Saatnya Kaum Muda Memimpin

Saatnya kaum muda memimpin saat ini menjadi isu nasional yang banyak menuai kontraversi. Di satu sisi isu tersebut langsung menohok ke relung sanubari para tokoh-tokoh tua yang notabene secara pengalaman dan pencitraan lebih mumpuni. Bahkan Megawati sebagai refresentasi kaum tua seperti kebakaran jenggot sehingga dengan sedikit emosi terang-terangan menantang kaum muda untuk tidak hanya berdialektika dan berwacana tetapi riil bertarung bersamanya. Sedangkan di sisi lain, isu ini sedikit berbau ”memanfaatkan moment” kemenangan dramatis kaum muda Barack Obama vis a vis kaum tua John McCann dalam Pemilihan Presiden AS dan tampilnya kaum muda Dmitry Medvedev sebagai suksesor kaum tua Vladimir Putin di Rusia. Walaupun banyak kritik yang menyatakan bahwa Dmitry tak lebih daripada boneka Putin dan kritik tersebut mungkin dapat sedikit dibenarkan ketika Dmitry setuju menginvasi Georgia atas saran Putin. Sebenarnya sangat beralasan jika kedua moment tersebut dijadikan rujukan. Karena baik Barack Obama maupun Dmitry Medvedev merupakan simbol dua kekuatan besar. Obama mewakil Blok Barat dan Dmitry Medvedev Blok Timur. Kedua kekuatan ini jelas sangat menentukan arah kebijakan EPOLEKSOSBUDHANKAMLING (Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pertahanan Keamanan dan Lingkungan) pada masa sekarang dan akan datang. Pengalaman dunia Islam Kaum muda memimpin dalam tradisi Islam sebenarnya bukan sesuatu yang baru, bahkan sepanjang sejarah kerajaan-kerajaan besar dalam Islam terutama Abbasiyah didominasi oleh pemimpin-pimpin muda. Misalnya Harun ar-Rasyid berhasil menduduki jabatan Khalifah pada usia 25 tahun. Secara kapasitas kepemimpinan, Harun ar-Rasyid tidak dapat diragukan, terkenal sangat cerdas bahkan A. Syalabi salah satu Profesor Sejarah Islam menyatakan bahwa Harun ar-Rasyid adalah salah seorang khalifah yang paling dihormati, suka bercengkrama, alim dan sangat dimuliakan, sepanjang usia menjadi khalifah selalu menunaikan ibadah haji dan turun ke medan perang dari tahun ke tahun. Beliau bersembahyang seratus rekat setiap hari dan pergi menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki. Berhasil menjadikan kota Baghdad sebagai kota seribu satu malam. as-Sayuti juga menyatakan bahwa zaman pemerintahan Harun ar-Rasyid merupakan zaman yang penuh dengan kebaikan, semuanya indah seperti pengantin-pengantin baru. Tidak berbeda dengan penggantinya Al-Makmun menjadi Khalifah pada muda usia 28 tahun dan tercatat dalam sejarah Islam sebagai khalifah yang memerintah dengan sangat sempurna, bahkan keberhasilannya selalu disandingkan dengan pendahulunya Harun ar-Rasyid. Al-Makmun juga berhasil membangun imperium ilmu pengetahuan lewat Baitul Hikmah yang pada perjalannya menjadi kiblat ilmu pengetahuan dunia. Karena disinilah segala koleksi dan terjemahan buku-buku kuno dari berbagai negara berkumpul. Selain itu, Baitul Hikmah merupakan pembuka kran filsafat Yunani agar bisa dipelajari dan disebarluaskan dan dunia Barat sangat berhutang budi. Pasca al-Makmun, Abu Ishak Muhammad al-Mu’tashim juga menjadi khalifah dalam usia muda 31 tahun. Mantan tangan kanan al-Makmun ini, terkenal dengan sifatnya yang berani tetapi tidak berpengetahuan tinggi. Sepanjang sejarah kepemimpinannya al-Mu’tashim berhasil mengembalikan citra kelompok Sunni yang pada masa sebelumnya selalu dimarjinalkan. Kemudian al-Watsiq sebagai pengganti al-Mu’tashim juga menjadi khalifah tahun dalam muda usia 31 tahun. Terkenal berperibadi luhur, berpikiran cerdas, dan berpandangan kauh dalam menguruskan segala perkara. Dalam pemerintahan beliau selalu mengikuti jejak langkah pamannya al-Makmun. Kepemimpinan kaum muda tersebut di atas merupakan puncak tertinggi kemegahan peradaban Islam, rakyat makmur, stabilitas nasional terjamin, ilmu pengetahuan berkembang dan yang tidak kalah penting Islam menjadi kiblat peradaban bagi dunia luar. Konteks Indonesia Dalam konteks Indonesia, kaum muda memimpin juga tidak bisa dikatakan tidak ada, tercatat mulai dari Soekarno, Hatta, Muhammad Natsir, Tan Malaka, Syahrir adalah tokoh-tokoh muda ketika memimpin bangsa Indonesia. Jadi apa yang menjadi masalah kalau kaum muda memimpin. Pengalaman, sejarah juga mencatat pengalaman tidak bisa dijadikan barometer menilai kapasitas seseorang. Kaum muda justru mempunyai banyak kelebihan di bandingkan kaum tua, kaum muda jelas lebih progresif, menyukai tantangan, berani mengambil resiko. Sedangkan kaum tua, identik selalu ragu-ragu dalam mengambil keputusan, lamban, statis, tidak menyukai tantangan, dan tidak berani mengambil resiko. Sejarah Islam juga mengajarkan kepada kita bagaimana ketika kekuasaan tersebut diserahkan kepada kaum tua. Lihatlah misalnya Utsman bin Affan ketika memimpin, korupsi, kolusi dan nepotisme di mana-mana, kesejahteraan rakyat terabaikan, dan stabilitas politik terbengkalai. Saatnya kaum muda memimpin merupakan momentun yang tepat buat bangsa Indonesia yang sudah 10 tahun reformasi tak pernah beranjak dari jurang degradasi. Kaum tua diharapkan untuk sedikit bermurah hati dan tidak egois. Karena sudah selayaknya ada dalam sebuah roda pemerintahan harus selalu ada regenerasi agar kehidupan tidak mati suri. Selamat datang pemimpin-pemimpin muda, bangun mimpi indah, teriakkan pekik semangat yang membara, terjang semua kendala yang ada. Kami tunggu kiprahmu dalam pesta demokrasi nanti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: