Orang Yang Menerima Manfaat

Seorang anak muda yang gagah menderita begitu banyak musibah sehingga Ia hampir-hampir putus asa. Ia mengeluhkan tenggorakannya yang kering dan hidupnya yang miskin. Ia mengadu kepada ayahnya dan memohon izinnya untuk melakukan perjalanan agar dengan kekuatannya sendiri Ia bisa berhasil mencapai keinginannya. Seorang bijak pernah berkata:
“Kalau tidak diperhatikan, sia-sia segala keutamaan dan keahlian
Mereka melemparkan cendana ke dalam api dan menghancurkan wewangian”.
Sang ayah berkata: ”Anakku, lepaskanlah dari pikiranmu gagasan yang tidak berguna itu. Tutuplah jubah ketenangan ke bawah kaki kepuasan; sebagiamana dikatakan orang arif; ”kebahagiaan tidak dicapai dengan jerih payah; kebahagiaan diperoleh dengan mengurangi keinginan.”
”Tidak seorangpun meraih keberuntungan dengan tangan yang kuat.
Menabur celup kepada orang buta tidaklah bermanfaat
Sekiranya kamu punya dua ratus kemuliaan pada setiap helai rambutmu.
Musibah buruk akan mengubah suratan tanganmu.
Mungkinkah pemuda gagah yang bernasib buruk beruntung?
Jika, betapapun kuatnya takdir perkasa menjatuhkan pentung?

Sang anak menjawab: ”Ayahku, keuntungan perjalanan (safar) berlipat ganda; mencerahkan jiwa, memberi manfaat, melihat hal-hal indah, mendengarkan keajaiban, dan berbahagia melewati negeri-negeri baru, berhubungan dnegan sahabat, memperoleh kedudukan, menambah kekayaan dan keuntungan, serta alat untuk memperoleh persahabatan dan membuktikan berbagai keberuntungan sebagaimana para sufi pernah berkata:
”Kalau kamu berkutat di warung dan rumahmu. Hai orang yang dungu, kamu tidak bakal jadi manusia. Berangkatlah dengan ceria, mengembara di seluruh dunia. Sebelum kamu meninggalkan duniamu.”

Sang ayah menjawab: ”Duhai anakku memang benar besar manfaat perjalanan yang sudah kamu sebut. Tetapi hanya lima jenis orang yang memperoleh manfaat dalam perjalanan. Orang pertama, pedagang kaya, yang karena memiliki kekayaan dan kemewahan, budak-budak yang rajin dan budak-budak perempuan yang cantik, serta pelayan yang berani, menikmati semua kemewahan dunia. Setiap hari Ia berada dalam kota dan setiap malam di tempat penginapan, serta setiap saat dalam kenikmatan. Seorang bijak pernah berkata:
”Di gunung dan rimba atau di sahara orang kaya tidak sengsara.
Kemanapun Ia pergi kemah dipancangkan dan tempat tidur dihamparkan.
Tetapi dia yang tidak punya harta tak juga punya mitra.
Bahkan di negeri sendiri, tak ada yang berbakti atau memberi.”

Orang kedua, adalah orang yang berilmu, yang fasih berbicara dan pandai berbahasa. Kemana pun dia pergi, semua orang bersegera berkhidmat kepadanya, dan memuliakannya. Seorang bijak pernah berkata:
“Orang bijak bagai emas murni yang cemerlang.
Kemana pun Ia datang, nilai dan harganya tidak berkurang.
Tetapi orang besar yang bodoh mendapat kemuliaan.
Hanya di negeri tempat Ia dilahirkan.”

Orang Ketiga adalah orang yang cantik jelita. Karena kecantikannya hati semua orang terpaut padanya. Bergaul dengannya dianggap banyak orang sebagai keberuntungan, dan perkhidmatan kepadanya dikira sebagai perhormatan. Sering dikatakan bahwa sedikit kecantikan lebih baik dari banyak kekayaan, wajah yang indah adalah obat bagi hati yang menderita dan kunci bagi pintu yang tak terbuka. Seorang bijak pernah berkata:
”Biarkan kecantikan pergi kemana saja, karena kehormatan akan datang menjelangnya.
Walaupun orang tuanya dengan murka mengusirnya dari rumahnya.
Suatu hari di tengah lembaran al-Qur’an kutemukan bulu burung merak.
Aku berkata: ”Tempat ini tidak layak bagimu karena nilainya jauh di atasmu.”
”Diam!” jawabnya, ”Karena setiap orang yang mengenakan pesona keindahan.”
Ke manapun Ia pergi semua menghormatinya sebagai kewajiban.
Jika seorang anak punya keramahan dan kecantikan.
Jangan pedulikan betapa masamnya sang tuan
Dialah mutiara yang jika kulitnya dicampakkan
Siapapun akan mengambilnya tanpa pedulikan bayaran.”

Orang Keempat adalah orang yang memiliki suara bagus, yang dengan tenggorakan nabi Daud, menahan air untuk tidak mengalir, menghalang burung untuk tidak terbang, dan dengan keindahannya, memesona hati setiap orang dan semua orang ingin bersahabat dengannya. Seorang bijak pernah berkata:
”Pendengaranku terpaku kepada lagu.
Siapa dia yang ’kan memetik senar harpa
Betapa perkasanya suara yang lembut mendayu
Yang menyentuh telinga sahabat sebelum subuh berlalu
Membuatnya bahagia karena suara, lebih karena rupa
Yang ini menggembirakan indra, yang itu jiwa.”
Orang kelima adalah orang yang punya keterampilan yang memperoleh penghasilan dengan  karya tangannya, sehingga perilakunya tidak terganggu karena urusan makanannya. Seorang bijak pernah berkata:
”Sekiranya penduduk kota mengusirnya
Seorang perajut kapas takkan menderita karenanya,
Tapi jika seorang penguasa jatuh dari tahtanya
Ia akan kelaparan di tempat tidurnya.”

Sumber: Meraih Kebahagiaan karya Jalaluddin Rakhmat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: