Mengenang Kematian Imam Samudra

Kegigihannya memperjuangkan “Ketidakadilan” dan “Kebenaran”. Melahirkan kontroversi berkepanjangan. Sehingga tak salah ketika kepergiannya memunculkan dua wajah sekaligus, wajah Mujahid di satu sisi dan wajah Teroris di sisi lainnya.
Imam Samudra atau Abdul Aziz dilahirkan di Kabupaten Serang, Kecamatan Serang tepatnya di Desa Lopanggede, Kampung Lopang pada 14 Januari 1971 dari pasangan Akhmad Syihabuddin bin Nakha’i dengan Embay Badriyah binti Sam’un. Nama aslinya adalah Abdul Aziz (Imam Samudra, 2004: 22)
Sejak kecil, Imam Samudra mengikuti kakeknya, Nakha’i, seorang saudagar yang cukup terkenal ketika itu. Keluarganya sendiri sangat taat beragama, karenanya ia tumbuh besar dalam situasi keagamaan yang ketat dalam tradisi Persis (Persatuan Islam). Dari garis ibu, Imam Samudra termasuk keturunan ke-3 Kyai Wasyid, pejuang sekaligus ulama Banten, yang memimpin perlawanan masyarakat muslim Banten terhadap penjajah Belanda, terutama pada peristiwa “Geger Cilegon”, 9 Juli 1988. Perjuangan Kyai Wasyid sendiri kemudian dimonumenkan dalam bentuk patung lelaki berjubah lengkap dengan senjatanya di tengah Kota Serang, Ibukota Propinsi Banten sekarang.
Pendidikan formal Imam Samudra dimulai ketika Sekolah Dasar (SD) di kampungnya dalam usia 4 tahun, meskipun secara normal sebenarnya belum diperbolehkan masuk SD. Namun karena Imam Samudra sudah pandai membaca dan menulis, akhirnya dapat diterima. Sore harinya Imam Samudra juga mengikuti pendidikan Madrasah Ibtida’iyah di Al-Khairiyah Serang. Imam Samudra termasuk anak yang cerdas, dan ia selalu menempati rangking I hingga tamat SD. Hampir seluruh nila raportnya di atas 8, atau rat-rata 9. Setelah lulus SD, Imam Samudra mendaftar di SMPN 4 Serang melaui jalur prestasi dan MTs Insaniyah Serang. Namun, karena SMPN 4 kekurangan lokal, dan untuk murid kelas I harus menjalani kegiatan belajar pada sore hari, terpaksa harus meninggalkan MTs Insaniyah. Ketika SMP Imam Samudra juga banyak menunjukkan prestasinya dengan memenagi berbagai lomba mata pelajaran, lomba puisi dan lomba pidato. Pendidikannya di SMP pun ditempuh tanpa biaya, karena selalu mendapat beasiswa. Setelah tamat SMP, Imam Samudra memasuki SMA Cikulur, Serang, dan di SMA juga selalu menunjukkan prestasinya.
Selain sekolah formal, Imam Samudra mengikuti pengajian-pengajian (ngaji) yang diasuh oleh Ustadz kampungnya. Imam Samudra sendiri sangat gemar mendalami ilmu agama, sehingga di kamarnya penuh dengan tempelan rumus matematika dan fisika, juga dipenuhi buku-buku keagamaan, seperti buku hadits, bahasa Arab, fiqh, novel-novel Islam, buku tentang jihad dll. Bahkan karena seriusnya mendalami ilmu agama, Imam Samudra sempat hendak keluar dari sekolah untuk masuk pesantren. Dari buku-buku yang ia baca, terdapat buku Ayatur Rahman fi Jihadi Afghanistan (Tanda-tanda Kekuasaan Allah dalam Jihad Afghanistan) karangan Dr. Abdullah Azzam. Imam Semudra sendiri mengakui, bahwa buku tersebut membuat hatinya terenyuh, sehingga timbul keinginan dan cita-cita untuk ikut berjihad mengangkat senjata di Afghanistan. Namun karena usianya ketika itu baru 16 tahun, keinginannya itu hanya sebatas angan-angan yang ia ekspresikan melalui doa agar Allah menggabungkannya dengan para mujahidin. Selain gemar membaca, Imam Samudra juga gemar menulis, dan beberapa tulisannya sempat dimuat di Majalah Panji Masyarakat, dan surat kabar lokal.
Nampaknya Allah mengabulkan do’a Imam Samudra, sehingga setamat SMA ketika ia mulai memilah-milah untuk memasuki Perguruan Tinggi, di Jakarta ia bertemu seseorang yang bernama Jabir ketika sedang mendengarkan ceramah keagamaan di Masjid Al-Furqan milik Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). Jabir selanjutnya menginformasikan bahwa pada tahun ini (1990) ada rekrutmen mujahid untuk diberangkatkan ke Afghanistan. Imam Samudra tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dan bergabunglah ia untuk berjihad di Afganistan (Samudra, 2004: 23-42). Dengan dengan uang dari hasil menjual perhiasan ibunya, ia pergi ke Malaysia untuk transit menuju Pakistan dengan tujuan akhir Afganistan. Di sana dia mengikuti kegiatan bersama tim yang beranggota tujuh orang dan sempat tinggal selama 2,5 tahun. Di samping itu, Imam juga bertemu dengan Syekh Abdurrasul Sayyaf (salah satu panglima mujahidin di Afganistan) seorang yang paling dibenci oleh Amerika Serikat. Pertemuan tersebut sangat membekas dalam dirinya, bahkan menurut pengakuannya Syekh Abdurrasul Sayyaf adalah orang nomor wahid di Afganistan. Saya terkesima, tapi bukan tersihir. Saya banyak mendapat kebenaran dari dia. Selain itu, banyak juga kawan yang berasal dari Arab. Mereka mengarahkan saya kepada fikrah yang sebenarnya.
Tahun 1995, Imam Samudra kembali ke Indonesia dan menikah dengan teman sekolahnya sewaktu SMP, Zakiah hingga dikarunia seorang anak. Tidak banyak informasi mengenai aktivitas Imam Samudra sekembalinya ke ke Indonesia, hingga akhirnya ia ditangkap dan dituduh sebagai pelaku utama peledakan Bom Bali pada 12 Oktober 2002 di Paadys Club dan Sari Club yang menyebabkan 180 orang tewas termasuk warga asing.
Cerita tentang pengeboman menyebabkan nama Imam Samudra banyak dikaitkan dengan pengeboman-pengeboman pada tahun-tahun sebelumnya misalnya Bom malam Natal 2000, di mana Imam Samudra melakukan pengeboman gereja di Batam. Nama Imam Samudera muncul kali pertama dari pengakuan dari beberapa tersangka yang berhasil diciduk sejak peledakan bom di malam Natal tahun 2000 serta peledakan Plaza Atrium Senen Jakarta tahun 2001. Imam juga mengaku bertanggung jawab atas pengeboman gereja Santa Anna dan HKBP di Jakarta. Sedangkan pada gereja lainnya Imam tidak mengakui, namun dia menyebutkan mungkin kelompok lainnya. Setelah melakukan pengeboman tersebut, Samudera alias Abdul Aziz pergi ke Malaysia.
Saat ini Imam Samudra sedang mendekam di LP Nusakambangan untuk menunggu ekesuksi hukuman mati. Imam Samudra menghabiskan waktunya di tahanan sambil terus mempelajari buku-buku agama terutama tafsir, seperti Tafsir Ibn Katsir, Tafsir Munir, dan menuangkan pemahaman-pemahaman keagamaannya lewan tulisan. Salah satu tulisannya yang telah diterbitkan ialah buku Aku Melawan Teroris sebagai jawaban dan argumentasi atas tindakannya dalam melakukan jihad. Namun sayang, tulisan-tulisan yang lain selalu disita oleh petugas keamanan (polisi).
Eksekusi mati Imam sempat menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Sementara Imam sendiri menghadapi tuntutan tersebut tanpa sedikitpun rasa takut, karena menurutnya ”Allah telah mencabut semua keraguan dan ketakutan dari hati saya.”
Setelah kasusnya sempat terkatung-katung tanpa kejelasan. Pada 9 November 2008 sesuai pernyataan dari Kapuspenkum Kajagung Jasman Panjaitan Imam Samudra dan kedua sahabatnya Amrozi dan Ali Gufron sudah di eksekusi mati pada pukul 00.15 WIB di hari oleh regu tembak. Kemudian jenazah Imam Samudra dibawa pesawat fix wing dari Nusakambangan menuju Tunggul Wulung dan langsung diterbangkan ke Perum griya Serang Indah Blok B-12 Serang Banten setelah sebelumnya transit di Lanud Pondok Gede Serang.
Ribuan pelayat menunggu jenazahnya, dan mengeluh-eluhkan kematiannya kontras sekali dengan stigma yang melekat padanya, teroris. Imam Samudra mencatatkan dirinya pada dua sisi sekaligus, sebagai mujahid dan teroris di sisi yang lain.
Imam Samudra menjadi inspirasi gerakan-gerakan perlawanan terhadap ketidakadilan rezim global terhadap negara-negara Islam, Palestina, Irak, Chech, Afghanistan, Bosnia Herzegovina, Somalia, dan lain sebagainya. Menjadi teror dan musuh bagi komunitas internasional yang memegang semboyan “Islam adalah teroris”.
Tak banyak yang dapat diketahui dari Imam Samudera, hanya buku Aku Melawan Terorisme menjadi satu-satunya sumber acuan untuk dapat memahami alasannya melawan Amerika dan sekutu-sekutunya lewat jalur teror sebagaimana pada kasus Bom Bali. Adapun beberapa pemikirannya sebagai berikut;
Pemahaman Islam, menurut Imam Samudra, Islam adalah agama kebenaran, sebagai jalan Allah yang lurus. Makna ikutilah jalan ini, artinya tidak boleh mengikuti selain Islam. Adalah sebuah realita bahwa umat Islam kini dalam keadaan terpecah belah dalam beberapa kelompok, sekte, partai. Masing-masing kolompok, jamaah, organisasi mengaku dirinyalah yang paling benar, di luar jamaahnya, kelompoknya dianggap salah. Bahkan timbul ajaran takfir (saling mengkafirkan) terhadap kelompok di luar kelompoknya.
Sikap saling memberi label, memberi stigma telah begitu parah terjadi di kalangan umat Islam. Di Indonesia sendiri ada DI/TII, Hizbut Tahrir (HT), Ikhwanul Muslimin, PERSIS, NU, Muhammadiyah, dan lain-lain. Pertanyaannya adalah menurut Imam Samudra lalu siapakah yang benar, dan siapakah yang salah? Siapakah yang sesat, dan siapakah yang lurus? Jawabannya menurut Imam Samudra, perdebatan tersebut tidak pernah terselesaikan, sudah terlalu banyak buku-buku yang membahas masalah itu.
Menurut Imam Samudra, al-Qur’an dan sunnah (yang shahih) adalah kebenaran absolut dan final. Seluruh kaum muslimin telah memahami hal ini. Persoalannya adalah, dunia dan peradaban selalu berkembang, populasi manusia semakin banyak, tipu daya syetan semakin canggih, generasi demi generasi telah berganti. Keinginan kembali kepada al-Qur’an dan sunnah pada akhirnya menuntut adanya interpretasi atau penafsiran. Ketika membaca al-Qur’an, seribu kepala bisa memunculkan lebih dari satu bentuk penafsiran. Salah tafsir dalam hal yang bersifat furu’ (cabang) barangkali masih bisa ditolelir, tetapi dalam hal yang bersifat ushul (dasar) tentu hal itu dapat merusak akidah. Menurut Imam Samudra, pada era sekarang dan sebelumnya, tidak seorang pun yang berhak mengklaim bahwa penafsirannya terhadap al-Qur’an dan sunnah sebagai yang paling benar. Mereka yang penafsirannya benar dan paling benar adalah yang telah mendapat jaminan dari Allah dan Rasul-Nya, yaitu kaum salafus shalihin (Samudra, 2004: 59).
Generasi salafus shalihin merupakan generasi sahabat dan tabi’in. Mereka inilah yang paling mengerti tentang tafsir seluruh ayat al-Qur’an dan sunnah, sebab mereka langsung bertanya kepada Nabi, sementara Nabi langsung dibimbing Allah. Nabi sendiri telah menyebutkan dalam haditsnya:” sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi berikutnya kemudian generasi berikutnya” (HR. Bukhari-Muslim).
Satu generasi berarti satu abad atau 100 tahun. Dengan demikian, tiga generasi (qurun) berarti tiga abad. Pada abad pertama itulah kehidupan bermula dari era Rasulullah, kemudian tabi’in dan tabi’it tabi’in. Setiap generasi, selalu terdapat ulama. Ulama terkemuka pada generasi sahabat adalah Ibn Abbas dan Ibn Mas’ud, pada zaman tabi’in ada Imam Qutadah, Imam Mujahid dan Imam Muqatil dan imam empat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’I, Hambali) termasuk dalam generasi tiga abad pertama, sehingga penafsiran dan pemahaman mereka masih bersih, selamat dan benar. Pemahaman tiga generasi inilah yang menurut Imam Samudra harus diikuti.
Menurut Imam Samudra, di abad 20-21 sekarang, dunia Islam juga memiliki ulama-ulama kaliber internasional yang berusaha menempuh jalur salafus shalih.. Ada Syaikh Muqbil al-Wadi’I al-Yamani, Syaikh Rabi’ al-Madkhali, Syaikh Shalih ibn Utsaimin, Syaikh Bin Baz, Syaikh Hamud Uqala al-Syu’abi, Syaikh al-Baul, Syaikh Salman Fahd al-Audah, Dr. Safar al-Hawali, Dr. Aiman al-Dhawahiri, Syaikh Sulaiman Abu al-Ghaits, Dr. Abdullah Azzam, dan lain-lain. Fatwa-fatwa mereka baik secara lisan maupun tulisan, selalu merujuk kepada manhaj salafus shalih. Tidak terdapat perbedaan pendapat di antara mereka dalam masalah akidah. Adapun soal furu’ hal itu bisa terjadi, dan Islam tidak melarangnya, selagi berada dalam koridor syari’at (Samudra, 2004: 64).
Tentang Ijtihad, Menurut Imam Samudra tidak boleh menelan mentah-mentah fatwa-fatwa ulama. Sebab, ijtihad seorang ulama bisa benar dan bisa salah. Karenanya, perlu ada perbandingan, dicari titik persamaan selagi mungkin. Jika tidak mungkin, lihat dalil-dalil yang digunakan, pilih mana yang paling sesuai dan paling kuat. Metode seperti inilah yang dikenal dengan manhaj salafus shalih. Pada skala yang lebih luas, biasa dikenal sebagai aliran ahli sunnah wal jama’ah. Menurutnya, hanya orang-orang yang tergesa-gesa, berpikiran sempit dan tidak tahu diri sajalah yang yang berani menyatakan bahwa jalan semacam ini sebagai ajaran yang “sesat, puritan, sempalan, ekstrim”, kepada kelompok tertentu, tanpa memeriksa atau mempelajari latar belakang dan dalil-dalil yang mereka gunakan. Pada akhirnya justru akan menjadi “bumerang” bagi diri sendiri, dan inilah yang harus dihindari (Samudra, 2004: 66).
Tentang Jihad, Imam Samudra dalam masalah jihad, berpegang pada fatwa para ulama mujahid yang terjun langsung dan terlibat dalam jihad seperti Syaikh Aiman al-Zhawahiri, Syaikh Sulaiman Abu Ghaits, Syaikh Usamah bin Ladin, Syaikh Dr. Abdullah Azzam, Syaikh Maulani Mullah Umar, dan guru besar ulama anggota Dewan Fatwa Arab Saudi yaitu Syaikh Hamud Uqala al-Syu’aiby.
Jihad menurutnya dapat dilihat dari sudut pandang berbeda, yaitu bahasa, istilah, dan syari’ah. Pertama, dari segi bahasa (etimologi) bahwa secara simple jihad berarti bersungguh-sungguh, mencurahkan tenaga untuk mencapai suatu tujuan. Seseorang yang bersungguh-sungguh dalam mencari jejak bisa dikategorikan jihad.
Kedua, dari segi istilah (terminologi) jihad berarti bersungguh-sungguh memperjuangkan hukum Allah, mendakwahkannya serta menegakkannya.
Ketiga, dari segi syari’ah, jihad berarti berperang melawan kaum kafir yang memerangi Islam dan kaum muslimin (Samudra, 2004: 108).
Dari ketiga pengertian di atas, jihad dalam pengertian syari’ah-lah yang dapat diintrodusir dengan sebutan “jihad fi sabilillah”. Tiga pengertian jihad di atas telah menjadi konsensus para ulama salafus shalih, terutama dari kalangan empat madzhab (Syafi’I, Hambali, Maliki dan Hanafi), sehingga tidak didapati perselisihan pendapat dalam pendefinisian jihad tersebut.
Pelaksanaan jihad sendiri menurut Imam Samudra ada periodesasinya sebagaimana yang diajarkan oleh Islam, yaitu:
Pertama, tahapan (marhalah) menahan diri. Tahapan ini jihad belum diperintahkan. Kaum muslimin diperintahkan untuk menahan diri dari segala macam ujian, celaan kaum kafir. Hal ini pernah terjadi di zaman Nabi yang diistilahkan sebagai masa kafful yad (menahan tangan atau menahan diri). Tahapan ini dilakukan ketika penindasan kaum kafir belum diarahkan ke arah fisik.
Kedua, tahapan (marhalah) diizinkan berperang. Tahapan ini dilakukan ketika tekanan dan intimidasi atau muslim cleassing semakin menjadi-jadi dan merajalela. Misalnya dengan mendeportase kaum muslim dari tanah air mereka sendiri. Pada tahap ini kaum muslim baru sebatas diizinkan berperang, belum diperintahkan.
Ketiga, tahapan (marhalah) diwajibkan memerangi secara terbatas. Tahapan ini dilakukan ketika orang-orang kafir melakukan penyerangan atau pembataian terhadap orang muslim. Namun, peperangan ini dilakukan sebatas pada orang yang memerangi saja, dan orang kafir yang tidak ikut berperang dibiarkan saja.
Keempat, kewajiban memerangi seluruh kaum kafir/musyrik. Tahapan ini dilakukan selama masih ada fitnah atau kemusyrikan di muka bumi dan selama kedzaliman yang dilakukan oleh orang-orang kafir, sampai Islam sebagai agama menjadi solusi atas berbagai problem yang ada (Samudra, 2004: 125-133).
Imam Samudra memberi saran bagi mereka yang mau mengkaji lebih dalam tentang jihad, dapat membaca buku Syaikh Abdul Baqi Ramadhun al-Jihadu Sabiluna (Jihad Jalan Kami), buku Syaikh Ibnu Mubarak Kitabul Jihad (Kitab Jihad), buku Syaikh Asy-Syahid Dr. Abdullah Azzam Fi at-Tarbiyah al-Jihadiyah wal-Bina (Pendidikan dan Pembinaan Jihad) atau bisa juga buku-buku lain yang berhubungan dengan jihad serta ditulis oleh ulama-ulama yang berkompeten dan terlibat aktif dalam dunia jihad (ulama ‘amilin) (Samudra, 2004: 108).
Bom Bali, Menurut Imam Samudra, bombing di Bali (peristiwa Bom Bali I), dapat dikategorikan sebagai jihad dalam pengertian secara syari’ah, atau jihad fi sabilillah. Ada beberapa argumen yang dikemukakan oleh Imam Samudra mengapa operasi jihad Bom Bali dilakukan, meskipun dalam dataran tertentu memunculkan teka-teki, adanya korban dari kalangan domestik khususnya kaum muslimin, dan mengapa dilakukan di Bali.
Berdasarkan niat atau rencana target, jelas bahwa bom Bali bagi Imam Samudra merupakan bentuk jihad fi sabilillah, karena yang jadi sasaran utama adalah bangsa-bangsa penjajah AS dan sekutunya yang telah melakukan pembantaian massal terhadap umat Islam di Afghanistan pada bulan Ramadhan tahun 2001 yang disaksikan hampir seluruh umat manusia. AS dan sekutunya adalah bangsa penjajah, pembunuh kaum lemah, pembunuh bayi-bayi yang tidak berdosa, sehingga mereka layak disebut kaum musyrikin yang dhalim yang berhak diperangi sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah dalam al-Qur’an:
“…Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kamu semuanya dan ketahuilah bahwasannya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”. (Q.S. al-Taubah: 36).
Di samping itu, Imam Samudra beralasan bahwa tidak ada kemestian dan keharusan untuk melakukan perlawanan terhadap bangsa-bangsa penjajah itu di Bali. Yang menjadi target adalah personalnya, individunya, manusianya, bukan tempatnya, yaitu penjajah AS dan sekutunya. Artinya, penyerangan terhadap penjajah itu bisa saja dilakukan di AS sendiri, di Jepang, di Jakarta, di Bandung ataupun di kota-kota lainnya. Meskipun demikian, yang perlu diperhitungkan adalah efesiensi dari serangan yang akan dilakukan. Satu kali kerja dengan hasil maksimal adalah lebih baik daripada hasil maksimal tetapi dikerjakan berkali-kali (Samudra, 2004: 120).
Menyerang target homogen lebih efektif daripada target heterogen, dalam artian bercampur dengan bangsa yang bukan sasaran. Target homoghen (AS dan sekutunya) yang terkumpul di satu tempat lebih efektif dan efesien untuk diserang daripada target homogen yang bertebaran. Dari random research yang dilakukan, nyatalah bahwa target homogen terbesar di Bali, tepatnya di Sari Club dan Pady’s Pub, dan operasi jihad pun dilakukan. Korban pun berjatuhan, ratusan nyawa warga AS dan sekutunya melayang.
Banyak orang yang menganggapnya sadis, biadab dan sebagainya.. Namun, yang lebih berhak menjawab apakah tindakan ini sadis atau tidak adalah ribuan nyawa anak-anak tanpa dosa, ribuan anak yang kini cacat seumur hidup di Afganistan, Irak dan Palestina daripada Bush, Howard, para ulama ataupun tokoh penjilat dan munafik lainnya.
Dengan demikian, menurut Imam Samudra bahwa bukan Bali yang jadi sasaran, tetapi warga AS dan sekutunya. Jika ada yang beranggapan bahwa ini sekadar apologi, itu adalah hak mereka yang menilai. Siapapun boleh berkomentar sesuka hati. Jika ternyata ada juga warga sipil Indonesia yang ikut jadi korban, itu semua tidak lain karena man eror yang sama sekali di luar perkiraan dan perhitungan. Karena menurut pengamatan, bahwa pada saat serangan dilakukan pada jam-jam seperti itu, hampir bisa dipastikan tidak ada penduduk lokal berkeliling. Menurut pengamatan pula bangsa-bangsa penjajah itu aktif bermaksiat ria antara pukul 21.00 sampai pukul 24.00 WITA. Mengenai human-error, hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat disesali oleh Imam Samudra (Samudra, 2004: 120-121).
Tentang Amerika dan Sekutunya. Menurut Imam Samudra, telah menjadi pengetahuan umum, bahwa as dan sekutunya telah memiliterisasi rakyat sipil. Sebuah kebohongan jika dikatakan bahwa turis yang melancong ke Indonesia dari bangsa—bangsa tersebut dikatakan sebagai warga sipil. Apalagi beberapa bulan sebelum Oktober 2002, AS dan sekutunya telah memberikan travel warning untuk tidak melakukan kunjungan ke Indonesia. Hal ini tentu menjadi momok yang menakutkan bagi “warga sipil”, dan tentu warga sipil bangsa manapun tidak akan punya keberanian untuk melancong ke Indonesia yang telah diramaikan oleh kasus bom di beberapa kota. Logikanya, orang yang berani datang ke kancah bom pada jelas bukan warga sipil (Samudra, 2004: 109-110)
Teriakan John Howard (Menteri Luar Negeri Australia) sesaat setelah attack 12 Oktober 2002 bahwa “ratusan rakyat sipil” Australia telah menjadi korban “teroris” di Bali, merupakan pemutarbalikan fakta untuk memperoleh simpati dunia, termasuk bangsa Indonesia sendiri. Imam Samudra sendiri mengakui bahwa iktikad ini barangkali masih dianggap sebagai “asumsi ngambang” yang belum bisa diterima sepenuhnya, sehingga, perlu penjelasan untuk mementahkan tuduhan bahwa operasi jihad fi sabilillah di Bali 12 Oktober 2002 ditunjukkan kepada rakyat sipil. Selain itu, penjelasan ini juga diperlukan untuk mengimbangi dakwaan bahwa warga Australia yang tewas adalah warga yang tidak tahu-menahu urusan perang, atau rakyat tidak berdosa seperti yang dikatakan oleh Bush dan Howard. Barangkali keduanya ingin mengatakan; “kalau mau memerangi kami, ya jangan rakyat sipilnya, perangi saja tentaranya, baru gentle” (Samudra, 2004: 110).
Imam Samudra sangat menyayangkan dan menganggapnya sebagai kebusukan ketika ada ulama dari kalangan muslim dengan seenaknya memberikan pernyataan bahwa “apapun alasannya, Islam mengutuk tindakan tersebut. Islam tidak membenarkan memerangi warga sipil dari bangsa dan agama apapun”. Ucapan senada juga terdengar ketika terjadi operasi jihad WTC dan Pentagon pada 11 September 2001. Lalu ulama-ulama munafik yang tidak pernah angkat senjata dan tidak pernah berjihad itu, segera menjilat penjajah Amerika dan mencari muka sambil ketakutan dituduh sebagai teroris dengan mengeluarkan fatwa agar kaum muslimin mendonor darah bagi korban tragedi WTC dan Pentagon, sekalipun korbannya jelas-jelas bangsa penjajah.
Namun sungguh ironis dan menjijikan bahwa ulama-ulama itu tidak berbuat hal yang sama ketika ratusan ribu umat Islam dibantai oleh AS dan sekutunya. Tidak ada sepatah kritik pun dari ulama demi menghentikan kekejaman kafir AS dan sekutunya, apalagi fatwa “mendonor darah”. Mata dan telinga mereka sesungguhnya melihat dan mendengar tragedi menyayat hati yang diderita umat Islam, namun mulut mereka bungkam sejuta bahasa. Hati mereka terbalik sudah, lebih takut kepada penjajah AS dan sekutunya, daripada takut kepada Allah dan membela saudaranya yang seiman dan seakidah (Samudra, 2004: 110-111). Ini patut dipertanyakan, apakah mereka masih muslim, atau sebaliknya termasuk golongan penjajah. Hanya Allahlah yang akan memberikan adzab bagi mereka kelak.
Menurut Imam Samudra, bahwa bangsa yang paling kejam, bejat dan amoral dalam memblow-up isu sipil adalah Israel. Ketika mujahid dan anak-anak kecil intifadhah membalas serangan tentara Israel, diisukan bahwa Palestina menyerang sipil Israel. Sebaliknya, ketika tentara Israel menghancurkan ribuan pendudukan Palestina dan memusnahkan infrastruktur negara, mereka melarang media massa apapun untuk menyiarkan kebiadaban mereka. Trik kotor dan kelicikan ini kemudian diikuti oleh George W. Bush ketika terjadi attack terhadap WTC dan Pentagon, dan John Howard ketika terjadi peristiwa 12 Oktober 2002 (Samudra, 2004: 111).
Ada peristiwa-peristiwa pembantaian sipil muslim yang dilakukan oleh penjajah AS dan sekutunya di negara muslim yang tidak mungkin terlupakan oleh mereka yang mengaku Islam;. Pertama, pada tahun 1991, AS melalui PBB telah mengembargo Irak dengan alasan yang tidak bisa diterima oleh akal sehat, sehingga mengakibatkan kematian lebih dari 600.000 bayi di Irak. Angka ini kemudian berkembang menjadi 1,5 juta bayi. Kedua, Pada periode kepemimpinan Taliban (1994-2001), AS mengembargo Afganistan melalui trik PBB dengan alasan yang juga tidak masuk akal pula hingga ribuan sipil Afganistan menjadi korban. Ketiga, ratusan ribu sipil Palestina dibantai oleh Israel dengan bantuan peralatan dan finansial AS. Kebiadan kasat mata itu disaksikan oleh seluruh dunia, namun dunia tetap bungkam. Keempat, pasca WTC dan Pentagon 2001, AS dan sekutunya mementaskan kebrutalan dan kebiadaban sangat luar biasa sehingga ratusan ribu jiwa dari kalangan sipil terutama bayi-bayi Afganistan meninggal dunia akibat dijatuhi ribuan ton bom. Dunia tahu bahwa semua yang jadi sasaran itu adalah murni rakyat sipil muslim (Samudra, 2004: 111-112).
Keangkuhan dan kebrutalan yang dipamerkan Amerika dan sekutunya menurut Imam Samudra (2004: 114) jelas meninggalkan pesan “telanjang” kepada kaum muslim; pertama, Kami adalah kebenaran, dan selain kami adalah salah. Kedua, Hanya kami yang boleh membunuh dan memerangi siapapun, bangsa manapun, yang kami anggap salah. Ketiga, Mereka yang melwan kami adalah teroris dan wajib kami perangi bersama seluruh bangsa dunia yang “berperadaban”. Keempat, Apapun yang kami lakukan adalah atas dasar “kebenaran, keadilan, dan peradaban”. Kelima, Kami boleh, sah, dan dibenarkan membunuh warga sipil terutama muslim di mana pun dan kapan pun kami suka dan mau. Sedangkan warga sipil kami tidak boleh dibunuh atau diperangi. Keenam, Memerang warga sipil kami adalam bentuk apapun hanya dilakukan oleh “teroris” dan bangsa yang tak berperadaban.
Menurut Imam Samudera Amerika sangat paradoks. Hal tersebut sangat terlihat pada peristiwa kamikaze WTC dan Pentagon, AS sengaja mengekspos WTC secara berlebihan, sebaliknya menihilkan serangan terhadap Pentagon. Sebab, di satu sisi mereka menderita “hilang muka” yang luar biasa karena markas militer yang menjadi mitos tercanggih di dunia itu akhirnya jebol oleh serangan yang tidak terdeteksi. Karena itulah mereka sengaja menutupi rasa malu dengan mengekspos berita WTC melebihi data sebenarnya. Tujuannya, membentuk opini bahwa korban WTC adalah “sipil” yang tidak pantas dibunuh yang pelakunya harus dihukum oleh peradilan internasional. AS dan sekutunya pun menggelar operasi pembantaian yang diberi judul oleh mereka sendiri sebagai infinitive justice (perang salib) (Samudra, 2004: 114).
Semua kejahatan dan kezaliman AS dan sekutunya menurut Imam Samudra tidak boleh dibiarkan begitu saja. Umat Islam harus bangkit melawan dengan sagala daya upaya. Perlawanan yang disyari’atkan oleh Islam adalah dengan cara jihad. Karenanya, bom Bali merupakan salah satu bentuk jawaban perlawanan terhadap penjajahan AS dan sekutunya yang memang harus dilakukan.
Imam Samudra sendiri menyadari bahwa peperangan terhadap warga sipil atau orang kafir yang tidak terlibat peperangan secara langsung tidak diperbolehkan. Menurutnya, bahwa ayat pertama al-Qur’an tentang jihad adalah memerangi kaum kafir sebatas mereka memerangi Islam.
Peperangan, di manapun, lazimnya dilakukan oleh militer. Tentara melawan tentara. Hal ini telah terjadi sejak zaman Romawi, atau ketika peperangan Islam melawan Persia pada awal tersebarnya Islam. Begitu juga peperangan konvensional pada umumnya. Karenanya, Islam melarang “berbuat berlebihan” atau “melampaui batas” sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas tentang maksud melampaui batas yaitu “dilarang membunuh wanita dan anak-anak, dilarang merusak tumbuh-tumbuhan, juga dilarang membunuh orang tua jompo dan ahli ibadah” (Samudra, 2004: 115). Menurut Imam Samudra, selagi penjajah AS dan sekutunya tidak memerangi dan membantai sipil muslim, selama itulah kaum muslimin diharamkan memerangi sipil kafir.
Namun yang terjadi sebaliknya, AS dan sekutunya telah, sedang dan akan terus membantai warga sipil bangsa-bangsa muslim. AS dan sekutunya telah melampaui batas yang karenanya, perang dibalas perang, darah dibalas darah, nyawa dibalas nyawa, pelampauan batas dibalas dengan pelampauan batas pula, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an:
…“… Barang siapa melampaui batas terhadap kami maka balasalah serangan mereka seimbang dengan yang mereka lakukan terhadap kamu …”. (Q.S. al-Baqarah: 194).
Wahai kaum muslimin, teriak Imam Samudra membiarkan Baitul Maqdis dan Haramain dalam cengkraman Zionis dan Salibis bukanlah tindakan damai, bukan pula tanda keselamatan, apalagi kesejahteraan. Bersikap masa bodoh atas itu semua adalah tindakan bodoh dan membawa kebinasaan. Membiarkan ribuan muslim diperkosa oleh kaum kafir di berbagai belahan dunia, bukanlah tindakan cinta damai, bukan pula rahmatan lil ‘alamin. Ketidakpedulian atas semua itu semua adalah tindakan pengkhianatan (Samudra, 2004: 81).
Untuk itu…………….
Kita akan ikuti pertempuran
Demi pertempuran bersama para mujahid
Kan kupimpin kekuatan
Dalam setiap pertempuran
Dengan senjata tajam terhunus
Dengan senjata api terkokong
Kan kami bebaskan bumi ini
Dari tangan-tangan najis Yahudi dan Nasrani
Kan kita kembalikan Baitul Maqdis, di kota kudus kepada suci hakiki, setelah dihinakan dan dinodai oleh mereka keturunan kera dan babi
Kita tak pernah ridha dan rela
Dengan sekeping dan sejengkal tanah
Yang dijajah oleh drakula di haus darah
Takkan kita biarkan sejengkal tanah terhina
Takkan kita biarkan setetes darah tercurah
Terlantar tanpa pembelaan
Dengan senjata tajam terhunus
Dengan sejata api terkokong
Kita kembalikan hak-hak yang terampas
Dari si Yahudi dan Nasrani
Calon penghuni neraka yang panas (Samudra, 2004: 96).

Ingat strategi dan taktik mereka terhadapmu, bersiap dan hati-hatilah.
Jika seorang mukmin telah kosong melompong nilai agamanya. Bahkan menyetuji kaum kafir berikut hukum yang mereka berada di dalamnya (hukum kafir), niscaya kaum kafir itu akan berdamai dan membiarkan hidup tanpa siksa dan derita. Lebih dari itu, mereka akan bersikap lembut (ko-operatif), bersahabat, bahkan membela semampu mereka (Samudra, 2004: 219).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: