannya oleh yang relatif.
Maka untuk menghindari kesalahan yang mungkin terjadi dalam penamaan Tuhan. Pertama, sebelum adanya kultur dan agama yang mengajarkan keesaan Tuhan, setiap Tuhan merupakan Tuhan lokal, dengan nama diri yang juga lokal. Dengan demikian mengetahui Tuhan bearti mengetahui nama-Nya, sebaliknya mengetahui nama-Nya bearti mengetahui Tuhan. Kedua, Pluralitas Tuhan itu hanya dalam pengertian nama. Meskipun setiap nama menunjukkan pada satu Tuhan, tetapi dalam hal ini tidak bearti politeisme. Ketiga, banyak nama Tuhan harus dipandang hanya dalam pengertian manifestasi-Nya. Setiap nama Tuhan tidak akan membuat lemah sifat ketuhanan-Nya, karena semua nama Tuhan tersebut merujuk kepada sifat ketuhanan. Keempat, nama-nama Tuhan yang banyak itu sebenanrya bukan nama Tuhan yang sebenarnya. Nama Tuhan yang sebenarnya justru tersembunyi dan rahasia. Kelima, esensi dari nama Tuhan itu tidak bisa diketahui.
Ibn al- Arabi menyebut nama Allah sebagai Satu-Banyak (al-wahid al-katsir). Allah adalah satu dalam esensinya dan banyak dalam berbagai hubungan-Nya dengan kosmos, yaitu hubungan yang ditunjukkan oleh nama-nama. Para pengikut al-Arabi menyebut perbedaan ini dengan istilah ahadiyah (kesatuan eksklusif) dan wahidiyah (kesatuan inklusif). Kesatuan ekslusif mengacu kepada realitas Allah dalam dirinya sendiri dan kesatuan inklusif merujuk pada Allah yang digambarkan sebagai sumber kosmos. Untuk itu, Tuhan akan hadir dan menyapa manusia sesuai dengan persepsi manusia tentang Dia. Bagi mistikus, jalan masuk surga yang dipilihnya adalah Pintu kasih, sehingga Tuhannya mustikus adalah Tuhan Sang Kekasih. Adapun bagi para filusuf Tuhan hadir sebagai Dia Yang Maha Cerdas dan Kreatif.
Hal itu bearti bahwa hanyalah Allah yang tak dapat dijangkau oleh akal, sedangkan kehidupan manusia bersifat relatif, profan dan dapat dipikirakan secara rasional. Imam menimbulkan konsekuensi tentang diperlukan manusia menyembah Tuhan semata, yang diwujudkan dengan ibadah. Sedangkan interaksi dengan sesama manusia dan alam adalah dalam bentuk berbuat baik, yang dalam Islam diwujudkan dengan amal shaleh dan tidak boleh berbuat buruk kepada sesama manusia dan alam yang diwujudkan dalam akhlak yang mulia.
Imam secara harfiah bearti percaya, dalam hal ini percaya kepada Tuhan. Hanya saja tidak sekedar percaya kepada Tuhan itu ada, tetapi yang lebih penting ialah sikap mempercayai atau menaruh kepercayaan kepada Tuhan.
Imam erat hubungannya dengan akal dan wahyu. Iman yang didasarkan pada wahyu disebut tashdiq, yaitu menerima sebagai benar apa yang didengar. Iman yang didasarkan pada akal disebut ma’rifah, yaitu mengetahui yang benar apa yang diyakini. Tashdiq berdasarkan pada pemberitaan, sedangkan ma’rifah pada pengetahuan yang mendalam.
Sikap apresiasi kepada Tuhan itu merupakan inti pengalaman keberagamaan seseorang. Sikap itu disebut takwa. Jadi takwa adalah semangat atau rasa ketuhanan pada orang yang beriman. Ia merupakan sebuah bentuk tertinggi dalam kehidupan ruhani dan spiritual seseorang. Takwa itu sering didefenisikan sebagai menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. Di antara perintah-Nya adalah rukun Islam. Karena itu, dapat dikatakan bahwa ibadah adalah refleksi iman yang diwujudkan dengan pelaksanaan ibadah.
Ibadah juga disebut ritus atau tindakan ritual adalah bagian yang amat penting dari setiap agama atau kepercayaan. Tidak pernah ada sistem kepercayaan atau agama yang berkembang tanpa sedikit banyak mengintrodusir ritus. Setiap sistem kepercayaan selalu melahirkan sistem ritual atau ibadahnya sendiri.
Selain itu, iman selalu memiliki dimensi suprarasional dan spiritual yang mengekspresikan diri dalam tindakan kebaktian melalui sistem ibadah. Tindakan kebaktian itu tidak hanya meninggalkan dampak memperkuat rasa kepercayaan dan memberi kesadaran lebih tinggi tentang implikasi iman dalam perbuatan, tetapi juga menyediakan pengalaman keruhanian yang tidak kecil artinya bagi rasa kebahagiaan. Pengalaman keruhaniaan itu misalnya ialah rasa kedekatan kepada Allah, yang merupakan wujud makna dan tujuan hidup manusia.
Allah Maha Esa bermakna pertama, Keesaan Dzat bahwa seseorang harus percaya bahwa Allah tidak terdiri dari unsur-unsur atau bagian-bagian. Kedua, Keesaan Sifat bahwa Allah memiliki sifat yang tidak sama dalam subtansi dan kapasitas-Nya dengan sifat makhluk, walaupun dari segi bahasa kata yang digunakan menunjukkan sifat tersebut sama. Ketiga, Keesaan dalam perbuatan bahwa segala sesuatu yang berada di alam raya ini, baik sistem kerjanya maupun sebab dan wujudnya kesemuanya adalah hasil perbuatan-Nya semata. Keempat, Keesaan beribadah secara tulus kepada-Nya.
Akan tetapi, manusia harus tetap waspada pengingkaran terhadap Tuhan (syirik atau ada wujud yang setara) tidak terbatas pada bentuk-bentuk penyembahan kepada berhala. Tetapi lebih dari itu, khususnya yang berkaitan dengan menempatkan andad, atau saingan terhadap Tuhan, bukan dalam bentuk penyembahan, melainkan kecintaan misalnya, sikap ketaatan yang sama sekali tanpa reserve terhadap ulama/kiyai, sikap fanatisme golongan, partai politik atau aliran atau organisasi yang berlebihan, kecintaan kepada keluarga, pekerjaan, bisnis, kerabat, rumah mewah dan sebagainya sedemikian rupa melebihi kecintaan kepada Tuhan. Kemusyrikan juga dapat muncul dari keserakahan terhadap kekayaan, dan ketidakpedulian sosial manusia terhadap manusia lain.

Dikutip dari berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: