JUAN EVO MORALEZ AYMA; PRESIDEN PERTAMA DARI SUKU INDIAN

Moralez adalah anak dari petani miskin dari suku Indian Aymara yang hidup sengsara di kota kecil pegunungan Aricuana. Ketika kecil ia ikut bapaknya bekerja sebagai pekerja migrant di Argentina. Kemudian ia berkelana di berbagai daerah di Bolivia sebagai pemain terompet dan kelompok musik bar. Setelah timbul gerakan sosial di kalangan petani coca, ia kemudian menjadi  aktivis membela hakl-hak mereka dengan membentuk Movimiento Al Socialismo/ MAS dan ia sebagai pemimpinnya. Moralez mempunyai prinsip sederhana, tapi jarang ada pemimpin dapat mengimplementasikannya dalam konteks sekarang; jangan mencuri, jangan bohong dan jangan berkhianat pada rakyat
Evo Moralez mengawalinya dari gerakan cocorela, suatu gerakan sosial berideologi kiri dan merupakan kumpulan para penanam daun koka. Ini daun yang diperangi oleh pemerintah Amerika yang hendak menumpas perdagangan narkotika. Pemerintah dengan bantuan uangnya ingin  menghapus koka dari kawasan Bolivia. Penghancuran yang bisa mengantarkan Bolivia pada kemiskinan dan kesengsaraan. Jadi ketika Moralez berkampanye perlindungan pada para petani koka maka yang dihadapinya bukan saja pemerintahan Bolivia Presiden Hugo Banzer sebagai boneka Amerika, tapi penguasa Amerika itu sendiri.
Moralez terpilih menjadi anggota kongres Bolivia pada tahun 1997, tapi pada Januari 2002 dipecat karena tuduhan terorisme. Saat itu terjadi ledakan protes massal yang memicu kerusuhan massal. Arus demonstrasi itu menentang penghapusan penenaman koka dan hasil dari demonstrasi itu adalah jatuhnya korban: empat petani koka, tiga tentara dan terbunuhnya seorang perwira polisi. Moralez dianggap sebagai biang keladi kerusuhan, maka Moralez harus turun dari kedudukannya. Tapi ada berita lain menyatakan pemecatan Moralez karena tekanan Kedutaan Amerika. Pemerintah Amerika ingin agar Moralez tersingkir dari posisinya sekarang. Tapi pada pemilu 2002 Moralez mencalonkan diri sebagai Presiden.
Taktik kampanye yang dilakukan oleh MAS cukup imaginatif dan menarik perhatian. Dibagi-bagikannya T Shirt, topi bisbol, kalender dan cendera mata politik lainnya. Sebuah Iklan televisi menayangkan bagaimana seorang pelayan Bolivia dari suku India asli menghimbau massa agar memberikan suaranya sesuai dengan hati nurani bukan seperti yang diperintahkan oleh bos atau majikan.
Partai MAS juga mengembalikan uang bantuan pemerintah yang diberikan pada partai politik US$ 200. 000. Kampanyenya langsung menusuk, memanfaatkan sentimen anti Amerika yang memang lumayan besar di kalangan penduduk Bolivia sekaligus mengkritik Duta Besar Amerika untuk Bolivia, Manuel Rocha. Bahkan Evo Moralez malas berdebat dengan kandidat presiden lainnya, Ia ingin berdebat langsung dengan Duta Besar AS. Moralez berkata: ”Orang yang ingin saya ajak berdebat adalah duta besar Rocha, saya lebih suka berdebat dengan pemain sirkus, bukan dengan badut-badutnya.”
Rocha, sang Duta besar menjawab: ”Saya ingin mengingatkan para pemilih Bolivia bila anda memilih mereka yang ingin menjadikan Bolivia pengekspor kokain utama, hal ini akan mengancam bantuan Amerika Serikat di masa depan untuk Bolivia”.
Ancaman itu menambah bahan bakar Evo Moralez untuk meluncurkan kritik pedas pada Amerika, Bank Dunia, maupun IMF. Evo Moralez membalas ancaman Rocha dengan pernyataan: ”Setiap pernyataan yang dibuat Rocha untuk melawan kita justru telah menolong kita berkembang dan membangkitkan hati nurani rakyat.”
Awal kekuasaan Moralez ketika Bolivia di bawa pimpinan Gonzalo Sanchez de Lozada berhadapan dengan protes massa. Protes yang membuat pemerintah akhirnya memutuskan untuk mempercepat pemilu. Dari waktu semula 2007 ke Desember 2005. Berdampingan dengan seorang Sosiolog, Matematikawan dan ideolog kiri, Alvaro Garcia Lenera, Moralez memenangkan pemilu.
Moralez memilih dilantik di tanah kuburan bekas reruntuhan kuil suci Tiwanaku peninggalan peradaban Inca, ketimbang di istana mewah. Pidato pertamanya ketika dilantik adalah akan memotong gajinya sebagai Presiden untuk perluasan lapangan kerja dan Ia selalu berbusana tradisional ketika menjadi tamu di berbagai negara.
Dukungan 54, 3 persen suara dari rakyat  membuat Moralez mulai berani mengambil langkah-langkah progresif untuk mensejahterakan rakyat. Tepat 1 Mei, Moralez mengambil alih banyak perusahaan-perusahaan sumber gas alam untuk dinasionalisasi. Dikatakan olehnya: ”Tiba saatnya hari yang dinanti-nantikan, hari ketika Bolivia mengambil kembali atas sumber daya alam kita.” Dibentangkannya spanduk besar untuk proyek nasionalisasi ini dengan kata-kata tajam. ”Dinasionalisasi: Milik Rakyat Bolivia”.
Dalam jangka waktu 180 hari menuntut semua perusahaan untuk menegosiasi ulang kontrak. Di bawah aturan baru segera anak dinaikkan pajak dan royalti dari 50 % menjadi 82 % pada perusahaan-perusahaan yang beroperasi di dua ladang gas terbesar di Bolivia (Pestrobal, Repsol, dan Total). Cadangan ini merupakan 70 % dari sumber daya gas nasional di Bolivia. Moralez tahun kalau Bolivia sebenarnya kawasan kaya akan cadangan gas, bahkan memiliki cadangan gas terbesar nomor dua di dunia. Tapi karena salah kelola dan kebijakan, maka Bolivia jatuh sebagai negara termiskin.
Dalam pidatonya ketika mengambil kebijakan nasionalisasi Evo Moralez berkata: ”Nasionalisasi hidrokarban Bolivia hanyalah permulaan.. di kemudian hari akan dilakukan juga nasionalisasi terhadap sektor pertambangan, hutan dan semua sumber daya alam.”
Keputusan menggemparkan itu disambut antusias bukan hanya oleh rakyat. Ricardo Alarcon, Presiden Dewan Nasional Kuba menyerukan pembentukan front anti fasis sebagai dukungan atas langkah berani yang diambil Moralez. Pemerintahan Venuezela juga memberikan dukungan terhadap Bolivia, bahkan siap untuk menandatangani kontrak lewat perusahaan petroleum negaranya, PDVSA.
Namun tidak sedikit yang geram atas kebijakannya ini; seperti pimpinan Repsol Antoni Brufau yang berkomentar: ”Berita ini sangat memperihatinkan kami..ini adalah persoalan yang ditempatkan di luar kerangka logika bisnis yang seharusnya mengatur hubungan negara dengan perusahaan.”
Tentu gelombang protes dihadapi oleh Moralez dengan sikap dingin dan lugas. Kebiasaannya menetang Kapitalisme membuatnya menjawab dengan sederhana: ”Kalau perusahaan tidak menghormati, maka kita akan paksa mereka untuk hormat.”
Wakil Presiden Bolivia Alvaro Garcia Lenera berkata tentang kebijakan Moralez tersebut: ”Keputusan heroik dan patriotik yang mengembalikan jiwa kita, harga diri kita, sejarah kita, akan diserang…kaum konservatif..kita harus mempertahankannya dan kita tidak akan menerima tekanan dari perusahaan asing manapun.”
Berbagai kebijakan-kebijakannya tersebut menghasilkan sesuatu yang mencengangkan bagi dunia, angka melek huruf di Bolivia mengalahkan negeri maju.
Bolivia telah memberikan bukti kepada segenap bangsa di seluruh dunia bahwa komitmen yang besar untuk bangkit dan tidak ”menghamba” kepada pemodal, telah menghasilkan sesuatu kesejahteraan bagi bangsanya.

Sumber. Dikutip dari berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: