MUAWIYAH DAN ISTRI ABU AL-ASWAD AD-DU’ALI

Suatu hari istri Abu al-Aswad ad-Da’uli menghadap Khalifah Muawiyah padahal saat itu ia sedang bersama para sesepuh Quraisy dan tokoh Arab lainnya, diantaranya Abu al-Aswad ad-Da’uli sendiri. Ketika masuk ia mengucapkan salam lalu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, sesunggunya Allah telah menjadikan engkau seorang Khalifah di negeri ini, pelindung dan pengawas rakyat, kepadamu panggilan diarahkan, karena engkau ambisi orang-orang rakus menjadi lunak, karena engkau yang takut menjadi tenang, karena engkau yang melarikan diri menjadi kembali, sebab engkau adalah Khalifah dan pemimpin. Maka ku mohon kepada Allah agar engkau diberi karunia tanpa henti dan diberi kesehatan tanpa udzur. Muawiyah lalu bertanya, “Apa keperluanmu ?” Ia menjawab “Suatu masalah yang membuat jalan bagiku menjadi sempit sehingga mendorongku untuk menemui engkau, wahai Amirul Mukminin, sementara jalan keluar semakin tertutup oleh masalah yang tidak ingin keburukannya diketahui orang. Maka berilah aku keadilan, wahai Amirul Mukminin dalam perselisihan ini. Aku berlindung dengan kekuatanNya dari keburukan bertubi dan masalah besar yang menimpa keras terhadap istri yang mempunyai suami jahat dan tak tahu diri.

Muawiyah lalu menanyakan siapa suaminya yang ia lukiskan dengan masalah besar, dan perbuatannya yang cemar. Ia menjawab, “Dia adalah Abu al-Aswad ad-Da’uli.

Dengan heran Muawiyah menoleh kearah laki-laki itu, lalu bertanya, “Wahai Abu al-Aswad ad-Da’uli apa katamu terhadap perempuan ini ?”

Abu al-Aswad menjawab, “Dia mengatakan kebenaran sebagian dan tidak dapat dibantah siapa pun. Sedangkan talak yang ia sebutkan adalah suatu hak dan aku memberitahukan ini kepada Amirul Mukminin dengan jujur.”

Muawiyah pun meminta Abu al-Aswad tentang alasannya mentalak istrinya. Abu al-Aswad menjawab, “Demi Allah wahai Amirul Mukminin, aku mentalaknya bukan karena adanya alasan praduga yang muncul, bukan pula karena keretakan yang timbul, melainkan aku tidak suka dengan tabiatnya, lalu putuslah keeratannya dariku.”

Muawiyah bertanya lagi, “Tabiat apa yang tidak engkau sukai, wahai Abu al-Aswad ?”

Abu al-Aswad menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, engkau memanaskan aku untuk memberi jawaban tegas dan kata-kata keras.”

Muawiyah berkata, “Engkau harus berbicara dengan dia dan jawablah kata-katanya untuk memeriksa kebenarannya.”

Abu al-Aswad menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, ia adalah perempuan yang banyak bicara keras, selalu membantah, merendahkan keluarga, menyakiti suami, bertindak buruk terhadap tetangga, membuka aib dan keburukan, bilamana ia melihat kebaikan ia sembunyikan, tetapi bila melihat keburukan ia sebarkan.”

Perempuan itu berganti membela diri, seraya berkata, “Demi Allah, seandainya bukan karena kedudukan Amirul Mukminin dan kehadiran para sesepuh kaum Muslimin, tentu aku akan menjawab kata-katamu dengan ungkapan tajam seperti mata pedang yang akan mematahkan anak panahmu yang menyakitkan itu, meskipun tidak patut bagi perempuan merdeka mencerca suaminya dan tidak patut pula menunjukkan kebodohannya kepada orang lain.”

Muawiyah meminta agar perempuan itu tidak segan menyampaikan apa yang ada dibenaknya agar menjadi jelas. Lalu ia pun melanjutkan kata-katanya, “Wahai Amirul Mukminin, yang aku tahu ia hanyalah laki-laki yang selalu meminta, menang sendiri dan kikir, bilamana berkata ia berkata paling buruk, ia penuh dendam, singa saat tenang, srigala saat takut, kikir saat ada tamu, jika kedermawanan disebut ia surut karena tahu ia sedikit memberi, tamunya lapar, tetangganya menjauh hilang, tidak memelihara tetangga, tidak pula menjaga rukun tangga, dan mereka yang paling hina baginya justru orang yang menghormatinya.”

Mendengar kefasihan kata-katanya, Muawiyah lalu berkata, “Subhanallah, Maha Suci Allah betapa indah sajak yang dibawakan perempuan ini.”

Abu al-Aswad berkata geram, “Semoga Allah memberi kebaikan kepada Amirul Mukminin. Adakah perempuan yang lebih banyak bicaranya dari pada perempuan yang diceraikan ?”

Perempuan ini meninggalkan tempat Khalifah dan tidak lama kemudian datang dengan menggendong anaknya. Ketika Abu al-Aswad melihatnya, ia segera bangkit dan datang mendekat uantuk merebut anak itu dari ibunya. Lalu perempuan itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, ini anakku, buah hatiku, baginya perutku dulu adalah kandungannya, baginya asuhanku adalah halaman, baginya payudaraku adalah kebutuhan gizi, aku mengamati bilamana ia bangun, aku menjaga bilamana ia tidur, dan terus demikian selama beberapa tahun. Setelah disapih dan tumbuh dengan baik kini ayahnya hendak mengambilnya dari tanganku dan menjauhkannya. Demi Allah, berbuatlah adil terhadapku.”

Lalu Muawiyah bertanya kepada Abu al-Aswad, “Engkau telah mendengar kata-katanya. Apa jawabanmu ?!” Abu al-Aswad menjawab, “Memang benar, akan tetapi aku yang mengandungnya sebelum ia hamil, aku yang melahirkan sebelum ia melahirkannya dan aku ini mengajarinya ilmu dan menanamkan kepadanya hikmah.”

Muawiyah akhirnya berkata kepada perempuan itu, “Apa katamu tentang jawabannya itu, wahai perempuan?”

Perempuan itu menajwab, “Apa yang dikatakannya itu benar, akan tetapi ia mengandungnya lemah, sedangkan aku mengandungnya berat, ia melahirkannya dengan syahwat, tetapi aku melahirkannya dengan menahan sakit !”

Muawiyah kagum atas kefasihan kata-kata perempuan ini dan berkata kepada Abu al-Aswad, “Berikan anak itu kepadanya. Dia lebih berhak atas anak itu dari pada engkau.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: