Kebenaran Agama

Kebenaran Agama

Berbicara tentang kebenaran agama ditinjau dari perpektif agama-agama besar, tentu kita membutuhkan banyak tenaga ekstra untuk dapat memahami dan menafsirkannya. Bagaimanapun kebenaran suatu agama memiliki sebuah konsekwensi terhadap agama yang lain. Oleh karena itu, kebenaran sesuatu dalam perspektif agama tertentu belum tentu sama jika di lihat dari agama yang lain. Untuk itu diperlukan sebuah nilai toleransi atas dasar demokratisasi terhadap masalah seperti ini.

Agama lahir dari konsep kepercayaan manusia terhadap sesuatu yang dianggap sebagai sebuah kebenaran dimulai dari Dinamisme Animisme – Polyteisme – Henoteisme – Monotisme atau dalam bahasa Positivisme Agust Comte tahap Teologis yaitu tahap dimana orang mengarahkan rohnya kepada hakekat “bathiniah” segala sesuatu, kepada “sebab pertama” dan “tujuan akhir” segala sesuatu. Sehingga banyak yang menyatakan bahwa agama adalah A : Tidak Gama : Pergi artinya tidak pergi. Maksudnya sesuatu yang diyakini secara terus menerus karena mengandung kekuatan adi kodrati dan kekuatan tersebut dianggap sebagai kebenaran.

Kepercayaan dalam tradisi agama, menurut Prof. Rasijdi adalah hal yang disebut sebagai “problem of ultimare concern”. Suatu problem yang mengenai kepentingan mutlak, yang berarti bahwa jika seseorang membicarakan soal agamanya maka ia tidak dapat tawar menawar, apalagi berganti, agama bukan sebagai rumah atau pakaian yang kalau perlu dapat diganti, akan tetapi sekali kita memeluk keyakinan, tak dapatlah keyakinan itu dipisah dari seseorang. Senada apa yang dikatakan disebut diatas memang benar bahwa agama merupakan masalah yang sangat krusia sehingga seorang Karl Marx langsung menjustifikasi bahwa agama merupakan candu bagi masyrakat, sehingga peryataan di atas diikuti oleh muridnya juga penganut aliran meterialisme Lenin menyatakan bahwa agama adalah sumber kebodohan kaum ploretal, oleh sebab itu seseorang harus dijauhkan oleh nilai-nilai agama, karena nilai-nilai tersebut akan mengganggu jiwa dan kepribadian para remaja. Kita harus paham bahwa agama bukanlah apa yang dikatakan di atas. Agama harus kita ketahui bukan dari apa pendapat orang tapi dari keyakinan hati suci kita.

Sedangkan kebenaran dalam kacamata golongan rasionalis pragmatisme adalah suatu proses yang dinamis dan fungsional. Kita tidak dapat mengatakan apa kebenaran atau sebelum kita membicarakan bagaimana kebenaran itu sampai kepada kita. Esensi kebenaran adalam penggunaannya. Ia benar bila mampu membuat kita sampai kepada fakta. Itulah yang dimaksud dengan kebenaran adalah suatu proses. Oleh karena itu kebenaran tidak berdiri sendiri. Jadi kebenaran dalam agama tidak lahir secara rasional, namun karena kebutuhan manusia yang muncul secara tiba-tiba tanpa disadari sedikitpun dan menciptakan sebuah pengalaman. Dari pengalaman seperti itulah menyebabkan seseorang percaya kepada agama (menganggap apa yang dibawah agama sebagai sebuah kebenaran).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: