Nasehat Untuk HMI

Jika kita ingin menghancurkan suatu bangsa, hancurkan generasi mudanya.
Jika kita ingin menghancurkan genarasi muda hancurkan moralnya
(Pepatah Yahudi)

Di dalam tubuh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), entah mulai kapan, yang pasti untuk saat ini akan kita temui fenomena paradoksal, sulit memang jika pada saat dan momentum yang sama, di satu sisi kita dibenturkan dengan “oknum” yang berpikiran pragmatis, berorientasi kapitalis tapi memakai jubah sosialis dan mengusung Marxism atas nama rakyat. Sementara, di sisi lain, kita akan berbenturan dengan mereka yang notabene masih saudara, teman, sahabat, kita sendiri.
Seperti kita ketahui bersama; sekedar catatan pemantik ingatan, pada saat Latihan Kader I (LK I) atau Basic Training, saudara-saudara dijejali dengan ide-ide yang melangit, yang prosesi pertamanya dimulai dengan training “pendangkalan” aqidah dengan menggunakan jasa pisau bedah filsafat, yang diawali dengan pertanyaan-pertanyaan paling mendasar dari keimanan kita seperti; “Apa yang saudara ketahui tentang Islam ?”. “Apakah itu yang selama ini saudara-saudara ketahui dan yakini itu benar ?”. Tentu saja, by no means, kita sebagai orang yang (masih) “awam”, menjawab dengan “Ya”, karena memang itulah yang selama ini kita yakini dan kita ketahui dari pengalaman di Pon-pes, keluarga juga ketika belajar di sekolah.
Mereka mengatakan bahwa itu adalah bagian dari Nilai Dasar Perjuangan (NDP) sebagai bekal menghadapi kaum agamis yang “kaku”, normatif dalam memahami Islamnya. Mereka menggiring kita dari suatu dunia kecil yang selama ini kita nyaman tinggal di dalamnya menuju sebuah dunia besar yang menurut mereka penuh dengan tantangan dan perjuangan yang hanya bisa dihadapi dengan satu kata “demokrasi” dengan membawa sebuah semboyan penyemangat “Yakin Usaha Sampai”. Pertanyaan yang kemudian mengusik kita adalah yakinkah bahwa kita akan “sampai” ?.
Dalam pada itu, saat kita diindoktrinasi; sontak kita marah, bahkan ada yang langsung mengkafirkan mereka, menganggap mereka sengaja melanggar koridor keberagamaan Islam. Tapi, untuk selanjutnya, semua asumsi kita dikandaskan dengan retorika berfilsafat, argumen yang kita gunakan kaku, hampir tidak mempunyai landasan yang konkret dan jelas bagi sebuah revolusi Islam. Pertanyaan yang kemudian muncul dibenak kita apakah ini yang dinamakan sebuah “pengkaderan”?.
Tentang kepemimpinan, kita diajarkan strategi dan taktik untuk mencapai target. Di mulailah sebuah rekayasa; kita lagi-lagi digiring menuju sebuah manajemen konflik yang di setting dengan adegan mahasiswa yang sedang mengkritisi pejabat. A very crucial question layak kita fahami lagi; apakah yang demikian itulah dinamakan suatu pembelajaran kepemimpinan ?.
Saat belajar Social Analisis pun, sebelumnya kita diperintahkan untuk mempraktekan langsung di lapangan untuk kemudian dipresentasikan di depan friends tanpa adanya pembelajaran teori yang jelas terlebih dahulu. Satu lagi pertanyaan yang mengusik benak kita; adakah suatu rekayasa social tanpa adanya suatu landasan teori yang jelas ?. Hanya sebatas itu ?. Ternyata tidak.
Pasca LK, pada saat agenda Follow Up, kita diajak merewind apa-apa saja yang telah kita dapatkan saat LK. Kenyataan memang tidak selamanya sesuai dengan idealisme kita; Follow Up yang digembar-gemborkan ternyata belum bisa menyentuh dan mem”bumi”kan apa yang kita dapatkan di LK ke tataran praktis, it’s Just like an imaginary discourse organ pisau bedah “filsafat”, justru yang muncul adalah pembangkangan, ketidakjelasan dan keterasingan dari sebuah komunitas. Kita terkatung-katung, kita mulai tidak mempercayai intitusi yang kita panggil “agama” dengan seutuhnya. Menempatkannya hanya sebagai objek kajian, kita tidak mempercayai shalat, tuhan, hantu dan semua hal yang irrasional. Kita terkondisikan untuk menjiplak mentah-mentah paradigma berfikir “Positivis-ilmiah”-nya Augute Comte, diwajibkan untuk menghapal teori pertentangan kelas dalam “Das Kapital”nya Karl Marx, “Satu Tuhan Tiga Agama”-nya Nurcholies Majdid, juga dicekoki dengan “Sejarah Tuhan”-nya Karen Amstrong, tanpa tahu alasan logisnya.
Ketika sudah menjadi “Kader” HMI, kita diajarkanlah pengenalan terhadap isu-isu publik; bahwa pejabat-pejabat pemegang kendali kekuasaan adalah Kapitalis, bermental borjuis. Seakan hanya kita satu-satunya kaum sosialis, pembela kaum proletar. Dan, dimulailah suatu era baru yang mereka sebut “perjuangan”.
Diawali dengan diskusi analisa terhadap berita yang ada di Koran-koran, lalu keluar seruan dari publik figure: besok kita melakukan aksi. Kita hanya tunduk, patuh tanpa tahu aksi itu berorientasi “murni” perjuangan atau malah membela intitusi atau oknum–oknum yang selama ini kita diskreditkan. Pertanyaan mendasar kita adalah apakah untuk itu kita belajar di HMI ?..
Ketika kita terapung mencari jati diri dan mencoba melarikan diri, mereka berapologi hidup adalah proses. Dalam HMI ada teori seleksi alam yang benar-benar maka akan tinggal di HMI, yang tidak maka akan pergi. Pertanyaan lagi apakah itu arti sebuah persaudaraan. Bukankah mereka yang mengajak, menawarkan dan mendoktrin kita?. Kenapa kita di buang dengan argumen seleksi alam. Naןf dan memalukan. Konsekuensi logisnya kita di-paksa ikut dan terkondisikan oleh mereka. Apakah mungkin ini wajah HMI sebenarnya ?.
Kita harus cerdas kawan, lihat, amati, pandang, dan siasati segala yang “berbau” tidak baik. Mari kita kritisi dan kita pecahkan bersama. Kita semua cinta HMI tapi tidak cinta sama oknum yang menamakan HMI untuk kepentingan sesaat.
Kawan.. orientasi HMI adalah terciptanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam bukan sebuah orientasi politik praktis atas nama rakyat, dan sebuah slogan-slogan yang tidak bermanfaat. Ingat tujuan dari rumah……Yakin Usaha Sampai ….!!!. Orang yang bijak adalah orang yang dapat dewasa melihat wacana.

One Response

  1. […] The rest is here:  Nasehat Untuk HMI […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: