Sweet memory II

Konflik tak lagi berhembus dari balik jendela dangau kecil kita, semua telah berubah teriakmu, mungkin musuh sudah tidak berniat merebut tahta kita karena tahta kita tak lagi suci sehingga tak layak lagi untuk dikotori dengan darah dan air mata kataku. Kau pasti muak mendengarnya sebab ide cerdas “kita” akan terbungkam oleh sistem-sistem Civilization. Akupun juga begitu, disini aku pernah berharap akan dapat sebuah nuansa yang lebih dari perang Mahabratha ketika tawaran masuk sturkturalis aku terima. Maka kubuatlah target-target kecil untuk membangunnya. Sebulan roda waktu berjalan kau ingin tahu apa yang terjadi, semua hanya menjadi mimpi kecil dalam museum kamar tidurku.Aku yakin kau kecewa Angin perubahan belum mau berhembus ke dangun kita. Kau ingin tahu apa yang kami perbuat dari hari ke hari sahabat, tidak lebih dari apa yang dilakukan oleh “mereka”, berpikir sedikit “ilmiah”, rancang strategi dan taktik kuno, ambil posisi aman. Hebat sungguh hebat, paradigma berpikir di belenggu hingga banyak muncul anggapan orang Hijau Hitam telah punah. Aku terkadang marah, kau tahu sahabat bagaimana ekspersiku ketika marah, semua jadi kebencian dan dendam membara, bagaimana tidak, komunikasi kita lakukan hanya sebatas basa-basi yang di bungkus sedikit teori kepentingan Habermas. Aku tidak mau berdiri di tengah seperti waktu Giddens mengcounter Kapitalis dan Sosialis atau terbelenggu hegemoni ala Gramcsy. Tidak sahabat kau pasti marah dan itu sebuah kebodohan besar dalam sejarah manusia. Namun aku harus bagaimana, semua orang seperti itu, sedang aku hidup dalam lingkaran sejarah mereka. Pernah suatu ketika Aku mencoba masuk dalam link mereka, menarik kereta keputusasaanku, tapi yang ku dapat hanya secercah perasaan bersalah, aku terasing bersama sekelumit deritamu. Kemarin tragedi besar terjadi, sebuah inkonsistensi di telan mentah-mentah saudaramu sendiri, aku mencoba melawan bersama sebilah pisau analisis filosofis Marxis dan psikologis Fruedian. Berlari mengejar asa dan berharap sedikit mu’jizat tuhan menggagalkan konsesi mereka, namun lagi-lagi yang aku dapatkan tragedi bawah sadar dan sedikit makian buat apa kau lakukan semua itu, adalah sesuatu yang wajib jika kita memberikan sebuah penghormatan kepada orang yang telah berjasa bagi Dangau kita, itu sekelumit khotbah mereka di telingaku. Namun di mana landasan etis dan tafsiran kitab suci kita jika saudara-saudara seperti itu. Tidak, aku tidak mau berdiri satu kaki sementara kaki yang lain terluka. Bagaimana mereka, setiap saat memeras keringat membesarkan Dangua kita, justru seharusnya mereka kita dahulukan dan di beri ”tanda jasa” lebih. Itu bukan sesuatu yang urgent untuk diperdebatkan, mereka tidak tahu, kita tutup mulut cuci kaki lalu tidur, urusan selesai hanya sebatas itu ternyata tidak konsesi yang ku lakukan dengan ”My Mather” setahun lalu, di batalkan sepihak, sahabat aku ingin tanggapanmu sekarang?. Lagi-lagi kemunafikan dari balik jubah agamis mereka tampakkan, aku kembali marah karena ini mengandung ”Double Efek” tidak hanya bagimu, mereka akan meniru karena ini contoh yang baik dari seorang ”Ibu”. Lihat bagaimana Dangau kecilmu, apakah mereka tahu, aku pernah berharap sedikit ”interaksi simbolik” ala Simmels mau meracuni otak mereka, atau ”interaksi timbal balik” Goffmen menjadi agenda kerja mereka, tapi semua menjadi menjadi bubur pasca matahari terbit. Aku sedih sahabat, ingin rasanya kembali kebelakang, menikmati sesuatu yang tertunda dari agenda hidup kita, kau pasti mau satukan tekad rapatkan barisan. Namun jangan menangis kalau kita gagal, karena sejarah memang dilukis oleh pemenang untuk menindas yang kalah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: