Kim II Sung

KIM II SUNG;
BERTAHAN DI TENGAH EMBARGO AMERIKA
Oleh: Havis A

Korea Utara adalah sebuah negara yang diklaim Amerika Serikat sebagai salah satu negara teroris, selain Iran, Kuba, Libya, dan Irak. Reputasinya sebagai penantang sejati Amerika dalam percaturan politik internasional patut diacungi jempol, embargo ekonomi, politik, sosial dan budaya tak menghalanginya untuk mengembangkan senjata nuklir sebagai tandingan atas kecongkaknya Amerika dalam memperlakukan negara-negara dunia ketiga. Kim II Sung Presiden yang berani untuk melakukan semua itu, rela mati demi harga diri bangsa; ”Jangan tunduk kepada AS”. Teriaknya berani.

Kim II Sung saat kecil bernama Kim Sung Chu, ketika dewasa mengganti namanya menjadi Kim II Sung, karena termotivasi dengan perjuangan gerilyawan bernama Kim II Sung yang meningggal tahun 1931.
Kim Sung Chu lahir di tengah keluarga petani dekat Pyongyang pada 15 April 1912. Pada usia 14 tahun ia bermigrasi bersama keluarganua ke Manchuria, dan bergabung dengan Partai Komunis Korea.
Selama dekade 1930-an sebagai gerilyawan anti Jepang, Kim menarik perhatian penguasa militer Uni Soviet. Pada 1940, Kim pergi ke Uni Soviet untuk mendapatkan pelatihan sebagai tentara di Ketentaraan Merah US.
Lima tahun kemudian, seusai perang dunia II, dengan dukungan Pasukan US, Kim bersama serdadu Korea lain yang telah dilatih di Moskow kembali ke korea untuk mengambil alih bagian utara Korea dari tangan Jepang.
Pada 1946, penguasa US menekan pemimpin Korut untuk menerima pembentukan pemerintahan provinsi yang dikepalai Kim. Pada akhir pendudukan Jepang tahun 1948, Partai Pekerja Korea yang didominasi Kim dan kawan-kawan memperoleh kendali penuh di badan-badan pemerintahan dan Kim pun menjadi pemimpin Republik Rakyat Demokratik Korea. Dengan dukungan US, Kim menjalankan roda pemerintahan dengan mengusung reformasi sosial dan ekonomi. Termasuk menasionalisasi aset-aset yang ditinggalkan Jepang dan redistribusi tanah.
Pada 25 Juni 1950, pecah perang saudara antara Korut dan Korsel yang menimbulkan tragedi kemanusiaan hebat sampai saat ini. Perang yang diawali dengan pasukan bersenjata Korut menyerbu dan melintasi garis 38° Lintang Utara (LU) dalam upaya menaklukan Korsel. Invasi militer Kim tersebut bertujuan untuk mewujudkan unifikasi Korea. Presiden AS Harry S. Truman menuduh bahwa invasi itu adalah ekspansi komunis ke Asia. Perang itu berlangsung selama tiga tahun dengan korban 4 juta jiwa telah melayang — 54 ribu di antaranya serdadu Amerika. Pada 17 Juli 1953 terjadi gencatan senjata dengan difasilitasi AS di pihak Korsel dan China di pihak Korut sebagai penengah.
Kim mengembangkan doktrin yang disebut Chuch’e. Doktrin sejenis nasionalisme yang didefenisikan sebagai keyakinan untuk melakukan percepatan kemajuan dalam bidang politik, ekonomi, dan pertahan di atas kemampuan sendiri bercorak sosialis tanpa bantuan pihak asing. Pada dekade 1970-an upaya ini berhasil dan Kim pun menjadi pemimpin besar yang mendominasi urusan ekonomi, politik, dan militer.
Pada dekade 1980an, Kim menolak semua bantuan asing, karena Kim bersikukuh untuk menutup negaranya dari investasi asing. Walau kebijakannya ini mengakibatkan kinerja ekonomi Korut mengalami kemunduran, produksi nasional menurun tajam hingga menyentuh 4% dalam setahun dan benar-benar hancur ketika subsidi dari Uni Soviet berhenti dengan bubarnya negara tersebut pada dekade 1990-an.
Kim berhasil membangun kekuatan militer untuk melindungi kedaulatan Korut dari serangan tetangganya Korsel yang didukung Amerika diantaranya tentara regularnya meliputi 700 ribu serdadu. Di samping itu terdapat Garda Merah Buruh dan Tani, serta Garda Pemuda dan Pelajar. Dua yang disebut terakhir beranggotakan 2,5 juta milisia. Lebih 16% GNP negeri itu digunakan untuk keperluan militer.
Orang-orang yang tidak suka dengan Korut menuduh Korut sebagai negara monarki marxis pertama di dunia pimpinan Kim II Sung sama sekali tak ada kebebasan memilih pekerjaan, sekolah rumah maupun pemukiman, tak bisa lagi ditemukan seorang Kristen atau Budhis. Tukang ramal, para dukun dan ahli santet tak diberi hak hidup. Semua penduduk menggunakan pakaian dari bahan dan warna yang sama, buatan sebuah pabrik yang sudah ditunjuk negara. Kaum perempuan hanya diperkenankan menata rambutnya dalam satu gaya. Ukuran panjang rambut para pria juga sudah ditetapkan negara.
Sebelum meninggal dunia, Kim telah mempersiapkan anaknya Kim Yong II, sebagai penerus politiknya. Kim Yong II diorbitkan untuk mengendalikan jabatan strategis di dalam badan utama partai dan miiter. Pada tahun 1992, Kim Yong II mengambil alih komando utama angkatan bersenjata.
Pada 8 Juli 1994, di Pyongyang Kim II Sung meninggal dunia dalam usia 82, dan Kim Yong II secara de facto resmi menjadi pemimpin tertinggi negara Korut dan melanjutkan perjuangan pendahulunya; jangan takut kepada AS.

Sumber; Dikutip dari berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: