PENYEBAB KEGAGALAN KEPEMIMPINAN

Jika ditelaah lebih mendalam, setidaknya terdapat tiga faktor yang menyebabkan gagalnya kepemimpinan di Indonesia. Pertama, person (individu) yang memegang kendali kepemimpinan. Sangat mungkin, krisis negara ini karena dipimpin oleh individu yang tidak qualified untuk memenuhi kriteria sebagai seorang pemimpin. Diantaranya adalah sosok otoriter, anti kritik, hipokrit, arogan, tamak, tidak amanah, lemah (bersedia dikooptasi oleh negara asing), dan kurang peka terhadap kondisi rakyat yang dipimpinnya. Konsekuensinya, keterpurukan dan kecarutmarutan terjadi di sana-sini. Memang, pada akhirnya wajar jika kebanyakan masyarakat menginginkan sosok pemimpin yang shalih secara individu, bersih dan memiliki karakter kuat dalam memimpin (strong leadership). Alasannya, tidak mungin korupsi diberantas oleh seorang koruptor; tidak mungkin cukong di berantas oleh “peternak” cukong, tidak mungkin menangkap melawan “asing” oleh seorang bermental “asing”. Maka hanya orang bersih dan kuatlah yang mampu memberantas tidak korupsi, terutama di kabinet dan departemennya. Akan tetapi, korupsi dan segala bentuk penyelewengan tidak bisa hanya diberantas oleh seorang individu bersih an sich, tanpa melibatkan perubahan dan dukungan yang lain, semisal sistem ideology masyarakat. Kedua, sistem (sekular) yang diterapkan dan diajarkan oleh negara. Inilah yang sesungguhnya berkontribusi secara penuh terhadap gagalnya sebuah kepemimpian. Jika pemimpinnya orang bersih dan shalih, namun ia menjalankan sistem yang rusak dan sangat kapitalistik, tentu hasilnya pun akan rusak pula. Persis ibarat seorang arsitek bangunan yang sangat ahli dan pandai, namun ia harus menggunakan barang-barang konstruksi yang sudah sangat tua dan rapuh. Karena itu, orang yang qualified dan bersih tetapi menjalankan system sekular yang rusak adalah ibarat a good man in a wrong place. System sekularlah yang banyak menghasilkan kebijakan yang merugikan publik. Sehingga praktik kekuasaan untuk mengeruk uanglah yang ditonjolkan dalam berpolitik. Tidak aneh apabila banyak alokasi dana untuk publik bocor di tengah jalan karena dimanipulasi. Sistem sekularlah yang sudah lebih dari setengah abad mewarnai gaya kepemimpinan nasional Indonesia. Hasilnya, Indonesia tetap sebagai negara pecundang, dalam bahasa Soekarno Budak di negara sendiri. Karena elite-elite politiknya semuanya tunduk dan patuh terhadap aturan-aturan yang dibuat dan disetting oleh sistem sekuler. Kalau miskin hutang, ingin kaya korupsi, Ingin cepat buat manipulasi dan lain sebagainya. Terakhir, ketergantungan terhadap negara asing. Saat ini hutang Indonesia sudah mencapai US$ 65, 75 M, baru dapat dilunasi sampai 2010 dengan syarat pemimpinnya amanah. Ini menjadi bukti bahwa program yang dicanangkan CGI, Word Bank, dan IMF tidak menghasilkan apa-apa. Konsekuensinya, untuk membayar berbagai macam utang luar negeri ini, Indonesia harus memangkas habis berbagai macam pos pendapatan, dan itupun masih kurang. Akhirnya, untuk menutupi kekurangan dana (defisit), pinjaman dari negara lain digunakan kembali untuk membiayai berbagai macam pengeluaran, termasuk pembayaran utang. Mudah ditebak, karena pemerintah sangat begitu tergantung pada pinjaman luar, otomatis campur tangan negara donor akan sangat besar. Karena itu, tidak mengherankan apabila banyak kebijakan publik di berbagai bidang merupakan “pesanan” dari luar termasuk salah satunya UU BHP yang sampai sekarang masih tetap menjadi polemik berkepanjangan. Jika kondisi sudah seperti ini, wibawa seorang pemimpin—yang seharusnya independen, mandiri, kuat, dan tidak menjadi alat negara asing—akan hancur dengan sendirinya. Maka, kalau kondisi seperti ini tetap dipertahankan siap-siap saja Indonesia tinggal kenangan. Pemilu sekarang adalah moment terpenting untuk kembali memikirkan tiga masalah di atas, jangan sampai pemimpin yang terpilih nanti adalah orang-orang yang sama dengan pemimpin-pemimpin sebelumnya, memiskinkan rakyat, jual aset, hutang luar negeri, gadaikan pulau untuk rekreasi dan lain sebagainya. Pemilu sekarang adalah moment untuk memberi pelajaran kepada mereka, dengan cara sangat sederhana dan teramat sederhana………….Jangan pilih mereka lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: