Indonesia sekarang

Sahabat engkau pernah dengar pernyataan  C Brooke tentang penindasan bahwa “Kamu akan kehilangan hakmu yang dirampas oleh orang-orang asing dan para spekulan, yang pada gilirannya akan menjadi tuan dan pemilik; sedangkan kamu hai anak-anak negeri akan terusir dan tidak menjadi apa-apa”. Sungguh tragis jika pernyataan ini kita kontekskan dengan kondisi riil bangsa kita.
Kau pasti tahu berita-berita penggusuran di Jakarta, atas nama penertiban, kebersihan, kelestarian ribuan orang harus beratapkan langit beralaskan koran bekas disamping reruntuhan. Padahal kita semua tahu bahwa pasca penggusuran tersebut akan dibangun real estate, pusat-pusat perbelanjaan atau mal-mal, dan bisnis-bisnis kapitalis lainnya. Mana bahasa nurani disana seperti yang selalu mereka janjikan pada mereka ketika kampanye.
Kita semakin tertunduk lesu ketika DPR sebagai pintu terakhir harapan kita hanya bisa diam karena memang itulah pilihan yang paling rasional dan aman walaupun harus menjadi pecundang dalam lingkaran setan-setan. Pengecut dan paduan suara bahasa kiasan yang sering kita alamatkan, namun miskin makna. Karena tidak ada efek sampingnya terhadap pilihan yang mereka jatuhkan.
Kita tersingkir di negara sendiri. Aku “angkat topi” dengan Soekarno yang sudah dapat mencium masalah ini jauh-jauh hari sebagaimana pernyataannya “jangan menjadi budak di negeri sendiri”. Walaupun kita semua tahu skandal pembudakan massal yang dilakukannya ketika menerapkan demokrasi terpimpin sama berbahayanya dengan penggusuran era baru. Tapi engkau tidak perlu cemas sahabat kita punya sejarah besar dalam meruntuhkan hegemoni penguasa atas rakyat dan perkawinan penguasa dengan pengusaha. Lihat pemberontakan petani Banten, selami makna revolusi 1966, hayati peristiwa Malari 1974 dan teriakkan kembali Reformasi 1998, disana semua tumbang. Rezim Cendana, Humpuss, Dinasti Liem Sioe Liong (Salim Group), walau “kembali” kita harus menangis karena pasca itu kita sudah telanjur terjerak dalam lingkaran setan kapitalisasi global (IMF dan Word Bank).
Ingat semua peristiwa itu bukan sekedar sejarah sehingga layak untuk dimanipulasi seperti yang “sering” dilakukan Orde Baru. Tapi lebih dari itu, untuk pembelajaran di masa yang akan datang. Tetap semangat, tatap masa depan dengan optimis, dan selalu berfikir positif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: