Sweet memory

Apakah setiap pertemuan itu kebetulan atau garis nasib yang dikatakan dalam kitab-kitab suci. Seperti pertemuanku denganmu. Aku tak tahu apakah pertemuanku denganmu adalah kesalahan kecil yang tuhan tuliskan pada agenda hidup kita, sehingga antara hati yang berbeda menyatu dalam benih-benih kesamaartian.
Tahukah engkau bagaimana perasaanku ketika kita duduk berjam-jam, berlari dari satu tempat ke tempat yang lain hanya untuk menanyakan satu hal, hakekat hidup dari sesuatu yang di klaim benar dan salah oleh agama dan rasio. Skolastik yah engkau tahu sahabat, filsafat yang mengajarkan kita untuk sepenuhnya tunduk kepada kebenaran yang didasarkan kepada wahyu, yang notabene mengenyampingkan kebenaran lain. Kita menjadi pendosa, ketika kita dihadapkan pada golongan mainsterm dan status quo. Kau kembali memberi setets air kehidupan, dan menyarankan untuk meneruskan perbincangan kita yang sempat “tertunda”.
Kau mungkin lupa, banyak pertanyaan yang belum sempat kita jawab, tentang nasib, patalogi sosial, kemesraan atas nama cinta, pembunuhan atas nama agama, kemiskinan, dan masih banyak lagi. Kita lalai, hanya karena teori kepentingan yang kita usung hangus di tengah jalan terpapas ruang waktu kosong, kita tak pernah sama.
Dulu aku ingat betul, ketika kau mengajarkanku untuk lari dari sturukturalis kapitalis berwajah marxis. Kau gembira, kala keinginan tersebut berlabuh. Tapi perlu kau pahami sahabat kisah itu melahirkan trauma dari rahim skandal teori yang kita puja bersama.
Waktu aku terjebak dalam simpony masa silam, mempertemkan aku pada sosok yang sama, bagaikan satu sisi mata uang. Kau memaksa aku mencarinya dalam gelap, saat tabir surya benar-benar sulit untuk  bersinar. Dan kau ingin tahu akibatnya, aku terjebak pada imajinasi dan sensasi yang diciptakan oleh ego dan super ego sendiri. Tragisnya, kau lenyap bak kelelawar yang terkejut bahwa mentari telah mengusik pestanya, dan langsung menghilang karena takut dihantam panasnya senyum mentari. Aku terapung, nakhoda dan awak kapal yang ku komandaoi hanya bisa berharap badai senja tak menampar perahuku lagi.
Kemarin, kita kembali terbuai oleh kepentingan praktis individualis, sesuatu yang tak terpikirkan atau mungkin belum sempat terpikirkan oleh kita, hanya menjadi sebentuk tanda tanya besar kapan akan dipikirkan. Lagi-lagi kita terasing terdampar pada sebuah kenyataan kala orang-orang kita klaim “bersahabat” kembali beralih haluan, mengejar asa melangit, teoritis dan sedikit berbau pragmatis. Kita berduapun terpaksa beridiri sejajar menentang , berteriak lantang dari bukit perpaduan, tempat para pahlawan-pahlawan murtad berunding, membentuk lingkaran satukan tujuan.
Angin keputusasaan sempat kurasakan, bersama terpuruknya organ tubuh kecilku, namun bibir masih kupaksakan untuk berucap pada malam, memakinya walau makian adalah sesuatu yang sangat engkau benci, bajingan semua teriakku. Keringat dingin mengalir dari sudut pori-pori kulitku, seakan setuju atas kritik basi yang kusampaikan. Aku tak peduli, karena beban di hatiku lebih tak peduli padaku.
Kemarin kau menyindirku “sibuk” dengan wanita yang pernah ku klaim mengingatkanku pada seseorang. Kau justru mendukung karena menurutmu aku cukup pantas untuknya. Kau salah besar sahabat, maaf aku sedikit menyinggungmu. Keterkondisian yang pernah aku utarakan padamu sekarang menjerat, mencekik hingga ku sulit bernafas. Aku benar-benar terasing, hantu-hantu teori cinta yang ku gembar-gemborkan mengejar sampai ruang dan waktu tak tersisa untukku.
Aku mencarimu untuk jernihkan suasana, akan tetapi yang kudapatkan secercah kekecewaan atas nama kepentingan. Kau pasti mengerti maksudku sebab kau tidak lebih bodoh dari mereka yang bodoh. Kau pasti tau engkau lebih baik dari yang terbaik, walau mungkin kau dan aku tak mengerti apa arti “terbaik”. Karena itu semua merupakan dikatomi benar salah, baik buruk, seperti dalam analogi filsafat klasik dan imam-imam sholat di masjid samping rumahku.
Petang beranjak malam, saat kau terus menghilang, bahkan alat penghubung kau putus dengan silet yang tajam. Aku tak mengerti – kenapa sejarah mempertemukan kita dalam banyak teori, apakah kau tau egoku dan egomu bagaikan langit dan bumi. Prinsip pun begitu, sesuatu yang salah tidak wajib untuk dimaafkan teriakku. Bisa jadi Tuhan akan langsung menghukumku dan kaum agamis menjustifikasi aku murtad lewat fiqh orientednya. Itulah prinsipku dan kau tak melarangku ekspresi mulut yang tanpa komentar memberi tahuku. Begitu juga kau sangat sulit ditangkap dengan sejuta ide-ide dan pernyataan provokasi. Mungkin waktu itu hari keberuntunganku, sehingga kau terpaksa melarikan diri dari “ideologi” yang kau sembah dan langsung beralih masuk dalam metodologi yang bahkan sudah lama engkau kenal sebelum aku.
Kita berdua berpacu mengejar angan teoritis, untuk dijadikan asa praksis. Alam menciptakan kita lewat pesona tokoh-tokoh maka lahirlah Thales dengan semboyan alam diciptakan dari air. Alam adalah dunia idea lewat Plato dan Aristotelesnya, namun semua harus diragukan sebelum ada pembuktian empiris teriak skeptisme menghalau sabdanya Plato dan Aristoteles, Skolastik bak Tuhan memupus semuanya lewat justifikasi, kebenaran yang paling hakiki adalah wahyu, rasio hanya sebuah alat bantu yang dipergunakan untuk memahaminya (Credo ut Intelligam/percayalah lebih dahulu supaya mengerti/Believe in order to understand). Dalam pada itu  untuk mengentikan terhambatnya paradigma pemikiran filsafat muncullah Descartes lewat cogito ergo sum (Rasionalitas) yang sering kita sebut dengan filsafat Modren, namun ini dibantah Empiris, ditengahi Kritisme, Idealisme, Positivisme, Evolusionisme, Materialisme, Pragmatisme, Hakekat Hidup, Fenomenologi, Eksistensialisme, Analitis, Sturkturalis dan lain sebagainya. Kita setuju dan angkat topi pada mereka, meskipun kembali terpecah. Itulah sekelumit kisahku, kisahmu, kisah kita semua sewaktu bersama. Yach ilmu filsafat benteng keabadian yang kokoh kita pertahankan, ideologi eksistensialis dengan bumbu topeng jalan ketiga kau anut dan sekali-kali menyindirku dengan strukturalis, aku tidak marah karena memang itu hakmu. Kaupun tak marah ketika sekumpulan neo marxism meracuni otakku lewat sang pemujanya Che Guevara, dan kau kembali tak marah ketika aku menelan mentah-mentah teori kepentingan Habermas. Aku salut, karena memang Tuhan menciptakan otak yang gunanya untuk memilih, walaupun mungkin pilihan tersebut tidak tepat.
Yang lebih menarik lagi adalah ketika kita terjerumus dalam lingkaran Nietzhelian, tanpa sungkan kau memamerkan tanggal lahirmu yang sama dengan sang tokoh materialisme itu. Aku salut karena waktu itu aku tak pernah berfikir sampai kesitu. Ilmu baru ku dapatkan, kau tersenyum raut mukamu berseri sedikit tegang. Salah satu yang fenomenal kau memberi kabar bahwa pangeran Inggris sama dengan tanggal lahirku. Hebat…….?
Kau ingat itu., waktu hari jadi menghampiriku. Sepenggal kalimat kau paksa aku untuk menelannya dan sebuah kitab suci “Tuhan Tiri” yang kau berikan justru lebih pantas untuk kau simpan. Karena itu ideku menyuruh kau membelinya. Tuhan tiri kembali membangkitkan semangat yang padam, cahaya hitam diufuk barat perlahan-lahan bersinar terang. Angin keabadian pun menusuk-nusuk, memijit semua asa yang terbuang. Merangkai bait-bait sajak yang mungkin asing untuk diungkapkan, tapi mengapa harus bersusah hati ketika asa terus merajut sukma. Semua untuk kita, maka biarkanlah kemesraan atas nama kepentingan mengikatku, mengikatmu seperti sajak yang usang terus menggayut di otak kiriku :
Tak cukup mimpi sobat/Jalinan cinta yang kita tambatkan/Waktu rehat mengenang /perjalanan/Di malam yang kelam
Tak cukup mimpi kasih/Apa-apa yang telah kita janjikan /Saat berduaan /Dalam kemesraan
Kini tabir cinta t’lah terbuka/Harapan dan angan-angan /t’lah di depan mata
Tapi tak cukup mimpi/Semuanya harus kita jalani
Aku terpaku, sejauh itukah arti persahabatan. Aku terlalu congkak sehingga menganggap persahabatan hanyalah sebuah “kebetulan” dengan landasan dasar teori kepentingan. Kau tahu setelah kau menghilang, aku kehilangan segalanya, persahabatan, dendam dan sejuta impian yang tak terucap. Kini asa dalam kemelut pergolakan menantimu. Berharap menuntaskan apa-apa yang menjadi mimpiku. Kuharap kau mengerti, karena mengerti inti dari segalanya. Dasar pijakan ilmu rasionalitas dan empirisitas sebelum terfokus dalam keidealan wacana. Sebelum terpatri dalam jiwa dan ditransfer otak yang lahirkan persepsi lewat kata-kata.
Pagi beranjak siang, tepat ketika hujan yang turun mulai mengering. Aku memanggilmu berharap sebuah ide baru kan mempersatukan kita. Namun, mungkin sudah nasib seperti yang sering diucapkan oleh penganut salafisme, aku tak menemukanmu. Aku memang tak mempercayai ucapan lirih kata hatiku, egoku sudah melarangku menemuimu, tapi super egoku selalu berteriak aku membutuhkanmu. Aku tak tahu, apakah magnet cinta atau kepentingan yang membiusku, jujur saja aku tak mengerti cinta, dan cintapun tak berharap aku mengerti tentangnya, biarlah waktu yang membungkus sejarah cinta, bukan kepentingan. Sahabat…..kau mungkin tak pernah tahu sejarahku dan aku pun tak pernah tahu sejarahmu. Itu yang membuat kita berbeda. Kita tak pernah sama untaian lagu Padi iringi kepergianku. Kuharap akan ada ruang baru dihatimu pasca tiadanya aku di sisimu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: