HIPOKRIT; SELAMAT DATANG ANGGOTA DEWAN BARU

Alkisah, seorang sufi memanggil-manggil Tuhannya di tengah malam tatkala hujan deras bagai tertumpah dari langit. “Tuhan, Tuhan. Kau lihat betapa kutuk membunuh kami? Api yang membakar dan kawah yang bergolak. Bukankah tiap kali kami menyebut nama-Mu dan bersimpuh di hadapan-Mu? Kenapa maut memburu kami, padahal hanya Engkau yang bersemayam di hati dan ridho-Mu yang kami cari dan kami harap setiap hari?”
Tiada jawaban dari langit yang makin hitam, tak sepatah pun suara ghaib yang berkumandang. Seperti untuk sang sufi, tidak ada bedanya air dengan api, tidak ada jaraknya nikmat dengan bencana. Sebab yang terasa dalam hidupnya hanya perpisahan syukur dari kufur. Dengan syukur, air dan api merupakan karunia. Lantaran kufur, nikmat pun bisa berubah menjadi bencana.
Kala itu sang sufi tidak tahu apakah Tuhan sedang menurunkan rahmat atau laknat? Sebab di sekitarnya, kejahatan merajalela. Manusia seolah-olah bertopeng dasamuka. Siang lain, malam lain, pagi juga lain. Dalam sehari, seseorang bisa berganti rupa beberapa kali, seperti para pelakon drama berubah-ubah tergantung skenario sang sutradara.
Begitu juga di Indonesia, ketika kampanye, berjuta janji-janji meluncur bak roket perang dunia II, kedermawanan seseorang kepada rakyat kecil seperti sintercklas saat Natal; tiada tandingan. Tetapi setelah keinginan tercapai, jabatan datang kepadanya, tak ada lagi senyum sapah, tak ada lagi kedermawanan tanpa pamrih, tiada lagi kecintaan tulus, semuanya tersapuh dalam orientasi nafsu kekuasaan, menumpuk harta.
Sehingga sekarang Masjid bukan lagi tempat beribadah dan mengabdi kepada-Nya sebagaimana fungsi sesungguhnya. Melainkan menjadi semacam “markas pencucian dosa”. Maksiat yang bertumpuk-tumpuk di luar dibawa sebenar masuk ke dalamnya. Pulang dari masjid yang haram terbungkus halal. Hasil korupsi atau manifulasi berjuta-juta transaksi untuk rakyat dapat dinikmati dengan tenang, tanpa merasa bersalah, apalagi ada raut wajah penuh sesal.
Padahal mengambil hak orang lain tanpa izin yang bersangkutan (rakyat), dosanya tak akan terhapus dan termaafkan, meskipun jidat menebal karena terlalu lama bersujud. Meskipun tangisan darah mengucur bak air terjun. Dosa itu baru akan terhapus, setelah meminta ridho kepada orang yang punya hak. Dapatkah para pejabat membayangkan berapa banyak yang harus dimintakan ridho kalau yang selalu dikorupsi adalah uang rakyat, yang selalu dimanipulasi adalah harta rakyat?
Sekarang parlemen kita berganti orang-orang baru, beberapa artis dan anak pejabat mencoba peruntungan baru, walaupun jelas-jelas tak menguasai bidang itu, hanya bermodal tampak ayu dan relasi yang ditinggalkan dari kebobrokan orde baru. Namun kita tetap harus selalu berharap tidak ada lagi sifat hipokrit menjangkiti mereka. Walaupun secara kasat mata hal tersebut mustahil adanya.
Selamat datang parlemen baru, semoga sejarah tak mengecap namamu sebagai benalu, semoga rakyat tidak menjulukimu sebagai tak tahu malu, semoga penjara tak menjadi rumah masa depanmu, semoga neraka bukan tujuan akhirmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: