JOHN STUART MILL; UTILITARIANISME

JOHN STUART MILL; UTILITARIANISME

Abstrak
Utilitarianisme merupakan bagian dari etika filsafat mulai berkembang pada abad ke 19 sebagai kritik atas dominasi hukum alam. Sebagai teori etis secara sistematis teori utilitarianisme di kembangkan Jeremy Betham dan muridnya, John Stuart Mill. Utilitarianisme disebut sebagai teori kebahagiaan terbesar (the greatest happines theory). Karena utilitiarianisme dalam konsepsi Bentham berprinsip the greatest happiness of the greatest number. Kebahagiaan tersebut menjadi landasan moral utama kaum utilitarianisme, tetapi kemudian konsep tersebut di rekonstruksi Mill menjadi bukan kebahagiaan pelaku saja, melainkan demi kebahagiaan semua. Dengan prinsip seperti itu, seolah-olah utilitarianisme menjadi teori etika konsekuensialisme dan welfarisme.

Kata Kunci: Utilitarianisme, Jaremy Bentham, John Stuart Mill, kesenangan, kebebasan.

Pendahuluan
Etika merupakan bagian dari filsafat. Di lihat dari ilmu dan filsafat, etika bertujuan mencari kebenaran dan mencari kerangan (benar) yang sedalam-dalamnya. Selanjutnya, mencari ukuran baik dan buruk bagi tingkah laku manusia (Poepjawiyatna, 1990: 6). Persolan etika muncul ketika moralitas seseorang atau suatu masyarakat mulai ditinjau kembali secara kritis. Moralitas berkenaan dengan tingkah laku yang konkrit, sedangkan etika bekerja dalam level teori (Taylor, tth: 3).
Sebagai bagian dari etika, Utilitarianisme merupakan salah satu teori besar etika yang muncul pada abad 19. Kemunculannya di latarbelakangi oleh keinginan besar untuk melepaskan diri dari belenggu doktrin hukum alam. David Hume dan Helvetius, dan Beccaria adalah arsitek utama doktrin Utilitarianisme tersebut. Namun, Jemery Bethamlah (1748-1832) yang berhasil merumuskannya dalam sebuah teori formal tentang refomasi sosial sehingga menjadi kiblat bagi kelas menengah. Sebab konsep yang ditawarkan sangat mendukung eksistensi dan kepentingan mereka (Schmand, 2002: 441).
Utilitarianisme terkadang disebut dengan Teori Kebahagiaan Terbesar yang mengajarkan tiap manusia untuk meraih kebahagiaan (kenikmatan) terbesar untuk orang terbanyak. Karena, kenikmatan adalah satu-satunya kebaikan intrinsik, dan penderitaan adalah satu-satunya kejahatan intrinsik. Oleh karena itu, sesuatu yang paling utama bagi manusia menurut Betham adalah bahwa kita harus bertindak sedemikian rupa sehingga menghasilkan akibat-akibat baik sebanyak mungkin dan sedapat dapatnya mengelakan akibat-akibat buruk. Karena kebahagianlah yang baik dan penderitaanlah yang buruk (Shomali, 2005: 11).
Kebahagiaan tercapai jika ia memiliki kesenangan dan bebas dari kesusahan. Suatu perbuatan dapat dinilai baik atau buruk sejauh dapat meningkatkan atau mengurangi kebahagiaan sebanyak mungkin orang. Prinsip kegunaan harus diterapkan secara kuantitatif, karena kualitas kesenangan selalu sama sedangkan aspek kuantitasnya dapat berbeda-beda. Dalam pandangan utilitarisme klasik, prinsip utilitas adalah the greatest happiness of the greatest number (kebahagiaan yang sebesar-besarnya bagi sebanyak mungkin orang). Hal ini dapat dipahami bahwa di mana kebahagiaan disamakannya dengan kenikmatan dan dengan kebebasan perasaan sakit. Berkat konsep fundamentalnya tersebut Jeremy Betham diakui sebagai pemimpin kaum Radikal Filosofis yang sangat berpengaruh. Akan tetapi teori yang di usung Betham tersebut mempunyai banyak kelemahan terutama tentang moralitas, sehingga para pengkritik mencelanya sebagai pig philosophy; filsafat yang cocok untuk Babi. Salah paham tersebut kemudian berusaha diluruskan kembali oleh pengikutnya, Jhon Stuart Mill (Suseno, 1998: 173).

Definisi Istilah
Utilitarianisme secara etimologi berasal dari bahasa Latin dari kata Utilitas, yang bearti useful, berguna, berfaedah dan menguntungkan. Jadi paham ini menilai baik atau tidaknya, susila atau tidak susilanya sesuatu, ditinjau dari segi kegunaan atau faedah yang didatangkannya (Salam, 1997: 76). Sedangkan secara terminology utilitarianisme merupakan suatu paham etis yang berpendapat bahwa yang baik adalah yang berguna, berfaedah, dan menguntungkan. Sebaliknya, yang jahat atau buruk adalah yang tidak bermanfaat, tak berfaedah, merugikan. Karena itu, baik buruknya perilaku dan perbuatan ditetapkan dari segi berguna, berfaedah, dan menguntungkan atau tidak (Mangunhardjo, 2000: 228).
Menurut Jhon Stuart Mill sebagaimana dikutip Jalaluddin Rakhmat Utilitarianisme adalah aliran yang menerima kegunaan atau prinsip kebahagiaan terbesar sebagai landasan moral, berpendapat bahwa tindakan benar sebanding dengan apakah tindakan itu meningkatkan kebahagiaan, dan salah selama tindakan itu menghasilkan lawan kebahagiaan. Sedangkan kebahagiaan adalah kesenangan dan hilangnya derita; yang dimaksud dengan ketakbahagiaan adalah derita dan hilangnya kesenangan (Rakhmat, 2004: 54). Utilitarianisme merupakan pandangan hidup bukan teori tentang wacana moral. Moralitas dengan demikian adalah seni bagi kebahagiaan individu dan sosial. Dan kebahagiaan atau kesejahteraan pemuasan secara harmonis atas hasrat-hasrat individu (Aiken, 2002: 177-178).

Perkembangan Utilitarianisme
Will Kymlicka membagi utilitarianisme dalam empat varian sesuai dengan sejarah perkembangannya. Pada tahap pertama, utilitarianisme diartikan sebagai hedonisme kesejahteraan (walfare hedonism). Ini adalah bentuk utilitarianisme paling awal yang memandang bahwa pemenuhan kebahagiaan manusia terletak pada terpenuhinya hasrat kesenangan manusia yang bersifat ragawi. Akan tetapi, model utilitarianisme ini sangat tidak tepat sasaran, sebab boleh jadi apa yang terasa nikmat belum tentu baik bagi individu. Oleh karena itu, muncul jenis utilitarianisme kedua, utilitas bagi keadaan mental yang tidak beriorientasi hedonis (non-hedonistic mental-state utility). Pada perkembangan ini, aspek hedonistik dihilangkan dan diganti dengan kesenangan yang menjamin kebahagiaan. Utilitarianisme dipahami sebagai terpenuhinya semua pengalaman individu yang bernilai, darimana pun hal itu berasal (Kymlicka, 1990: 12-13).
Utilitarianisme model kedua juga menyimpan persoalan, karena pengalaman yang bernilai ternyata tidak satu, dan tidak mungkin semua pengalaman bernilai itu terpenuhi dalam satu waktu. Individu harus memilih. Utilitarianisme model ketiga adalah terpenuhinya pilihan-pilihan individu. Utilitarianisme tahap ini disebut sebagai pemenuhan pilihan (preference satisfaction). Utilitarianisme tahap ini mengandaikan adanya unsur keterlibatan rasionalitas dalam memenuhi utilitas. Pada tahap terakhir, utilitarianisme diartikan sebagai terpenuhinya pilihan-pilihan rasional individu yang berdasar kepada pengetahuan dan informasi yang utuh mengenai pilihan-pilihan tersebut. Utilitarianisme ini disebut pilihan yang berbasis informasi (informed preference) (Kymlicka, 1990: 15-16).
Rasionalitas atau informed preference bukan malah semakin membebaskan manusia dan menunjukkan jalan terbaik bagi pemenuhan kebutuhan manusia, malah akan menjadi legitimasi bagi totalitarianisme. Apalagi, utilitarianisme terkenal dengan semboyan “The greatest happiness of the greatest number” (kebahagiaan yang sebesar-besarnya bagi sebanyak mungkin orang) (Kymlicka, 1990: 12).

Biografi Singkat John Stuart Mill
John Stuart Mill adalah putra dari James Mill yang lahir di London pada tahun 1806. Mill muda tidak pernah sekolah, namun ayahnya memberi suatu pendidikan yang sangat baik. Terbukti sejak kecil usia 3 tahun sudah diajari bahasa Yunani, bahasa Latin pada usia 8 tahun, serta ekonomi politik dan logika (termasuk karya asli Aristoteles) pada usia 12 tahun dan mendiskusikannya dengan ayahnya. Selanjutnya Mill mempelajari ekonomi, Demonthenes dan Plato khususnya pada metode dan argumentasi (Mudhofir, 2001: 362).
Pada usia 15 tahun, ia membaca karangan Jeremy Betham dan berhasil mempengaruhi paradigma berfikirnya, sehingga ia mematangkan pendapatnya dan memantapkan tujuannya untuk menjadi ”Sosial Reformer” (pembaharu sosial). Ketika berusia 17 tahun, Mill bekerja di India House Company, di mana Ia mengabdi selama tiga puluh lima tahun sampai perusahaan tersebut bubar pada tahun 1853. Selama tahun 1865-1868 Mill menjadi anggota dalam Lower House parlemen Inggris (Suseno, 2003: 177).
Sejak kecil John Stuart Mill juga mendapatkan pendidikan langsung dari pamannya Jeremy Betham. Sehingga tidak mengherankan ketika berusia 20 tahun, Mill sudah terkenal sebagai pemimpin gerakan utilitarianisme yang kritis. Di samping itu, ketika bekerja di India Company, Ia selalu meluangkan banyak waktu untuk melakukan pengembaraan intelektual dan menyebarkan ajaran utilitarianisme melalui surat kabar dan jurnal (Schmandt, 2004: 454).
Mengingat pekerjaannya yang begitu intensif, tidaklah mengherankan bahwa pada tahun 1826 ia mengalami keambrukan karena sakit saraf. Namun, krisis mental itu mempunyai efek yang positif. Ia mulai membebaskan diri dari filsafat Jeremy Betham dan mengembangkan pahamnya sendiri tentang utilitarianisme. Paham ini dirumuskannya dalam essay Utilitarianism dari tahun 1864, yang kemudian menjadi bahan sebuah diskusi hebat selama hampir seluruh akhir abad ke 19, terutama di Inggris. Paham khas tentang utilitarianisme yang dirumuskan Mill merupakan sumbangan penting kepada filsafat moral. Ia meninggal di Avigron di Prancis pada tahun 1873.
Mill adalah seorang penulis yang produktif. Tulisan-tulisannya tentang ekonomi dan kenegaraan dibaca luas. Salah satu tulisannya paling gemilang dalam etika politik segala zaman adalah bukunya On Liberty di tahun 1859, yang merupakan pembelaan kebebasan individu terhadap segala usaha penyamarataan masyarakat. Tulisan lainnya yang penting adalah System of Logic; Principles of Political Economy, Considerations on Representative Government, dan Subjection of Women. Mill menjadi tokoh intelektual liberalisme Inggris kedua yang tidak lagi membela paham laissez faire klasik, melainkan memperhatikan tuntutan-tuntutan keadilan social (Magnis Suseno, 1998: 177-178).
.
Pemikiran Tentang Kebahagiaan
John Stuart Mill menyatakan bahwa ada dua sumber pemikiran utilitarianisme. Pertama, dasar normatif artinya suatu tindakan dianggap benar kalau bermaksud mengusahakan kebahagiaan atau menghindari hal yang menyakitkan, dan buruk kalau bermaksud menimbulkan hal yang menyakitkan atau tidak mengenakkan. dan Kedua, dasar Psikologi artinya dalam hakikat manusia berasal dari keyakinannya bahwa kebanyakan, dan mungkin saja semua, orang punya keinginan dasar untuk bersatu dan hidup harmonis dengan sesama manusia (Salam, 1997: 77-78).
Utilitarianisme menggunakan utility (manfaat) atau kebahagiaan terbesar (the greatest happiness) sebagai dasar moralitas. Dasar tersebut menyatakan bahwa tindakan adalah benar jika condong untuk menambah kebahagiaan atau salah jika condong untuk menimbulkan keburukan (Titus, Smith, dan Nolan, 1984: 149). Jadi suatu tindakan adalah baik hanya jika memaksimalkan kebahagiaan manusia dan hasil akhir dari suatu tindakan jauh lebih penting dari pada motivasi di belakangnya. Artinya, memaafkan kebohongan bilamana memiliki faedah (yakni kegunaan) yang memadai untuk lebih membantu orang dari pada mencelakakannya. Dengan demikian, misalnya mencuri bisa diterima secara moral, jika mencuri dikarenakan untuk memberi makan anak-anak yang kelaparan (Palmquist, tth: 300).
Karena tujuan perbuatan manusia dan ukuran moralitas adalah hidup bebas dari kesedihan, dan kaya se kaya-kaya nya dalam kesenangan, baik dalam kualitas maupun kuantitasnya. Bagi Mill kebajikan tidaklah berlawanan dengan kebahagiaan. Kebajikan adalah salah satu unsur yang membuat bahagia (Poespoprodjo, 1999: 62-63).
Lebih dari itu lanjut Mill, tolak ukur moralitas kebahagiaan kaum utilitarianisme bukan kebahagiaan pelaku saja, melainkan demi kebahagiaan semua. Mungkin akan muncul pertanyaan: apa yang dapat menggerakkan saya untuk berkurban demi kebahagiaan orang lain? Untuk menjawab pertanyaan ini Mill memakai teori psikologi tentang asosiasi: Asal saja orang membiasakan diri untuk mengaitkan kebahagiaan nya sendiri dengan kebahagiaan seluruh masyarakat, maka motivasi untuk mengusahakan kebahagiaan sendiri juga akan mendorongnya untuk mengusahakan kebahagiaan masyarakat (Suseno, 1998: 174).
Menurut Mill, semula manusia memang bukan menginginkan keutamaan (atau uang dan sebagainya) demi dirinya sendiri, melainkan hanya sebagai sarana untuk menjadi bahagia. Karena manusia menyadari bahwa ia hanya dapat menjadi bahagia apabila memiliki keutamaan, maka ia mengusahakan agar ia memilikinya. Tetapi dengan terus mengejar keutamaan, lama-kelamaan keutamaan dikaikan sedemikian erat dengan kebahagiaan sehingga seakan-akan menjadi bagian dari kebahagiaan (Suseno, 2003: 184).
Bagi Mill bahwa keinginan untuk memeroleh kesenangan yang besar merupakan satu-satunya motif tindakan individu, dan bahwa kebahagiaan yang paling besar dari setiap orang merupakan patokan bagi kebaikan masyarakat dan sekaligus menjadi tujuan dari semua tindakan moral
Kebahagiaan adalah kesenangan (pleasure) dan bebas dari perasaan sakit (pain) sedang ketidakbahagiaan berarti adanya perasaan sakit (pain) dan tidak adanya kesenangan. Maka, Ada dua hal yang dapat dipahami, Pertama, moralitas tindakan diukur dari sejauh mana diarahkan kepada kebahagiaan, dan Kedua, kebahagiaan sendiri terdiri atas perasaan senang dan kebebasan dari rasa sakit (Suseno, 2003: 181). Bagi Mill kebahagiaan terbagi dalam enam disposisi, yaitu: Pertama, baik dalam bidang pikir maupun kerja, terdapat konsekuensi-konsekuensi senang dan susah. Satu-satunya yang diinginkan ialah kesenangan, sebagai konsekuensi logis.
Kedua, dari segi psikologi, di mana pun manusia berada, apa pun yang mereka kerjakan, sudah menjadi wataknya, manusia itu selalu mendambahkan/menginginkan kesenangan.
Ketiga, antara kesenangan-kesenangan itu sendiri kualitasnya tidak sama. Sudah tentu orang akan memilih jenis kesenangan yang menurut anggapannya lebih baik dan lebih sesuai dengan dirinya.
Keempat, bahwa kesenangan itu sendiri dapat dirasakan oleh banyak orang. Bila masih ada hal-hal lain yang diperlukan di luar dari kesenangan maka hal-hal lain itu tidak lebih daripada pelengkap dari kesenangan itu sendiri.
Kelima, bahwa bila terdapat dua jenis kesenangan yang dianggap sama, maka yang dijadikan kriteria untuk memilih mana di antaranya yang terbaik, maka dipilihlah yang paling lama memberikan kesan, yang paling lama dapat dinikmati tanpa mengaitkan penilaian itu dengan biayanya.
Keenam, bahwa kesenangan itu adalah merupakan suatu yang paling pantas diterima oleh seseorang yang telah bekerja, telah berusaha dan telah berjuang dalam hidupnya (Salam,1997: 92-93)..
Mill berusaha menunjukkan bahwa kebahagiaan mempunyai karakteristik kualitatif dan kuantitatif. Sehingga bukan merupakan penyimpangan dari prinsip utilitas dengan mengakui kenyataan bahwa beberapa jenis kesenangan mempunyai kualitas lebih tinggi dibandingkan yang lain. Satu orang mungkin lebih memilih satu kesenangan dari kesenangan lainnya meskipun itu diperoleh dengan ketidakpuasan yang lebih besar. Individu yang bijak menuntut lebih dari sekedar kesenangan lahiriah (sensual pleasure) untuk membuatnya bahagia. Bagi orang seperti ini, ketidakpuasan di bawah kondisi tertentu lebih baik dari kepuasan. ”Lebih baik menjadi manusia yang tidak puas daripada menjadi babi yang puas; lebih baik menjadi Sokrates daripada orang tolol yang puas (Schmandt, 2002: 455-456).
Bagaimana orang bisa menentukan manakah dari dua kesenangan yang mempunyai nilai lebih intrinsik? Mill menyatakan bahwa keputusan dari orang yang mengalami kedua kesenangan itu harus dijadikan pedoman. Karena perbandingan antara kualitas kesenangan pada dasarnya tidak berbeda dengan perbandingan kuantitas, bahkan perbandingan yang disebut terakhir ini harus dijadikan acuan sebagai keputusan orang yang paling kompeten (Schmandt, 2002: 456).
Utilitarianisme mengungkap suatu penghayatan moral yang kritis dan rasional. Tidak diakui bahwa ada tindakan-tindakan yang pada dirinya sendiri wajib atau terlarang. Pada dirinya sendiri semua tindakan dianggap netral. Yang memberi nilai moral kepada tindakan-tindakan itu ialah tujuannya dan akibat-akibatnya sejauh dapat diperhitungkan sebelumnya. Misalnya hal hubungan seks di luar perkawinan. Seorang utilitaris tidak akan menerima bahwa hal itu begitu saja tidak boleh. Ia akan menuntut agar diberikan alasan-alasan yang masuk akal dengan mempertimbangkan akibat-akibat baik dan buruk dari hubungan seks di luar perkawinan, baru ia memberi penilaian apakah boleh atu tidak (Suseno, 2002: 124).
Utilitarianisme sebagai pendirian etis terasa masuk akal, tidak dapat dipersoalkan karena memang jelas yang disikapi. Apa arti berbuat baik bila tak mendatangkan kegunaan, manfaat, keuntungan apa pun macam dan tingkatnya? Menurut Utilitarianisme semua perbuatan baru dapat dinilai jika akibat dan tujuannya sudah dipertimbangkan. Sebelum itu netral; semua peraturan tidak dengan sendirinya harus ditaati. Sebelum ditaati, peraturan itu harus dipertanggungjawabkan akibatnya bagi mereka yang terkena. Karena pada hakekatnya manusia tidak hidup sendirian, tetapi bersama-sama orang lain dan harus memperhitungkan mereka dalam perilaku dan tindakannya (Mangunhardjo, 2000: 229).
Mill menolak anggapan bahwa utilitarianisme sama dengan opurtunisme yang selalu memilih apa yang paling bermanfaat. Bagi Mill prinsip manfaat hanya kalau dapat membenarkan tuntutan mutlak seperti jangan berbohong, karena kalau larangan itu mutlak, kepercayaan antara manusia dapat dipertahankan., padahal kepercayaan itu amat diperlukan, kecuali itu memang ada kemungkinan suatu kekecualian dan hal itu juga diakui oleh etika-etika yang bukan utilitaristik. Bagitu pula sangkaan bahwa tidak mungkin manusia selalu mempertimbangkan segala akibat tindakannya tidak kuat, karena akibat kebanyakan tindakan sudah disadari manusia berdasarkan pengalaman umat manusia selama beribu-ribu tahun (Suseno, 1998: 175).

Kebebasan Manusia
Manusia mencari bentuk kesenangan yang lebih tinggi, tujuan moralnya lebih pasti dan kesadaran sosialnya lebih tajam hanya jika mereka memahami diri mereka dengan benar. Akan tetapi, intitusi dan praktik masyarakat yang terorganisir seringkali sangat menghalangi pencerahan dan kemajuan intelektual seseorang, dan konsekuensi logisnya kesenangan yang dicari manusia seringkali mempunyai tingkat yang rendah (Schmandt, 2002: 458).
Sebenarnya tak ada masalah dalam menyediakan motif bagi kegunaan. Pada dasarnya motif itu telah tersedia dalam bentuk-bentuk simpati kemanusiaan yang sederhana atau perasaan terhadap sesama. Jika manusia memahami dirinya sendiri secara cukup, dan tidak disesatkan oleh konsepsi-konsepsi yang keliru tentang situasi manusia yang ditanamkan melalui agama yang buruk, filsafat yang buruk, dan pemerintah yang buruk, kemajuan moral manusia akan berjalan lebih cepat. Yang paling diperlukan bagi pencerahan pada saat ini adalah kebebasan. Karena kebebasan adalah sarana dan sekaligus tujuan, suatu syarat bagi kesejahteraan umum dan komponen intrinsik bagi kebahagiaan pribadi. Karena kebebasan merupakan kebaikan tertinggi yang bisa diwujudkan oleh masyarakat yang terorganisir (Aiken, 2002: 178-179).
Satu-satunya tindakan individu, di mana ia setuju dengan masyarakat adalah tindakan yang menyangkut orang lain. Kebaikannya sendiri, baik fisik atau moral, bukanlah suatu justifikasi yang mencukupi bagi negara untuk melakukan kegiatan intervensi. Intervensi publik diperbolehkan ketika individu menimbulkan kerusuhan atu melalaikan keluarga.
Dalam membuat garis batas kebebasan manusia, Mill mendata tiga kategori utama: Kebebasan berbicara, mendapatkan pekerjaan dan berkumpul. Tidak ada masyarakat yang bisa disebut bebas jika tiga kebebasan tersebut tidak dihormati, apapun bentu kepemerintahannya. Untuk menjustifikasi kebebasan-kebebasan tersebut, Mill menggunakan argumentasi yang sangat pragmatis dan utilitarian. Adalah penting manusia mengekspresikan kebebasannya karena pertama, pendapatnya mungkin benar. Kedua, meskipun pendapatnya mungkin salah. Ketiga, apakah pendapatnya salah atau benar, ia mendorong pemikiran dan respon. Bahaya khusus dari menyembunyikan pendapat adalah dalam merampas harkat manusia: orang-orang yang tidak menerima pendapat masih lebih banyak dari mereka yang menerima. Jika pendapatnya benar, maka mereka tidak mempunyai kesempatan mengganti kesalahan dengan kebenaran; jika salah, mereka kehilangan manfaat besar, persepsi yang lebih jelas dan kesan yang lebih hidup akan kebenaran, yang ditimbulkan oleh benturannya dengan kesalahan (Schmandt, 2002: 460).
Akan tetapi kebebasan-kebebasan tersebut tidak berlaku sepanjang waktu dan dalam semua keadaan. Tindakan tidaklah sebebas pendapat dan bahkan kehilangan kebebasannya jika lingkungan di mana pendapat itu dinyatakan menunjukkan dorongan positif pada tindakan kejahatan. Di samping itu, kebebasan bertindak dan berbicara hanya berlaku bagi mereka yang sudah dewasa. Anak-anak tidak mempunyai hak karena mereka masih dalam tahap di mana mereka harus dilindungi dari tindakan yang merugikan yang berasal dari orang lain dan diri mereka sendiri (Schmandt, 2002: 462). Selain itu, membatasi kebebasan individu seseorang adalah untuk melindungi kebebasan orang lain. Karena tanpa kebebasan seorang pribadi tidak dapat menyadari bakat dan kebahagiaannya (Solomon dan Higgins, 2002: 459-460).

Perbedaan Utilitarianisme Jhon Stuart Mill dan J. Betham
Secara umum etika utilitarianisme Mill berbeda dengan para pendahulunya yaitu:
Pertama, Mill tidak hanya membedakan kenikmatan menurut jumlahnya, melainkan juga menurut sifatnya. Sifat ini tidak hanya menyangkut keadaan-keadaan yang bersifat tambahan, seperti mahal, berharga, dan sebagainya, melainkan juga terutama yang bersifat hakiki; kenikmatan yang satu pada hakikatnya lebih bernilai dibandingkan dengan kenikmatan lainnya. Dalam arti Mill menganggap bahwa kenikmatan-kenikmatan memiliki tingkatan kualitas, karena ada kesenangan yang lebih tinggi mutunya dan ada yang lebih rendah. Kesenangan manusia harus lebih tinggi dari kesenangan hewan, tegasnya kesenangan orang seperti Socrates lebih bermutu daripada kesenangan orang tolol. Sedangkan Bentham menyatakan bahwa kenikatan pada hakikatnya sama, satu-satunya aspeknya yang berbeda adalah kuantitasnya. Bukan saja the greatest number tapi juga the greatest happiness dapat diperhitungkan (Bertens, 2000: 249-248).
Kedua, Mill mengedepankan pada watak sosial. Artinya kebahagiaan yang menjadi norma etis adalah kebahagiaan semua orang yang terlibat dalam suatu kejadian, bukan kebahagiaan satu orang saja yang barangkali bertindak sebagai pelaku utama. Raja dan seorang bawahan dalam hal ini harus diperlukan sama. Kebahagiaan satu orang tidak pernah boleh dianggap lebih penting daripada kebahagiaan orang lain. Menurut perkataan Mill sendiri; everybody to count for one, nobody to count for more than one. Dengan demikian suatu perbuatan dinilai baik, jika kebahagiaan melebihi ketidakbahagiaan, di mana kebahagiaan semua orang yang terlibat dihitung dengan cara yang sama (Bertens, 2000: 250).

Tinjauan Kritis
Dari proposisi di atas dapat dipahami bahwa utilitarianisme Jeremy Bentham dengan prinsip the greatest happiness of the greatest number seolah-olah menjadi teori etika konsekuensialisme dan welfarisme. Konsekuensialisme dipahami sebagai paham yang bependirian bahwa yang baik ditetapkan berdasarkan akibat. Bila akibat itu baik, maka perbuatan yang bersangkutan baik. Sebaliknya, meskipun dikatakan baik, bila akibatnya buruk, maka perbuatan yang bersangkutan buruk. Welfarisme adalah paham yang berpendirian bahwa usaha masyarakat, terutama negara, harus ditujukan untuk kesejahteraan masing-masing warga negara dan rakyat secara keseluruhan. Karena itu, utilitarianisme berpendirian bahwa perbuatan baik ditentukan menurut akibat baik, kegunaan, manfaat, dan keuntungannya bagi masing-masing dan sebagaian besar orang yang terkena (Mangunhardjo. 2000: 229).
Dari konsepsi berfikir seperti di atas, maka sebagai prinsip moral, Utilitarianisme mengandung beberapa kelemahan mendasar. Pertama, Terlalu menekankan kegunaan, manfaat keuntungan, sebagai kriteria untuk menilai baik dan buruknya perbuatan. Muncul pertanyaan, ”berguna untuk siapa”?. Karena kegunaan, manfaat, keuntungan selalu berhubungan dengan orang yang terkena. Padahal pandangan orang tentang apa yang berguna, bermanfaat, menguntungkan sangat subyektif dan berbeda-beda. Selain itu, prinsip kegunaan tidak memberi jaminan apa pun bahwa kebahagiaan dibagi juga dengan adil. Jika dalam suatu masyarakat mayoritas terbesar hidup makmur dan sejahtera serta hanya ada minoritas kecil yang serba miskin dan mengalami rupa-rupa kekurangan, menurut utilitarisme dari segi etis masyarakat seperti telah diatur dengan baik, karena kesenangan melebihi ketidaksenangan (Bertens, 2000: 252).
Kedua, Utilitarianisme sangat memperhatikan akibat dan bukan hakikat perbuatan. Hal tersebut menyebabkan atas nama Utilitarianisme, orang tidak perlu sibuk dengan pemikiran tentang hakikat, tetapi apa akibat bagi hidup kita. Maka dalam prakteknya Utilitarianisme mudah mengesampingkan fakta kemanusiaan dan etis dasar yang tersangkut oleh perbuatan. Alasannya jelas sebab fakta kemanusiaan dan etis dasar itu secara langsung menampakkan ketidakgunaan, ketidakmanfaatan, dan kerugiannya. Atas nama keuntungan, orang-orang Utilitarianisme dengan tenang akan melanggar hak asasi manusia seperti hak milik.
Ketiga, Utilitarianisme mendorong tumbuhnya mentalitas Instan, langsung (immediate), dan berfikiran dan pandangan pendek (short sight). Karena terjebak pada paradigma kegunaan, manfaat, dan keuntungan untuk memenuhi kebutuhan. Maka ada kemungkinan memakainya untuk membenarkan perbuatan yang menurut pendapat umum egois bahkan amoral (Bertens, 2000: 229-230).
Namun di balik itu semua, ada hal yang sangat positif dari etika Utilitarianisme, Pertama, Rasionalitas. Suatu tindakan dipilih, atau pada gilirannya dinilai baik, karena tindakan itu akan mendatangkan akibat baik yang lebih banyak daripada tindakannya. Di sini ada sebuah neraca perhitungan. Dengan demikian, dalam kerangka pengambilan keputusan, khususnya dalam hal ini di bidang bisnis, Ia memberi peluang bagi debat, argumentasi dan diskusi dalam rangka kalkulasi keuntungan atau nilai lebih yang akan diperoleh suatu tindakan atau kebijakan tertentu. Ia tidak sekedar menenakankan tindakan tertentu demi tindakan itu, melainkan karena alasan rasional.
Kedua, Universalitas. Akibat atau nilai lebih yang hendak dicapai diukur berdasarkan banyaknya orang yang memperoleh manfaat dari nilai lebih itu. Etika Utilitarianisme mengutamakan tindakan atau kebijaksanaan yang mengutamakan kepentingan banyak orang di atas kepentingan segelintir orang( Berten, 2000: 78).
Ketiga, Kebahagiaan yang merupakan tolak ukur utilitarianisme tentang betul-salahnya kelakukan manusia bukanlah kebahagian si pelaku sendiri, melainkan kebahagiaan semua orang yang bersangkutan. Utilitarianisme menuntut agar pelaku berlaku dengan tidak berpihak, sebagai pengamat positif dan tanpa pamrih, dalam memilih antara kebahagiaannya sendiri dan kebahagiaan orang lain (Suseno, 2003 :182).
Menurut Perspektif Islam aliran utilitarianisme sangat berbahaya karena akan menghalalkan segala cara agar mendapat kebahagiaan yang diimpikan. Sedangkan Islam sendiri dengan konsep rahmatan lil alamien-nya mempunyai ajaran al-amru bi al-ma’ruf wa al-nahyu ’an al-munkar artinya mengajak sebanyak-banyaknya manusia untuk selalu melaksanakan kebaikan agar mendapat kebahagiaan hakiki dan mencegah manusia sebanyak-banyaknya dari perbuatan tercela agar tidak terjebak pada perbuatan-perbuatan yang merugikan baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Menurut al-Mawardi sebagaimana dikutip Suparman Syukur, maksud dan tujuan diwajibkannya al-amar bi al-ma’ruf di dalam Islam adalah untuk menekankan betapa pentingnya melakukan perintah-perintah Allah (yang tentunya terkandung berbagai kebaikan bagi manusia sendiri dalam hidupnya), sedangkan perintah meninggalkan larangan-larangannya, tidak lain untuk menekankan manusia betapa ruginya melakukan hal-hal tersebut. Perintah melakukan hal yang baik dan meninggalkan hal yang buruk menjadi semakin penting karena jiwa manusia yang loba itu sering didominasi oleh sifat kekanak-kanakan dan kebodohan (sabwah) dalam mengikuti segala perintah Allah, dan sering terbuai kelalaian oleh beberapa keinginan yang jelek (al-syahawat), sehingga lupa terhadap larangan-larangan tersebut (Syukur, 2004: 217-218).

Kesimpulan
Dari deskripsi di atas dapat diambil sebuah kesimpulan. Pertama, etika Utilitarianisme muncul pada abad ke 19 sebagai reaksi penolakan terhadap belenggu paham hukum alam yang berkembang pesat pada saat itu. Kemunculannya dipelopori David Hume, tetapi disempurnakan dalam sebuah teori baku oleh Jeremy Betham dan tokoh yang paling berpengaruh dalam utilitarianisme adalah John Stuart Mill, yang berhasil merekonstruksi kelemahan-kelemahan mendasar paham Utilitarianisme, sehingga dapat menjawab kritikan-krtitikan dari para penentang Utilitarianisme.
Kedua, Utilitarianisme menggunakan utility (manfaat) atau the greatest happiness (kebahagiaan terbesar) sebagai dasar moralitas. Tetapi tolak ukur moralitas kebahagian utilitarianisme Mill bukan kebahagian pelaku saja, melainkan demi kebahagiaan semua. Artinya, agar pelaku berlaku berposisi netral dengan tidak berpihak, dalam memilih antara kebahagiaannya sendiri dan kebahagiaan orang lain. Di samping itu, kebahagiaan tersebut memiliki kualitas, karena ada kebahagiaan yang bermutu dan ada yang tidak. Kebahagiaan manusia dinilai lebih bermutu atau tinggi dibandingkan dengan kebahagiaan hewan.
Ketiga, utilitarianisme menjebak manusia masuk dalam perangkap konsekuensialisme dan Welfarisme, karena terlalu menekankan kegunaan, manfaat keuntungan, sebagai kriteria untuk menilai baik dan buruknya perbuatan, memperhatikan akibat dan bukan hakikat perbuatan. Dan berpotensi mendorong tumbuhnya mentalitas Instan, langsung (immediate), dan berfikiran dan pandangan pendek (short sight).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: