Ali Syariati

Ali Syariati adalah fenomena pemikir abad ke-20, ketokohannya disejajarkan dengan Jamaluddin al-Afghani dan Sayyid Qutb, Muhammad Abduh, Al-Maududi. Pidato-pidatonya sangat ditunggu para mahasiswa, bahkan Presiden Mahmoud Ahmadinejad sewaktu muda adalah salah satu yang selalu tertarik kepada setiap pemikiran cerdasnya. Selain itu,  Ali Syari’ati merupakan salah satu dari tiga pejuang yang menginspirasi terjadinya revolusi Islam Iran pada bulan Februari 1979 yaitu Ayatullah Khomaeni, Murtadha Muthahhari dan Ali Syari’ati sendiri. Revolusi ini berhasil menghancurkan kediktatoran Syah Reza Fahlevi yang notabene adalah boneka Barat. Kemudian menyebar keseluruh dunia melewati batas-batas ideologi, peradaban, norma-norma kemasyarakatan, dan budaya. Pemerintah selalu  menganggapnya sebagai pemberontak, tetapi rakyat Iran secara umum menggelarinya bapak Ideologi Revolusi Iran  dan dunia menjulukinya tokoh sosialisme Islam.
Ali Syariati bin Muhammad Taqi Syari’ati muda dilahirkan pada 24 November 1933 di Mazinan, sebuah suburban dari Sabzevar, Propinsi Khurasan, Iran. Ia berasal dari keluarga miskin. Ayahnya Muhammad Taqi (Mazinani) Syari’ati berasal dari keluarga ulama. Kakeknya, Akhond Molla Qorban Ali adalah kepala otoritas agama di wilayah Mizinan. Ibunya Zahra adalah seorang perempuan yang memiliki dedikasi tinggi dan pekerja keras.
Pendidikan awalnya dimulai dari keluarga. Taqi Syariati mewariskan kepada Syariati perjuangan kepada kebenaran, kerinduan kepada syahadah dan keterikatan pada Islam.
Syariati berkata: “Ayahku telah membentuk dimensi pertama dari jiwaku. Dialah yang pertama mengajarkan kepadaku seni berfikir dan seni memanusia. Segera setelah ibuku menyapihku, ia memberikan kepada ku kelezatan kebebasan, kemuliaan, kesucian, keteguhan, keimanan, kebersihan ruhani, dan kebebasan hati. Dialah yang memperkenalkan aku kepada sahabat-sahabatnya – buku-bukunya. Buku-buku itu telah menjadi sahabatku yang akrab dan abadi sejak tahun-tahun pertama masa sekolahku. Aku tumbuh dan berkembang diperpustakaannya, yang baginya merupakan seluruh kehidupan dan keluarganya. Banyak sekali hal yang seharunya aku pelahari pada waktu dewasa dengan waktu yang lama serta perjuangan yang panjang, telah diberikan oleh ayahku, sebagai hadiah di masa kecilku, secara sederhana dan spontan. Sekarang perpustakaan ayahku menjadi dunia yang penuh kenangan berharga bagiku. Masih dapat kuingat setiap bukunya, bahkan sampai bentuk jilidnya.
Pada bulan Agustus 1941, pasukan sekutu menginvasi Iran. Syah Reza dipaksa menyerahkan kekuasaan kepada anaknya Muhammad Reza. Ketika itu Syariati baru berusia sembilan tahun dan memasuki tahun pertama di sekolah dasar swasta Ibn Yamin, Masyhad. Di Sekolah Syariati terkenal pendiam dan pemalu, dia penyendiri yang lebih suka memisahkan dirinya dari aktivitas kawan-kawannya.
Setelah menyelesaikan sekolah dasar di Ibn Yamin, pada bulan September 1947, Ali memasuki Sekolah Menengah Firdausi. Di sini Syariati terkenal sebagai seorang pemalas, tetapi bisa bersosialisasi dan sangat menyenangkan untuk dijadikan teman. Selain itu, Syariati juga dikenal sebagai anak yang kalem, bijaksana yang kecerdasannya mampu memecahkan kesunyian dan mengacaukan kelas, sehingga membuat teman-temannya tertawa dan membuat marah guru-gurunya.
Pada 1950 – 1952, atas permintaan ayahnya, Syariati masuk di Institut Keguruan (Danesyara-ye- Moqaddamati). Di Institut Keguruan ini Syariati mulai tertarik dengan politik dan berkenalan dengan orang-orang muda yang berasal dari golongan ekonomi yang lebih lemah, dan untuk pertama kalinya ia melihat kemiskinan dan kehidupan yang berat yang ada di Iran pada masa itu.
Pada saat yang sama ia pun berkenalan dengan banyak aspek dari pemikiran filsafat dan politik Barat, seperti yang tampak dari tulisan-tulisannya. Ia berusaha menjelaskan dan memberikan solusi bagi masalah-masalah yang dihadapi masyarakat-masyarakat Muslim melalui prinsip-prinsip Islam yang tradisional, yang terjalin dan dipahami dari sudut pandang sosiologi dan filsafat modern. Shariati juga sangat dipengaruhi oleh Moulana Rumi dan Muhammad Iqbal.
Pada tahun 1958, setelah lima bulan menikahi Paulan, ia masuk Fakultas Sastra Persia di Universitas Masyhad, kemudian karena kecerdasan dan keluasan wawasannya, Syariati memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi pasca-sarjananya di Universitas Paris dan memperoleh gelar doktor dalam sosiologi dan sejarah agama pada 1964. dan mengembangkan pemikirannya yang terkanal tentang demokratis, Liberal dan sosialis bertuhan. Selain itu, Syariati berhasil menyatukan orang-orang Iran yang ada di Eropa dan Amerika, dalam satu wadah organisasi Front National Iran (FNI), sebuah organisasi yang bertujuan untuk mereformasi pemerintahan Iran.
Dengan organisasi yang diketuainya, sekaligus meningkatkan kemasyhuran dan keberaniannya dalam membongkar kediktatoran dan kesewenang-wenangan pemerintahan Iran yang sedang berkuasa. Karena kritikan-kritikannya tersebut Syari’ati kemudian menjadi target SAVAK (intelejen rahasia Iran) untuk ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara.
Setelah kembali kembali ke Iran Syariati langsung ditangkap dan dipenjarakan selama enam bulan oleh penguasa Iran karena dianggap terlibat dalam kegiatan-kegiatan subversif politik ketika masih di Prancis. Pada 1965 Syariati akhirnya dilepaskan, lalu pada musim semi tahun 1966 Syariati mulai mengajar di Universitas Masyhad. Pada awalnya, Syariati diberi tugas mengajar dua mata kuliah.
Kuliah-kuliah Syariati segera menjadi pusat perhatian di universitas. Materi, isi, bahasa, dan caranya dalam memberikan perkuliahan telah membuatnya populer di kalangan mahasiswa, tak tanggung-tanggung banyak mahasiswa yang datang hanya untuk mendengarkan Syariati – yang akan berbicara sampai tiga jam, seringkali tentang materi yang sama sekali tidak berhubungan dengan materi yang semestinya Syariati berikan.
Baik isi maupun bentuk pengajarannya menyajikan sebuah metode pengajaran baru yang sama sekali berbeda dari metode pengajaran akademik tradisional. Karakter pribadinya yang ramah, yang selalu ingin terlibat dengan diskusi yang panjang dan penuh, membuatnya disenangai oleh mahasiswa. Lebih jauh, Syariati tidak menghindar untuk membicarakan berbagai isu yang secara politik kontraversial. Kritikannya yang halus tapi tajam terhadap pemerintah menambah popularitasnya.
Secara perlahan Syariati menjadi sumber inspirasi bagi banyak pemuda yang bangga dengan budaya Islam tetapi mereka mendapatkan bahwa budaya Islam tersebut tidak mampu untuk memberikan soslusi-solusi konkrit bagi masalah-masalah sosial-ekonomi dan politik yang ada. Bahkan Syariati juga berhasil menarik mahasiswa dari kalangan menengah ke atas yang sebelum berkenalan dengannya jauh dari Islami.
Syariati memberi nasehat kepada Kaum Muda: “Kaum intelektual bukan sarjana yang hanya menunjukkan kelompok orang yang sudah melewati pendidikan tinggi dan memperoleh gelar sarjana. Mereka juga bukan sekedar ilmuwan, yang mendalami dan mengembangkan ilmu dengan penalaran dan penelitian. Mereka adalah kelompok yang merasa terpanggil untuk memperbaiki masyarakatnya menangkap aspirasi mereka, merumuskan ke dalam bahasa yang dapat dipahami setiap orang, menawarkan strategi dan alternatif pemecahan masalah.”
Akibat gerakannya itu, Syariati kembali harus berhubungan dengan penguasa, para Agen SAVAK memaksa Univeritas agar Syariati mengabsen mahasiswa-mahasiswi yang ikut kuliahnya agar SAVAK dapat mengontor aktivitas politik mahasiswa. Tetapi permintaan tersebut ditolak mentah-mentah oleh Syariati, karena menurutnya mahasiswa tidak boleh dipaksa menghadiri kelas, kalau dosen bisa membuat kelasnya cukup menarik, mereka akan membanjiri kelas.
Pihak Universitas bahkan memandang kuliah-kuliah Syariati sebagai hasutan yang membahayakan rezim yang memerintah. Setelah berkali-kali dicurigai, dan dimata-matai baik dari kalangan univeritas sampai SAVAK. Akhirnya Syariati mengundurkan diri dari Univeritas lalu pergi ke Teheran, bertemu dengan Muthahhari dan mulai mengajar di Institut Husainiyah Irsyad, sebuah institut yang terkenal. Ceramah pertamanya pada malam hari 25 Oktober 1968 dengan tema Nasl-e Now e-Masalma (Generasi Baru Islam).
Kuliah-kuliahnya kembali sangat populer di antara mahasiswa-mahasiswanya dan akibatnya berita menyebar dari mulut ke mulut hingga ke semua sektor ekonomi masyarakat, termasuk kelas menengah dan atas yang mulai tertarik akan ajaran-ajaran Syariati.
Pada tahun 1970, persoalan perjuangan bersenjata telah membela aktivis politik di Universitas Masyhad. Pada saat itu, Syariati masih berkeyakinan bahwa persyaratan-persyaratan subyektif bagi revolusi belum ada di Iran dan Syariati masih yakin akan peran dominan persyaratan tersebut bagi keberhasilan gerakan revolusioner. Syariati mempertimbangkan pendidikan rakyat dengan ideologi Islam sebagai syarat utama bagi sebuah revolusi yang membebaskan
Pihak pemerintah kembali menaruh perhatian khusus terhadap keberhasilan Shariati menginspirasi banyak orang, dan polisi segera menahannya bersama banyak mahasiswanya. Tekanan yang luas dari penduduk Iran dan seruan internasional akhirnya mengakhiri masa penjaranya selama 18 bulan. Ia dilepaskan oleh pemerintah pada 20 Maret 1975 dengan syarat-syarat khusus yang menyatakan bahwa ia tidak boleh mengajar, menerbitkan, atau mengadakan pertemuan-pertemuan, baik secara umum maupun secara pribadi. Aparat keamanan negara, SAVAK, juga mengamati setiap gerakannya dengan cermat.
Shariati menolak syarat-syarat ini dan memutuskan meninggalkan negaranya dan pergi ke Inggris. Tiga minggu kemudian, pada 19 Juni 1977 atau dua tahun sebelum revolusi Islam Iran, ia dibunuh dalam keadaan telungkup di lantai oleh agen-agen SAVAK. Namun sungguh sangat disayangkan pada 21 Juni petugas kesehatan pro pemerintah menyatakan bahwa gagal jantung sebagai penyabab kematian mendadak Syariati dan pada 26 Juni 1977, Jenazah Syariati diterbangkan ke Damaskus di mana dia dimakamkan dekat dengan kuburan Zainab, saudari Imam Husain.
Syariati pergi, sebelum menyaksikan para ulama dan kaum intelektual memimpin masa rakyat untuk menumbangkan rezim yang perkasa; sebelum kaum rausyanfikr muda turun dari ruang kuliah mereka yang sejuk, menuju kampung-kampung rakyat miskin yang gersang, menyediakan perumahan, mambangun perairan, membuka sekolah, menyebarkan kesadaran, atau yang mereka sebut dengan singkat: Jihad Sazandegi (Jihad Pembangunan), sebelum kaum ulul albab terpanggil untuk menjalani rentangan sejarah yang pernah dilaluinya.
Syariati memandang dunia ketiga, seperti Iran telah dihinggapi penyakit, semacam imperialisme internasional yang mengejawantah dalam bentuk korporasi multinasional, rasisme, penindasan kelas, ketidakadilan, dan mabuk kepayang terhadap barat (gharbzadegi). Maka Imperialisme dan ketimpangan sosial sebagai musuh terbesar masyarakat yang harus diberantas dalam jangka waktu yang panjang. Sedangkan dalam jangka pendeka adalah pertama, Marxisme vulgar – menjelma dalam bentuk Stalinisme – yang digandrungi banyak intelektual, Kedua, Islam konservatif sebagaimana dipahami kaum ulama.
Kemudian agama Islam – dapat dan harus difungsionalisasikan sebagai kekuatan revolusioner untuk membebaskan rakyat yang tertindas, baik secara kultural maupun politik. Lebih tegas lagi, Islam yang belum dikuasai kekuatan konservatif merupakan ideologi revolusioner ke arah pembebasan Dunia Ketiga dari penjajahan politik, ekonomi, kultural Barat.
Karena itu, negara-negara Dunia Ketiga, seperti Iran memerulukan dua bentuk revolusi yang saling berkaitan. Pertama, revolusi nasional yang bertujuan bukan hanya untuk mengakhiri seluruh bentuk dominasi Barat, tetapi juga untuk merevitalisasi kebudayaan dan identitas nasional negara Dunia Ketiga bersangkutan. Kedua, revolusi sosial untuk menghapus semua bentuk eksploitasi dan kemiskinan guna menciptakan masyarakat yang adil, dinamis, dan tanpa kelas.
Di samping itu, dunia sebenarnya merupakan pertarungan antara Habil dan Qabil. Habil mewakili para kelompok taklukan dan tertindak, yakni rakyat yang sepanjang sejarah dibantai dan diperbudak oleh sistem Qabil, sistem hak milik individu yang memperoleh kemenangan dalam masyarakat. Peperangan antara Habil dan Qabil adalah pertempuran sejarah abadi yang telah berlangsung para setiap generasi. Panji-panji Qabil senantiasa dikibarkan oleh penguasa, dan hasrat untuk menebus darah Habil telah diwarisi oleh generasi keturunannya – rakyat tertindas yang telah berjuang untuk keadilan, kemerdekaan dan kepercayaan teguh pada suatu perjuangan yang terus berlanjut pada setiap zaman.
Di dalam al-Qur’an disebutkan 4 manusia yaitu Fir’aun, Haman, Qarun, dan Bal’am sebagai pelanjut Qabil. Fir’aun adalah penguasa yang korup, penindas yang selalu merasa benar sendiri, tonggak sistem kezaliman dan kemusyrikan. Haman mewakili kelompok teknokrat, ilmuwan yang menunjang tirani dengan melacurkan ilmu. Qarun adalah cermin kaum kapitalistik, pemilik sumber kekayaan yang dengan rakus menghisap seluruh kekayaan massa. Bal’am melambangkan kaum ruhaniyun tokoh-tokoh agama yang menggunakan agama untuk melegitimasi kekuasaan yang korup dan meninabobokan rakyat. Pada setiap zaman, keempat jenis manusia ini selalu tampil termasuk di Indonesia sebagai pendukung status quo dan penentang perubahan sosial.
Para Nabi, menurut Syariati adalah orang yang lahir dari tengah-tengah masa (ummi) lalu memperoleh tingkat kesadaran (hikmah) yang sanggup mengubah satu masyarakat yang korup dan beku menjadi kekuatan yang bergejolak dan kreatif, yang pada gilirannya melahirkan peradaban, kebudayaan dan pahlawan. Para Nabi datang bukan sekedar mengajarkan zikir dan doa. Mereka datang dengan suatu ideologi pembebasan.
Ali Shariati adalah penulis produktif terbukti banyak buku-buku yang telah dihasilkannya seperti The Pilgrimage (Hajj) (Haji), Where Shall We Begin? (Di Mana Kita Harus Mulai?), Mission of a Free Thinker (Misi Seorang Pemikir Bebas), The Free Man and Freedom of the Man (Manusia Bebas dan Kebebasan Manusia), Extracton and Refrinement of Cultural Resources (Penggalian dan Peningkatan Sumber-sumber Budaya), Martyrdom (Mati Syahid), Arise and Bear Witness (Bangkit dan Bersaksilah), An approach to Understanding Islam (Suatu Pendekatan untuk Memahami Islam), A Visage of Prophet Muhammad (Gambaran tentang Nabi Muhammad), A Glance of Tomorrow’s History (Sekilas tentang Sejarah Masa Depan), Reflections of Humanity (Refleksi tentang Umat Manusia), A Manifestation of Self-Reconstruction and Reformation (Manifestasi tentang Rekonstruksi dan Pembaruan Diri), Selection and/or Election (Seleksi dan/atau Pemilihan), Norouz, Declaration of Iranian’s Livelihood, Eternity (Norouz, Deklarasi tentang Kehidupan Iran, Kekekalan), Expectations from the Muslim Woman (Tuntutan-tuntutan terhadap Perempuan Muslim), Horr (Pertempuran Karbala), Abu-Dahr, Islamology (Islamologi), Red Shi’ism vs. Black Shi’ism (Syiah Merah vs. Syiah Hitam), Jihad and Shahadat (Jihad dan Syahadat), Reflections of a Concerned Muslim on the Plight of Oppressed People (Refleksi Seorang Muslim yang Prihatin terhadap Penderitaan Rakyat Tertindas), A Message to the Enlightened Thinkers (Pesan kepada Para Pemikir yang Tercerahkan), Art Awaiting the Saviour (Seni Sedang Menantikan Juru selamat),  Fatemeh is Fatemeh (Fatemeh adalah Fatemeh), The Philosophy of Supplication (Filsafat Syafaat).
Sanjuangan atas kehebatan Shariati datang langsung dari tokoh filsafat eksistensialis tersohor Jean-Paul Sartre; “Saya tidak mempunyai agama, tapi kalau saya harus memilihnya, itu adalah agama Shariati”.
Syari’ati adalah manusia dari zamannya. Dia merefleksikan suasana hati, kondisi, problema, rasa sakit dan jawaban-jawaban yang dapat diterima di masanya. Kata Ali Rahnema.
Dabashi menyatakan Syariati adalah ideolog par excellence and the ideologist of revolt.

Sumber: Dikutip dari berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: