NESTOR PAZ; SANG GERILYAWAN HEROIK DARI BOLIVIA

Bolivia adalah negara penuh dengan pelemik antara rakyat dengan pemerintah. Hal ini disebabkan kaum oligarkhi Bolivia, yang bekerja sama dengan modal internasional dan bisnis multinasional selalu berkolaborasi dengan birokrat negara dan angkatan bersenjata untuk  melakukan kekerasan represif berupa penculikan, membunuh, memenjarakan tanpa pengadilan dan lain-lain terhadap rakyat. Disamping itu,  kemiskinan dan ketidakadilan merajalela, pengangguran merebak, kesenjangan pelayanan kesehatan di mana-mana, dan tingkat buta huruf tinggi. Situasi demikian, membuat banyak para pejuang terpanggil untuk membebaskan tanah Bolivia dari penjajahan sistemik, mulai dari Che Guevara dengan kampanye gerilya Nancahuazu sampai sang Pastor Nestor Paz dengan kampanye Teoponto.
Nestor Paz adalah anak ketiga dari lima bersaudara, lahir tanggal 9 Oktober 1945 di Sucre, Bolivia. Ayahnya adalah seorang Jenderal angkatan bersenjata Bolivia, yang kemudian menjadi Gubernur Sucre. Sehingga tidak mengherankan keluarga Paz adalah keluarga yang terkenal dan sekaligus disegani.
Nestor terkenal sebagai pemuda yang kuat, mura hati dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Ketika memasuki sekolah menengah atas di Jesuit Colegio del Sagrado Corazon de Sucre. Pastor Jesuit menyatakan bahwa; “Kemurahan hatian dan kepercayaan diri Nestor membuatnya menonjol dalam pelajaran dan dalam olahraga. Ia selalu mengikuti keyakinannya hingga konsekuensi terakhir.”
Pada tahun 1959 Nestor memasuki seminari menengah, dan tahun 1962 melanjutkan ke Novisiat CSsR (Redemptorist) di Cordoba, Argentina. Tahun 1963, lewat perantara Wakil Uskup La Paz, Armando Gutierrez, Nestor pindah belajar ke Santiago Chili sampai tahun 1966.
Setelah lulus dari seminari, tahun 1967 Nestor mendaftarkan diri ke sekolah kedokteran di Universitas san Andres di La Paz. Di sana waktunya habis untuk bekerja dan mengajar agama di Kolese St. Andreas. Sekaligus mencoba untuk mengorganisasikan para pekerja muda di daerah Bario Obrajes dan membangun kesadaran sosial, kesadaran kelas dan komitmen atas Kristiani.
Nestor mensintesiskan nilai-nilai keKristenan dengan pemikiran Marxis, khususnya melalui perjanjian baru dan kitab Mazmur, dan karya-karya Che Guevara untuk menyukseskan komitmennya tersebut. Dalam pekerjaan ini, Nestor di dampingi Cecilia Avila (Cecy) seorang pemudi cerdas dan murah hati yang bertemu pertama kali dengannya di Universitas San Andres La Paz, di mana Nestor belajar ilmu kedokteran, dan Cecy mempelajari Biokimia. Keduanya kemudian hari tepatnya tanggal Minggu Paskah, 14 April 1968 resmi menjadi suami istri.
Cita-cita Nestor terhadap keluarganya; Aku tidak ingin mewarisi anak-anak kami dengan pandangan hidup yang didasarkan pada kompetisi sebagai alat untuk memiliki atau pemilikan sebagai ukuran nilai seseorang. Saya percaya bahwa mengangkat senjata adalah cara yang mujarab untuk melahirkan manusia merdeka. Pesan kami hanya satu kemenangan atau mati.
Nestor memiliki afeksi yang sangat mendalam terhadap perjuangan Comilo Torres di Columbia, Che Guevara dan Santo Fransiskus Asisi, seorang Santo yang lembut dengan kasih yang tiada tara kepada kaum miskin. Bahkan Nestor kemudian menggunakan nama ”Fransisco” sebagai nama perangnya, ketika mulai mengikuti kampanya gerilya.
Pada bulan Agustus 1968 lebih dari 900 Pastor dari Meksiko hingga Argentina mengirimkan sebuah dekomen yang berjudul ”Amerika Latin; Sebuah Benua Kekerasan”, kepada Sidang Para Uskup Amerika Latin di Medellin Kolombia. Isi dekomen tersebut menjelaskan bahwa beberapa abad, Amerika Latin telah menjadi benua kekerasan yaitu kekerasan tentang kaum minoritas – istimewa yang sejahtera melawan kaum mayoritas yang terampas kesejahteraannya. Suatu kekerasan tentang kelaparan, ketidakberdayaan, keterbelakangan, kekerasan dari pengejaran, kelalaian dan penindasan.
Dua tahun setelah pertemuan para pastor, Nestor bergabung dalam barisan Bolivian Ejercito de Liberacion Nacional, ELN. ”Melawan penindasan lewat jalan revolusi” pesan Nestor Paz saat berangkat bergabung dengan gerilyawan di Teoponte.
”Selama darah masih mengaliri nadi kami, kami akan berusaha agar suara yang terputus-putus dari kaum yang dieksploitasi didengarkan. Hidup kami tidak kami permasalahkan bila kami dapat menjadikan Amerika Latin, La Patria Grande sebagai daerah yang bebas, milik rakyat yang merdeka, menentukan ideologi dan garis hidupnya sendiri.”
”Kami semua mengangkat senjata untuk membela mayoritas yang dibiarkan tetap buta huruf dan kelaparan; kami ingin membebaskan mereka dari eksploitasi dan membebaskan mereka dari penindasan segelintir minoritas untuk memenangkan kembali martabat manusia demi mereka yang tidak dianggap sebagai manusia.”
”Kami tahu bahwa kekerasan itu menyakitkan karena kami merasakan sendiri dalam daging kami, penindasan dengan kekerasan dalam kekacauan yang mapan ini, tetapi ingat, kami ditakdirkan untuk membebaskan manusia karena kami melihatnya sebagai saudara kami. Untuk itulah kami memilih senjata, karena inilah satu-satunya jalan yang tersisa. Manusia ada sebelum hari sabat, dan bukan sebaliknya.” teriaknya berapi-api.
Komando tinggi ELN menggemakan semboyan ideologis ”Valvimos A Las Montanas” (kami telah kembali ke pegunungan) saat mengumumkan dimulainya tahap perjuangan bersenjata bagi pembebasan Bolivia dan menyebutkan nama-nama 24 perusahaan multinasional yang telah melakukan penetrasi terhadap kehidupan perekonomian bolivia, dan mengeruk keuntungan dari situasi tersebut. Di samping itu, juga mengumumkan sektor-sektor strategis industri dalam negeri yang dikuasai oleh modal asing; pertambangan, transfortasi, komunikasi, minyak dan gas, karet, liquor, tembakau dan sektor perbankan. ELN juga menyebutkan proklamasi Jenderal Avando komandan rejim yang berkuasa bahwa pemerintahannya ”Nasionalis Revolusioner” sebagai sebuah ketidakjujuran dan peniupuan. Sebagai respon atas situasi demikian, ELN memilih perjuangan senjata dan memulai front gerilya dalam bentuk kampanye Teoponte dengan dua tujuan; Untuk menghasilkan akibat politik yang lebih dalam, dan menekan kelemahan militer. Namun kampanye Teoponte berakhir dengan kekalahan dan kematian di pihak ELN.
Tanggal 6 Oktober 1970, kelompok ELN yang tersisa membagi dua kompok, salah satu kelompok terdiri dari Omar, Ganton, Jesus, Santiago, Regelio, Quiro, Fransisco (Nestor), dan Jose Miguel. Mereka berhenti di pinggir sungai bernama Mariapo. Namun pukul 11. 00 Omar, Gaston, Santiago, Rigelio, Jesus pergi dan berjanji akan membawakan makanan. Sementara kondisi Nestor semakin memburuk bahkan sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya sendiri. Hari berikutnya kondisi Nestor semakin parah, dan mengalami kesulitan untuk makan.
Tanggal 8 Oktober 1970 pukul 07. 00 Nestor masih sempat menyatakan keinginannya; ”Aku ingin bersama Cecy di hari ulang tahunku dan makan bubur yang dimasaknya. Cecyku yang malang. Aku sangat mencintainya”. Tepat jam 12. 00 Nestor Paz meninggal dunia. Jose Miguel Celis Gonzales (Alberto) dan Quiro menangis. Karena kesulitan menguburkan jasad Nestor karena mereka terutama Quiro tidak punya kekuatan untuk melakukannya bahkan Quiro sudah dihantui rasa putus asa.
Tanggal 11 Oktober saat perlengkapan makanan mereka sudah habis kecuali garam dan air. Situasi semakin buruk karena dagu Quiro tertembak senjata sendiri saat akan menembak burung. Tubuh Nestor mulai membusuk, banyak serangga di atasnya. Jose kemudian ingin menguburnya, namun tidak ada perlengkapan kecuali sebuah pisau yang ditinggalkan oleh Gaston. Lalu ia menutup tubuh Nestor dengan tempat tidur gantungannya dan menjahitnya seperti mumi. Setelah itu, tubuh Nestor diikatnya untuk pergi sebentar ke air. Saat tali dilepas, tubuh berguling hingga menabrak batang pohon dan ditinggalkan di pinggir sungai.
Tanggal 12 Oktober, walaupun jarak jasad Nestor jauh sekitar 50 meter, tetapi baunya sangat bau sehingga Jose tidak dapat tidur. Jose kemudian mencoba untuk memindahkan jasad Nestor ke seberang sungai. Saat tali masuk ke dalam air, jasad Nestor mengapung dan cepat tengah sungai. Apa daya, Jose tidak kuat membawanya dan ia hanyut beserta Jasad Nestor.
Nestor meninggal tiga tahun setelah kematian Che Guevara. Dokumen resmi dari ELN yang berisikan nama-nama kombatan dan korban secara singkat mencatat; Nestor Paz Zamora (Fransisco) Ex Seminari, guru agama, warga Bolivia, meninggal kelaparan. Sebuah contoh dari kepahlawanan dan cinta kepada manusia. Perjuangnnya untuk menjadi manusia baru adalah contoh bagi kaum revolusioner.
Kematiannya meninggalkan sebuah kisah pilu, namun Nestor masih meninggalkan sebuah kenangan perjuangan heroik mereka dalam kampanye Teoponto dalam catatan harian berjudul My Life for My Friend.
Omar atau Jorge Gustavo Ruiz Paz sepupu Nestor menyatakan: “Nestor membagi pemikirannya kepada kami selama diskusi dan refleksi yang kami lakukan tiap malam. Ia membuat kami menyadari bahwa kami harus melihat sesuatu secara lebih dalam, dan bahwa kami harus memandang jauh melampaui hari ini maupun esok.”

Sumber; Dikutip dari berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: