NDP Standar Minimalis

NDP selama ini sering menjadi momok bagi kader-kader HMI di luar kostitusi, seakan-akan muncul phobia dari mereka ketika mendengar kata NDP. Padahal NDP adalah ruh dan bagian terbesar yang menentukan sukses dan tidaknya sebuah pengkaderan di HMI. Mungkin alangkah baik jika sedikit melihat konsep NDP “standar minimalis” sebagai alat penafsiran NDP Caknur untuk peserta LK I.
Pertama, Konsep Kepercayaan, di dalamnya menawarkan agar tidak sampai menggugat keimanan para peserta LK, ini berbanding terbalik dengan yang selama ini kita lihat dimana dalam konsep kepercayaan peserta LK di kosongkan pikirannya dengan retorika filsafat yang justru berakibat sangat fatal di kemudian hari. Kemudian ketika ada pemahaman yang sama tentang sebuah kebenaran, maka membuka sebuah konsep kebenaran yang lain sebagai contoh. Sehingga akan muncul ruang dialog dalam memahami perbedaan. Alasannya karena setiap manusia punya kepercayaan sendiri-sendiri. Setelah itu kebenaran yang dipahami sebagai kebenara mutlak, kita mengajak mereka untuk menjangkaunya, hasil akhirnya adalah relatif. Jadi kebenaran itu relatif. Dalam menjelaskan konsep لااله الا الله , maka yang dimunculkan adalah konsep liberalisasi islam (tidak ada komitmen, selain komitmen kepada kebenaran) dan  محمد رسول الله  sebagai penawaran prilaku rosul yang diaplikasikan dalam hidup sehari-hari. Ketika menjelaskan teks-teks Al-Qur’an, kita harus sadar bahwa pemahaman kita terhadap kandungan ayat-ayat dalam Al-Qur’an adalah relatif.
Kedua,  Dasar Kemanusiaan, menanamkan semangat humanisme tataran dasar mulai dari konsep fitrah kebaikan, keindahan dan kebenaran sebagai peradaban manusia. Sehingga ketika mereka menolak itu maka akan terjebak kepada sifat hewani. Kemudian memunculkan moralitas heteronom dan otonom. Heteronom dipahami sebagai moral yang diperoleh dari luar seperti larangan makan berdiri. Otonom adalah moralitas yang muncul dari dalam diri seperti takut mencuri, karena mudhorotnya lebih besar. Ketika menjelaskan ini maka harus dikaitkan dengan konsep larangan dan perintah dalam Islam. Yang akhirnya melahirkan konsep Ikhlas (sesuatu yang dilaksanakan karena sesuatu itu layak dilakukan).
Ketiga, Kemerdekaan dan Keharusan Universal, dimaksudkan bagaimana bisa memaknai konsep takdir karena secara teoritis takdir tuhan bertentangan dengan konsep pertanggungjawaban manusia. Takdir merupakan campur tangan tuhan dalam arti setelah ada proses dalam suatu peristiwa tertentu tanpa itu, maka tidak ada takdir tuhan. Karena takdir sama dengan hukum alam (sebab akibat atau kausalitas)/hukum alam yang sedang berjalan. Dalam hidup manusia memilih satu hukum alam ke hukum alam yang lain (mengikutinya) dan hukum alam itu sudah ditetapkan oleh tuhan. LK I bagaimana kita diselami tesis mereka dan anti tesis yang kita punya.
Keempat, Ketuhanan YME dan Kemanusiaan, konsep humanisme dan doktrin tuhan harus dipikirkan secara optimal. Namun tidak akan mencapai kemutlakan karena pencapaian kita hanya relatif, kemutlak an adalah hanya milik sang transenden. Kalau peserta LK I sudah ingin mencapai kemutlakan dalam memahami agama, maka dianjurkan untuk memahaminya seoptimal mungkin, jangan digugat.
Kelima, Individu dan Masyarakat, dipahamkan bahwa keinginan individu dibatasi oleh keinginan individu lain (masyarakat), maka di sana pentingnya sebuah konstitusi. Karena ketika tidak ada konstitusi maka tidak ada kemerdekaan. Memahami konstitusi tidak menghilangkan kemerdekaan kita sedikitpun tetapi justru menjaga kemerdekaan kita sehingga lahir apa yang sering kita sebut demokrasi.
Keenam, Keadilan Sosial dan ekonomi, konstitusi penting untuk menjaga keadilan individu. Mengajarkan keadilan ekonomi dan politik lewat sebuah contoh sangat penting karena adil dalam perspektif mereka adalah sesuatu yang baik. Jika secara politik ada ketidakadilan, maka ada yang salah dalam sebuah masyarakat. Untuk itu perlu menegakkannya dengan cara menghapus gangguan baik dari eksternal maupun internal kita sendiri melalui sebuah pendekatan yang konsonal dan kontinu. Menghapus gangguan dari luar perlu dibentuk sebuah lembaga-lembaga yang bersifat personal seperti lembaga legislatif.
Ketujuh, Kemajian dan Ilmu Pengetahuan, perlu diajarkan metodologi filsafat ilmu dan sadarkan bahwa saat ini konflik sedang menghadang kita. Memahami motif beragama belum apa-apa, jika belum ditopang oleh sebuah ilmu, maka kesadaran akan sebuah ilmu sangat penting.
Kedelapan, Penutup, Kesimpulan dari sebuah itu adalah Iman – Ilmu – Amal atau Muslim –Intelektual-Profesional.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: