Esensi Percaya

Mengapa manusia harus percaya kepada sesuatu diluarnya, apakah ini sudah menjadi fitrah hidup manusia atau hanya bentuk kelemahan manusia, namun aku yakin kepercayaan manusia sedikit banyak di pengaruhi oleh tradisi lingkungan dimana dia tinggal dan berinteraksi. Percaya kepada sesuatu adalah bagian terbesar interaksi manusia dengan alam dan kebenaran yang dihasilkan adalah kebenaran hasil kesepakatan manusia itu sendiri.
Percaya ialah sifat dan sikap membenarkan sesuatu, atau menganggap sesuatu sebagai benar. Atau sikap yang tulus dan ikhlas membenarkan sesuatu setelah sesuatu itu dapat diterimah oleh rasio dan intuisi dari orang yang membenarkan. Sedangkan kepercayaan merupakan anggapan atau sikap mental bahwa sesuatu itu pasti benar atau sesuatu yang diakui sebagai benar atau sesuatu itu benar setelah adanya penyelidikan yang mendalam dan tidak bertentangan dengan norma-norma yang dianut oleh yang membenarkan.
Kepercayaan dalam tradisi agama, menurut Prof. Rasijdi adalah hal yang disebut sebagai “problem of ultimare concern”. Suatu problem mengenai kepentingan mutlak, yang berarti bahwa jika seseorang membicarakan soal agamanya maka ia tidak dapat tawar menawar, apalagi berganti, agama bukan sebagai rumah atau pakaian yang kalau perlu dapat diganti, akan tetapi sekali kita memeluk keyakinan, tak dapatlah keyakinan itu dipisah dari seseorang. Senada apa yang dikatakan disebut diatas memang benar bahwa agama merupakan masalah yang sangat krusia sehingga seorang Karl Marx langsung menjustifikasi bahwa agama merupakan candu bagi masyrakat, sehingga peryataan di atas diikuti oleh muridnya juga penganut aliran meterialisme Lenin menyatakan bahwa agama adalah sumber kebodohan kaum ploretal, oleh sebab itu seseorang harus dijauhkan oleh nilai-nilai agama, karena nilai-nilai tersebut akan mengganggu jiwa dan kepribadian para remaja. Kita harus paham bahwa agama bukanlah apa yang dikatakan di atas. Agama harus kita ketahui bukan dari apa pendapat orang tapi dari keyakinan hati suci kita.
Sedangkan kebenaran dalam kacamata golongan rasionalis pragmatisme adalah suatu proses yang dinamis dan fungsional. Kita tidak dapat mengatakan apa kebenaran atau sebelum kita membicarakan bagaimana kebenaran itu sampai kepada kita. Esensi kebenaran ada dalam penggunaannya. Ia benar bila mampu membuat kita sampai kepada fakta. Itulah yang dimaksud dengan kebenaran adalah suatu proses. Oleh karena itu kebenaran tidak berdiri sendiri. Jadi kebenaran dalam agama tidak lahir secara rasional, namun karena kebutuhan manusia yang muncul secara tiba-tiba tanpa disadari sedikitpun dan menciptakan sebuah pengalaman. Dari pengalaman seperti itulah menyebabkan seseorang percaya kepada agama (menganggap apa yang dibawah agama sebagai sebuah kebenaran).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: