SARANA-SARANA AL-GHAZW AL-FIKR

Pengantar
Setelah Perang Dingin berakhir, Barat memiliki pandangan dan kebijakan khusus terhadap Islam. Di masa Perang Dingin, Komunisme dianggap sebagai musuh utama, sehingga seringkali Barat bersama-sama dengan Islam menghadapi Komunisme, seperti yang terjadi di Afghanistan. Tetapi, setelah Komunis runtuh, Barat menetapkan Islam sebagai musuh baru, pengganti Komunisme. Karena Islam dipandang sebagai ancaman potensial bagi Barat, atau Islam dipandang sebagai isu politik potensial untuk meraih kekuasaan di Barat, maka berbagai upaya dilakukan untuk “menjinakkan” dan “melemahkan” Islam. Tujuannya tidak lain adalah bagaimana hegemoni Barat di dunia Islam tetap kokoh, sekaligus mengamankan proyek Kristenisasi, Imperialisme Modern, dan Orientalisme (Husaini, 2007: 56-57).
Menurut David E. Kaplan, bahwa sekarang Amerika Serikat telah menggelontorkan dana puluhan juta Dollar dalam rangka kampanye untuk – bukan hanya mengubah masyarakat Muslim – tetapi juga untuk mengubah Islam itu sendiri. Kaplan menambahkan bahwa Gedung Putih telah menyetujui strategi rahasia bagaimana mempengaruhi apa yang terjadi di dalam Islam.
Sekurang-kurangnya di 24 negara Muslim, AS diam-diam telah mendanai radio Islam, acara-acara TV, kursus-kursus di sekolah Islam, pusat-pusat kajian, workshop politik, dan program-program lain yang mempromosikan Islam moderat versi AS (Washington is plowing tens of millions of Dollars into a campaign to influence not only Muslim societies but Islam itself…The white house has approved a classified strategy, dubbed Muslim world Outreach, that for the first time states that the US has a national security interest in influencing what happens within Islam….In at least two dozen countries, Washington has quietly funded Islamic Radio, tv shows, coursework in Muslim schools, Muslim think tanks, political workshops, or other programs that promote moderate Islam (Husaini, 2007: 58).

Sarana-Sarana
Louis ke IX Raja Prancis setelah kepulangannya dari perang salib di Mesir menyatakan bahwa sesungguhnya tidak mungkin mendapatkan kemenangan atas kaum muslimin lewat peperangan, akan tetapi di mungkinkan menang terhadap mereka dengan menggunakan sarana tertentu seperti:
Pertama, Menyebarkan perpecahan di antara pemimpin-pemimpin umat Islam. Seperti Perang antara Irak dan Iran pada tahun 1981. Penasehat Politik Jimmy Carter dari Amerika Serikat menyatakan bahwa; ”Perang itu dilakukan sebagai jawaban terhadap provokasi tidak henti-hentinya yang dilakukan Khomeini dan sahabat-sahabatnya”.
Kedua, Mendukung Negara-negara Islam dan Arab di kendalikan oleh para pemimpin dan pemerintah yang tidak baik, atau memastikan bahwa para penguasa baru di wilayah-wilayah Islam berasal dari kelompok nasionalis sekuler atau sosialis komunis, bukan kelompok Islam. Tidak mengherankan kalau banyak penguasa Timur Tengah adalah mereka yang merupakan alumni pendidikan Barat yang berfaham ideologi sekuler. Ini juga penting untuk menjadikan mereka pemerintahan boneka (Hidayat, 2009: 22-23). Seperti pengangkatan Dinasti tiran dan korup pimpinan Shah Mohammed Reza Pahlavi di Iran.
Ayatullah Komeini menyatakan bahwa: Agar bisa menggunakan secara bebas sumber daya kaum muslim yang melimpah pemerintah Amerika telah menempatkan jutaan orang terhormat dalam cengkraman agen-agen mereka, yang tidak memiliki kualitas sebagai manusia. Amerika menutup mata atas hak-hak ratusan juta kaum muslim, menegakkan kejahatan sebagai penguasa atas nasib mereka, mendukung rezim ilegal di Iran dan pemerintahan bathil Israel untuk merampas hak-hak kaum muslim dan mencabut kebebasan mereka.
Ketiga, Memastikan bahwa negara-negera Islam berasaskan sekularisme dan demokrasi, atau monarkhi; bukan pemerintahan Islam, serta membuat ketergantuan yang sangat besar secara ekonomi kepada negara-negara Barat, antara lain memberikan pinjaman uang dan kebijakan ekonomi yang liberal (Hidayat, 2009: 23). Hal inilah yang melatarbelakangi Barat tidak berkenan atas kemenangan demokratis Hamas pada pemilihan 25 Januari 2006. bahkan, Amerika, Uni Eropa, dan Israel melakukan penekanan dengan menutup keran US$ 1 miliar (Rp. 9,2 triliun) per tahun yang selama ini memutar pemerintahan Palestina. Sikap culas Barat ini, sekali lagi menunjukkan politik diskriminatif yang selama ini jadi kritik pemerintahan Barat sendiri (Prasetyo, 2003: xxvii-xxix).
Keempat, Mencegah sampai terbentuknya persatuan Negara Arab dalam satu naungan. Dengan cara membuat organisasi-organisasi regional berbasis kesatuan regional. Seperti Liga Arab (1945), Persekutuan Regional Afrika Utara, dan Konfederasi Negara-Negara Jazirah Arab yang mencakup Mesir dan Yaman; negara-negara Teluk disatukan dalam Gulf Cooperation Council (GCC), termasuk OKI (al-Baghdady, 2009: 23).
Kelima, Berusaha menciptakan dan membentuk Negara “asing” dalam wilayah arab yang membentang antara Ghaza barat, Anthakiyya Selatan, kemudian sampai ke Timur hingga sampai ke-Barat.
Kelima, Menciptakan potensi konflik di negeri-negeri muslim, baik antar kelompok (Islam-Sekuler, Islam-Liberal, Islam-Kebatinan, Syiah-Sunni, dan lain-lain) maupun lewat konflik perbatasan (border dispute); juga menciptakan dan memelihara rezim-rezim dikator. Konflik ini kemudian dijadikan media untuk bisa melakukan intervensi, termasuk pada kasus Palestina. Penjajahan Palestina oleh Israel dijadikan faktor untuk membangkitkan sentimen nasionalisme Arab. Rezim Arab, yang merupakan boneka-boneka Penjajah Barat, menjadikan isu Palestina sebagai alat untuk mencari popularitas dan memperkokoh kedudukan mereka di mata rakyat Arab. Meskipun hanya retorika, terkesan rezim Arab tersebut membela Palestina (al-Baghdady, 2009: 23).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: