Che Guevara; Sang Pembebas

poto-bing3Che Guevara merupakan salah satu tokoh simbolik terpenting abad 20 bukan hanya karena perannya dalam revolusi Kuba, tapi karena kemampuannya dalam menyedot imajinasi jutaan orang dalam berbagai pergolakan sosial dan politik. Dalam konteks sekarang kepahlawanannya menjadi bahan inspirasi para elite-elite mulai dari Hugo Chavez Presiden Venuzela, Evo Morales Presiden Bolivia, sampai Diego Maradona tokoh Sepakbola Argentina. Bahkan kepahlawanan Che Guevara tidak segan-segan disanjung para pemikir kontemporer seperti Jean Paul Satre yang berkata Che adalah manusia paling sempurna di zaman kita.

Che kecil bernama lengkap Ernesto Guevara Lynch de la Serna, dilahirkan di Rosario Argentina pada tanggal 14 Juni 1928. Sebuah negara yang dipimpin oleh diktator Juan Peron. Ayahnya bernama Ernesto Guevara Lynch seorang Insinyur Sipil keturunan Irlandia dan Ibunya bernama Celia de la Serna keturunan Spanyol.
Che adalah anak yang cerdas. Sejak kecil dia adalah hobby membaca berbagai macam buku terutama buku-buku tentang Marx, Engels dan Frued yang ada di perpustakaan ayahnya. Pada usia 9 tahun tepat kelas 3 SD, Che sudah tertarik untuk ikut perang sipil Spanyol dan berusaha menggambarkan evolusi militer dalam sebuah peta.
Pada tanggal 17 Januari 1947 ketika usianya 18 tahun, melihat banyak ketidakadilan dan penindasan dimana-mana Che menulis sebuah pernyataan kritis: Aku tahu, ya aku tahu. Jika aku keluar, sungai menelanku, inilah takdirku, hari ini aku pasti mati!. Tapi tidak, kekuatan jiwa ‘kan mengatasi segalanya. Ada beribu rintangan ku akui itu. Tak ‘kan aku keluar. Jika harus mati, biarlah terjadi di gua ini. Peluru, apakah yang dapat ia lakukan jika takdirku adalah mati tenggelam? Tapi ‘kan kukalahkan takdir itu. Kekuatan jiwa ‘kan mengalahkannya. Mati? Tentu saja? Tapi ditembusi peluru, dirobek bayonet? TIDAK. Tenggelam, TIDAK! Kenangan ’kan mencatat nama abadi. Aku melawan! Aku mati melawan!.
Pada tahun 1948 Che memulai perjalanan panjangnya yang pertama, menjelajahi Argentina utara hanya dengan bersepeda motor, dalam perjalanan tersebut Che untuk pertama kali bersentuhan langsung dengan orang-orang miskin dan sisa-sisa suku Indian. Melihat itu semua Che sangat terenyuh, sakit dan marah. Empat tahun kemudian pada bulan Januari – Juli, Che mangakhiri tugas sekolahannya dan kembali mengunjungi Amerika Selatan bersama sahabat dekatnya Alberto Granados seorang ahli biokimia dan farmasi. Mereka mengunjungi Chile, Peru, Columbia dan Vanuezela.
Ketika di Peru Che melihat bagaimana orang-orang India dari dataran tinggi Peru, di ekesploitasi dan diperlakukan dengan kejam oleh investor asing dan Che menangis saat melihat perlakukan kejam terhadap para penderita Lepra di San Pablo Leprosarium, yang terletak di sepanjang sungai Amazon. Untuk menghilangkan itu semua, Che menjalin hubungan erat dengan orang-orang Indian Amerika Selatan tersebut. Kemudian Che kembali ke Argentina untuk menyelesaikan studinya, sedangkan Granados tinggal di Leprosarium ditugaskan sebagai karyawan di sana.
Satu tahun kemudian, setelah lulus dari fakultas kedokteran, Che kembali menemui Granados dan bersamanya mengunjungi empat negara lain di Amerika Latin. Di Guayaquil, Ekuador Che bertemu Ricardo Rojo seorang pengacara Argentina yang diusir oleh rezim Juan Domingo Peron. Rojo menyakinkan Che untuk pergi ke Guatemala, karena di sanalah tempat revolusi sosial sedang berlangsung dan Che akan sangat berperan di sana. Sementara di Bolivia, Che mengamati dan mempelajari dampak revolusi Kuba 1952 akibat kudeta Fulgencio Batista.
Tanggal 24 Desember 1953, Che sampai di Guatemala yang baru saja memilih pemimpin baru Jacoba Arbenz. Arbenz terpilih dengan menjanjikan pemerataan tanah kepada orang-orang India yang tidak punya tanah dan kelaparan. Hasilnya Arbenz berhasil mengambil 225. 000 ha tanah subur milik American Fruit Company yang memonopoli pertanian Guatemala. Langkah ini sangat berat untuk ditanggung Menlu Amerika John Foster Dulles yang juga bertindak sebagai pemegang saham dan pengacara untuk America Fruit Company. Untuk melawan itu semua, pada bulan Maret 1954 Dulles melancarkan manuver politiknya dengan menuduh pemerintahan Arbenz sebagai rezim komunis dan sekaligus berhasil memaksa pasukan OAS (Organisasi Negara-negara Amerika) untuk menyiapkan invasi bayaran di negara tetangganya Handuras.
Tindakan Arbenz sangat didukung Che, karena menurutnya reformasi tanah adalah sebuah keharusan dan tindakan Arbenz terhadap America Fruit Company sangat tepat. Untuk membuktikan dukungannya, Che berusaha mengorganisasi pasukan untuk melawan invasi dukungan CIA ke Guatemala. Namun usahanya tidak berhasil, rakyat dan militer menolak untuk melawan karena para petingginya sudah berkomplotan dengan penyerang. Akibatnya, Arbenz tertekan dan tanggal 27 Juni 1954 meletakkan jabatannya dan 2 bulan kemudian para tentara bayaran pimpinan Kolonel Carlos Armas memasuki Guamtemala City dan mulai melakukan pembersihan terhadap para pendukung rezim Arbenz; beruntung Che berhasil selamat berkat perlindungan kedutaan Argentina di Guatemala.
Kegagalan di Guatemala menyakinkan Che bahwa musuh lain turut andil dalam penindasan rakyat, yaitu pasukan tentara. Tentara merupakan alat pemerintah yang berkuasa untuk melanggengkan kekuasaan. Che berfikir bahwa tentara adalah alat yang bobrok dan tidak efektif dalam melawan agresi imprialis. Che percaya bahwa penghancuran pasukan tentara rezim pemerintah merupakan hal yang esensial bagi keberhasilan revolusi.
Berkat suaka politik dari kedutaan Argentina Che pergi ke Mexico dan pada tanggal 21 September 1954 sampai di sana. Tak lama kemudian memperoleh pekerjaan sebagai dokter di Central Hospital. Saat berada di Mexico inilah, Che menikah dengan Hilda Gadea Acosta seorang gadis bertemu dengannya di Guatemala ketika gadis tersebut bekerja untuk pemerintahan Arbenz dan mereka dikarunia seorang anak perempuan.
Pada bulan Juni 1955 Guevara menemui Nico Lopez, seorang veteran penyerangan Moncada atau kaum revolusioner pengasingan Kuba yang dikenalnya di Guatemala di Mexico untuk sebuah keperluan. Beberapa hari kemudian Lopez mengatur pertemuan Guevara dengan Raul Castro adik Fidel Castro.
Pada bulan Juli-Agustus Guevara bertemu dengan Fidel Castro di sebuah apartemen kecil di Calle Emparan 49 yang dikemudian hari dikenal dengan sebutan Markas Umum Revolusi Kuba. Mengenai pertemua tersebut, Che menyatakan bahwa: Aku bertemu dengannya pada suatu malam yang dingin di Mexico dan aku ingat bahwa awal percakapan kami berkisar tentang politik internasional. Pada malam yang sama sampai dini akhirnya aku bergabung menjadi pertisipan di masa mendatang pada ekspedisi Guatemala. Sedangkan Fidel Castro menyatakan mengenai pertemuan tersebut bahwa: Che tahu banyak tentang Marxisme-Leninisme. Ia adalah seorang pribadi yang tabah dan sangat punya keinginan untuk belajar. Dia pribadi yang sangat yakin. Ketika pertama kali bertemu dengan Che pada waktu itu, dia sudah sangat terpelajar dan revolusioner.
Setelah pertemuan tersebut, Che mendaftarkan diri sebagai anggota tetap ketiga dari ekspedisi gerilya dan terlibat dalam latihan perang gerilya. Berkat kesediaannya untuk ikut bergabung, para pejuang kuba memberinya gelar Che, sebutan salam khas Argentina.
Tanggal 25 November 1956 dengan kapal layar Granma dari hulu sungai Tuxpan di Mexico dengan beranggotakan 82 laki-laki mereka berangkat ke Kuba untuk satu tujuan menggulingkan rezim diktator Batista buatan Amerika. Pada tanggal 2 Desember mereka mendarat di Los Cayelos di East Coast Kuba, kedatangan mereka diperingatkan dan diburu oleh pasukan Batista. Rombongan kemudian berpencar.
Tanggal 5 Desember di Alegria del Pino, Che beserta pasukannya disergap pasukan Batista, sebagian gerilyawan ditangkap dan dibunuh. Sementara Che terluka dan beruntung berhasil diselamatkan oleh orang lain kemudian melarikan diri keladang tebu, dalam suasana mencekam ini Che harus membuat satu pilihan menjadi seorang dokter atau menjalankan tugasnya menjadi seorang tentara revolusioner. Untuk melarikan diri Che harus memilih apakah akan mengisi rengselnya dengan sekotak peluru atau obat-obatan. Karena sangat tidak mungkin membawa keduanya, Che memilih sekotak peluru dan bergegas berlari keladang tebu. Setelah itu, Che mengadakan konsolidasi dengan para petani tebu untuk melawan tentara Batista dan secepatnya menyusul Fidel Castro.
Tanggal 20 Desember pasukan Che bergabung dengan Fidel Castro di sebuah kebuan kopi. Di sana terdapat kurang dari 2 lusin pejuang dari tentara pemberontak (Rebel Army). Bergantinya tahun, menjadi titik balik pemberontakan Fidel, Che dan kawan-kawan. Tanggal 17 Januari – 27 Mei 1957 pemberontak menyerbu pos terdepan dalam serangan La Plata, lalu dilanjutkan menyergap tentara Arroya del Infierno tanggal 22 Januari. Pejuang dari Revolutionary Directo rate menyerbu istana kepresidenan di Havana, namun serangan tersebut gagal dan sejumlah revolusioner terbunuh termasuk Jose Antonio Echeverria. Kemudian serangan difakuskan terhadap El-Uvero yang berlangsung di Sierra Maestra dalam serangan tersebut kaum pemberontak memperoleh kemenangan penting.
Setelah berkali-kali mendapat serangan dari pemberontak tanggal 24 Mei 1958 Batista melancarkan operasi ofensif militer besar-besaran di Sierra Maestra. Satu bulan kemudian tentara pemberontak membalas dengan menyerang basis el-Jigue dan berhasil mendapat kemenangan. Hal ini menyebabkan tentara Batista semakin kian terjepit. Karena Sierra Maestra sudah berhasil ditaklukan tanggal 31 Agustus Che memimpin invasi pasukan dari Sierra Maestra menuju propinsi Las Villas di Kuba Tengah. Beberapa hari sebelumnya Camilo Cienfuegos juga diperintahkan memimpin pasukan menuju Propinsi Pnar del Rio di ujung Barat Kuba.
Empat bulan kemudian pasukan pemberontak Che dan Cienfuegos berhasil menguasai sejumlah kota di Propinsi Las Villas dan sekaligus efektif memotong setengah pulau. Penyerbuan mereka lanjutkan ke Santa Clara ibukota Las Villas. Mengenai kemenangan di Las Villas Che berkata; Perang telah usai, musuh telah bertekuk lutut, di daerah Timur kami menahan 10.000 tentara dalam tahanan. Oleh karena itu, Camoquey tidak bisa keluar lagi. Semua ini adalah hasil dari suatu hal usaha keras kami.
Melihat pasukan kian hari kian kalah di medan perang dan semakin sulit untuk mempertahankan posisinya di pemerintahan. Batista pada tanggal 1 Januarti 1959 melarikan diri dengan pesawat terbang pada pukul 02.00 dini hari. Rakyat menyambut kemenangan tersebut dengan suka cita. Che berkata; Kemenangan bersenjata rakyat Kuba atas pemerintahan diktator Batista bukan hanya menjadi kemenangan yang luar biasa. Kemenangan ini juga mendorong terjadinya perubahan atas dogma lama tentang kepemimpinan rakyat banyak di Amerika Latin. Kemenangan ini menunjukkan secara nyata kapasitas rakyat untuk membebaskan diri mereka melalui perang gerilya dari sebuah pemerintahan yang menekan mereka.
Tetapi kegembiraan rakyat tidak berlangsung lama. Junta militer mengambil alih kekuasaan yang ditinggalkan Batista, Fidel Castro dan Che Guevara menentang militer baru dan menyerukan pasukan dan rakyat meneruskan perjuangan. Perjuangan mereka tidak mengecewakan Santa Clara berhasil dikuasai. Melihat keberhasilan tersebut Che dan Camilo Cienfuegos diperintahkan segera menuju Havana.
Tanggal 8 Januari Fidel Castro sampai di Havana. Dia disambut ratusan ribu rakyat yang mengelu-elukan dan memberi selamat atas keberhasilan membebaskan Kuba. Namun tindakan tersebut tidak berlaku buat Amerika. Amerika sangat marah atas kembalinya Fidel Castro dan mulai merancang serangan untuk kembali menguasai Kuba.
Satu hari kemudian Che Guevara diangkat menjadi warga negara Kuba, atas sumbangsih dalam membantu Fidel Castro dan pasukannya. Di Kuba juga Che ditunjuk sebagai Presiden Bank Nasional, yang bertanggungjawab atas finansial Kuba (26 November 1960) dan menteri Industri (23 Februari 1961).
Che adalah tokoh diplomasi Kuba di tingkat Internasional. Lobi-lobi politiknya di mulai pada tanggal 12 Juni – 8 September 1959 dengan melakukan perjalanan ke negara-negara Eropa Timur, Afrika dan Asia seperti Emirat Arab dan Mesir dimana Che kemudian bertemu Gamal Abdul Nasser Presiden Mesir. Perjalanan berlanjut ke India, Thailand, Jepang, Indonesia dan Pakistan. Setiap singgah di negara-negara yang Che kunjungi. Che selalu menyerukan pentingnya negara membebaskan diri dari perbudakan dan melawan setiap penindasan yang dilakukan oleh negara Imperialis.
Sedangkan kepada para mahasiswa Che berpesan; “Teruskanlah menjalin hubungan dengan rakyat, jangan mencoba menolong mereka lewat ilmu pengetahuan dan janganlah bertingkah seolah-oleh seperti seorang bangsawan yang sedang memberi uang kepada peminta-minta.”
Setelah itu Che kembali ke Eropa Timur dan Barat supaya lebih dekat ke Maroka. Di sana Che dikejutkan oleh simpati masyarakat atas revolusi Kuba yang ternyata merebak ke seluruh dunia. Pada tanggal 27 Agustus sampai 7 September 1962 Che kembali memimpin misi diplomatik ekonomi ke Uni Soviet. Satu tahun kemudian tepatnya tanggal 3-17 Juni 1963 Che mengunjungi Al-Jazair yang baru saja merdeka dibawah pemerintahan revolusioner Ahmed Ben Bella.
Tanggal 25 Maret 1964 Che mewakili Kuba pada Konprensi PBB tentang perdagangan dan pembangunan di Genewa, Swiss. Kemudian tanggal 4-19 November Che mengadakan perjalanan ketiga ke Uni Soviet. Tanggal 11 Desember Che mewakili Kuba di sesi ke 19 Majelis Umum PBB di New York. Di sana Che menyampaikan pidato pentingnya perdamaian Karibia. Untuk itu Che memberikan beberapa solusi diantaranya:
Pertama, penghentian blokade ekonomi dan seluruh tekanan ekonomi dan perdagangan oleh Amerika Serikat di seluruh bagian dunia yang menyerang negara kami.
Kedua, penghentian seluruh kegiatan subversif, meluncurkan dan mendaratkan senjata serta meledakkannya di Udara dan laut, invasi organisasi tentara bayaran, penyusupan mata-mata dan penyabotasean, seluruh tindakan yang dilalukan dari teritori Amerika Serikat dan beberapa negara kaki tangannya.
Ketiga, penghentian serangan pembajakan yang dilakukan dari pangkalan yang ada di Amerika Serikat dan Puerto Rico.
Keempat, pengentian dari seluruh kekerasan terhadap wilayah udara dan wilayah teritorial kelautan kami yang dilakukan oleh pesawat ataupun kapal perang Amerika Serikat.
Kelima, penarikan kembali dari pangkalan laut Guantanamo dan memberikan penggantian kerugian terhadap teritorial Kuba yang dikuasai Amerika Serikat.
Setelah dari PBB Che kembali ke Al-Jazair. Dari al-Jazair Che melakukan perjalanan ke Mali, Kongo, Jenewa, Ghana, Bahomey, Tanzania dan Republik Arab Saudi.
Tanggal 24 Februari 1965 Che kembali ke Al-Jazair untuk menghadiri seminar ekonomi II organisasi solidaritas Asia-Afrika. Di sana Che sebagai pembicara dalam presentasinya Che berbicara mengenai hubungan ekonomi antar negara-negara terbelakang dan negara-negara blok Soviet. Karena tidak ada batasan-batasan untuk berjuang hingga titik darah penghabisan. Kita sungguh tidak dapat menutup mata terhadap apa yang terjadi di seluruh dunia, terhadap setiap usaha untuk memperoleh kemerdekaan melawan penjajah. Kemerdekaan mereka adalah kemerdekaan kita juga. Seperti juga halnya kekalahan negara lain merupakan kekalahan bagi kita juga.
Satu bulan setelah dari al-Jazair tepatnya tanggal 31 Maret 1965 Che menulis surat perpisahan kepada Fidel Castro karena banyak visi politik yang tidak lagi sejalan. Kemudian Che meninggalkan Kuba untuk menjalankan misi Internasionalis di Kongo. Setelah selesai misi di sana. Pada bulan Juli 1966 Che melakukan perjalanan rahasia ke Havana dan untuk pertama kali bertemu dengan Detasement Internasionalis Kuba. Pertemuan mereka untuk membahas misi baru pembebasan Bolivia.
Tanggal 4 November 1966 Che berhasil sampai di Bolivia dengan nama samaran setelah melakukan perjalan panjang lewat Brazil dengan melintasi Maskow, Praha dan Vienna. Tujuannya agar Che tidak tertangkap para mata-mata Amerika Serikat yang selalu berkeliaran mencarinya.
Bulan Mei-Oktober 1967 karena kurangnya koordinasi dan persiapan matang pasukan Detasement di Bolivia semakin terisolasi. Ribuan tentara Bolivia bersama pasukan-pasukan Amerika Serikat terus rapat mengepung. Tanggal 8 Oktober atas perintah Presiden Amerika Serikat Lyndon B. Johnson, 17 Gerilyawan yang tersisa disergap unit angkatan Darat Bolivia di bawah pimpinan CIA di dekat Vallegrande, Bolivia. Che tertangkap dan menderita luka serius. Namun Che tidak memperoleh perawatan medis karena sebab tertentu. Esok harinya Che dibunuh oleh para pengecut setelah mereka melakukan konsultasi dengan pemerintah Bolivia dan Wangshinton.
Berita kematian Che cepat menyebar dan mendapat simpati di mana-mana. Pada tanggal 18 Oktober 1967 lebih dari 200.000 rakyat berkumpul di Plaza Revolusi di Havana untuk mendengarkan Fidel Castro membacakan berita kematian Che Guevara yang dibunuh di Bolivia sembilan hari sebelumnya. Kepada khalayak ramai yang berkumpul, Fidel Castro memuji arti penting kehidupan dan kematian Che:
Che meninggal demi membela kepentingan kaum yang tereksploitasi dan tertindas di benua ini. Che meninggal demi membela kepentingan fakir miskin di muka bumi……….sejarah masa lalu, orang bertindak atas kehendaknya sendiri, orang yang memberi sehala sesuatu untuk kaum miskin, kian menanjak kepopulerannya dan mendapatkan tempat yang lebih dalam di hati rakyat.
Che merupakan seorang serdadu yang tak tertandingi. Che merupakan seorang pemimpin yang tak tertandingi. Che merupakan dari sudut militer, seorang manusia dengan kemampuan yang luar biasa, dengan keberanian yang luar biasa, dengan sifat agersif yang luar biasa.
Para musuh yakin kalau kematian itu telah mematahkan ide-idenya, konsep-konsep perang gerilyanya, pandangannya terhadap perjuangan revolusioner bersenjata. Namun apa yang mereka hasilkan, lewat sebuah serangan mujur adalah melenyapkan dirinya secara fisik. Prestasi yang mereka raih merupakan kebetulan yang bisa dicapai oleh musuh manapun dalam peperangan.
Hasta La Victoria Siempre (Selalu maju menuju kemenangan)
Patria O Muerte (Tanah Air atau Mati)
Venceremos (Kita akan menang)

Sumber. Dikutip dari berbagai macam sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: