Qaddafi; Penentang Amerika

havis-1”Semua tahu bahwa Amerika Serikat adalah penyebab utama terorisme.”  Kritik keras Muammar Qadhafi dalam salah satu kesempatan. Baginya Amerika bersama boneka hidupnya Israel tidak lebih dari pada mesin pembunuh dan penyebar teror yang sesungguhnya dan paling ganas bagi peradaban global.

Muammar Qadhafi muda lahir di sebuah pemukiman Badui di selatan kota Sirte, Libya, pada tahun 1942. Dari keluarga suku Berber yang sederhana dan sangat taat beragama. Sehingga tidak aneh setelah menjabat sebagai pemimpin tertinggi Libya, Qadhafi sangat berbeda dengan para pemimpin Arab pada umumnya yang selalu tinggal di sebuah istana yang serba gemerlap, tidur di kapal pesiar dan menikahi gadis-gadis cantik. Qadhafi tinggal di tenda atau barak militer. Kekayaan minyak melimpah yang dimiliki Libya khusus dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyatnya.
Sekolah dasar dia habiskan di kampung halamannya. Setelah itu, bersama keluarganya pindah ke bagian selatan provinsi Fazzan dan mengenyam pendidikan pada Sebha Preparatory School hingga tahun 1961. Berkat kecerdasan yang dimilikinya, Qadhafi menjadi pemimpin pelajar dalam gerakan demonstarasi anti kolonial, dan intervensi barat terhadap dunia Arab terutama Amerika Serikat.
Dua tahun kemudian, Qadhafi bersama teman-temannya sewaktu di Sebha masuk akademi Militer di Benghazi dan mendirikan Free Unionist Officers Movement sebuah lembaga yang bertujuan untuk menjatuhkan kerajaan Libya dengan cara membangun jaringan gerakan sipil pemuda di Universitas Banghazi.
Tahun 1965 Qadhafi lulus dari Akademi Militer dan langsung terbang ke Inggris untuk mengambil kursus sinyal di Army School, Beaconsfield selama enam bulan. Satu tahun kemudian, Qadhafi pun ditugaskan ke Korps Sinyal tentara Libya untuk wilayah Gar Yunis, daerah di luar Banghazi.  Di sana, Qadhafi terus memperkuat jalinan persahabatan dengan teman-teman lamanya untuk menggulingkan monarki Libya yang korup dan berada di bawah bayang-bayang asing yang terbukti semakin membuat rakyat Libya tertindas.
Karena terus menerus tertekan dan hilang kesabaran, geliat kebencian rakyat dan gerakan oposisi pun bermunculan ke permukaan. Pada mulanya, raja berhasil. Namun pada tanggal 1 September 1969 ketika Raja Idris I sedang berada di luar negeri, sekelompok perwira muda di bawah Kapten Muammar Qadhafi melancarkan kudeta tidak berdarah dan berhasil menyingkirkan Raja Idris I dari tumpuk pimpinan.
Setelah mengambil alih pemerintahan, dengan semboyan ”Kemerdekaan, Sosialisme, dan Persatuan” Qadfhafi bersama teman-temannya di Dewan Komando Revolusioner (DKR) melancarkan perombakan besar-besaran di sektor ekonomi, sosial dan budaya. Dan awal pemerintahannya Qadhafi membuat kebijakan radikal, antara lain penghentian pemeliharaan istana-istana raja yang terbukti sangat memboroskan anggaran negara, pemakaian kalender Arab dan Islam, larangan alkohol, serta penutupan klub malam dan bar. Menghapus konstitusi, membubarkan pemerintahan dan parlemen, dan mengangkat seorang mufti Agung sebagai penasehat pemerintah dalam penafsiran dan penerapan hukum Islam). Kemudian mengganti bentuk kerajaan menjadi republik dengan nama Republik Arab Libya.
DKR mengambil alih semua jabatan eksekutif dan legislatif serta menunjuk Dr. Mahmud Sliman Maghrebi yang bukan anggota DKR sebagai perdana menteri baru. Namun pada Januari 1970, Qadhafi langusung mengambil alih jabatan tersebut setelah terjadi perebuatan kekuasaan pada Desember 1969 yang didalangi Menteri Pertahanan dan Menteri Dalam Negeri. Pada tahun yang sama, Qadhafi mengusir tentara Inggris dan AS dari pangkalan Tobruk, al Adim, dan Wheelus Field yang merupakan pangkalan militer AS terbesar di luar negeri setelah pangkalan militer di Filipina. Di susul dengan penyitaan harta benda dan pengusiran 25. 000 pemukiman Yahudi dan Italia, serta menasionalsiasi beberapa perusahaan minyak asing seperti Shell, Esson, dan ENI.
Guna menjaga keamanan negara dari serangan musuh-musuh yang tidak senang dengan gerakan revolusinya, pada tahun 1974, pemerintah Qadhafi mulai memodernisasi kekuatan tempurnya, termasuk kendaraan lapis baja dan pengangkutan pasukan, jet tempur Mirage dan Super Frelon buatan Prancis; MiG 23 dan MiG 25, dan pesawat pengebom TU-22, sistem rudal darat dan udara buatan Uni Soviet dan sejumlah rudal jenis SCUD dan FROG-7.
Kemudian untuk mewujudkan ambisi persatuan Arab Qadhafi menjalankan kebijakan membuat federasi dengan Mesir, Sudan, dan Suriah tahun 1969-1970, Mesir tahun 1973, Tunisia tahun 1974, Suriah tahun 1980, Chad tahun 1980-1981, dan Maroko tahun 1985. Dilanjutkan dengan membuat aliansi taktis dengan Iran, Suriah, Aljazair, dan Yaman Utara dengan nama Front Anti Barat. Pada tanggal 17 Februari 1989 bersama Tunisia, Aljazair, Maroko dan Mauritania, pemerintah Qadhafi membentuk aliansi ekonomi dengan nama UMA (Union of Maghrebian Arabs) atau persatuan arab Maghribi.
Di bidang politik luar negeri, Qadhafi sangat aktif memberikan bantuan finansial, dan memberikan pelatihan kepada gerakan-gerakan pembebasan di negara lain, seperti faksi-faksi Palestinian Liberalition Organization (PLO), Moro National Liberalition Faction (MNLF), dan Irish Republic Army (IRA), mengirim Legiun Islam yang dilatih di Libya untuk ikut ambil bagian dalam perang saudara di Chad. Bahkan setiap tahun di Tripoli, ibukota Libya, Qadhafi menyelenggarakan konfrensi gerakan pembebasan sedunia.
Atas segala kebijakan politik Qadhafi tersebut, membuat banyak negara-negara menjadi gerah, terutama Amerika Serikat. Tahun 1971 AS melakukan penghentian bantuan militer. Dua tahun kemudian dilanjutkan dengan pemutusan hubungan persahabatan. Bahkan Presiden AS Ronald Reagan mengatakan negaranya tidak akan lagi berhubungan negara teroris Libya dan membuat kebijakan anti Libya. Pada tahun 1981, Reagan dengan sangat impresif menyatakan ada jaringan teroris Libya yang berusaha membunuhnya. Reagan membuat kebijakan pengusiran terhadap diplomat Libya di Washington, penembakan dua pesawat SU-22 Libya oleh dua pesawat F. 14 Tomcat AS di Laut Tengah (19 Agustus 1981), pelanggaran penggunaan paspor AS untuk perjalanan ke Libya (Desember 1981), dan menuduh Libya ada dibalik serangan kembar gerilyawan Palestina di Roma  dan Wina pada 28 Desember 1985 dan penerapan sanksi ekonomi terhadap Libya.
Amerika Serikat juga menganggap Qadhafi adalah aktor penting dalam gelombang kebangkitan fundamentalisme Islam dan berambisi mempersatukan kekuatan-kekuatan dunia Islam untuk menentang neoimprealisme Barat. Politik anti Libya pernah membuat Qadhafi tidak berdaya. Tetapi karena tidak didukung kalangan bisnis AS dan Inggris, Prancis, Jerman dan Italia yang bergantung pada pasukan minyak Libya, kebijakan poitik anti Libya tidak menghasilkan apa-apa. Bahkan kebijakan itu memperkuat posisi Qadhafi di dalam negeri, terutama kegagalan serangan Amerika Serikat pada 14 April 1986 sewaktu membom dua kota Libya, Tripoli dan Benghazi atas tuduhan Libya mendukung aksi teroris yang menewaskan sejumlah marinir AS di sebuah klab malam La Belle di Berlin, Jerman.
Pada Maret-April 1986, armada laut AS sengaja beroperasi di Teluk Sidra milik Libya untuk melakukan provokasi. Ketika Libya terpancing dan bereaksi, militer AS segera mengambil tindakan dengan mengirimkan pesawat tempurnya dalam jarak 40 mil wilayah Libya – daerah yang menurut Zona Identifikasi Pertahanan Udara AS sendiri termasuk wilayah kedaulatan Libya. Karena tidak didukung dengan persenjataan yang modern dan canggih kapal-kapal perang Libya ditenggelamkan dan menewaskan sedikitnya 50 tentara.
Belum selesai, Amerika menuduh Libya dalang tunggal dari peledakan pesawat sipil Pan Am di  langit Lockerbie, Irlandia yang menewaskan 259 jiwa penumpang dan 11 orang di darat pada 21 Desember 1988. Tuduhan tersebut menyebabkan PBB turun tangan dan Libya menantang AS mengungkap bukti-bukti keterlibatannya di Mahkamah Internasional. Anehnya, AS kembali menerapkan standar ganda menolak kasus tersebut diproses secara hukum.
Pada April 1992 PBB mengeluarkan resolusi DK-PBB Nomor 748 yang memberlakukan embargo ekonomi, transfortasi udara, dan militer terhadap Libya. Memberlakukan embargo udara mengakibatkan berkurangnya pasokan obat-obatan dan peralatan kesehatan. Minimnya peralatan medis pada gilirannya menewaskan tidak kurang 140 wanita dan 300 bayi. Sementara itu, tidak kurang 8.000 warga Libya yang menderita sakit hanya dapat memperoleh pengobatan di rumah sakit lokal karena tidak diizinkan berobat ke luar negeri. Sanksi PBB itu juga menimbulkan kerugian 710 dolar AS pada sektor transfortasi udara dan hampr 500 dolar AS pada sektor industri.
Menanggapi itu semua, pada 2 Mei 1993 dalam sebuah wawancara yang disiarkan kantor berita nasional Libya, JANA, Qadhafi mengancam akan mengambil tindakan balasan. Resolusi PBB yang menjatuhkan hukuman kepada Libya tanpa melalui mekanisme hukum internasional telah nyata-nyata membunuh pelan-pelan rakyat Libya. Qadhafi bereaksi dengan rencana penghentian suplai minyak dan pemutusan hubungan bisnis dengan negara-negara yang menerapkan sanksi PBB terhadapnya, padahal Italia dan Prancis adalah pengimpor utama minyak Libya.
Di harian mingguan Italia Europeo, tanpa merasa takut sedikit pun Qadhafi mengancam balik dengan menyatakan; “Embargo tidak membuat kami takut. Kami akan melontarkannya kembali kepada mereka agar mereka ikut merasakan dampak destruktif embargo yang dipaksakan kepada kami, terutama Prancis dan Inggris. Mereka hanyalah pion-pion AS.
Sanksi embargo yang diterapkan terhadap Libya itu bertentangan dengan amanat Piagam PBB pasal VII yang seharusnya berlaku untuk seluruh negara anggota PBB. Sanksi emabargo itu sesungguhnya lebih tepat diterakpan bagi Israel yang terus-menerus mengancam perdamaian dan keamanan internasional lewat pendudukannya di atas tanah Arab melakui kebijakan pemukiman Yahudi, dan tindakan represif terhadap rakyat Palestina. Untuk itu, Qadhafi menyerukan negara-negara Asia dan Afrika agar membangkang embargo PBB yang dipaksakan AS terhadap Libya, Iran, Irak, dan Kuba. Embargo itu merupakan pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia dan hak atas penguasaan senjata penghancur massal. ”Kita tidak boleh tunduk pada AS, mereka sedang merancang rencana untuk menghancurkan revolusi Libya.”
Paham akan setiap konsekuensi logis dalam bentuk berbagai macam embargo dan intimidasi tingkat tinggi yang harus ditanggung negaranya ketika bersengketa dengan AS, Qadhafi membuat keputusan untuk memindahkan sebagian besar aset ekonominya dari Eropa Barat ke Timur Tengah.
Pada 10 Juli 1997, Libya mengancam mengabaikan perpanjangan saksi PBB yang diputuskan DK-PBB tanpa konsesus 15 anggotanya yang diputuskan pada 14 Maret 1997. Menanggapi itu Dubes Libya untuk PBB Abuzed Omar Dorda menyatakan bahwa; Mulai sekarang, kami bertindak seolah-olah sanksi itu tidak ada. Libya saat ini memiliki kebebasan untuk belajar secara hati-hati di bawah asuhan saudaranya; Arab, Afrika, dan sahabatnya di seluruh dunia.”
Mesir, Guinea-Beassau, dan Kenya menentang konsesus DK-PBB setelah melihat perkembangan buruk yang menimpa Libya. Di samping itu, mereka juga terikat keputusan pemerintah yang hadir pada pertemuan OUA (Organisasi Persatuan Pemerintah) yang berlangsung 4 Juni 1997 yang intinya mengajukan secara resmi agar embargo terhadap Libya di cabut.
Tahun 1999, Libya menyatakan bertanggung jawab atas tragedi Lockerbie. Tripoli menyerahkan Abdul Basset Ali al-Megrahi dan Amin Khalaifa Fahimah, dua terdakwa peledakan pesawat Pan Am untuk diadili di Belanda dan bersedia membayar ganti rugi kepada keluarga korban senilai 2,7 miliar dollar AS pada tahun 2003. Atas langkah ini, Dewan Keamanan PBB mencabut sanksi dan didukung AS. Sikap Washington berubah ketika Khadafi mengakui bahwa Libya mengembangkan senjata pemusnah massal dan segera memusnahkan semua program pada Desember 2003. Pengakuan dan tekad tersebut mencairkan kebekuan hubungan Tripoli-Washington.
Sejak kedua negara meningkatkan kontrak dan berusaha menyingkirkan hambatan hubungan diplomatik, perusahaan-perusahaan minyak masuk kembali ke Libya. Keputusan Washington pada 15 Mei 2006 untuk memulihkan kembali hubungan diplomatik memang mengejutkan karena Libya dinilai membantu terorisme. Tetapi, ada faktor politik dan positif di balik mencairnya hubungan Khadafi dan Presiden George W Bush.
Qadhafi adalah figur pemimpin yang berani, tangkas, dan solidaritas sosialnya tinggi terutama terhadap sesama umat Islam. Qadhafi menyebut umat Islam sebagai sebagai the backwarness of the Islamic nation from Indonesia to Mauritania (Kemunduran yang melanda negara Islam dari Indonesia sampai Mauritania). Menurutnya, hal tersebut terjadi karena ”kemarahan tuhan” yang diwujudkan dalam bentuk kemunduran, kemiskinan, imperialisme, kapitalisme, kediktatoran, dan gaya hidup hedonis, serta gerakan-gerakan reaksioner di dalam kehidupan umat Islam sendiri. Untuk itu umat Islam perlu segera mengibarkan bendera revolusi Islam karena Islam adalah agama pembebasan, agama kemajuan, agama persamaan, dan agama keadilan.
Muamar Qadhafi juga komitmen terhadap apa yang ia pahami. Qadhafi mengkritik konsep-konsep demokrasi yang selalu digembar-gemborkan Amerika Serikat dan para sekutunya dalam the green book Pertama, Seluruh sistem politik di dunia saat ini adalah produk dari perjuangan untuk meraih kekuatan di antara penguasa dan rakyat. Perjuangan itu berlangsung dengan cara damai dan perang, seperti apa yang terjadi pada konflik antar kelas, antar kelompok, antar suku, antar partai dan bahkan antar individu. Tetapi pada kenyataannya konflik itu selalu saja dimenangkan oleh penguasa – apakah berupa individu, kelompok, partai atau kelas – dan kekelahan rakyat merupakan kekalahan demokrasi sejati.
Kedua, Parlemen merupakan misrepresentasi dari rakyat dan pemerintahan parlemen adalah solusi yang salah arah atas problem demokrasi dan bagian dari bentuk kediktatoran paling tiran yang dikenal di dunia ini berada di bawa bayang-bayang parlemen.
Ketiga, Partai adalah bentuk kediktatoran kontemporer. Karena partai bertujuan untuk menciptakan instrumen untuk memerintah terhadap yang bukan partai, secara fundamental partai didasarkan atas teori otoritarian, artinya dominasi anggota-anggota partai atas seluruh rakyat. Maka parlemen bagi partai pemenang adalah parlemen partai dan kekuasaan eksekutif yang dibentuk parlemen otomatis kekuasaan partai atas rakyat.
Kekuasaan partai yang diharapkan memberikan yang terbaik bagi semua rakyat, sesungguhnya merupakan musuh paling ganas bagi rakyat, yaitu partai atau partai-partai oposisi dan pendungkungnya. Sehingga oposisi bukanlah lembaga rakyat atas penguasa, tetapi instrumen politik atas nama rakyat yang mencari kesempatan untuk menggantikan partai berkuasa. Selain itu, kritik Muamar Qadhafi sistem partai adalah sistem saktarian dan kesukuan modern. Dalam arti masyarakat yang diperintah oleh satu partai persis menyerupai masyarakat yang diperintah oleh satu suku atau satu kelompok.
Keempat, Referendum (Pleblsit) adalah kecurangan terhadap demokrasi, mereka yang menyatakan ”ya” atau ”tidak” pada kenyataannya tidak mengungkapkan kehendak mereka. Karena mereka dibiarkan untuk mengucapkan hanya satu kata; ”ya” atau ”tidak”. Sistem seperti itu adalah sistem diktator yang paling kejam dan menindas.
Kelima, Pers adalah sarana eksperesi masyarakat dan bukan sarana kumpulan manusia tertentu. Secara logika, jika mengikuti nilai-nilai demokrasi pers mestinya tidak dapat dimiliki oleh kumpulan manusia tertentu. Surat kabar yang dimiliki individu adalah miliknya dan hanya mengungkapkan sudut pandangnya. Klaim bahwa pers mewakili opini publik sama sekali tidak berdasar karena sesungguhnya ia hanya mengungkap sudut pandang si pemilik. Karena dalam nilai-nilai demokrasi individu tidak diperkenankan memiliki sarana publikasi atau informasi apapun.

Sumber. Dikutip dari berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: