Josep Schacht

HUKUM ISLAM DALAM PERSPEKTIF SEJARAH
(Studi Kritis Pemikiran Josep Schacht
)

Havis Aravik

Pendahuluan
Memahami sejarah keagamaan dan sejarah perkembangan pemikiran keagamaan tertentu dalam suatu masyarakat merupakan landasan utama bagi kajian kegamaan dewasa ini. Karena suatu agama, tidak lepas dari perkembangan dan proses sejarah yang melingkupinya begitu juga Islam. Atas dasar itulah, ilmu sejarah sangat penting untuk dipahami sebagai pengalaman keagamaan masyarakat tertentu dengan berbagai praktek dan kepercayaan yanga ada. Melalui pendekatan sejarah tersebut seseorang diajak menukik dari alam idealis ke alam yang bersifat empiris realitis dan mendunia. Dari keadaan ini seseorang akan melihat adanya kesenjangan atau keselarasan antara yang terdapat dalam alam idealis dengan yang ada di alam empiris histories.
Hal tersebut itulah yang dilakukan oleh Joseph Schacht salah satu dari sekian para orientalis yang mengkaji Islam. Ia adalah sarjana yang sangat termasyur dalam penelitian hukum Islam. Karena sepanjang masa hidupnya dia mengabdikan dirinya kepada kajian histories perkembangan hukum Islam. Schacht menyajikan penelitiannya di bidang hukum Islam dalam karyanya yang berjudul The Origins of Muhammadan Jurisprudence dan An Introduction to Islamic Law.
Schacht sendiri mengikuti paradigama yang sudah digagas oleh orientalis sebelumnya yaitu Ignaz Golziher seorang orientalis dari Hongaria yang terkenal dan redaktur The Encylopedia of Islam dengan karyanya Muhammedanische Studien menyimpulkan bahwa seluruh hadits adalah buatan kaum muslim pada tiga abad pertama Hijriyah dan bukan perkataan Nabi Muhammad. Selain itu, Ia mengatakan bahwa hukum –hukum syara’ belum dikenal oleh sebagian besar Muslimin pada abad pertama. Ketidaktahuan akan hukum syara’ dan sejarah Rasul menimpa imam-imam besar. Sehingga analisa yang dia munculkan “hampir-hampir” mirip dengan analisa yang dipakai oleh Joseph Schacrt kemudian. Goldziher adalah ilmuwan pertama yang mendudukkan hadits pada metode kritik dan sejarah yang sistematik.
Disamping Schacht juga ada Noel J. Coulson yang meneliti hukum Islam dalam perspektif sejarah. Ia menyajikan hasil penelitiannya dalam karyanya yang berjudul A History of Islamic Law. Menurutnya seluruh informasi tentang perkembangan hukum pada setiap periode dilihat dari faktor-faktor cultural yang mempengaruhinya, sehingga tidak ada satu pun produk hukum yang di buat dari ruang hampa sejarah.
Hasil penelitiannya itu dituangkan dalam tiga bagian. Pertama, menjelaskan tentang terbentuknya hukum syari’at, yang di dalamnya di bahas tentang legalisasi al-Qur’an, praktek hukum di abad pertama Islam, akar yurisprudensi sebagai madzhab pertama, Imam Syafi’i, sebagai bapak Yurisprudensi dan menjelaskan kemandekan. Kedua, berbicara tentang pemikiran dan praktek hukum Islam di abad pertengahan. Di dalamnya di bahas tentang teori hukum klasik, antara kesatuan dan keragaman, dampak aliran dalam sistem hukum, pemerintahan Islam dan hukum syari’at. Ketiga, berbicara tentang hukum Islam di masa modern yang didalamnya dibahas tentang penyerapan hukum Eropa, hukum syari’at kontemporer, taklid dan pembaharuan hukum serta neo jihad.
Gagasan Schacht dan Noel J. Coulson mengenai perkembangan hukum Islam dalam perspektif sejarah menghasilkan sebuah kesimpulan yang banyak diperdebatkan oleh para pengkaji Islam. Sebagian diantara mereka secara umum menerima keseluruhan konsep mereka seperti David S. Power, S. V Fitzgerald, S. D. Goitein, dan M. M. Azmi.
Sebagian lainnya menolak dan mengkritik aspek-aspek tertentu dari pemikiran mereka seperti Pazlur Rahman, Nabia Abbrott, Fuat Sezgin, M.M. Azmi dan Zafar Ishaq Ansari. Namun bagaimana pun juga gagasan mereka telah memberi inspirasi kepada para pengkaji Islam selanjutnya. Dalam makalah ini penulis hanya akan membahas pemikiran Joseph Schacht tentang hukum Islam dalam perspektif sejarah.

Biografi Joseph Schacht
Joseph Schacht lahir di Ratibor, Silesia yang dahulu barada satu wilayah Jerman dan sekarang termasuk wilayah Polandia pada tanggal 15 maret 1902. Di kota ini Ia tumbuh dan tinggal selama 18 tahun dari kehidupannya. Ayahnya, Eduard Schacht adalah penganut Katholik Roma dan guru anak-anak bisu dan tuli. Ibunya bernama Maria Mohr. Sehingga tidak aneh jika Schacht kecil berperilaku agamis dan tedidik. Dari pendidikan dan kultur orang tuanyalah yang memberikan kesempatan kepada Schacht untuk mengenal ajaran-ajaran agama Kristen dan bahasa Yahudi sejak kecil.
Ia memulai pendidikannya di kota kediamannya, setelah mempelajari bahasa Yahudi dari seorang rabbi dan setalah menerima pendidikan Gynasium Kalsikan di sana (1911-1920). Ia melanjutkan studinya ke Universitas Breslau (Wroclaw) dan Leipzig di mana pertama kali ia mengkaji filologi klasik dan teologi. Pada tahun 1922 ia memenangkan medali Universitas dengan satu risalah tentang perjanjian lama, dan memperoleh gelar D. Phil dengan predikat Summa Cumlaude dari Universitas Oxford.
Karier Schacht dimulai sejak Ia menerima pemilihan akademis di Universitas Freiburg di Breusgau pada tahun 1925. dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1927 dia dipilih sebagai asisten professor ketika berusia 25 tahun. Tahun 1929 ketika Ia menginjak usia 27 tahun merupakan tahun terpenting dalam kariernya, karena pada tahun tersebut ia dipromosikan menjadi professor penuh di bidang bahasa-bahasa ketimuran. Pada tahun 1932 ia diminta menduduki jabatan di bidang yang sama di Universitas Konigsbers di mana ia tinggal hanya 2 tahun, karena pada tahun 1934 ia meletakkan jabatannya sebagai syarat protes terhadap rezim Nazi.
Pada tahun 1939, Schacht pindah ke Inggris. Ia bekerja di sana sebagai soerang ahli dan peneliti masalah-masalah ketimuran di Departemen Penerangan Inggris. Tahun 1946 ia pertama kali dipilih sebagai dosen di Universitas Oxford. Kemudian tahun 1954 setelah meninggalkan jabatannya di Oxford dengan berat hati Schacht meninggalkan Inggris ke Belanda untuk menduduki posisi guru besar di Bidang Bahasa Arab di Universitas Leiden. Ia kemudian pergi ke Universitas Columbia sebagai visiting professor bidang bahasa Arab dan kajian keislaman padatahuan 1957-1958. Pada bulan Januari 1970 Schacht punya maksud untuk mengundurkan diri dari Universitas Columbia, karena ia punya keinginan untuk pulang kembali ke Inggris bersama isterinya, di mana Ia akan melanjutkan rutinitas sebagai sarjana dan melakukan penelitian. Tapi sayangnya semuanya tidak terealisasi karena tiba-tiba Ia terserang pendarahan otak dan meninggal di rumahnya di New Jersey pada tanggal 1 Agustus 1969.

Pemikiran Joseph Schacht
Kepercayaan tradisional tentang hukum Islam yang telah mapan, sejak abad ke-19 mulai dihadapkan pada berbagai tantangan serius. Melalui Kolonialisasi dan Imperialisme pengaruh Barat terhadap dunia Islam sangat dominant. Sebagai akibatnya, beberapa aspek ajaran Islam dipertanyakan dan digugat. Salah satunya ditujukan kepada doktrin sumber hukum Islam itu sendiri.
Joseph Schacht merupakan salah satu dari sekian banyak kritikus Barat yang sangat antusias melontarkan kritikan terhadap pemahaman tradisional sumber hukum Islam. Berbeda dengan pemahaman tradisional, kajian Schacht tidak bersifat teologis maupun yuridis, tetapi lebih bersifat histories dan sosiologis. Ia menawarkan Islam bukan sebagai seperangkat norma yang diwahyukan Tuhan, tetapi sebagai fenomena historis yang berhubungan erat dengan setting sosial dalam arti Schacht meneliti sumber keaslian sumber hukum Islam lewat sebuah proses sejarah. Karena bagaimana pun masa lalu mempengaruhi masa kini dan masa kini mempengaruhi masa yang akan datang. Sehingga tidak mengherankan jika komentar Schacht masih mengejutkan sebagian besar umat Islam. Schatch menunjukkan bahwa sebagian besar hukum Islam, termasuk sumber-sumbernya merupakan akibatd ari sebuah proses perkembangan sejarah.
Salah satu komentar Schacht yang sangat kontraversial dan menggugat keimanan seorang muslim yang shaleh adalah pernyataan bahwa rujukan hadits-hadits dari para sahabat Nabi merupakan prosedur yang lebih tua, dan teori tentang otoritas hadits-hadits Nabi yang lebih berkuasa adalah inovasi. Untuk membuktikan gagasan ini, Ia menguji evolusi istilah Sunnah sebagaimana telah dipakai pada masa Arab pra Islam dalam tradisi lisan, aliran fiqh klasik dari sahabat Nabi sampai pembukuan hadits pada masa Umar Ibn Abdul Aziz dari Dinasti Bani Umayyah, oleh ahli hukum terkenal seperti Syafi’i. Syafi’i sendiri berhasil membuat gagasan freksibel sunnah sebagai kumpulan praktik yang telah diterima dalam madzhab-madzhab awal, yang oleh Schacht disebut sebagai “tradisi hidup” madzhab-madzhab. Kemudian merumuskan teori yurisprudensi hukum Islam dengan empat sumber hukum. Pertama, al-Qur’an, semua yang dijelaskan didalamnya diterima. Kedua, sunnah atau praktik Nabi Muhammad yang dikisahkan hadits shahih. Kedua sumber hukum ini tidak seluruhnya bisa menjawab semua persoalan masyarakat oleh karenanya harus ditambahkan dua sumber hukum yang lain. Salah satu diantaranya adalah qiyas, analogi atau penalaran analogi, artinya persoalan-persoalan yang tidak ditemukan dalam praktik Nabi Muhammad atau sahabat diselesaikan dengan menggunakan analogi. Yang terakhir adalah Ijma’ atau konsesus. khususnya bagaimana istilah itu berkembang. Akan tetapi Syafi’i juga sempat terlibat polemik mengenai masalah ini – identifikasi ekslusif sunnah dengan preseden spesifik Nabi Muhammad Saw atau sifat kewahyuan sunnah – memberikan bukti yang memadai akan keberadaan spektrum pendekatan terhadap sunnah sebelum dan sepanjang kariernya.
Kemudian Menurut Schacht sendiri istilah Sunnah yang bearti kebiasaan masyarakat yang diriwayatkan oleh “periwayatan lisan” telah digunakan pada masa pra Islam. Sunnah itu terdiri atas “praktek kebiasaan, prosedur atau tindakan adat, norma, standar atau cara yang didukung oleh hadits”. Al-Qur’an memberikan bukti bahwa prinsip pembimbing kehidupan moral pra Islam adalah Sunnah masyarakat Arab yang diriwayatkan secara lisan dari nenek moyang mereka. Apapun yang secara kebiasaan itu benar dan pantas dan telah dilakukan oleh nenek moyang, maka patut ditiru. Sehingga Schacht sampai pada kesimpulan bahwa hukum Islam memiliki akar-akarnya dalam masyarakat pra Islam.
Ide pra Islam tentang Sunnah, dalam istilah kebiasaan dapat dijadikan teladan dan norma. Islam mengembangkan sunahnya sendiri, sistem sosial dan cara-cara legalnya yang layak, apakah hal ini diambil dari kebiasaan yang lebih tua atau diletakkan oleh hal ihwal Nabi. Oleh sebab itu, tidak mengagetkan bahwa beberapa persoalan hukum dalam Islam itu didasarkan atas kesinambungan tradisi pra Islam seperti hukum keluarga dan hakam.
Beberapa aspek hukum keluarga yang lebih penting menurut Schacht seperti perkawinan, perceraian, kewarisan, dan Zihar. Kemudian kasus poligami yang disetujui oleh al-Qur’an dan Sunnah Nabi adalah praktek-praktek orang-orang Arab pra Islam. Walaupun terdapat berbagai modifikasi mengenai batasan jumlah istri yang dapat dinikahi sekaligus. Praktek perceraian dalam Islam, sebagaimana masa Arab pra Islam merupakan persoalan yang sederhana. Seorang suami muslim, dapat kapan saja menceraikan isterinya, tanpa alasan yang jelas, bahkan lewat sebuah bahasa kiasan.
Hukum kewarisan pun secara umum berasal dari tradisi Arab pra Islam. Memang harus diakui bahwa problem yang dihadapi oleh Islam awal berkaitan dengan masalah pewarisan adalah melakukan transisi menuju individualisme dari komunalisme, khususnya komunalisme matriliniar Madinah dimana perempuan menjadi komunitas yang termarjinalkan. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa konsep kewarisan berasal dari tradisi Arab pra Islam.
Begitu juga Zihar yaitu contoh lain dari kesinambungan dalam hukum keluarga. Zihari merupakan bersumpah bahwa baginya isterinya yang sah seperti punggung ibunya. Setelah suami melakukan sumpah seperti itu, maka seorang suami tidak berhak menggauli isterinya dan bagi isteri berhak untuk mengajukan gugatan cerai. Praktek semacam ini juga termasuk kebiasaan masyarakat Arab pra Islam.
Hakam adalah wilayah lain yang dengan jelas didasarkan atas tradisi Arab. Schacht berpendapat bahwa dengan modifikasi seorang hakam, orang yang memiliki kualifikasi utamanya adalah sifat-sifat pribadinya, pengetahuan, kebijaksanaan, integritas, reputasi, kekuatan spiritualnya, seperti dalam tradisi Arab pra Islam merupakan orang yang diminta untuk memutuskan atau memberikan saran terhadap suatu perselisihan di dalam masyarakat.
Berdasarkan realitas di atas dapat dipahami bahwa Muhammad dalam pandangan Schacht memelihara tradisi Arab pra Islam. Menurutnya, Muhammad memiliki sedikit alas an untuk mengubah hukum adat yang sudah ada. Selain itu, tujuan Muhammad bukan menciptakan sistem baru, melainkan mengajarkan kepada manusia bagaimana bertindak, apa yang harus dikerjakan, dan apa yang harus dihidnari agar selamat di dunia akherat. Inilah mengapa islam pada umumnya dan hukum pada khususnya merupakan sebuah sistem kewajiban yang mencakup kewajiban ritual, hukum dan moral di atas dasar yang sama, dan membawa mereka semua di bawah otoritas perintah keagamaan yang sama.
Schacht lebih jauh mengatakan bahwa Muhammad memegang kekuasaan yang hampir absolut bukan di dalam, tetapi tanpa sistem hukum yang sudah ada. Otoritasnya bagi orang-orang berimana tidak dalam persoalan hukum, tetapi dalam persoalan keagamaan dan bagi orang-orang munafik dalam persoalan politik.
Kemudian menurut Schacht ide Sunnah sebagaimana dipakai setelah wafatnya Muhammad khususnya Khulafa’ al-Rasyidin. Selama masa ini, Islam mulai tersebar di luar jazirah Arab, di luar sentral pengajaran Muhammad. Konsekuensinya, ada interaksi-interaksi, adaptasi-adaptasi bahkan sinkritisme antara Islam dan budaya wilayah-wilayah yang baru ditaklukan, di mana terdapat beberapa aspek kehidupan yang belum dihadapi oleh orang-orang di jazirah Arab. Sebagaimana dalam era sebelumnya, Islam di wilayah-wilayah penaklukan terbukti menjadi agama yang fleksibel. Sejauh tidak ada keberatan-keberatan kegamaan maupun moral terhadap transaksi atau model prilaku yang khusus, aspek-aspek teknis hukum merupakan persoalan yang tidak menarik bagi orang Islam. Sebagai akibatnya, aspek-aspek kehidupan tertentu, diserap dan tidak mengagetkan kemudian bahwa ada adopsi yang cukup luas dari institusi-institusi hukum dan administrasi serta praktek-praktek wilayah yang ditaklukan. Penyajian agama-agama yang ditoleransi, metode-metode perpajakan, dan institusi-institusi emphyteusis, dan wakaf merupakan contoh-contoh dari praktek hukum yang berasal dari tradisi-tradisi wilayah yang ditaklukan.

Analisa
Dari proposisi di atas dapat dipahami bahwa dalam Islam, kedudukan teologi ditentukan oleh hukum dan yurisprudensi. Hukum Islam dikenal dengan nama syariah yang mencakup setiap aspek kehidupan manusia- persoalan-persoalan hukum, ritual bahakan masalah kesehatan. Awalnya, kaum muslimin bertindak berdasarkan kebiasaan masyarakat Arab, tetapi pembentukan masyrakat politikorelegius di Madinah mengharuskan kaum muslimin berhadapan dengan persoalan-persoalan baru, secara perlahan al-Qur’an menetapkan aturan-aturan tentang hal tersebut. Kemudian Nabi Muhammad Saw melengkapinya berdasarkan sunnah atau praktik yang dilakukan oleh Nabi Muhammad sendiri baik berupa ungkapan, perbuatan maupun ketetapan. Dan tindakan yang dilakukannya itu disebut Hadits.
Sunnah secara umum dalam perspektif umat Islam adalah salah satu unsur terpenting dalam Islam. Ia menempati martabat kedua – setelah al-Qur’an – dari sumber-sumber hukum Islam. Dalam arti, jika suatu masalah atau kasus terjadi di masyarakat, tidak ditemukan dasar hukumnya dalam al-Qur’an, maka hukum atau pun mujtahid harus kembali kepada hadits Nabi. Karena bagaimanapun dalam praktek keseharian, banyak sekali ditemukan masalah yang tidak termuat dalam al-Qur’an dan hanya didapatkan ketentuannya di dalam hadits Nabi. Hal ini tidaklah sulit dipahami, sebab al-Qur’an adalah kitabullah yang hanya memuat ketentuan umum, prinsip-prinsip dasar dan garis besar masalah. Sedangkan riciannya dituangkan di dalam Sunnah Nabi dalam hal ini hadits berfungsi sebagai penjelas (tafsir) pertama al-Qur’an.. Melihat betapa urgensinya Sunnah dan perannya yang esensial dalam Islam, maka tidak menjadi aneh ketika banyak orang terkejut mendengar tesis yang disampaikan oleh Schacht tentang sunnah dan posisi sunnah dalam lintasan sejarah yang dianggap tidak lebih daripada hasil adobsi Nabi pada tradisi Arab pra Islam.
Secara umum lewat pendekatan sejarah sosial dalam arti agama dimaknai sebagai intitusi sosial dengan menempuh dua model, yaitu evaluasi sejarah dan model kekuatan sejarah. Schacht mendefenisikan sunnah yaitu tidak lebih dari pada sebuah kebiasaan yang dapat dijadikan teladan, sebuah pandangan hidup, akan menjadi jelas bahwa ide tentang sunnah sebagai bimbinangan prinsipil bagi masyarakat juga diambil alih dan diadobsi orang-orang Islam pasca wafatnya Nabi Muhammad khususnya selama masa Khulafa’ al-Rasyidin. Hal ini didukung oleh kenyataan fakta sejarah misalnya ketika Umar Ibn Khatttab telah mengirim surat kepada Abu Musa al-‘Asyari (Qadhi Basrah) yang berisi instruksi untuk memakai sunnah yang berlaku (al-Sunnah al-Mu’tabarah) sebagai salah satu dari sumber hukum penting yang berkenaan dengan persoalan-persoalan hukum. Schacht berpendapat istilah sunnah sendiri menyimpan konotasi teologis dan memberikan sebuah kaitan antara sunnah Abu Bakr, Umar Ibn Khattab dan al-Qur’an.
Perlu dipahami bahwa pendekatan sejarah sosial menggunakan model evaluasi sejarah dan model kekuatan sejarah, melihat secara jeli perubahan birokrasi obyek yang diteliti, tradisional, perubahan pradigma pendidikan, agama dan proses modernisasi, agama dan penetrasi dari agama lain, serta agama dalam konteks pribadi kreatif (pelaku). Jadi disini Schacht meneliti proses sejarah berjalannya konsep Sunnah dari pra Islam sampai pada tahap legalisasi sunnah itu sendiri.
Kemudian rezim Bani Umayyah merupakan periode penting di mana perkembangan sunnah selanjutnya ditentukan dan berawal dari sini. Aliran-aliran klasik, para ahli hadits, dan selanjutnya Imam Syafi’i merupakan orang-orang yang sangat berjasa karena terlibat langsung dalam perkembangan sunnah.
Kelompok mujahid dalam aliran fiqh klasik mengejar konsep sunnah ideal walupun beberapa aliran-aliran klasik menetapkan istilah itu dalam pengertian sunnah Nabi, maka aktual istilah itu tidak lebih dari tradisi yang hidup sebagai praktek ideal masyarakat, yang dieksperesikan dalam doktrin yang diterima aliran-aliran itu. Selain itu, Schacht menegaskan kembali istilah sunnah Nabi belum diwujudkan khusus kepada hadits-hadits Nabi.
Perkembangan doktrin terus-menerus dalam aliran klasik dipercepak oleh gerakan para ahli hadits. Menurut para ahli hadits, hadits-hadits formal yang berasal dari Nabi menggantikan tradisi yang hidup dari aliran itu, sebagai akibatnya terdapat sejumlah hadits yang berkembang diklaim menjadi laporan-laporan dari saksi-saksi yang mendengar atau melihat perkataan-perkataan atau perbuatan-perbuatan Nabi, yang diriwayatkan secara lisan dengan rangkaian (isnad) orang-orang terpecaya yang tidak putus. Analisis ini membawa Schacht kepada kesimpulan kontraversial yang meruntuhkan pemahaman muslim tradisional, hadits-hadits ini, sejauh berkaitan dengan persoalan-persoalan hukum agama, hamper-hampir tidak dapat dipertimbangkan sebagai hadits shahih.
Tidak dapat diragukan karena motif-motif yang paling mulia hadits-hadits disebarkan oleh ahli-ahli hadits sendiri dari paruh pertama abad ke dua dan selanjutnya. Kesimpulan ini didasarkan pada analisisnya tentang isnad yang merupakan elemen kunci untuk menentukan otensitas masing-masing hadits. Dalam pandangan Schacht, studi isnad memungkinkan untuk membubuhi tanggal terhadap hadits-hadits itu. Banyak bukti yang diberikan Schacht untuk mengukuhkan gagasannya dan dengan demikian ia mampu menunjukkan bahwa isnad memiliki kecenderungan “mundur ke belakang” dan mengklaim otoritas yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi hingga mereka sampai kepada Nabi”. Semakin awal suatu hadits muncul, maka semakin kecil kemungkinan hadits tersebut memiliki isnad yang lengkap. Semakin lengkap isnad, semakin belakang hadits itu muncul.Dari hal tersebut menurutnya tidak ada alasan untuk menduga bahwa praktek pemakaian isnad secara teratur tidak lebih tua dari permulaan abad ke dua. Lebih jauh lagi, ia menyatakan pandangannya mengenai asal usul hadits, dengan mengatakan bahwa tanpa melakukan upaya generalisasi yang terburu-buru, dibenarkan mencari asal usul bagian terbesar dari hadits-hadits hukum pada paruh pertama abad ke II Hijriyah yang dengannya periode tulis menulis berawal.
Pokok pandangan ahli hadits mengenai konsep sunnah Nabi memuncak di tangan Syafi’i. berbeda dengan pendahulunya, Syafi’i mendefenisikan sunnah sebagai satu-satunya model tingkah laku Nabi. Seperti para ahli hadits, Ia mengetakan pokok pandangannya bahwa tidak sesuatu pun yang dapat menolak otoritas formal dari Nabi. Bahkan Ia dengan pasti menetapkan sunnah Nabi sebagai sumber utama Islam sejajar dengan al-Qur’an. Sunnah dalam pandangan Syafi’i, bahkan tidak dapat diberlakukan dengan rujukan al-Qur’an. Dalam pada itu Syafi’i juga membuat sebuah methodology yang sangat terperinci dalam rangka mengeluarkan doktrin hukumdari sumber-sumber hukumIslam dan selanjutnya menciptakan kumpuan aturan dan bangunan hukumIslam. Ilmu untuk menggali putusan-putusan hukumdari sumber-sumber ini dinamakan prinsip yurisprudensi (ushul fiqh) dan ilmu ini sangat penting dalam hukumIslam.
Kemudian pendapat Schacht selanjutnya banyak “diikuti” oleh pakar-pakar Islam kontemporer salah satunya adalah Khalil Abdul Karim. Ia mengatakan harus diakui bahwa ajaran-ajaran dalam agama Islam merupakan warisan dari tradisi Arab pra Islam seperti penggagungan Baitul Haram (Ka’bah) dan tanah suci, Haji dan Umrah, Sakralisasi bulan Ramadhan, Mengagungkan Bulan-bulan Haram, Penghormatan atas Ibrahim dan Isma’il dalam ritus-ritus peribadatan. Kemudian poligami, Perbudakan, al-Istijarah (menyewah pengawal untuk melindungi seseorang) dan al-Jiwar (orang kuat yang memiliki musuh-musuh) dalam ritus-ritus sosial. Selain itu , dalam ritus-ritus hukuman warisan Arab pra Islam adalah al-Aqilah dan al-Qayamah yaitu sumpah dari lima puluh orang yang berasal dari locus tertentu yang di dalamnya ditemukan korban pembunuhan misterius yang tidak diketahui identitas pembunuhannya, sementara wali (representasi keluarga korban) pembunuhan menuntut kepada penduduk untuk membayar diyat. Dalam masalah politik tradisi Arab pra Islam yang diambil oleh Islam adalah khilafah dan syura.
Jika kita memperhatikan dengan seksama karya Joseph Schacht The Origins of Muhammadan Jurisprudence dan An Introduction to Islamic Law, sebenarnya kita akan menemukan banyak sisi positif bagi kemajuan Islam, untuk itu perlu adanya kajian kritis dari dua karya tersebut lewat sebuah metodologi yang sama yaitu pendekatan sejarah dengan itu kita akan mampu melihat secara obyektif dan sekaligus mampu menguji obyektivitas Joseph Schacht beserta kelemahan-kelemahan apa saja yang ada di dalam karyanya tersebut.
Disamping itu, sudah saatnya kita mengutif apa yang dikatakan oleh Hasan Hanafi melakukan Oksidentalisme terhadap peradaban-peradaban Barat. Sehingga akan terjadi tansformasi ilmu pengetahuan yang seimbang antara Barat dan Timur (Islam) dan tidak ada lagi justifikasi salah-benar dalam melihat suatu peradaban tertentu.

Kesimpulan
Dari deskripsi di atas dapat disimpulkan bahwa sumber hukum Islam menurut Schacht lewat pendekatan sejarah sosial bukanlah seperangkat norma yang diwahyukan, melainkan sebagai fenomena sejarah yang berhubungan erat dengan setting sosial. Jadi, hukum Islam terbetuk akibat proses perkembangan sejarah.
Menurut Schacht bahwa hanya sedikit hadits yang benar-benar asli berasal dari Nabi Muhammad dan lewat studi yang cermat kita dapat memperkirakan kapan sebuah hadits disebarkan. Sedangkan istilah sunnah yang dijadikan rujukan sumber hukum Islam, sebenarnya telah dipakai oleh masyarakat Arab pra Islam, awal Islam, aliran fiqh Klasik, dan oleh ahli hukum terkenal Syafi’I lewat mekanisme legalisasi yurisprudensinya (Ushul Fiqh), dan khususnya bagaimana istilah itu berkembang. Faktanya setelah diteliti bahwa istilah sunnah yang bearti kebiasaan masyarakat yang diriwayatkan oleh periwayatan lisan telah digunakan pada masa Arab pra Islam. Sunnah sendiri terdiri atas praktek kebiasaan, prosedur atau tindakan adat, norma, standar atau cara yang didukung oleh hadits. Terutama ketika melihat beberapa aspek hukum keluarga seperti perkawinan, perceraian, kewarisan, Zihar, dan Hakam adalah wilayah lain yang dengan jelas didasarkan atas tradisi Arab.
Kesimpulan ini jelas memantik kemarahan bagi komunitas tertentu, yang mengatakan bahwa konsep sunnah, sudah final berasal dari Nabi dan hasil pradigma berfikir Nabi sendiri. Namun jika kita mau melihat dari berbagai sisi sebenarnya ide Schacht ini adalah ide yang sangat membangun bagi kemajuan Islam, jika ide tersebut dilihat secara selektif, inovatif, dan proporsional bukan diserang secara membabi buta tanpa melihat kebenaran di dalamnya. Tentu ini membutuhkan keterbukaan dan kesadaran tinggi akan pentingnya ilmu pengetahuan terutama dikalangan tokoh-tokoh yang menamakan diri wakil dari orang-orang Islam. Wallahu a’lam bi shawab.

DAFTAR PUSTAKA

Coulson, Noel. J, A History of Islamic Law, Endiburgh: Endiburgh University Press, 1964.
Gibb, H. A. R, Muhammadanisme, Oxford: Oxford Universty Press, 1953.
Hanafi, Hasan, Oksidentalisme, Jakarta: Paramadina, 1999, cet. I.
Irwandi Dekonstruksi Pemikiran Islam (Identitas Nilai dan Realitas Empiris), Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Press, 2003, cet. I.
Minhaji, Ahmad, Joseph Schacht’s Constribution to The Study of Islamic Law), Canada: Mc Gill University Press, 1992.
Karim, Khalil Abdul, Syari’ah, Yogyakarta: LKIS, 2004, cet. I.
Kontowijoyo, Metodologi Sejarah, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2003.
Rasyid, Daud, Islam dalam Berbagai Dimensi, Jakarta: Gema Insani Press, 1998, cet. I.
Schacht, Joseph, An Introduction to Islamic Law, Oxford, Clarendon Press, 1984.
_____________, Origin of Muhammadan Juridprudensi, Oxford, Clarendon Press, 1975.
Zayd, Nasr Hamid Abu, Imam Syafi’i; Moderatisme, Eklektisisme, Arabisme, Yogyakarta: LKIS, 2001.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: