Manaqib Imam Ali

MANAQIB IMAM ALI BIN ABI THALIB

KARYA AZ-ZAMAKHSYARI

Berbeda dengan Manaqib Abdul Qadir al-Jailani, Manaqib Imam Ali Ibn Abi Thalib sangat menakjubkan dan jauh dari hal-hal yang berbau irasional. Sebagaimana ditulis oleh Az-Zamakhsyari, ada delapan belas keutamaan Imam Ali bin Abi Thalib diantaranya:

Pertama, Ali bin Abi Thalib adalah orang yang pertama masuk Islam dari kalangan anak-anak dan orang yang pertama masuk surga dari umat Islam. Pernyataan ini sesuai dengan Sabda Rasulullah Saw, “Wahai Ali, engkau adalah orang yang pertama mengetuk pintu surga dan engkau akan memasukinya tanpa hisab, setelahku”.

Kedua, Ali bin Abi Thalib merupakan orang yang ditugaskan untuk menjaga dan mengembalikan amanah-amanah orang yang berada di rumah Rasulullah Saw, saat beliau hijrah. Setelah itu, Ali berada di Mekkah selama tiga hari tiga malam hingga ia selesai mengembalikan amanah-amanah orang yang berada di rumah Rasulullah saw, kemudian ia menjadi wakil Rasulullah saw untuk menjaga anak-anak dan wanita di Madinah, saat pasukan Islam pergi ke Tabuk, sehingga ia menangis dan berkata: “Wahai Rasulullah saw, orang-orang Quraisy nanti akan berkata (menyaksikan hal ini), Rasulullah telah menurunkan derajatmu sehingga dia meninggalkanmu.”

Rasulullah Saw menjawab, “Apakah engkau tidak senang jika engkau di sisiku bagaikan Harun terhadap Musa, tetapi tidak ada lagi nabi setelahku.”

Ketiga, Saat Rasullah saw mempersaudarakan kalangan Muhajirin dan Anshar, beliau menjadikan Ali sebagai saudaranya yang mulia. Dan Rasulullah bersabda kepadanya, “Engkau adalah saudara dan sahabatku di dunia dan akhirat”.

Keempat, Ali bin Abi Thalib dipuji sebagai Sayyid. Sebagaimana diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda kepada putrinya Fatimah, “Suamimu adalah Sayyid di dunia dan di akhirat”.

Kelima, Ali bin Abi Thalib adalah seorang sahabat yang paling pintar dalam masalah hokum. Hal ini sesuai dengan Sabda Rasulullah saw, “Orang yang paling pintar dalam masalah hokum dari kalian adalah Ali”.

Keenam, Ali bin Abi Thalib adalah seorang yang dikasihi oleh kaum Mu’minin dan dibenci oleh orang-orang munafik. Rasulullah Saw bersabda, “Orang yang mencintaimu adalah orang mu’min dan yang membencimu adalah orang munafik”.

Ketujuh, Ali bin Abi Thalib adalah seseorang yang memiliki pendengaran yang tajam. Az-Zamaksyari menjelaskan istilah “udzunun wa’iyah dalam tafsirnya yang terkenal al-Kasyyaaf sebagai berikut: “udzunun wa’iyah sifatnya adalah selalu sadar dan mengingat apa yang didengarnya, dan tidak melupakannya meskupun telah disibukkan dengan pekerjaan yang lain. Apa yang engkau ingat dengan usaha dirimu, itu bearti engkau wa’aytahu (telah mengingatnya), sedangkan jika engkau mengingatnya bukan karena usahamu, maka bearti engkau aw’aytahu (telah diberi ingat). Artinya Rasulullah saw telah mendoakan dirinya untuk cemerlang dalam kecerdasan, pemahaman, kesadaran, dan kerja. Doa ini tidak pernah diberikan kepada orang lain, hanya Ali bin Abi Thalib sendiri yang mendapatkan doa ini.

Kedelapan, Ali mengumpulkan tiga kemulyaan yang belum pernah dimiliki secara bersamaan oleh orang lain, seperti diriwayatkan Rasulullah Saw. bahwa beliau bersabda kepadanya, “Wahai Ali, engkau diberikan anugerah tiga hal yang belum pernah diberikan kepada orang-orang selainmu; seorang besan sepertiku, isti seperti Fatimah, dan dua anak seperti Hasan dan Husein.

Kesembilan, Ali pernah menaiki pundak Rasulullah Saw., seperti yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib dalam kisah penghancuran patung-patung, ia berkata; “Rasulullah Saw. datang ke Ka’bah dan berkata kepadaku, Duduklah, maka aku pun duduk. Kemudian beliau menaiki pundakku. Berikutnya beliau bersabda, Bangulah, maka aku pun bangun. Karena beliau mengetahui kelemahanku jika berada di bawah. Kemudian beliau bersabda; Duduklah, maka aku pun duduk. Berikutnya, Rasulullah Saw. mengangkatku, sehingga tergambar bagiku, jika aku ingin, niscaya aku dapat meraih puncak langit. Aku kemudian naik ke Ka’bah dan Rasulullah Saw. pun bergeser dari tempatnya. Dan bersabda, Lemparkanlah berhala mereka yang paling besar itu, berhala suku Quraisy’.

Berhala tersebut terbuat dari tembaga yang ditempelkan ke dasarnya dengan paku-paku dari besi. Rasulullah Saw. memerintahkan, Cabutlah. Maka aku berusaha mencabutnya hingga aku dapat mengangkat patung tersebut. Kemudian Rasulullah Saw. memerintahkan, Lemparkanlah patung itu, maka aku pun melemparkannya ke bawah, hingga patung tersebut pecah berantakan. Aku kemudian turun dari atas Ka’bah. Dan aku bersama Nabi Saw. berjalan dengan tergesa-gesa karena khawatir ada seseorang dari suku Quraisy atau lainnya, yang memergoki kami.”

Kesepuluh, Ali bin Abi Thalib mendapatkan bagian Jibril dari rampasan Perang Tabuk. Sebagaimana diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw., saat memasuki Perang Tabuk, memerintahkan Ali untuk menjadi penjaga kota Madinah. Saat Allah Swt. Memenangkan Rasul-Nya dan kaum muslimin mendapatkan rampasan perang dari harta kaum musyrikin serta hamba-hamba sahaya mereka, Rasulullah Saw. duduk dan membagi-bagikan rampasan perang tersebut kepada kaum muslimin, masing-masing satu bagian, sementara memberikan Ali bin Abi Thalib dua bagian.

Melihat hal itu, salah seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah Saw. apakah hal itu (memberikan Ali dua bagian) berdasarkan wahyu yang turun dari langit, atau semata kebijaksanaan Baginda?” Rasulullah Saw. menjawab; “Apakah kalian melihat di ujung kanan kalian seorang yang mengendarai kuda belang merah dengan sedikit putih di mukanya, memakai sorban hijau, dengan ujung rambut yang tergerai di pundaknya, dan ditangannya ada kelewang. Saat ia menyerang musuh di bagian kanan, maka ia segera melumpuhkan mereka. Kemudian ke bagian kiri, ia pun segera melumpuhkan mereka. Selanjutnya ke bagian tengah, ia pun melumpuhkan mereka pula.” Para sahabat menjawab, “Benar kami melihatnya.” Rasulullah Saw. bersabda; “Dia adalah Jibril. Dia memerintahkan kepadaku untuk memberikan bagian rampasan perangnya kepada Ali.”

Kesebelas, Rasulullah Saw. menamakannya Ya’sub al-Mu’minin. Ya’sub adalah pangeran tawon (lebah), yang diikuti oleh tawon-tawon yang lain, yang bekerja untuk kepentingan tawon yang lain, dan tempat mengadu tawon-tawon yang lain.

Ali bin Abi Thalib berkata dalam pujiannya terhadap Abu Bakar r.a; “Engkau adalah seorang Ya’sub yang pertama bagi agama Islam saat manusia mingggalkannya.”

Ali berkata dalam sebuah hadits, “Aku adalah Ya’sub al-Mu’minin. Sementara harta adalah Ya’sub bagi kaum kafirin dan munafiqin.”

Demikianlah beberapa keutamaan-keutamaan Ali bin Abi Thalib dalam Manaqib Ali bin Abi Thalib karya Az-Zamaksyari. Tentu akan semakin menarik jika segenap kaum muslimin yang selama ini terdoktrin atau orang-orang yang meraup keuntungan dari mentradisinya Manaqib Abdul Qadir al-Jailani mau sedikit membaca dan memandingkan Manaqibnya dengan Manaqib Ali bin Abi Thalib. Dengan harapan setelah melakukan itu, akan sedikit terbuka cakrawala berfikir positif, konstruktif dan rasional .

Manaqib adalah kisah kehidupan, maka tentu akan sangat mencerdaskan seandainya kisah kehidupan tersebut disampaikan dan diajarkan dengan cara yang jujur dan rasional, tanpa ada bumbu-bumbu pengkultusan secara membabi buta. Karena Islam tidak akan pernah maju jika paradigma seperti itu masih menjadi menjangkiti kita semua.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: