Poligami

Poligami masih merupakan fenomena kontraversial di Indonesia, padahal isu ini sudah sangat usang dan jauh dari nilai ekonomis, tetapi bagaimanapun poligami tetap menjadi bahan perbincangan hangat terutama ketika dilakukan oleh seseorang yang didalam masyarakat mendapat predikat top figure. 
Poligami berasal dari bahasa Yunani, dari etimologi “poly” atau “polus” bearti banyak, dan “gamein atau “gamos” bearti kawin atau perkawinan. Bila pengertian kata-kata itu kita rangkai maka poligami akan bearti suatu perkawinan banyak atau dengan kata lain poligami ialah suatu perkawinan yang lebih dari seorang. Sedangkan secara termonologi poligami adalah perkawinan antara seorang dengan dua orang atau lebih atau  perkawinan seorang suami dengan dua istri atau lebih. Jadi poligami adalah perkawinan/pernikahan seorang laki-laki (suami) dengan dua orang istri atau lebih.
Kebolehan berpoligami menurut para ulama klasik dibuktikan dengan teks al-Qur’an surat surat al-Nisa : 3, yang berbunyi: “Kawinilah perempuan-perempuan yang kamu senangi, dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka kawinilah seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki.”
Menurut Ahmad Rofiq ayat di atas menunjukkan asas perkawinan dalam Islam sebenarnya menganut monogami. Kebolehan poligami, apabila syarat-syarat yang menjamin keadilan suami kepada isteri terpenuhi seperti tertera dalam Surat al-Nisa’ ayat 129: “Dan kamu sekali-kali tidak akan berlaku adil di antara istri-istrimu, walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Syarat keadilan menurut ayat di atas, lebih kepada pembagian cinta, yang justru tidak akan dapat dilakukan oleh seorang suami (laki-laki), karena keadilan sifatnya subyektif. Namun demikian, hukum Islam tidak menutup rapat-rapat pintu kemungkinan untuk berpoligami, sepanjang persyaratan keadilan di antara isteri-isterinya dapat dipenuhi dengan baik..
Kemudian dari pada itu, kebolehan berpoligami seperti yang diatur dalam KHI (Kompilasi Hukum Islam), jika istri tidak dapat melahirkan (mandul), isteri berpenyakit kronis/cacat badan yang tidak dapat disembuhkan. lalu isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai istri seperti tidak dapat mendampingi dan melayani suaminya dengan baik, tidak dapat mengurus dan mendidik anaknya, tidak bisa menjaga diri dari maksiat, mempunyai sakit ingatan, usianya sudah lanjut sehingga lemah sementara suaminya masih kuat. Selanjutnya kondisi yang memperbolehkan poligami karena suami banyak bepergian dan isteri tidak dapat selalu mendampingi, dan suami memiliki dorongan seksual yang terlalu kuat.
Senada dengan hal tersebut di atas, Murthada Muthahari mengkaitkan dengan alasan bahwa populasi wanita melebihi jumlah pria. Karena itu, poligami merupakan suatu keharusan secara etika dan sosial. Poligami lebih baik dari pada para wanita berkeliaran di jalan-jalan, tidak ada keluarga yang mengayomi mereka dan tidak ada rumah tangga tempat mereka menetap. Poligami dibutuhkan juga dalam situasi kurangnya jumlah laki-laki. Ini bisa diakibatkan karena terjadinya peperangan yang berlarut-larut, atau epidemi yang merata, dan kematian pria yang lebih tinggi dibandingkan perempuan. Karena kelebihan jumlah wanita, maka dapat disuguhkan alternatif antara poligami atau hidup menyendiri.
Ini mungkin sangat subyektif sekali, karena pandangan beberapa tokoh di atas, terkesan mendiskriditkan dan memarginalkan kelompok tertentu, dalam arti lebih mementingkan dominasi laki-laki terhadap perempuan. Ini tidak lebih karena mayoritas ulama fiqh klasik (penganut fiqh klasik), menyelaraskan konsep poligami dengan nash Al-Qur’an dan hadits yang meninggikan laki-laki dibandingkan perempuan, misalnya masalah kewarisan (QS. An-Nisa : 11), dan persaksian (QS. Al-Baqarah : 282), dan keunggulan laki-laki dibandingkan perempuan (QS. An-Nisa : 34), dengan dibumbui embel-embel bahwa isteri yang sholihah adalah isteri yang mampu tunduk dan patuh terhadap perintah suami dan mampu mengerti betul keinginan suami, terutama dalam hal di madu. Efek negatifnya adalah poligami akan semakin menguatkan dominasi laki-laki atas perempuan yang sering melumrahkan kekerasan dan ketidakadilan.
Pendapat di atas jelas dibantah oleh Muhammad Abduh, dalam Tafsir Al-Manar seperti yang disampaikan oleh Rasyid Ridho, Abduh mengatakan “siapa yang menelaah kedua ayat itu (An-Nisa : 3 dan Al-Baqarah : 129), dia akan tahu bahwa kebolehan berpoligami dalam Islam adalah hal yang sifatnya sempit, seolah-olah poligami hanya kebolahan yang sifatnya darurat bagi orang-orang yang benar-benar membutuhkannya disertai syarat kemampuan menegakkan keadilan dan tidak berbuat kekerasan.
Dari kutipan di atas dapat dipahami bahwa Abduh sebenarnya menganjurkan kepada laki-laki untuk tidak berpoligami, setelah melihat banyak praktek poligami yang akhirnya banyak menimbulkan berbagai situasi, seperti perilaku buruk suami terhadap istri, abnormalitas psikologis kepada anak-anak dari ayah yang berpoligami.
Berbeda dengan Muhammad Abduh, Muhammad Shahrur mempunyai tafsiran tersendiri dalam menghukumi poligami dalam teori batas (nazariyah al-hudud) dengan pendekatan linguistiknya. Shahrur berpendapat, bahwa anjuran poligami dalam Islam apabila memenuhi dua syarat. Pertama, bahwa isteri kedua, ketiga dan keempat adalah para janda yang memiliki anak yatim. Kedua, harus terdapat rasa khawatir tidak dapat berbuat adil kepada anak-anak yatim. Sehingga anjuran poligami akan menjadi gugur ketika tidak terdapat dua syarat di atas.
Sedangkan Fazlur Rahman memandang perlunya historicocritical method dan hermeneutic method dalam memandang poligami. Rahman berpendapat bahwa al-Qur’an dalam menerima poligami hanya bersifat sementara dan membuat perbaikan terhadapnya lewat rancangan-rancangan hukum. Pada hakikatnya cita-cita moral al-Qur’an menuju pada konsep monogami. Pendapat tersebut, ia kemukakan berdasarkan argumentasi al-Qur’an sendiri yang tercantum dalam surat al-Nisa ayat 129. Menurutnya lagi, tidak mungkin seorang suami dapat berbuat adil terhadap isteri-isterinya meski ia sangat menginginkannya sebagaimana tercantum dalam ayat tersebut. Bagi Rahman, secara jelas al-Qur’an menyatakan mustahil mencintai lebih dari seorang wanita dalam acara yang sama. Memang al-Qur’an membenarkan poligami, tetapi itu merupakan untuk menerima sementara struktur sosial Arab tentang kebiasaan hidup berpoligami, tetapi pada hakikatnya, idea moral al-Qur’an adalah monogami.
Asghar Ali Engireer melihat bahwa praktik poligami dalam masyarakat Islam menguat dalam tradisi yang merendahkan perempuan. Hal tersebut menyuburkan pandangan bias jender dalam menafsirkan teks poligami, khususnya yang bersumber dari surat an-Nisa:3, dan mengembalikan keadaan dimana spirit Al-qur’an disekunderkan dan “kebutuhan” untuk berpoligami justru diprimerkan.
Pandangan ulama-ulama komtemporer di atas menurutku lebih obyektif, karena tradisi pada saat diperbolehkannya poligami, tidak sama dengan masa sekarang, dimana alam demokrasi sangat berperan penting dalam sosio politik suatu bangsa, termasuk umat Islam itu sendiri. Dan perlu dipahami bahwa poligami lebih banyak membawa resiko/mudharat daripada manfaat. Karena manusia pada hekakatnya (human nature) mempunyai watak cemburu, iri dengki. Watak-watak tersebut akan mudah timbul dengan kadar tinggi, jika hidup dalam kehidupan keluarga yang poligamis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: