S. M. Kartosuwirjo

S.M. KARTOSUWIRYO;
MUJAHID DARI NEGERI PASUNDAN
Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo adalah seorang ulama karismatik. Namun sejarah kelam Indonesia mencatatkan namanya sebagai pemberontak dan penghianat yang memproklamirkan Negara Islam Indonesia (NII).
Kartosoewirjo lahir di Cepu, Jawa Tengah 7 Februari 1905 dari kalangan priyayi Jawa. Ayahnya Maridjan Kartosoewirjo adalah seorang mantri kehutanan di gubernemen Hindia Belanda. Tatkala berusia 6 tahun, Kartasoewirjo masuk sekolah rakyat di Rembang dan empat tahun kemudian melanjutkan ke Hollandsh Inlandsche School (HIS). Setelah lulus dari HIS, Kartosoewirjo diterima di Europeesche Lagere School (ELS),s ebuah sekolah rendah bagi anak-anak keturunan Eropa, di Bojonegoro Jawa Timur, tahun 1919. Untuk masuk ke ELS, hanya ada dua jalur bagi pribumi. Pertama, karena ia anak seorang pejabat. Kedua, karena kepintaran dan kecerdasannya. Ketika usianya menginjak usia 18 tahun, Kartosoewirjo lulus pada tahun 1923.
Lulus dari ELS, Kartosoewirjo berangkat ke Surabaya dan sempat mengikuti pendidikan di Perguruan Tinggi Kedokteran (Nederlands Indische Artsen School). Di sinilah Kartosoewirjo masuk menjadi anggota Jong Java. Tak lama di Jong Java, Kartosoewirjo aktif di Jong Islamieten Bond (JIB) dan memulai aktivitas politiknya – yang dijiwai oleh semangat patriotisme. Akhirnya Kartosoewirjo keluar dari NIAS.
Setelah keluar dari NIAS, pada 1927 Kartosoewirjo pulang ke Bojonegoro dan mendapati dirinya sudah menjadi anak yatim, setelah ayahnya meninggal dunia pada tahun 1925. Kemudian Kartosuwirjo mengajar di sana. Namun tak lama kemudian, Kartosoewirjo kembali lagi ke Surabaya dan menjadi murid sekaligus sekretaris pribadi tokoh Partai Sarekat Islam H. O. S. Tjokroaminoto.
Karirnya kemudian melejit pada Desember 1927, dalam sebuah kongres Partai Serikat Islam Hindia Timur, Kartosoewirjo terpilih sebagai sekretaris dalam usia 22 tahun. Setelah kongres, kantor pusat partai yang semula di Surabaya di pindahkan ke Jakarta. Di Jakarta, selain aktif di partai, Kartosoewirjo mulai meniti karir di bidang jurnalistik sebagai wartawan di koran milik partai, Fajar Asia, mulai dari korektor, reporter, penanggung jawab rubrik, sampai pejawabat pemimpin redaksi pada tahun 1929, ketika Tjokroaminoto sudah mulai sakit-sakitan.
Pada April 1929 Kartosoewirjo menikahi Siti Dewi Kalsum anak seorang tokoh PSIHT di Malangbong bernama Ajenengan Adiwisastera yang diketemukannya pada saat berkunjung ke cabang-cabang PSIHT.
Pada 1931, Kartosoewirjo diangkat menjadi sekretaris jenderal Partai Serikat Islam Indonesia (PSII) dengan Tjokroaminoto sebagai ketuanya. PSII merupakan kelanjutan dari Sarekat Islam. Kartosoewirjo kemudian bercita-cita untuk mendirikan negara Islam (Daulah Islamiyah).
Saat menjabat sebagai wakil ketua PSII Kartosoewirjo membuat proposal tentang Hijrah dan Kongres PSII ke 22 di Cirebon, memberi amanat kepada Kartosoewrijo untuk membuat konsepsi dan penjelasan tentang Hijrah sebagai basis perjuangan PSII.
Pada 1937 proposal tersebut selesai dalam bentuk dua jilid. Jilid pertama terbagi dalam dua bab yang mengandung keterangan, pertimbangan dan lain-lain yang berkenaan dengan hijrah. Dijelaskan bahwa perjalanan hijrah sebagaimana dilakukan Nabi Muhammad SAW, merupakan pola dan stategi perjuangan.
Kartosuwirjo berkata: ”Hijrah haruslah beriringan dengan jihad. Karena hampir setiap tempat di mana kata hijrah digunakan dalam al-Qur’an selalu diikuti dan diasosiasikan dengan jihad. Maka tiada tindakan hijrah dianggap absah, bila dalam hijrah cita-cita jihad tidak dilaksanakan.”
Jilid kedua berisi tentang penafsiran arti-arti hijrah, yang bagi PSII merupakan kewajiban dan berhubungan dengan segala aspek kehidupan manusia.
Kartosuwirjo tidak sepakat dengan penafsiran umum bahwa jihad identik dengan perjuangan fisik. Menurut Kartosuwirjo Jihad terbagi menjadi dua macam. Pertama, jihad kecil (Jihad ul asghar) yang bertujuan untuk melindungi agama terhadap musuh-musuh luar. Kedua, jihad besar (jihad ul akbar) yang bertujuan untuk memerangi musuh dalam diri manusia.
Pada kongres PSII di Bandung gagasan Hijrah yang dibuat Kartosuwirjo dituangkan dalam ”Daftar Usaha Hijrah PSII. Selain itu disetujui bahwa Kongres berikutnya di Surabaya serta mendirikan suatu lembaga pendidikan kader di Malangbong dengan nama Suffah PSII, yang direncanakan akan dibuka mulai tanggal 20 Februari 1939 di bawah pimpinan wakil presiden PSII S.M Kartosuwirjo sendiri.
Pada 1939 terjadi perpecahan di tubuh PSII. Pangkal perpecahan adalah berkisar pada keinginan sekelompok orang yang untuk Cooperatif dan tetap non kooperatif dengan pihak kolonial Belanda. Kartosoewirjo kemudian “menepi” dari PSII dan bersama Jusuf Taudjiri, dan Karman mendirikan Komite Pembela Kebenaran Partai Sarekat Islam Indonesia (KPKPSII) dengan tujuan untuk mempertahankan khittah perjuangan PSII. Kartosuwirjo pun diangkat menjadi ketuanya.
Pada bulan Januari 1940 saat Kongres ke 25 di Palembang Akan KPKPSII dianggap sebagai tandingan PSII. PSII pun mengeluarkan maklumat resmi melarang para anggotanya untuk ikut terlibat dalam komite yang dibentuk Kartusuwirjo, serta penegasan tidak berlaku lagi program hijrah sebagai landasan perjuangan PSII.
Keputusan tersebut sangat menyakitkan bagi Kartusuwirjo Pada 24 April 1940 KPKPSII resmi sebagai partai yang berdiri sendiri. Akan tetapi pada sidang pertama KPKPSII hanya mendapat dukungan dari enam cabang, dari Jawa Barat; Malangbong, Pasanggrahan, Wanaraja, Cirebon, Cibadak, dan Sukabumi.
Seiring dengan terbentuknya KPKPSII, Kartosoewirjo mendirikan pesantren dengan nama Institut Suffah di Malangbong. Di sinilah para kader partai didik mental spiritualnya. Ketika Jepang datang, pesanteren Suffah menjadi markas latihan laskar Hizbullah dan Sabilillah. Akhirnya KPK PSII karena tidak mendapat dukungan yang signifikan bubar dengan sendirinya, tergerus oleh Pesantren Suffah.
Setelah Indonesia merdeka, Kartosoewirjo aktif dalam partai politik Masyumi. Pada 27 Juli 1947, Belanda melakukan agresi pertamanya untuk kembali menjajah Indonesia. Kartosoewirjo mengeluarkan resolusi Jihad dan memimpin tentara Hizbullah dan Sabilillah untuk bertempur habis-habisan dengan Belanda di Jawa Barat.
Pada bulan Januari 1948 terjadilah perundingan Renville yang isinya memerintahkan pasukan RI harus di tarik dari wilayah-wilayah yang telah dikuasai Belanda. Konsekuensinya pemerintah pusat memerintahkan agar seluruh Divisi Siliwangi melakukan long march ke Jawa Tengah. Perjanjian tersebut membuat sakit hati Kartosoewirjo. Kartosoewirjo tidak mau mematuhi isi perjanjian dan tidak mau menarik mundur pasukannya keluar dari Jawa Barat. Kartosoewirjo tetap bertahan dengan membentuk pasukan dengan nama Tentara Islam Indonesia (TII). Selain itu, Kartosoewirjo juga menolak posisi menteri yang ditawarkan Amir Sjarifuddin yang saat itu menjabat Perdana Menteri dengan alasan jelas bahwa Kartosuwirjo tidak menyukai arah politik Amir yang sangat kekiri-kirian.
Pada 19 Desember 1949 Belanda berkhianat terhadap perjanjian Renville dengan melakukan agresi kedua. Kartosoewirjo kembali meneriakkan resolusi Jihad kepada Hizbullah dan Sabilillah untuk menghadapi Belanda. Pasukan divisi Siliwangi datang kembali ke Jawa Barat untuk merebutnya dari tangan Belanda. Padahal, sebagian Jawa Barat sudah jatuh ke tangan TII.
Kembalinya, devisi Siliwangi ke daerah-daerah yang sudah dikuasai oleh TII dan memaksa TII untuk menyerahkan daerah-daerahnya membuat terjadi pergolakan di tubuh Hizbullah dan Sabilillah. Kartosoewirjo memihak Hizbullah dan Sabilillah agar tidak menyerahkan daerah-daerah kepada devisi Siliwangi, karena mereka telah bersusah payah merebutnya dari Belanda. Selain itu, pasukan Siliwangi yang dipimpin Sadikin adalah pasukan liar yang hasil dari pelarian sisa-sisa pengikut PKI Madiun. Bentrok pun tak terhindarkan antara pasukan pimpinan Kartosoewirjo dengan devisi Siliwangi. Sehingga Belanda masuk dalam perang segitiga antara kedua pasukan tersebut.
Pada 7 Mei 1949 terjadi perjanjian Roem-Royen antara RI – Belanda, Namun perjanjian tersebut merugikan Indonesia. Kartosuwirjo mengecam perjanjian itu dengan sebutan ”penghianat total” dan sikap politi M. Hatta dan M. Roem sebagai sikap yang memalukan.
Kartosuwirjo berkata: ” Roem dan Hatta yang dewasa akhir-akhir ini memang sudah tidak tahu malu lagi, menjual negara sampai habis atau abrol besar-besaran. Sungguh memalukan sekali.”
Ketidakkonsistenan pemerintahan Soekarno tersebut kemudian membuat Kartosoewirjo kecewa dan menganggap pemerintah pusat tak lagi bisa amanah dalam berpolitik dan kurang istiqamah. Kartosoewirjo kemudian membulatkan tekadnya untuk membentuk Negara Islam Indonesia.
Pada 7 Agustus 1949 bertepatan dengan 12 Syawal 1368, di Desa Cisampang, Kecamatan Cilugalar, Kawedanan, Cisayong, Tasikmalaya, Kartosuwirjo bersama para pengikutnya memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia dengan Kartosuwirjo sebagai presidennya.
Berbagai upaya pemerintahan Soekarno untuk mengajak kembali Kartosoewirjo kembali kepada pangkuan ibu pertiwi tak lagi bisa melunakkan hatinya. Apalagi, Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan, dan Teungku Daud Beureueh di Aceh, menyatakan berpisah dengan RI dan ikut dalam bagian NII pimpinan Kartosoewirjo. Kemudian di ikuti Amir Fatah di Jawa Tengah dan Ibnu Hadjar di Kalimantan Selatan.
Pemerintah Indonesia kemudian bereaksi dengan menjalankan operasi untuk menangkap Kartosoewirjo. Setelah 13 tahun bergerilya di hutan-hutan sekitar wilayah Jawa Barat, pada 4 Juni 1962 Kartosoewirjo tertangkap di sebuah desa di wilayah Gunung Rakutak Cianjur.
Pada 16 Agustus 1962 Kartosoewirjo diadili dan dijatuhi hukuman mati. Sebulan kemudian Kartosoewirjo dieksekusi dengan cara ditembak. Namun sampai saat ini tidak diketahui kemana jasadnya dikebumikan. Sungguh akhir tragis, bagi seorang mujahid yang memperjuang sebuah prinsip kebenaran.

Sumber
al-Chaidar, 1999, Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia S.M Kartosuwirjo, Jakarta: Darul Falah.
Holk H. Dengel, 1995, Terj. Darul Islam dan Kartosuwirjo: Langkah Perwujudan Angan-Angan yang Gagal, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Kholid O. Santoso, 2006, Jejak-Jejak Sang Pejuang Pemberontak: Pemikiran, Gerakan dan Ekspresi Politik S. M. Kartosuwirjo, Bandung: Sega Arsy.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s