Kekeliruan Manaqib

HAL-HAL YANG TIDAK RASIONAL DALAM MANAQIB

SYAIKH ABDUL QADIR AL-JAILANI

Oleh: Havis A

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani adalah ulama fenomenal dalam persepktif komunitas salah satu organisasi keagamaan khususnya yang berbasis di pesantren-pesantren tertentu. Saking loyalnya mereka terhadap ulama ini, setiap menyelenggarakan kegiatan tertentu nama Syaikh Abdul Qadir al-Jailani pasti menduduki peringkat kedua setelah Nabi Muhammad Saw yang harus diberi persembahan surat al-Fatihah, bahkan salah satu kitab yang bercerita tentangnya dianggap sebagai sesuatu yang wajib dibaca dan diamalkan agar mendapat barakah dan masuk surga. Padahal kalau mau jeli dan sedikit membaca bait perbait dari kitab tersebut, sebenarnya kita akan menemukan banyak sekali sesuatu yang sangat ganjil dan bertentangan dengan nalar rasional. Adapun hal-hal yang tidak rasional tersebut adalah :

1. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani pernah bermimpi keluar mani dalam satu malam ketika ia tidur di emperan istana raja di daerah Madain. Lalu beliau pergi ke sungai untuk mandi. Kejadian tersebut terus menerus sampai 40 kali. Adalah tidak mungkin orang yang bermimpi keluar mani kemudian mandi bisa tidur kembali apalagi bermimpi keluar mani sampai 40 kali dalam satu malam.

2.Bisa berjalan di angkasa, kemudian kembali lagi ke kursinya (hal ini disaksikan oleh orang-orang yang hadir. Ini jelas sesuatu yang tidak mungkin bahkan Nabi Muhammad Saw saja tidak bisa melakukannya. Logikanya tidak mungkin ada seorang manusia pun di muka bumi ini, yang bisa melebihi apa yang telah diberikan Allah kepada Nabi Muhammad Saw.

3. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani membawa asma A’dhom sembilan, yaitu; al-Muhiithu, asy-Syahiidu, al-Hasiibu, al-Fa’aalu, al-Khalaaqu, al-Khaaliqu, al-Baari-u, al-Mushawwiru. Dan naik ke angkasa sampai hilang dari pandanganku. (Setelah itu kembali lagi ke kamarnya). Kemudian beliau shalat berdiri di atas kedua kakinya serta membaca al-Qur’an sampai habis waktu sepertiga malam yang kedua. (di dalam shalat) beliau sangat memanjangkan sujudnya, kemudian duduk menghadap jiwanya kehadirat Allah, muraqabah kepada-Nya sampai terbit fajar. Kemudian memohon dengan berdoa kepada Allah disertai sifat rendah dan hina sehingga beliau tertutup penuh oleh cahaya terang yang menyilaukan pandangan mata, sampai beliau tak terlihat karena tertutup oleh cahaya tersebut.

4. Pernah pada suatu ketika seratus ulama ahli fiqh Baghdad berkumpul menghadap beliau.masing-masing membawa sejumlah masalah. Kemudian mereka datang menghadap beliau perlu menguji kemampuannya, setelah para ulama itu duduk dalam majlis, beliau menundukkan kepada tiba-tiba cahaya bersinar dari dadanya menembus dada seratus ulama ahli fiqh itu, sehingga hilanglah apa yang ada pada hati mereka (sampai ada masalah-masalah yang sudah dipersiapkan hilang begitu saja). Para ulama tadi menjadi kebingungan, gemetar, berteriak dengan sekali teriakan, menyobek-nyobek pakaian dan membuka tutup kepalanya.

5. Tentang Karamah-karamahnya yang bertentangan dengan naluri manusia, misalnya; Pakaian beliau (Abdul Qadir Jaelani) adalah jubah bulu, kepalanya ditutup dengan sobekan kain, berjalan tanpa sandal, melaui tempat-tempat berduri di tanah-tanah terjal, yang demikian itu karena beliau tidak menemukan sandal, makanannya buah-buahan yang masih ada di pohon, sayur-sayur yang sudah dibuang, dan daun-daun rerumputan yang berada di tepi-tepi sungai, bahkan beliau tidak tidur dan minum air (kecuali hanya sedikit). Kalimat ini bertentangan dengan kalimat berikutnya yaitu: Pakaian yang dipakai Syaikh Abdul Qadir ialah pakaian ulama dan juba Thoilusan (pakaian yang menutup muka dan kepala), berkendaraan bighal (keledai), untuk menghormati kamu beliau membuka tutup kepalanya, pada waktu mengajar, beliau duduk di kursi yang tinggi (agar dilihat dan didengar) ucapannya terang dan lantang. Bertentangan juga dengan kisah berikutnya yaitu; ada seorang perempuan datang kepada beliau dengan membawa putranya untuk diserahkan kepada beliau agar menjadi santrinya dan belajar ilmu suluk. Kemudian beliau menyuruh sang putra tadi memerangi nafsunya serta menjalankan ibadah, sebagaimana dilakukan oleh ulama-ulama salaf. Suatu hari ibunya datang menghadap beliau, dilihat anaknya menajdi kurus dan dilihatnya ia sedang makan roti, kemudian si ibu masuk ke kamar Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dan ia melihat di depannya tulang-tulang ayam dari sisa makanan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Maka ibu tadi menanyakan tentang arti semua itu. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani kemudian meletakkan tangannya di atas tulang-tulang tadi sambil berkata kepadanya:”Berdirilah dengan izin Allah yang menghidupkan tulang-tulang yang hancur”, maka berdirilah tulang-tulang itu kembali menjadi ayam dan berkokok: “Laa ilaaha illalaah Muhammad rasulullah Syaikh Abdul Qadir waliyullah, maka beliau berkata kepada si ibu: “kalau anakmu sudah dapat berbuat seperti itu, maka boleh makan sekehendaknya

6. Pada suatu hari ketika angina berhembus kencang, ada seekor burung elang di atas majelis pengajiannya sambil bersuara keras sehingga mengganggu konsentrasi orang-orang yang hadir di majelis tersebut. Maka Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berkata; wahai angin, potonglah kepala burung itu, maka seketika jatuhlah burung itu dalam keadaan terputus kepalanya. Kemudian Ia turun dari kursinya mengambil burung tadi dan mengelus-elusnya dengan membaca; “bismillahirrahmanirrahim”, maka burung itu hidup kembali dan terbang lagi. Dalam masalah ini jelas sangat bertentangan dengan prilaku para ulama secara umum yang selalu mengedepankan sikap welas asih kepada setiap makhluk termasuk bintang. Di samping itu, sepanjang peradaban manusia, hanya mu’jizat nabi Isa As saja yang mampu menghidupkan sesuatu yang sudah mati dan tidak pernah dalam bentuk karamah.

7. Suatu ketika beliau duduk mengambil air wudhu, kemudian kejatuhan kotoran burung emprit, lalu beliau mengangkat kepalanya, maka jatuhlah burung itu dan mati. Peristiwa ini jelas sangat bertentangan dengan perilaku para ulama, terutama jika sudah sampai derajat Ma’rifatullah, tentu tindak tanduk yang dilakukan tidak akan bertentangan dengan hukum-hukum Allah termasuk membunuh.

8. Ada tiga orang orang guru dari negeri Jilan datang berkunjung kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Sewaktu mereka masuk ke rumahnya, mereka melihat kendi tidak menghadap ke kiblat dan seorang pelayan berada di sisinya. Kemudian mereka saling berpandangan seperti menunjukkan sikap tidak senang kepadanya karena kendi tidak menghadap ke kiblat. Maka Syaikh Abdul Qadir meletakkan kitab yang ada di tangannya, kemudian memandang mereka dan pelayan, seketika itu juga pelayan tadi mati. Kemudian Ia memandang ke arah kendi dan kendi itu pun berputar sendiri menghadap kiblat.

9. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani pertama masuk kota Irak ditemani Nabi Khidhir AS. Dan beliau belum mengenalnya, kemudian Nabi Khidir memberikan persyaratan-persyaratan yang tidak boleh sekali-kali menyimpang, karena penyimpangan akan menjadi sebab perpisahan keduanya. Kemudian Nabi Khidir berkata kepada Syaikh Abdul Qadir; “Duduklah di tempat ini”. Maka Syaikh Abdul Qadir duduk di tempat yang diisyaratkan Nabi Khidir dan berpesan; “Jangan sekali-kali meninggalkan tempatmu ini, sampai aku datang kembali kepadamu”.Pernyataan ini sangat tidak rasional karena sesuatu yang tidak mungkin Nabi Khidir menemui Abdul Qadir al-Jailani, karena jarak tahun kehidupan Nabi Khidir dengan Abdul Qadir al-Jailani sangat jauh sekali. Di dalam literature-literatur sejarah terakhir kali Nabi Khidir berinteraksi hanya dengan Nabi Musa As. Pertanyaannya berapa umur Nabi Khidir pada saat bertemu dengan Abdul Qadir al-Jailani, jelas sesuatu yang tidak mungkin kalau Nabi Khidir hidup abadi (tidak mati).

10 Bahwa Syaikh Abu Umar Usman Ash-Shoirafi dan Syaikh Abu Muhammad Abdul Haqqi al-Harimy berkata: “Kami pernah berdampingan dengan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berada di madrasahnya pada hari Ahad tanggal 3 Shafar tahun 555 H. Beliau wudhu dengan sandalnya lalu shalat dua rakaat, setelah salam beliau berteriak sekeras-kerasnya seraya melemparkan sandalnya yang satu sejauh-jauhnya ke udara sampai tidak nampak dari pandangan kami, kemudian melakukan lagi seperti itu untuk kedua kalinya dengan sandalnya yang satu lagi. Kemudian duduk dan tidak ada seorang pun yang berani menanyakan kejadian itu. Setelah dua puluh tiga hari dari kejadian itu, datanglah serombongan musafir dari luar negeri. Maka mereka berkata; “Kami mempunyai nadzar kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, maka kami mohon diizinkan untuk menghadap beliau, maka beliau berkata kepada kami berdua: “Ambillah Nadzhar yang dibawa mereka. Kemudian mereka memberikan barang nadzarnya berupa emas, pakaian sutra, pakaian berbulu sutra, dan sandal milik Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Maka kami bertanya kepada mereka, apa yang terjadi? Lalu mereka bercerita: “Pada hari Ahad tanggal 3 Shafar yang lalu kami dalam perjalanan, tiba-tiba serombongan manusia yang dipimpin dua orang. Mereka merampok harta kami dan kami akhirnya turun ke jurang, lalu kami berunding. “Sekarang lebih baik kita berwasilah kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, apabila kita selamat, dan harta kami yang terampas bisa kembali, maka kami akan bernadzar karena Allah, akan memberikan sebagian harta kami kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, ternyata nadzar kami dikabulkan oleh Allah, tidak lama kemudian kami mendengar suara yang sangat keras sampai dua kali yang memekikkan telinga, berdesing memenuhi jurang, sampai kami melihat mereka lemas lunglai, gemetar ketakutan. Kami menduga mungkin ada rampok lain yang merebut harta rampasan mereka. Tiba-tiba diantara mereka ada yang mendatangi kami dan berkata; “Kemarilah kalian, ambillah kembali hartamu dan periksalah apa yang membingungkan kami”. Kemudian mereka membawa kami kepada kedua pimpinannya, ternyata kami dapatkan mereka berdua telah meninggal dan di samping masing-masing terdapat sandal yang masih basah dengan air. Dengan kejadian itu yang lain menjadi ketakutan sehingga harta yang dirampasnya dikembalikan kepada kami, sambil mereka mengatakan kepada kami; “Peristiwa ini menggemparkan dan tidak pernah terjadi sebelumnya.”

11. Pernah seorang laki-laki dari kota Asfihan berkunjung kepada beliau (Abdul Qadir al-Jailani) untuk mengobatkan budak perempuannya yang sudah dimerdekakan, karena sering tidak sadar diri, dan sudah berobat kemana-mana. Maka Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berkata: Budakmu ini diganggu jin dari gua Sorondib, namanya jin Khonis. Apabila dia tidak sadar lagi, maka bacakan ditelinganya: “Hai jin Khonis, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani yang tinggal di Baghdad mengatakan (kepadaku): Jangan kembali (mengganggu lagi), jika kamu kembali, maka kamu akan binasa.” Kemudian laki-laki dari Asfihan itu pulang dan tidak muncul lagi selama dua puluh tahun lamanya, kemudian laki-laki itu datang lagi menghadap Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, dan setelah ditanya ia menjelaskan bahwa apa yang dikatakan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani sudah dilaksanakan dan penyakit itu sudah tidak pernah kambu lagi sampai sekarang. Sebagian tabib ahli jiwa mengatakan; Selama kami menetap di Baghdad empat puluh tahun, ketika Syaikh Abdul Qadir al-Jailani masih hidup, di Baghdad tidak pernah terjadi seorang pun yang menderita sakit jiwa, setelah beliau wafat, maka berjangkitlah penyakit jiwa itu.

12. Bahwa sesungguhnya Abul Mudhoffar Hasan bin Tamimin al-Baghdadi (seorang pedagang) datang kepada Syaikh Hammad bin Muslim bin Darwah Ad-Dabbasi pada tahun 521 H, dan berkata kepadanya: “Wahai junjunganku, saya telah menyiapkan kafilah yang membawa dagangan seharga 700 dinar ke negeri Syam. Syaikh Hammad berkata: “Jika kamu pergi pada tahun ini, kamu akan terbunuh dan daganganmu dirampas”. Setelah itu Abul Mudhoffar meninggalkan Syaikh Hammad dengan persaaan sedih, di tengah jalan ia berjumpa dengan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani yang pada waktu itu masih berusia muda. Abdul Mudhofar menceritakan apa yang dikatakan Syaikh Hammad kepadanya. “Pergilah, maka kamu akan selamat dan kembali membawa keberuntungan, urusan itu akulah yang bertanggungjawab”. Lalu Abul Mudhoffar pergi ke negeri Syam dan ternyata bisa menjual dagangannya dengan harga seribu dinar. Pada suatu waktu Abul Mudhoffar masuk ke kamar mandi dan ketika keluar ia lupa uangnya tertinggal, sesampainya di rumah ia mengantuk dan tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi berada dalam satu kafilah yang kemudian di datangai orang Arab Baduwi yang merampas hartanya dan membunuh semua orang yang ada dalam kafilahnya tersebut. Dan di antara Arab Baduwi itu ada yang mendatanginya dan memukul dengan pedang serta membunuhnya, maka ia terbangun dengan gemetar dan ketakutan dan menemukan bekas darah di lehernya dan ia merasa sakit. Dan setelah ia ingat, uang seribu dinarnya tertinggal, maka cepat-cepat ia bangun dan pergi ke kamar mandi.di Halaba dan uang tersebut didapatkan masih di tempat semula dengan selamat., ia berkata dalam hatinya: “Kalau aku berkunjung pada Syaikh Hammad lebih dahulu, karena beliau lebih tua dan kalau kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani karena beliau benar kata-katanya, sewaktu ia sedang berfikir demikian dipaksa Sulton, Syaikh Hammad menemuinya dan berkata kepadanya: “Wahai Abul Mudhoffar, mulai kamu berkunjung kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, karena ia cinta Allah dan sesungguhnya beliau memohon kepada Allah untukmu sebanyak tujuh belas kali, sehingga kepastian matimu yang sebenarnya hanya kamu rasakan dalam mimpi dan kepastian fakir yang sebenarnya berubah hanya karena lupa saja”. Kemudian Abul Mudhoffar pergi berkunjung kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, maka beliau (Abdul Qadir al-Jailani) mendahului berkata: “Syaikh Hammad telah mengatakan kepadaku, bahwa saya berdoa kepada Allah untukmu tujuh belas kali. Demi kemuliaah yang disembah (Allah), sesungguhnya saya memohon kepada kepada Allah untukmu tujuh belas kali dan tujuh belas kali lagi sampai jumlah seluruhnya tujuh puluh kali, sehingga terjadi seperti apa yang dikatakan Syaikh Ahmad.

13. Sesungguhnya Syaikh Ali al-Hajity dan Syaikh Syarif Abdullah bin Muhammad Abal Ghonaim berkunjung ke rumah Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Lalu keduanya bertemu seorang pemuda tidur terlentang dalam keadaan sangat lemah (sakit). Maka pemuda itu berkata kepada Syaikh Ali al-Hajity: “Wahai junjunganku, mohonkan syafaat kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani agar aku dapat sembuh kembali. Maka setelah Syaikh Ali mengutarakan permohonan pemuda tadi, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani memberikan syafaat dengan mengatakan: “Sungguh saya berikan syafaat kepadanya”. Kemudian kedua Syaikh itu keluar untuk menemui pemuda tadi dan memberitahukan bahwa Syaikh Abdul Qadir sudah memberi syafaat kepadanya. Maka berdirilah pemuda tadi dan keluar melalui jendela rumahnya lalu terbang di udara. Kemudian Syaikh tadi kembali menghadap Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dan menanyakan tenatng hal ihwal pemuda itu. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani pun menjelaskan:” Bahwa pemuda yang terbang tadi sesungguhnya berkata dalam hatinya: “Tidak ada di Baghdad ini, seorang pun yang bisa seperti saya. “Karena itulah saya lenyapkan kehebatannya, kalau bukan karena Syaikh Ali, kehebatannya tidak akan saya kembalikan.

14. Sesungguhnya Syaikh Abul Hasan Ma’ruf bin Thonthonah al-Baghdadi telah berkata: “Pada hari wafatnya Syaikh Abdul Qadir al-Jailani sewaktu saya belajar di pondoknya, saya tidak pernah tidur malam dikarenakan sibuk memperhatikan keperluan beliau. Pernah pada suatu malam bulan Shafar 553 H, beliau keluar dari rumahnya, saya pun menghanturkan sebuah kendi kepada beliau, tetapi tidak mau menerimanya dan menuju madrasah (yang pintunya terkunci), lalu beliau menudingnya, tiba-tiba pintu tersebut membuka sendiri, Syaikh Abdul Qadir keluar dan saya mengikutinya dari belakang sambil berkata dalam hati: “Sungguh beliau tidak merasa kalau sedang saya ikuti, kemudian pintu madrasah itu menutup kembali. Kemudian beliau menuju ke pintu kota Baghdad, demikian juga pintu kota membuka sendiri setelah ditudingnya. Tidak seberapa lama beliau berjalan, sampailah di suatu Negara yang belum pernah saya kenal, maka beliau masuk ke suatu tempat yang menyerupai pondok. Tiba-tiba di dalamnya ada enam orang laki-laki sedang duduk, setelah mereka melihat Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, mereka berdiri mengucapkan salam menghormat kepada beliau, dan saya bersembunyi di belakang tiang pondok itu, maka saya mendengar suara rintihan dari tempat tersebut, sesaat kemudian suara rintihan itu terdengar sangat lirih, kemudian seorang laki-laki masuk ke tempat di mana suara rintihan tadi dan kemudian keluar lagi dengan seorang laki-laki dari tempat tadi. Pada saat yang bersamaan datanglah seseorang yang tidak memakai tutup kepala dan berkumis panjang, berhenti di depan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, kemudian di perintah untuk berikrar mengucapkan dua kalimat syahadat lalu mencukur rambut dan kumisnya serta disuruh mengenakan tutup kepala dan diberi nama Muhammad. Dan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berkata kepada enam orang tadi, “Sungguh saya perintahkan agar Muhamamd ini menjadi gantinya orang yang meninggal tadi. Maka enam orang tadi menjawab: “Kami dengar dan kami laksanakan. Setelah itu beliau keluar meninggalkan mereka dan saya pun mengikutinya (secara diam-diam). Tidak lama berjalan, tiba-tiba sudah sampai kembali di pintu kota Baghdad, maka membukalah pintu itu sebagaimana tadi, lalu sampai pula ke pintu madrasah, lalu beliau masuk ke rumahnya. Keesokan harinya, saya menghadap Syaikh Abdul Qadir al-Jailani untuk mengaji, setelah menghadap saya takut dengan sendirinya karena kewibawaannya, sampai-sampai saya tidak bisa membaca kitab. Maka beliau berkata: “Wahai anakku bacalah, tidak apa-apa!. Dan kemudian saya bersumpah agar belaiu berkenan untuk menjelaskan kejadian semalam. Maka beliau menjelaskan: “Negara yang saya kunjungi itu bernama Nahawand, dan enam orang itu adalah wali abdal dan orang yang merintih dalam keadaan sakit itu adalah orang ketujuh dari mereka yang sedang sakit. Ketika sampai ajalnya, maka saya dating untuk berta’ziyah dan orang yang mebawa jenazahnya itu adalah Abbbas al-Khidir mengambilnya untuk dimandikan, dikafani, dishalatkan, serta dikuburkan. Dan saya suruh ikrar mengucapkan dua kalimat syahadat itu adalah Nasharani dari negeri Qusthontiniyah untuk saja jadikan ganti orang yang meninggal tadi, dan sekarang dia termasuk golongan wali Abdal”. Abul Hasan berkata: Bahwa Syaikh mengambil janji dariku untuk tidak menceritakan perkara tersebut kepada orang lain selama beliau masih hidup, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berkata: “Jangan sekali-kali menceritakan perkara ini, pada masa hidupku”.

15. Abdullah al-Mushally bercerita lagi: Pada suatu hari saya menyaksikan raja Abu Mudhoffar Yusuf berada di depan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, kemudian ia berkata kepada Syaikh Abdu Qadir al-Jailani: “Saya ingin melihat sesuatu dari kekaromahan untuk menenangkan hati saya”. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani bertanya: “Apa yang engkau kehendaki? Sang raja menjawab: “Saya menginginkan buah apel dari alam ghaib”. Padahal di Iraq pada waktu itu belum musim apel. Maka Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menjulurkan tangannya ke udara, tiba-tiba di tangannya ada dua buah apel, kemudian yang satu diberikan kepada raja (satunya lagi dipegang). Kemudian Syaikh Abdul Qadir al-Jailani memecah apel yang ada di tangannya, tiba-tiba apel tu warnanya putih bersih, bauhnya harum bagaikan kasturi. Dan raja pun ikut memecah apel yang ada di tangannya, tiba-tiba apel itu penuh dengan ulat. Maka raja itu berkata: “Mengapa begini, sedangkan apel yang di tangan tuan seperti yang tuan lihat atau seperti apa yang saya lihat. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berkata: “Wahai Abul Mudhoffar, apel ini ada di tangan orang lalim, maka akan mengeluarkan ulat sebagaimana yang engkau lihat, sedangkan apel ini berada di tangan kekasih Allah, maka menjadi harum. Demikianlah beberapa penyimpangan-penyimpangan yang ada di dalam kitab Manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jaelani. Tentu akan semakin banyak penyimpangan-penyimpangan tersebut kalau kembali dikaji dari perspektif-perspektif lainnya, termasuk ekonomi, pertanyaannya berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh masyarakat ketika menyelenggarakan kegiatan manaqiban, tentu tidak cukup dengan uang puluhan juta, termasuk untuk menyewah satu orang Habib untuk memimpin jalannya kegiatan manaqib agar semakin baraqah dan maksud dan tujuan Shihabul Hajat dikabulkan. Manaqib secara terminologi tidak lebih riwayat hidup yang berhubungan dengan seorang tokoh masyarakat yang menjadi suri teladan, baik mengenai silsilahnya, akhlaknya dan lain sebaginya. Jika demikian, seharusnya para ulama yang kompeten dan benar-benar punya niat mencerdaskan masyarakat, memberikan teladan tidak hanya dalam bentuk pengkajian pada sosok Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, misalnya, prilaku para Khulafah Al-Rasyidin yang terbukti lebih baik dan lebih hebat dari sosok Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, dalam konteks sejarah juga punya peran lebih besar dalam perkembangan peradaban Islam. Manaqib memang sudah menjadi suatu upacara yang sudah mentradisi dan terus berkembang di tengah-tengah masyarakat Islam, tanpa pernah ada pengkritisan-pengkritisan sedikit pun terhadap berbagai penyimpangan-penyimpangan ritual tersebut. Maka sekarang sudah saatnya muslim Indonesia memikirkan kembali tradisi tersebut, sebagai upaya penyelamatan kemurniaan ajaran agama Islam. Karena bagaimana pun, mengada-adakan sesuatu yang tidak ada di dalam agama Islam hukumnya adalah Bid’ah dan tempat untuk orang-orang Bid’ah adalah neraka. Wallau A’lam bis al-Shawab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: